TWO IN ME CHAP.1

Title : Two In Me Chap.1
Author : GladizCass a.k.a Kim JingSu
Rating : PG-13
Length : Chaptered
Genre : Thriller, Mystery ====>Pengenna sih bgtu..
Cast : Krystal Jung F(X)
Other Cast : Kim JongHyun, Choi Minho, Victoria, Sulli, Jessica, Tiffany.
Ini ff thriller mystery perdana aku *emang film!*, hehehe. Jadi mianhe, kalo masih banyak kekurangan seperti kurang seru, kurang sadis, dll. Sebenarnya di chap pertama ini blm thriller – thriller bngt, bru permulaan doang!
Sebelumnya FF ini udah pernah aku publish di dua blog yang berbeda, dan di blog SmTownFanFiction, dimana aku jadi salah satu author disana, aku udah publish ff ini sampai chap.6, kekeke~ Tapi bakal aku publish nyusul di sini..Nah, sekarang silakan dibaca.
Ps : Plotnya nggak sepenuhnya punya aku, ini trinspirasi dari novel thriller ‘Don’t Tell Me Anything’ dengan perubahan.

DUK..DUK..DUK..DUK..DUK!!!!!!!!
“YA! KRYSTAL! CEPAT KELUAR!” Teriak Umma sambil menggedor – gedor pintu kamarku.
DUK..DUK..DUK..DUK..DUK!!!!!!!!
“KAU INGIN MENGURUNG DIRIMU DI KAMAR LAGI, HUH? APA KAMU TIDAK LAPAR? INI SUDAH JAM MAKAN SIANG!”
Umma kembali berteriak, namun aku sama sekali tidak menggubrisnya. Perkataan Umma bagaikan angin lalu saja bagiku. Aku tetap membaringkan tubuhku di kasur dengan pandangan lurus ke langit – langit kamar. Beberapa menit kemudian, suara gedoran di pintu kamarku semakin lama semakin memelan, menandakan Umma sudah akan menyerah menyuruhku keluar dari kamar, dan akan segera pergi. Tepat setelah gedoran di pintu kamarku berhenti, aku dapat mendengar jelas suara Umma yang sudah tidak lagi berteriak – teriak seperti tadi.
“Terserah kau sajalah! Aku sudah capek, mengurusimu! Pokoknya, kalau kau tidak keluar kamar kurang dari sepuluh menit, tidak akan ada jatah makan siang untukmu” Ancamnya.
Aku masih dapat mendengar langkah kaki Umma yang bergerak menjauh dari pintu kamarku. Namun aku tetap diam tidak bergeming, bahkan perkataan Umma tadi terasa tidak berarti apa – apa bagiku. Karna aku sendiri juga tidak merasa lapar. Walau sejak kemarin aku hanya makan cemilan – cemilan ringan. Dan sudah tiga hari aku mengurung diriku di kamar seharian.
Sebenarnya aku merasa bosan sekarang, namun walau aku keluar sekarang, tidak akan merubah apapun. Yang ada perasaanku hanya akan semakin buruk, akan semakin merasa kesal, serta marah. Bayangan Umma yang mengomeliku dua hari lalu, perkataan – perkataan pedasnya, terasa bagaikan flashback di kepalaku, berputar – putar bagaikan rollercoaster, membuat perutku mual.
Anak tidak tahu diri! Bikin malu keluarga! Menyesal aku melahirkan anak sepertimu! Apa jadinya kau nanti, huh? Dasar kriminal!
Ku pejamkan mataku, sesuatu yang meledak – ledak kembali terasa dalam diriku. Sesuatu yang aku sendiri tidak ketahui apa. Tanpa kusadari kedua tanganku meremas erat seprai tempat tidur hingga menghasilkan kerut – kerutan acak.
“Aku tidak salah.” Bisikku lirih.
**Kau memang tidak salah, mereka yang bodoh
Aku tersentak kaget, dan dengan segera membuka mataku, lalu menegakkan tubuhku.
“Nugu?” Tanyaku heran.
