MY SILVER CHAP.1

Title : My Silver Chap.1
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin (udah ganti nama korea^^)
Rating : PG-13
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ)
Annyeong haseyo^^ Aku kembali dengan FF ber-genre yang tidak aku kehendaki sebelumnya (??) Awalnya sih, pengen bikin FF romance yang so sweet gitu, tapi jadinya malah begini T.T, hohoho..Semoga suka ya! Oh ya, kalau baca jangan lupa comment dan kalau suka di like ya!

-Kyuhyun POV-
Aku membuka pintu pagar rumahku, melangkah keluar, lalu menutupnya kembali. Aku mendongakkan kepala, menatap ke salah satu jendela di rumah besar di depan rumahku. Beberapa detik kemudian, tirai putih yang menutupi kaca jendela tersebut, berlahan menyibak terbuka. Senyumku merekah, seperti biasanya, yeoja berambut panjang itu menatapku dari balik kaca.
Selama hampir semenit aku tetap berdiri di tempatku. Balik menatap yeoja tersebut sambil menyunggingkan senyum. Setelah itu, aku melanjutkan langkahku menjauh dari rumah. Senyuman masih terlukis di wajahku. Rasanya lucu mengingat bagaimana yeoja itu selalu mengintip dari jendela setiap aku hendak masuk dan keluar rumah. Aku tidak tahu siapa yeoja itu, dan mengapa ia selalu mengamatiku dari jendela.
Saat pertama kali aku menyadari keberadaan yeoja itu, aku merasa sangat bingung. Namun lama – kelamaan, aku semakin terbiasa. Bahkan terkadang apabila ia tidak muncul saat aku masuk atau keluar rumah, aku akan menunggunya terlebih dahulu, hingga akhirnya ia terlihat dari balik jendela. Tidak butuh waktu lama untukku menunggunya, karna ia pasti akan segera terlihat. Dan setiap aku melihatnya, aku selalu menyunggingkan senyumku padanya. Terkadang, apabila aku hendak pergi jauh, dalam waktu yang lama, aku akan melambaikan tangan padanya.
Walau begitu, yeoja itu tidak pernah membalas senyuman ataupun lambaian tanganku. Ia hanya menatapku dengan wajah datar. Wajahnya yang polos dan manis, tidak menunjukkan respond apa – apa. Hanya matanya yang menatapku lembut. Jujur saja, aku sangat menyukai caranya menatapku. Begitu manis dan lembut. Itulah mengapa aku selalu tersenyum saat melihatnya. Karna aku berharap suatu saat nanti ia akan membalas senyumku. Aku yakin, bahwa ia akan terlihat semakin manis saat tersenyum.

“Itu menyeramkan” Komentar Changmin, temanku, saat aku menceritakan padanya tentang yeoja yang selalu memperhatikanku dari jendela.
“Apanya?” Tanyaku.
“Yeoja itu, yeoja yang selalu memperhatikanmu dari jendela”
“Waeyo?” Aku kembali bertanya.
“Kau bilang sendiri kalau ia selalu muncul di jendela saat kau hendak masuk dan keluar rumah. Tidak pernah membalas senyuman dan lambaian tanganmu, dan rambutnya juga panjang. Ia terdengar seperti hantu” Jawab Changmin.
Aku mencibir, “Aiisshh..,kau ini ada – ada saja! Bukan, dia manusia, sudah pasti manusia” Sergahku.
“Kau tahu dari mana? Kau kan tidak pernah bertemu dengannya!” Bantah Changmin.
“Ia tidak akan terlihat lewat jam sepuluh malam. Sepertinya ia sudah tidur, dan hantu tidak akan tidur kan?” Sergahku lagi.
“Yah..,terserah kaulah!” Ucap Changmin sambil membolak – balik halaman novel di tangannya.
“Kalau kau sudah melihatnya, kau tidak akan berpikir ia hantu. Kau akan menyukainya” Ujarku.
“Waeyo?” Kali ini Changmin yang bertanya.
“Karna ia memang terlihat seperti manusia” Jawabku.