**Kau memang tidak salah, mereka yang bodoh
Suara itu kembali terdengar, dan kali ini aku sadar bahwa suara itu bukan berasal dari orang lain. Melainkan dari kepalaku sendiri. Aku menyadari bahwa suara bathin dan pikiranku sedang saling bertentangan
“Bukan, aku yang bodoh. Aku yang dengan mudahnya di tipu dan di kalahkan oleh mereka.” Ucapku dalam hati.
**Ani, kau tidak bodoh. Hanya saja kau terlalu baik, dan terlalu sering mengalah.
Aku termenung mendengar perkataan yang berasal dari diriku sendiri. Mungkin suara dari dalam lubuk hatiku yang terjauh. Masih di atas tempat tidur, kupeluk lututku, lalu menenggelamkan wajahku di atasnya.
“Ottokeh?” Bisikku.
**Balas perbuatan mereka, hingga mereka bersujud minta ampun padamu. Sesuatu yang sudah seharusnya mereka lakukan sejak dulu.

“Unnie!!!” Sorak dongsaengku, Sulli, saat melihatku melewatinya di ruang tamu, di sore keesokan harinya.
Kuhentikan langkahku dan tersenyum ke arahnya, dengan segera Sulli mengambur kepelukanku. “Unnie ngapain aja di kamar? Kenapa lama sekali? Kata Umma aku tidak boleh dekat – dekat dengan Unnie? Waeyo?”
Anak tidak tahu diri! Bikin malu keluarga! Menyesal aku melahirkan anak sepertimu! Apa jadinya kau nanti, huh? Dasar kriminal!
Perkataan Umma saat itu kembali terngiang, namun aku segera mencoba mengusirnya jauh – jauh. “Gwancha, Unnie hanya capek.” Jawabku sambil mengelus puncak kepala Sulli lembut. Mendengar perkataanku, Sulli hanya diam sambil menatapku dengan pandangan penuh tanya.
“Dimana Umma dan Appa?” Tanyaku.
“Appa sedang kerja, Umma katanya ada urusan sebentar di rumah Bu RT.” Jawab dongsaengku yang baru berumur 7 tahun itu.
“Arrasoe. Aku akan pergi sebentar, kau jangan kemana – mana ya!” Kulepaskan pelukan Sulli pelan.
Namun Sulli tidak mau melepaskannya, “Unnie mau kemana?” Tanyanya.
“Menemui teman, hanya sebentar” Aku kembali mengelus puncak kepala Sulli, dan berlahan – lahan Sulli melepaskan pelukannya.
“Dan jangan katakan pada Umma ataupun Appa, bilang saja kau tidak melihatku.” Aku memperingatkan.
“Waeyo?”
“Lakukan saja!” Perintahku.
Akhirnya Sulli hanya mengangguk, aku pun melanjutkan langkahku menuju pintu depan. Aku menyadari Sulli masih mengikutiku dari belakang, aku kembali membalik tubuhku, lalu berjongkok di hadapan Sulli.
“Kau jangan kemana – mana, yaksok?” Kusodorkan jari kelingkingku ke depan hidung Sulli.
Sulli pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku dan tersenyum, “Yaksok.”
“Arrasoe, sana nonton lagi! Nanti spongbobnya keburu habis!” Ujarku. Dengan segera Sulli berlari – lari menuju ruang tengah dan melanjutkan acara menonton TV nya.
Sementara itu, aku sibuk mencari – cari sendalku yang ternyata ada di balik rak sepatu. Setelah mengenakannya, aku mulai melangkah keluar rumah, menuju taman yang berada cukup jauh dari rumahku.
Taman itu sepi, seperti biasanya. Entah kenapa, padahal taman itu dekat dengan salah satu perumahan dan juga sekolahku. Atau lebih tepatnya sekolahku dulu. Kududukkan diriku di satu – satunya ayunan yang ada di taman itu, lalu mulai mengayun – ayunkan diriku sendiri pelan.
Semilir angin sore yang menyejukkan membawaku kembali pada lamunan – lamunan menenangkan sekaligus menyiksa. Membawaku kembali pada kejadian dua minggu lalu.
-Flashback-
Cermin kamar mandi yoeja di sekolahku, memantulkan bayangan wajahku yang kusam dengan bercak – bercak tinta hitam. Namun seragam pituhku terlihat lebih buruk dengan tinta hitam yang menodai sebagian besar seragamku.