“Bukan, maksudku, kenapa kau pikir aku akan menyukainya?” Changmin kembali bertanya.
Aku terdiam sesaat, lalu mengangkat bahuku, “Ayo, main Starcraft!”

“Apakah kau yakin ia akan muncul lagi?” Tanya Changmin saat kami jalan beriringan menuju rumahku.
“Mungkin” Jawabku singkat.
“Mungkin?” Ulang Changmin.
“Kalau aku sendiri yang datang, ia pasti muncul. Tapi karna kau bersamaku, aku tidak yakin”
“Waeyo?”
“Sepertinya ia tidak ingin melihatmu, ia hanya ingin melihatku” Jawabku lalu berjalan mendahului Changmin.
“Ya!”

“Mana?” Tanya Changmin.
Aku tidak menjawab, hanya mengarahkan pandanganku pada jendela dimana yeoja berambut panjang itu biasa muncul. Namun, sudah lima menit aku dan Changmin menunggu, ia tidak kunjung terlihat.
“Sepertinya tidak ada” Jawabku akhirya, “Kan sudah kubilang, ia tidak ingin melihatmu” Lanjutku.
“Aiisshh..,jeongmal!” Gerutu Changmin lalu melangkah masuk ke dalam rumahku.
Aku masih berdiri diam, dan untuk terakhir kalinya menatap ke jendela tersebut. Kulihat tirai putih yang menutupi kaca jendela berlahan terbuka. Dan sesaat kemudian, yeoja manis berambut panjang itu terlihat tengah mengintip dari balik tirai. Senyumku mengembang, aku baru tahu, kalau ternyata ia hanya muncul untukku.

“Eomma..” Panggilku, sambil menghampiri eomma yang tengah duduk di teras rumah.
“Nde?” Sahut eomma.
Aku mendudukkan diriku di kursi di samping eomma, “Rumah di depan rumah kita itu, pemiliknya siapa?” Tanyaku.
Eomma memandangku heran, “Eomma tidak begitu kenal, mereka baru pindah sekitar tiga bulan. Waeyo?” Eomma balik bertanya.
“Anio” Gelengku lalu beranjak bangkit menuju kamarku.
Aku merebahkan tubuhku di kasur,pandangan ku tertuju lurus pada langit – langit kamar. Aku membayangkan yeoja itu, membayangkan saat ia berdiri di balik jendela sambil menatapku. Kurasakan jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Sudah hampir tiga bulan ia selalu melakukan hal itu. Itu artinya saat ia baru pindah rumah, ia memang sudah mulai memperhatikanku. Dalam hati aku bertanya – tanya, ada apa gerangan ia selalu memperhatikanku seperti itu? Apakah ia tertarik padaku atau bagaimana? Selain melihatnya dari jendela rumahnya, aku tidak pernah melihatnya. Aku tidak pernah melihatnya keluar dari rumah. Namun sesekali aku pernah melihat seorang wanita dan lelaki paruh baya keluar masuk rumah, mungkin mereka orang tua gadis itu.
Aku memejamkan mata. Membayangkan aku dan yeoja di balik jendela itu, dapat saling menyapa dan berkenalan. Aku ingin tahu siapa namanya, aku benar – benar ingin mengenalnya. Lalu pikiranku beralih membayangkan wajah yeoja itu. Wajahnya yang polos dan lembut, namun tampak sedikit pucat, terlihat begitu manis dan cantik. Aku berharap bisa melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Aku berharap bisa duduk bersamanya dan memandang matahari terbit.

“DIA MUNCUL?” Tanya Changmin terkejut saat kami kembali bertemu keesokan harinya.
Aku mengangguk, “Ya, ia muncul. Tepat saat kau masuk ke dalam rumah”
“Kenapa kau tidak bilang?!” Ujar Changmin tak terima.
Aku mengangkat bahu, “Kalaupun aku bilang, kau tidak akan melihatnya. Aku rasa ia tidak ingin kau melihatnya”
“Waeyo?”
“Molla”
“Yeoja aneh” Komentar Changmin.
Aku terdiam sesaat, dan akhirnya mengangguk, “Ya, ia memang yeoja aneh” Aku menyetujui.
Bagaimanapun juga, aku tidak bisa mengungkiri kalau yeoja itu, adalah yeoja aneh. Memperhatikan seseorang dari balik jendela adalah perlakuan aneh. Dan bagaimana ia yang hanya menatapku tanpa merespond saat aku menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan, adalah hal yang aneh pula. Changmin memang benar, ia yeoja aneh. Dan hal itu semakin membuatku penasaran padanya.
“Kau yakin ia bukan hantu?” Tanya Changmin padaku dengan mimik serius.
Aku berdecak, “Yakin seratus persen” Aku menanggapi.
“Kalau aku jadi kau, aku akan berlari saat hendak masuk dan keluar rumah agar aku tidak melihatnya, dan ia tidak bisa melihatku” Ujar Changmin.
Aku terkekeh, “Kalau kau sudah melihatnya, percayalah, kau juga akan melakukan hal yang sama denganku”
Changmin mengernyit, “Maksudmu tersenyum dan melambaikan tangan padanya?”
Aku mengangguk, “Ya, itu”
“Tidak akan!” Sergah Changmin.
“Asal kau tahu saja, yeoja itu sangat cantik” Ucapku.
“Jeongmal?” Tanya Changmin tampak tidak benar – benar tertarik.
“Jeongmal, ia sangat cantik dan manis”
“Yah, kebanyakan hantu wanita jaman sekarang memang dapat berubah menjadi cantik dan manis” Changmin menanggapi, “Kau bilang sendiri wajahnya pucat” Lanjut Changmin.
“Mungkin ia sakit” Ucapku, “Makanya ia tidak pernah keluar rumah” Lanjutku lagi.
Ah, benar juga! Kenapa aku baru menyadarinya? Ia sakit, karna itulah aku tidak pernah melihatnya keluar rumah. Kenapa baru terpikir? Mungkin itu juga mengapa ia selalu memperhatikanku, sepertinya ia ingin bisa dapat keluar rumah dengan bebas sepertiku. Namun ia tidak bisa karna penyakitnya, jadi ia hanya bisa mengamati dunia luar dari balik kaca jendela. Tapi apakah benar? Apakah ia benar – benar sakit? Kalau iya, sakit apa?

Sekarang aku sudah berada di depan rumah besar bercat putih di depan rumahku. Rumah di mana aku sering melihat yeoja berambut panjang dari salah satu jendela di rumah ini. Tadi, aku melihat yeoja itu saat aku keluar rumah. Yeoja itu masih mengamatiku hingga akhirnya menyadari bahwa aku hendak ke rumahnya, setelah itu ia menjauh dari jendela hingga aku tidak dapat melihatnya lagi.
Aku menghembuskan napas, menekan bel rumah yang ada di dekat pintu masuk. Tidak sampai lima menit, pintu di hadapanku terbuka. Tampak seorang wanita tua dengan jaket rajutan berdiri di ambang pintu, sambil mengamatiku heran. Dengan segera aku membungkukkan tubuhku untuk beberapa saat.
“Permisi, aku tetangga yang ada di depan rumah. Ibuku menyuruhku untuk memberikan ini” Ucapku sambil menyodorkan map yang aku sendiri juga tidak tahu apa isinya.
Ahjumma tersebut, tampak menelitiku dari atas sampai bawah. Lalu mengalihkan pandangannya pada map yang kusodorkan. Sesaat kemudian, ia mengangguk – angguk, lalu menerima map tersebut.
“Ayo, masuk dulu!” Ajak ahjumma tersebut.
Aku sudah akan menolak, namun ahjumma tersebut sudah melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikanku. Jadi, dengan sedikit ragu – ragu, aku melangkah masuk mengikuti ahjumma tersebut dari belakang.