Kunyalakan keran air wastafel yang ada di hadapanku. Dan mulai mencuci tanganku yang juga terkena tinta hitam yang mulai mengering. Setelah cukup bersih, aku beralih menggosok – gosok wajahku yang kotor.
Suara air yang mengalir dari keran wastafel, satu – satunya suara yang memecah keheningan di kamar mandi. Kamar mandi itu kosong, hanya ada aku. Aku selalu ada di tempat yang sunyi dan hening, atau mungkin, aku yang selalu merasa begitu. Karna walau di tempat yang ramai pun, tidak akan ada bedanya. Aku selalu sendiri dan terkucil.
Kupandangi bayangan diriku sendiri di cermin, mencari sesuatu yang salah. Mencari suatu alasan mengapa semua orang selalu memandangku dengan tatapan sinis, selalu mencari – cari kesalahanku, selalu mencoba untuk menjatuhkan, dan memojokkanku.
Alasan mengapa Jessica, Tiffany, HyoHyun, JongHyun, dan kawan – kawannya yang lain selalu mengganggu dan merendahkanku. Apakah hanya karna alasan rendah bahwa aku dari keluarga sederhana, sedengkan mereka berasal dari kalangan keluarga kaya dan terpandangan? Hingga dengan seenaknya mereka menjadikanku sebagai badut penghibur suntuk ditengah – tengah pelajaran.
“Oouupss..mian. Nggak sengaja!”
Ucapan Jessica setelah sukses menumpahkan sebotol tinta spidol ke seragam putih yang kukenakan kembali terngiang di telingaku.
Bayangan Jessica yang menyeringai tanpa raut penyesalan di wajahnya dan tawa geli JongHyun serta kawan – kawannya berhasil memancing kembali gejolak dalam diriku. Napasku mulai memburu, sesuatu terasa mendentum – dentum di dadaku, membuat dadaku terasa sesak. Tanpa aku sadari aku mulai menggosok – gosok wajahku dengan terlalu keras, hingga tanpa kusadari kukuku yang panjang menyayat pipiku.
Gerakan tanganku terhenti seketika saat kulihat goresan merah pada pipiku. Aku mematung, emosiku semakin bergejolak, hingga aku sendiri sulit mengekspresikannya. Kucuci luka itu perlahan, setelah itu berlalu keluar dari toilet yoeja. Aku berjalan lurus menyusuri koridor sekolah dengan tatapan kosong menuju gudang peralatan untuk mengambil kain pel dan ember. Lorong sekolah terasa hening. Murid – murid yang lain tengah berkonsentrasi belajar. Yang memecah keheningan hanyalah langkah kakiku sendiri yang menggema di lorong.
Songsenim menyuruhku untuk mengepel lantai kelas yang ikut ternodai oleh tinta yang Jessica tumpahkan. Walau songsenim juga tahu, bahwa Jessica yang menumpahkannya, tetap aku yang mendapat perintah untuk membersihkannya tanpa mendengarkan protesku sedikit pun.
Letak gudang peralatan itu agak jauh dari bangunan utama, ditambah posisinya yang terlihat menyeramkan karna terlindung oleh pohon besar dan rindang yang hampir memayungi seluruh atap bangunan.
Seorang anak lelaki sedang menghisap sebuah bong kaca di bawah kerindangan pohon, aku mengenalinya sebagai Minho, teman sekelasku yang sering permisi keluar kelas sebentar dalam jam – jam pelajaran. Aku mendekat, Minho terkejut menyadari kedatanganku, lalu menjatuhkan bong beserta serbuk morphinnya.
Dengan cuek, aku melangkah masuk ke ruang peralatan, menyambar kain pel dan ember lalu keluar kembali melewati Minho yang tengah meringkuk di bawah pohon. Aku tetap berjalan berpura – pura tidak melihat, kenyataannya aku memang tidak peduli dengan kesenangan yang dirasakan Minho. Tapi Minho berdiri dan bergegas menangkap pergelangan tanganku.
“Jebal..,jangan bilang pada siapa – siapa, ya! Jebal! Orangtuaku bisa mati kalau songsenim melaporkan ini pada mereka.