Aku mengedarkan pandanganku pada keadaan di rumah tersebut. Rumah ini terang – benderang, dan sangat besar. Perabotan mewah tertata rapi di dalam rumah ini. Ahjumma tadi membawaku ke sebuah ruangan yang tampaknya adalah ruang tamu. Dan seperti ruangan – ruangan yang aku lalui sebelumnya. Ruang tamu ini mewah, dan didominasi oleh warna cream. Dindingnya dihiasai wallpaper cream dengan motif yang terlihat elegan. Di tengah ruangan di gelar karpet beludru yang tampaknya sangat lembut, di tengah karpetnya, di letakkan meja oval sedang dari kaca dengan bunga mini di tengahnya. Sofa – sofa berwarna cokelat tua, tertata rapi di sekeliling meja oval tersebut.
“Silakan duduk” Ucap ahjumma tersebut.
“Gamsahamnida” Jawabku, lalu mendudukkan diriku di salah satu sofa.
Sofa itu terasa benar – benar nyaman, dan bahkan lebih empuk daripada tempat tidurku. Rumah ini benar – benar modern dan sangat hebat.
“Tolong, tunggu sebentar” Ujar ahjumma tersebut, lalu membungkukkan tubuhnya sesaat, kemudian melangkah pergi.
Dari tingkah lakunya, tampaknya ahjumma tersebut, adalah salah satu pembantu di rumah ini. Sementara menunggu, aku menyapukan pandanganku pada keadaan sekitar. Di salah satu sisi ruangan ini terdapat sebuah tangga yang menuju ke lantai dua. Dan dari tempatku duduk, aku dapat melihat ke lantai dua. Dalam hati aku bertanya – tanya dimana yeoja yang biasa terlihat dari salah satu jendela di rumah ini. Apakah ia sedang di kamarnya? Kenapa ia tidak keluar? Aku yakin ia tahu bahwa saat ini aku sedang berada di rumahnya, apakah ia tidak ingin bertemu denganku?
Beberapa menit kemudian ahjumma tadi kembali dengan secangkir teh, lalu menyuguhkannya di atas meja. Aku mengucapkan terima kasih, tepat saat ahjumma lain muncul. Ahjumma tersebut menyunggingkan senyumnya padaku. Dan aku pun segera bangkit berdiri, lalu membungkukkan tubuhku. Sebelumnya aku pernah beberapa kali melihat ahjumma ini keluar masuk rumah. Tampaknya ia adalah nyonya rumah ini.
“Annyeong haseyo” Sapaku.
“Annyeong haseyo” Jawab ahjumma tersebut lalu kembali mempersilakkanku duduk, sementara ia duduk di kursi yang ada di sebrangku.
“Kau pasti anak dari pemilik rumah yang ada di depan rumah kami” Ucap ahjumma tersebut memulai pembicaraan.
“Nde” Anggukku sedikit canggung.
“Tolong sampaikan terimakasihku pada ibumu karna sudah mau membantuku memberikan informasi tentang lingkungan di sekitar sini” Ucapnya.
“Nde, akan kusampaikan” Angguk ku lagi.
“Ah, siapa namamu?” Tanya ahjumma tersebut.
“Cho Kyuhyun imnida” Jawabku.
“Oh, Kyuhyun-ssi, senang bertemu denganmu. Kau bisa memanggilku In Na ahjumma” Ucapnya lagi.
“Nde, ahjumma” Jawabku semakin merasa canggung.
“Tampaknya kau seumuran dengan Seohyun” Komentar ahjumma tersebut.
Aku mengernyit, Seohyun? Apakah itu nama yeoja di balik jendela yang biasa aku lihat?
“Seohyun, anak perempuanku. Tampaknya kalian seumuran, ia sekarang sedang ada di kamarnya”
Belum sempat aku menanggapi perkataan In Na ahjumma, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Tampaknya, ada seseorang yang mengamatiku. Dengan cepat, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Dan sebentar saja, aku sudah menyadari bahwa yeoja di balik jendela yang biasa aku lihat saat ini, tengah berdiri di salah satu undakan tangga sambil mengamatiku. Kurasakan darahku berdesir.
“Ah, Soehyun-a..” Ucap In Na ahjumma, lalu bangkit berdiri, dan memberikan tanda pada Seohyun agar mendekat.
Seohyun tampak ragu, ia tetap berdiri diam di tempatnya untuk beberapa saat, namun akhirnya ia melangkahkan kakinya. Aku pun bangkit berdiri, dapat kurasakan jantungku semakin berdetak cepat. Tidak sampai semenit, Seohyun sudah ada di hadapanku.
Aku tidak tahu harus berkata apa, yeoja yang biasa aku lihat dari balik jendela, kini ada di hadapanku. Dan dari jarak sedekat ini, kecantikan nya tampak semakin jelas, begitu juga wajahnya yang pucat.
“Seohyun-a, kenalkan ini Cho Kyuhyun, tetangga yang ada di depan rumah kita” In Na ahjumma memperkenalkan.
Aku pun membungkukkan tubuhku sedikit lalu menjulurkan tangan, “Cho Kyuhyun imnida”
Seohyun, menjulurkan tangannya, lalu menjabat tanganku lembut, “Seohyun imnida” Ucapnya.
Sengatan listrik terasa mengaliri jemariku saat Seohyun menjabat tanganku singkat. Dan suaranya yang lembut membuat darahku kembali berdesir.
“Ah, kalian pasanga yang cocok” Ucap In Na ahjumma tiba – tiba, membuatku merasa salah tingkah.
“Kalian saling berbicara saja, eomma ada sesuatu yang perlu di kerjakan. Terima kasih Kyuhyun-ssi sudah mengantarkan berkasnya” Ucap In Na ahjumma lalu berlalu meninggalkan kami berdua.
Suasana hening dan canggung seketika mewarnai kami berdua, saat In Na ahjumma pergi.
“Silakan duduk dulu” Ucap Seohyun pelan. Suara Seohyun benar – benar pelan, bahkan hampir menyerupai bisikan.
Aku pun mendudukkan diriku di sofa yang aku duduki sebelumnya, sementara Seohyun duduk di sofa tempat In Na ahjumma tadi duduk, “Aku sering melihatmu dari jendela rumahmu saat aku keluar masuk rumah” Ucapku. Seohyun menundukkan kepalanya, tampaknya ia malu, dan hal itu membuatku tersenyum geli.
“Ya, aku juga sering melihatmu dari balik jendela” Seohyun menanggapi.
Setelah itu hening, aku memutar kepalaku cepat, mencoba mencari bahan pembicaraan untuk memecahkan keheningan ini, “Kenapa kau selalu memperhatikanku dari jendela?” Tanyaku.
Mungkin tidak sopan untuk langsung bertanya seperti itu. Tapi itu lah yang ingin kutahu sejak lama.
Seohyun terdiam sesaat, “Sepertinya sudah jadi kebiasaan, aku juga tidak tahu kenapa”
Setelah itu kembali hening, jawaban Seohyun terlalu sederhana, dan tidak cukup membuatku puas. Namun aku tidak dapat berkata apa – apa, jadi aku kembali bertanya, “Berapa umurmu?”
“20” Jawab Seohyun singkat.
“In Na ahjumma bilang kita seumuran, tapi nyatanya aku tiga tahun lebih tua darimu” Ucapku pura – pura kecewa.
Kulihat Seohyun yang tampak sedikit geli, jadi aku tersenyum, dan kembali berkata, “Kalau begitu kau panggil aku oppa” Ucapku.
“Nde?” Sahut Seohyun.
“Panggil aku oppa, arraseo?” Ujarku lagi.
Seohyun tampak bimbang, namun akhirnya ia mengangguk, “Arraseo”

Hari itu berlalu begitu saja, aku dan Seohyun hanya bercakap – cakap kurang lebih lima belas menit. Dan percakapan kami tidak benar – benar penting, malah kalau dipikir – pikir jadi seperti wawancara. Karna aku lah yang selalu mengajukan pertanyaan sedangkan Seohyun hanya menjawab.
Bagaimanapun juga, aku cukup senang dapat berbicara dan lebih mengenal Seohyun. Walau begitu, aku masih tidak mendapatkan alasan yang jelas mengapa Seohyun selalu mengamatiku dari balik jendela, dan mengapa ia tidak pernah keluar rumah.