“Arrasoe, aku tidak akan mengadukanmu. Tapi aku sarankan agar kau berhenti memakai serbuk itu.” Ucapku berbasa – basi menasehati.
“Aku sedang berusaha, Krystal, tapi aku belum bisa. Cuma ini satu – satunya cara agar aku bisa menekan emosiku.”
“Aku janji, tidak akan bilang pada siapapun.” Aku meyakinkan, tiba – tiba aku merasa kasihan pada Minho. Aku pun kembali berjalan menuju toilet untuk mengisi ember yang kubawa dengan air.

“Saya menemukan sebuah glass bong di samping gudang peralatan, ada yang mau mengaku?” Ujar songsenim keesokan harinya.
Sesaat lenggang, aku pura – pura acuh dan memandang Minho sekilas. Dapat kulihat wajah Minho yang berlahan – lahan memucat
“Saya tahu, anak itu berada di kelas ini.” Kim Songsenim mengumumkan. Dan kali ini tatapannya yang tajam dan menusuk tertuju lurus padaku, aku balas menatapnya tak peduli.
“Krystal, kamu tahu ini punya siapa?” Tanya Kim Songsenim masih dengan tangan disilangkan di atas dada.
“Mollado.”
“Yakin?” Tanyanya dengan tatapan lebih dalam.
“Nde.”
Kim Songsenim mengalihkan pandangannya pada Minho. Lalu menarik napas sebelum memulai kata – katanya.
“Ada yang melihat Krystal dan Minho terakhir kali di tempat itu pada jam pelajaran terakhir kemarin…” Kim Songsenim menggantungkan kata – katanya diikuti suara keruhan membahana diseisi kelas.
“Minho..bong itu milik siapa?” Tanya Kim Songsenim lagi.
“Milik Krystal, songsenim.” Jawab Minho cepat tanpa ragu.
Aku tersentak, menatap Minho penuh rasa tak percaya, mulutku seolah tersumpal, ada gelegar gemuruh dalam darahku.
“Anio. Itu bukan milikku, itu punya Minho!” Aku membantah.
“Bohong kamu, ayo ikuti saya dan jelaskan ini di kantor!” Bentak Kim Songsenim.
Aku hanya dapat menurut dan mengikuti Kim Songsenim ke kantor. Di kantor, aku diintrogasi dan dipaksa mengaku. Aku tidak merasakan amarah yang yang mendominasiku saat itu, hanya keletihan yang teramat sangat menggerogoti tubuhku.
Esok harinya, Appa datang ke sekolah dan ikut duduk di sampingku di hadapan kepala sekolah.
“Kami sudah tida bisa lagi mendidik anak anda, sebaiknya ia diberhentikan.”
“Tapi tolonglah, sebentar lagi ujian akhir.”
“Dia bisa mengulang tahun berikut di sekolah yang lain.” Jawab Kim Songsenim dengan nada ditegaskan.
“Songsenim, kalau saya tertuduh sebagai pemakai narkotika, kenapa anda tidak tes saja darah saya?” Suaraku terdengar arif dengan tekanan nada sempurna.
“Itu cuma buang – buang waktu, sudah jelas kamu pemakai narkotika. Tidak ada kosekuensi lagi, kamu dikeluarkan!”
-END FLASHBACK-
Detik terakhir saat Kim Songsenim mengeluarkanku tidak bisa dibandingkan dengan cercaan Umma saat aku sampai di rumah, tatapan Appa padaku yang seakan sedang melihat seonggok kotoran. Mereka berdua sama tidak percayanya padaku. Tidak percaya pada anak kandungnya sendiri. Dengan terang – terangan mengatakan di hadapan anggota keluarga yang lain bahwa mereka menyesal melahirkan anak sepertiku, takut memberikan dampak buruk pada Sulli. Dan betapa inginnya mereka untuk melemparku ke dalam penjara.
Kurogoh saku jaketku dan menarik sebuah amplop pink di dalamnya. Aku tersenyum geli melihat amplop itu, lalu menarik secarik kertas di dalamnya, membuka lipatan – lipatannya, dan mulai membaca ulang isi surat itu.