Bayangan wajahnya yang manis kembali terbayang di kepalaku. Aku kembali bertanya – tanya mengapa wajahnya terlihat pucat. Kalau awalnya aku berpikir wajahnya agak pucat, setelah kembali dipikir setelah pertemuan kemarin, aku merasa wajah Seohyun benar – benar pucat. Aku menggerak – gerakkan jemari tanganku, mengingat sentuhan singkat saat aku dan Seohyun berjabat tangan, dan baru kusadari bahwa saat itu tangan Seohyun terasa dingin.
Aku mengernyit, apakah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana? Apakah Seohyun benar – benar sakit atau bagaimana?
-END KYUHYUN POV-
-SEOHYUN POV-
Dapat kudengar pintu kamarku yang berlahan terbuka. Namun aku tidak mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
“Seohyun-a..”
Aku menoleh sedikit, tampak eomma yang tengah mengintip dari balik pintu kamarku yang setengah terbuka.
“Bagaimana menurutmu tentang namja yang terakhir kali datang?” Tanya eomma hati – hati.
Aku mengernyit, kembali mengalihkan pandanganku ke luar jendela, ke arah rumah yang berada tepat di rumahku. Aku menimbang – nimbang, dan memutuskan untuk tidak menjawab sekarang.
“Aku haus, eomma..” Ucapku.
-END SEOHYUN POV-
-KYUHYUN POV-
“Oke, kalau begitu dia vampire” Ucap Changmin.
Aku mendesah kesal, “Ya! Tidak bisakah kau melihat Seohyun sebagai manusia?!” Gerutuku.
“Anio. Dia vampire” Jawab Changmin langsung.
“Aiissshh..,jinca!”
“Mwoya? Kau masih berpikir dia manusia, saat melihat sendiri bahwa wajahnya pucat dan tangannya sangat dingin?” Tukas Changmin.
“Tentu saja, aku tidak sepertimu yang terlalu banyak menonton Twilight!!” Aku mencibir.
“Tidak ada salahnya, dengan begitu aku jadi bisa lebih cepat membedakan mana yang manusia dan mana yang namanya vampire”
“Dia manusia!!” Ucapku.
“Dia vampire! Apakah kau menyuruhku untuk menelpon Edward untuk memastikan Seohyun mu itu, salah satu golongannya atau bukan?!”
“Kau pikir Edward itu benar – benar ada?!”
“Aku bisa menelpon Robbert Pattinson, ia pasti sudah banyak belajar tentang vampire, tidak sepertimu yang hanya main Starcarft!”
“Robbert Pattinson hanya actor!”
“Ya, dia actor! Dan lucu mendengar kau membantahku dengan berkata demikian! Kau seharusnya bertanya apakah aku benar punya nomor Robbert Pattinson atau tidak!”
Aku kembali mencibir, “Ini perdebatan konyol!”
“Dan aku pemenang dari perdebatan konyol ini!” Ucap Changmin bangga.
“Tidak ada yang perlu dibanggakan dari kemenangan seperti itu!”
“Apa aku terlihat bangga?” Tanya Changmin lalu tergelak, “Aku lebih merasa senang daripada bangga karna kau benar – benar berpikir aku punya nomor hp Robbert Pattinson”
“Tidak. Aku tau kau tidak punya nomor hp nya!”
“Jangan mengelak!” Changmin kembali tertawa.
“Terserah kau saja!”
“Ya, Kyuhyun-a! Apakah kau tahu kalau aku punya nomor hp Amei juga?”
-END KYUHYUN POV-
-SEOHYUN POV-
Kurasakan angin lembut seakan membelai kulitku. Aku bangkit berdiri dari ranjangku, melangkah ringan ke satu – satunya jendela yang ada di kamarku itu. Kusibak tirai putih yang menutupi kaca jendela, lalu memandang keluar.
Namja itu, Cho Kyuhyun, tampak sedang mengadahkan kepalanya menatapku, sambil menyunggingkan senyum. Setelah hampir semenit memandangku, ia melangkah, dan berlalu.
“Seohyun-a..”
Aku menoleh, mendapati eomma telah berdiri di ambang pintu, sambil menatap khawatir padaku, “Mwoya?” Sahutku pelan.
“Apakah tidak seharusnya kau bergerak cepat?” Tanya eomma hati – hati.
“Anio” Jawabku singkat.
“Kurasa namja itu, Cho Kyuhyun, memang namja yang tepat”
Aku memutar mataku, merasa geli mendengar perkataan eomma, “Aku sudah tahu, eomma tidak perlu mengatakan itu padaku”
Eomma mendesah, “Kau sudah tahu, kalau begitu kenapa kau diam saja?”
“Aku tidak diam saja” Jawabku mulai merasa kesal.
“Kita harus bergerak secepat mungkin sayang, hanya kau yang tersisa”
“Aku tahu” Jawabku,”Aku tahu, eomma pergilah” Lanjutku.
Eomma tampak sedikit enggan, sepertinya masih ada beberapa hal yang ingin ia katakan padaku. Namun akhirnya ia mundur, menutup pintu kamarku, dan berlalu. Aku mendudukkan diriku di tepi tempat tidur.
Sunyi..
Yah, seperti itulah hidupku, sunyi. Kualihkan pandanganku pada foto berbingkai emas yang terpampang manis di meja kecil di samping tempat tidurku. Tampak diriku yang diapit oleh kedelapan saudara perempuanku yang lain. Satu dari banyak hal yang tidak ku mengerti, mengapa harus aku yang jadi terakhir? Menjadi terakhir dan tersisa sendiri bukanlah hal yang kuinginkan.
Aku kembali bangkit dan berdiri di depan jendela sambil menatap keluar jendela. Mimpiku semalam semakin meyakinkanku bahwa Cho Kyuhyun adalah silver ku. Aku memejamkan mata, mengingat – ngingat mimpiku semalam. Sebenarnya aku tidak perlu mengingat – ngingat, karna sesesungguhnya aku mengingat mimpi itu dengan begitu jelas.
Di mimpi itu, aku mengenakan jubah hitamku, aku berdiri di suatu wilayah yang tak kutahu dimana. Daratannya berwarna merah menyala, dan sejauh mata memandang, daratan merah itu membentang seakan tak berujung. Langit hitam pekat memayungiku, tampak bulan bulat sempurna menggantung di langit, memancarkan cahayanya dengan redup.
Aku mulai melangkah di atas daratan merah itu, daratan itu berbatu – batu. Udaranya begitu panas, tidak terasa sedikitpun angin sejuk. Aku tidak tahu bagaimana aku dapat merasakan udara panas tersebut, karna seharusnya aku tidak bisa. Walau begitu, di mimpi itu, aku benar – benar merasakannya.
Aku terus berjalan, namun aku tidak menemukan apapun atau siapapun. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Aku menengadah, menatap bulan yang merupakan satu – satunya penerangan di tempat ini. Kurasakan ada sesuatu yang aneh, bulan itu tampak bergerak. Beberapa menit kemudian, aku benar – benar yakin bahwa bulan itu memang bergerak, bergerak semakin dekat ke arahku. Dan berlahan, cahaya orange yang awalnya memancar dari bulan tersebut, berubah menjadi warna silver.
Menyadari hal tersebut, aku segera menjatuhkan diriku, berlutut, sambil menundukkan kepalaku dalam – dalam.
“Silvara..” Ucapku nyaris berbisik.
Sedetik kemudian, pancaran terang warna silver seakan menyelubungiku. Aku mengadahkan kepalaku sedikit, dan kembali menunduk, saat sosok yang paling dihormati itu telah tampak jelas di hadapanku. Silvara mengenakan gaun berwarna silver mengkilau yang terlihat elegan mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya yang hitam di sanggul dan dihiasi mahkota mungil bertahtakan permata bening. Matanya yang jernih menatapku dingin. Sesaat kemudian kurasakan angin lembut membelai kulitku.