Dear, Krystal..
Ada sesuatu yang ingin kubicarkan padamu. Bisakah kau datang ke taman yang berada tidak jauh dari sekolah pada hari Kamis jam empat sore? Kau tahu tempatnya kan? Aku sering melihatmu duduk – duduk di sana.
Mian, mungkin terkesan norak karna aku mengirimi surat. Tapi aku tidak ada cara lain lagi untuk menghubungimu, aku tidak tahu nomor hp mu, dan juga akan terasa aneh kalau aku datang ke rumahmu.
Gomawo, aku harap kau bisa datang.
Choi Minho
Seminggu lalu, Victoria datang ke rumahku dan meyerahkan surat ini. Awalnya aku tidak percaya dan hanya menganggap surat ini sebagai lelucon belaka. Namun Victoria mendesakku agar memenuhi permintaan Minho. Ia berkata mungkin Minho ingin minta maaf padaku atau lebih bagus lagi kalau ternyata Minho menyukaiku dan ingin menyatakan perasaannya padaku. Perkataan Victoria bisa dibilang mustahil, namun kalau itu memang benar. Pasti akan terasa seperti keajaiban bagiku. Jadi, aku memutuskan untuk datang.
Victoria adalah sahabatku, satu – satunya orang yang mau mendengarkan perkataanku dan mempercayaiku atas masalah narkotika yang menimpaku. Tetapi aku berpikir Victoria mau menjadi sahabatku adalah karna ia juga tidak jauh lebih baik dariku. Hanya saja, ia terkesan lebih dapat diterima daripadaku diriku.
“Ya!” Kurasakan seseorang menepuk pundakku dengan tiba – tiba.
Aku tersentak terkejut lalu buru – buru meremas surat yang diberikan Minho, menjejalkannya kembali ke saku jaketku, dan menoleh. Jantungku mulai berdegup kencang saat mendapati jarak antara aku dan Minho hanya beberapa centi.
Minho tersenyum, “Aku senang kau datang. Gomawoyo”
“Nde.” Jawabku santai, dan cukup membuatku terkejut karna sejujurnya aku merasa sangat gugup saat ini.
“Ayo kita kesana!” Ajak Minho lalu meraih pergelangan tanganku dan mulai menuntunku lembut menuju salah satu sudut taman yang paling banyak ditumbuhi bunga – bunga indah berwarna – warni.
“Jongmal mianheyo” Sinar mata Minho tulus, “Sebenarnya aku tidak bermaksud membuatmu diberhentikan, jujur aku jatuh cinta padamu” Minho memegang tanganku.
“Jincayo?”
“Nde” Minho mengangguk pasti, “Aku ingin mengakui perbuatanku di depan kepala sekolah, aku tidak bisa membiarkanmu menderita…”
“Anio, Minho! Kamu bisa diberhentikan!” Cegahku yang tiba – tiba berubah menjadi melokanis dan percaya nilai – nilai suci cinta.
“Tidak masalah, orangtuaku setelah ini mungkin akan segera memindahkanku kesekolah di luar negri, yang penting kau bisa sekolah seperti biasa. Itulah kebahagian terbesar bagiku” Minho menatapku dalam – dalam.
“Tapi sebelum pergi maukah kau menciumku?” Minho mendekatkan wajahnya.
Jantungku berdegup lebih kencang, ini tidak mungkin ciuman pertamaku.
-END KRYSTAL POV-
-AUTHOR POV-
Tangan Minho menggandeng tangan Krystal memeluk pinggangnya, lalu mereka mulai berciuman di tengah – tengah rimbunan bunga taman.
Minho melepaskan ciumannya setelah beberapa menit mereka berciuman. Lalu Minho melempar Krystal hingga terjengkang jatuh ke belakang. Dua orang keluar dari balik semak, salah seorangnya memegang handycam. Minho meludah dan mengelap tubuhnya berkali – kali. Merasa jijik dengan apa yang dilakukannya beberapa menit lalu.