“Kapan kau merasakan angin itu?” Tanya Silvara dengan suaranya tenang dan dingin.
“Saat aku namja bernama Cho Kyuhyun menungguku dan memandang kea rah jendela kamarku, saat itulah aku merasakan angin itu” Jawabku langsung sambil terus menunduk.
“Apakah kau menyadari sesuatu?”
Aku mengernyit, merasa ragu untuk menjawab pertanyaannya atau tidak. Namun bagaimanapun juga, aku harus menjawab, karna yang bertanya padaku adalah Silvara, “Ya, aku merasa bahwa ia adalah silver ku” Jawabku.
Hening, Silvara tidak berkata apa – apa untuk beberapa saat, “Cho Kyuhyun, ia lah Silver mu” Ucapnya, “Kau akan kembali” Lanjutnya lagi.
Setelah itu, aku mendapati diriku terbangun.. Silvara, ia adalah penyelamat dari manusia – manusia yang bernasib sepertiku. Manusia – manusia yang ditakdirkan untuk hidup menjadi setengah vampire dan manusia, kami biasa disebut sebagai Vernald .Vernald adalah makhluk yang menyerupai vampire, namun tidak seutuhnya adalah vampire. Vernald dapat tidur dan makan, juga tidak akan mati apabila terkena cahaya matahari. Walau begitu Vernald tetap memerlukan darah. Namun Vernald tetap seperti mayat hidup layaknya vampire, tidak ada detak jantung, dan tidak bernapas.
Kami terlahir karna pernikahan antara vernald dan manusia. Ayahku adalah Vernald, sedangkan ibuku adalah seorang manusia biasa. Hal ini tidak seharusnya terjadi, bahkan dilarang. Hal itu dikarenakan, apabila vernald terus terlahir, maka vernald yang dilahirkan tersebut tidak akan hidup panjang, mereka akan mati saat umur mereka 21 tahun. Sesungguhnya mereka tidak mati, melainkan dibunuh. Dibunuh oleh Silvara. Silvara melakukan itu karna vernald yang sudah berumur dua puluh satu tahun, akan menjadi monster, yang akan menyerang dan menghisap darah manusia tanpa terkontrol.
Namun, Silvara mendapatkan sebuah cara untuk para vernald agar dapat menjadi manusia, yaitu dengan meminum darah orang yang di cintainya. Dan darah orang yang dicintai vernald tersebut mengandung kekuatan silver yang dimiliki Silvara yang dapat mengubahnya menjadi manusia. Dan saat vernald berhasil menjadi manusia, maka ia akan hidup layaknya manusia biasa, bernapas, dan hidup seutuhnya. Dengan mengorbankan cinta nya, membunuh orang yang di cintainya dengan meminuh darahnya.
Tidak tahu mengapa harus menggunakan cara seperti itu, dan tidak ada vernald ataupun makhluk lain yang mengerti Silvara. Bahkan tidak ada yang benar – benar tahu, Silvara itu adalah makhluk apa. Silvara tampak seperti seorang dewi salju yang memancarkan cahaya silver, dingin, tampak lembut, namun kejam. Walau begitu, dirinya yang dapat membunuh dan menyelamatkan vernald, cukup membuatnya untuk dihormati, dan ditakuti.

Aku beranjak bangun, melangkah keluar dari kamarku, dan menuruni tangga ke pintu depan.
“Seohyun-a, kau mau kemana?” Tanya eomma.
Aku menghentikan langkahku, sementara tangan kananku menggenggam ganggang pintu, dan tanpa menoleh, aku menjawab, “Aku akan menemui Kyuhyun”
-END SEOHYUN POV-
-TBC-
Bwahahahahaha (???), aku nggak bisa menebak bagaimana respond para reader setelah membaca FF ku ini. Tapi aku harap respondnya bagus – bagus^^, walau begitu masih terima kertitik loh! Karna pasti masih banyak kekurangannya. Ok, gamawo dah baca, jangan lupa comment, dan kalau suka di like y..^^

Advertisements

One thought on “MY SILVER CHAP.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s