“Sudah kubilang, yoeja ini murahan, aku bisa melakukannya dengan mudah…..” Minho terpingkal – pingkal. “Oh ya, jangan lupa, JongHyun, kalian tunjukkan rekaman ini pada chingu – chingu kita yang lain, taruhan besar telah kita menangkan, akan kita bagi – bagi nantinya!” JongHyun dan Jessica tertawa serempak.
“Fanny mana ya? Kok belum datang juga, padahal ini seru banget!” Teriak Jessica seraya melompat – lompat.
Sudah kubilang, yoeja ini murahan, aku bisa melakukannya dengan mudah. Kalimat itu menggema lantang, Krystal berharap dirinya hilang.
“Sudah kubilang sebelumnya.”
Minho mendengar suara itu, “Kau bicara dengan siapa Krystal?” Tanyanya masih dengan ekspresi jijik.
Krystal bangkit berdiri lalu menepuk – nepuk bagian celananya yang kotor. Setelah itu memandang Minho dengan tatapan sekelam malam, “Aku mungkin akan kalah di kehidupan ini, tapi rasa bersalah akan menghukum mereka yang menyakitiku.” Suaranya parau berbaur desisan seperti ular.
Lenggang sesaat, “Apa maksudmu?” Tanya Jessica dengan nada menantang.
Krystal tidak menjawab, hanya tersenyum sinis misterius. Setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan ketiga manusia yang meneriakkan hinaan – hinaan kasar untuknya.
Dasar orang aneh..Yoeja murahan..Tidak berpendidikan..Miskin..
Krystal tetap berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun. Ia tampak geli mendengar teriakan – teriakan temannya itu, awalnya ia terkekeh, dan lama kelamaan ia mulai tertawa keras sembari memegangi perutnya. Tawanya terdengar aneh dan mengerikan, menampakkan orang yang jauh berbeda dari beberapa menit sebelumnya.
Jessica, Minho, dan JongHyun yang mendengar tawa melengking Krystal, semakin bersemangat berteriak – teriak, bahkan Jessica mulai memungut krikil – krikil kecil dan melemparkannya ke arah Krystal. Beruntung tidak ada satupun dari krikil – krikil itu yang tepat sasaran.
Setelah berada beberapa jauh dari taman, Krystal tersenyum, “Orang – orang bodoh, nikmatilah kesenangan terakhir kalian!”
-END AUTHOR POV-
-TIFFANY POV-
“Ya, dimana kau?!”
Ku jauhkan handphone ku dari telingaku saat mendengar teriakan Jessica dengan latar belakang suara tawa JongHyun dan Minho.
“Sepuluh menit lagi aku sampai.” Jawabku.
“Kau telat! Yoeja aneh itu datang lebih cepat dari yang kita kira.”
Mataku membulat, seketika aku menghentikan langkah, “Jinca? Apakah rencanya berhasil?” Tanyaku penuh semangat.
“Tentu saja! Ia hanya yoeja murahan!” Kali ini suara Minho yang terdengar.
Aku tergelak, “Nde, dia memang yoeja mu..”
Seketika aku terjengkang kebelakang dan hampir terjatuh saat seseorang dengan tiba – tiba membekap mulutku dan menyertku paksa. Aku memberontak, dan tanpa kusadari aku menjatuhkan handphone ku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan dekapan orang tak dikenal itu. Namun dekapan orang itu malah semakin kuat. Dadaku mulai terasa sesak, orang itu terus menyeretku paksa. Kepanikan mulai menyerangku.
“Ottokeh?” Pikirku.
Mataku muali berair saking takutnya, orang itu membawaku masuk ke sebuah lorong sempit yang remang – remang, dan terasa sangat sunyi. Kurasakan tubuhku dihempaskan dengan kasar ke tanah.
Aku merintih karna nyeri, belum sempat aku bereaksi, orang misterius itu melayangkan tendangannya ke punggungku hingga aku berteriak. Aku mulai terisak, tubuhku terasa sangat lemas dan tak berdaya. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menegakkan tubuhku. Kedua lututku terasa perih, hingga mempersulitku untuk berdiri. Sehingga aku hanya mampu menopang tubuhku dengan tangan.
Aku menoleh ke belakang, kearah orang yang baru saja menyiksaku itu. Bulu kudukku meremang saat mendapati seseorang bertubuh tinggi dengan jas hujan hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya. Aku tidak dapat melihat wajahnya karna ditutupi oleh tudung yang ia kenankan.
I ngin rasanya aku berteriak, namun aku hanya dapat membuka mulutku tanpa mengeluarkan suara apapun. Suaraku tidak mau keluar, dan sekarang tubuhku mulai bergetar hebat, terlebih saat melihat orang yang ada di hadapanku itu menggenggam erat linggis di tangan kanannya, seakan tidak sabar untuk segera melayangkannya ke kepalaku.
“Annyoeng..” Sapanya, walau sebenarnya sama sekali tidak terdengar seperti sapaan.
Suaranya yang berat dan berdesis semakin membuatku merinding. Dengan susah payah aku menyeret tubuhku mundur menjauh dari orang itu. Orang misterius itu tetap diam di tempatnya, namun bahkan dari balik tudungnya, aku dapat merasakan tatapannya yang liar bercampur rasa geli dan meremehkan.
“A..ap..apa ma..mau..mu?”
Tanyaku tergagap saat tubuhku telah merapat ke dinding lorong dan menyadari bahwa tidak ada lagi jalan keluar bagiku.
“Apa mauku?” Orang balik itu mengulang pertanyaanku lalu menyeringai. Seringai liar yang bahkan menyaingi seringai serigala terganas di dunia ini. Seringai yang membuat tubuhku semakin terasa lemas.
Orang itu melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. “Jangan mendekat!” Bisikku putus asa. Namun orang itu tetap berjalan mendekat lalu menjongkokkan dirinya di hadapanku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga aku dapat merasakan napasnya yang dingin.
“Apapun yang kau mau, uang, harta, apapun. Telepon orangtuaku, mereka akan memberikannya. Tapi lepaskan aku. Kami tidak akan melaporkanmu ke polisi, tapi lepaskan a..”
Perkataan yang aku ucapkan dalam intonasi yang luar biasa cepat seketika terhenti saat jari telunjuk orang misterius itu menekan bibirku.
Ia terkekeh, “Bagaimana kalau aku menelepon orangtuamu dan mengatakan bahwa aku menginginkan nyawa anak mereka. Bagaimana?”
“Ani, anio, jebal. Jangan lakukan itu!” Air mataku mulai tumpah.
“Wae?” Tanya orang misterius itu dengan nada datar.
“Ani..,hiks..,hiks..,mianhe..,jangan sakiti aku! Mianhe..,hiks..,hiks..,anio..Jebal! Jebal, jongmal mianhe..,hiks.,hiks..” Aku terisak, suaraku semakin melemah.
Sebenarnya aku ingin sekali berteriak meminta tolong, atau menendang orang sialan di hadapanku ini lalu berlari sekencang – kencangnya untuk mencari pertolongan, dan menjebloskan orang ini ke penjara. Tapi yang menyelubungi diriku saat ini hanyalah rasa takut dan putus asa. Keberanianku menguap seketika karna aura yang dipancarkan orang misterius di hadapanku. Yang dapat aku lakukan hanyalah menangis dan meratap.
-END TIFFANY POV-
-AUTHOR POV-
Tiffany terus menangis dan meratap, namun tidak terlihat sama sekali simpati di mata orang bertudung di hadapannya. Yang ada hanya rasa puas. Ia mencengkram linggis yang ada di tangan kanananya dengan lebih erat lalu bangkit berdiri.
“Sudah terlambat untuk meminta maaf, Tiffany Hwang.”
Kali ini sosok bertudung itu menggenggam linggisnya dengan kedua tangan lalu mengayunkannya ke atas tinggi – tinggi. Ia menyeringai, matanya berkilat – kilat menyeramkan, terlihat lebih puas dan senang dari sebelumnya. Seakan sedang melakukan permainan menyenangkan. Ia mengayunkan kembali linggis yang di pegangnya ke bawah, terarah lurus tepat ke kepala Tiffany.
“KYYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
-END AUTHOR POV-
TBC
Gimana? Seru nggak? Bagus nggak? Atau jelek? Komen ya! Yg jujur dan nggak pake bashing – bashingan…
Hehehehehe..,gomawo ya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s