MY SILVER CHAP.2

Title : My Silver Chap.2
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin (udah ganti nama korea^^)
Rating : PG-13
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ)

Gyaaaaa!!!!!! Aku telat ya?! *banget* Hehehe..,bagi yang nungguin jeongmal miahaeyo *bow*. Otak author belakangan ini bermasalah, nggak bisa focus, jangkauan khayalannya menyempit, dan semakin lelet saja. Sepertinya benar – benar harus dibawa ke bengkel(?). Bagaimanapun akhirnya chap.2’na jadi juga *pyuhhh!* Semoga suka, dan silakan dibaca.

PS : Di chap sebelumnya author lupa bilang kalau ortunya Seohyun married sebelum umur 21 tahun. Tapi ujung – ujungnya, bapaknya Seohyun (vernald) mati setelah married sama In Na ahjumma (eommanya Seohyun), di umur 21 tahun. *Kasian ya!*

-KYUHYUN POV-
“Panas..” Gumamku lalu mendudukkan diriku di salah satu kursi taman.
Sambil mengipas – ngipasi diriku sendiri dengan tangan, aku mengamati keadaan sekeliling. Taman yang berada tidak jauh dari rumahku ini cukup ramai. Yah, walau matahari hari ini cukup menyengat, masih ada anak – anak kecil yang bermain keluar. Mungkin karna hari ini adalah hari libur.
Aku baru saja pulang dari rumah Changmin setelah mengembalikan kaset dan bermain sebentar di rumahnya. Karna cuaca yang panas, maka aku memutuskan untuk beristirahat sebentar dan duduk di salah satu kursi taman yang berada di bawah pohon. Udara taman yang sejuk karna banyaknya tumbuhan, dan angin sepoi – sepoi yang berhembus perlahan membuatku sedikit mengantuk.
Tapi kantukku hilang seketika saat melihat yeoja dengan dress putih selutut berjalan ringan melintasi taman. Aku terpana, hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Namun saat mata kami bertemu, dan yeoja itu menyunggingkan senyum tipis ke arahku. Aku benar – benar yakin bahawa yeoja itu adalah Seohyun.
Seohyun melangkah mendekat ke arahku, sementara aku buru – buru berdiri untuk menyambutnya.
“Annyeong haseyo” Sapa Seohyun sambil tersenyum padaku.
Kurasakan darahku berdesir saat melihatnya tersenyum. Ia benar – benar tersenyum, dan melihatnya, membuat hatiku bergetar, “Nde, annyeong haseyo” Balasku sedikit canggung.
“Ayo, duduk!” Ajakku.
Aku kembali duduk, sementara Seohyun mendudukkan dirinya di sampingku. Perasaanku masih terasa melayang, membayangkan senyum Seohyun tadi. Ia benar – benar terlihat manis dan cantik, melebihi biasanya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Seohyun dengan suaranya yang lembut.
“Ah..,aku..” Aku menggaruk – garuk kepalaku yang tak gatal, “Aku hanya duduk – duduk” Jawabku, “Kamu?” Aku balik bertanya.
“Hanya jalan – jalan” Jawab Seohyun.
Setelah itu, kami tidak saling berbicara. Pandanganku tertuju pada Seohyun, sementara Seohyun tampak sedang menikmati suasana taman di sekelilingnya.
“Kyuhyun-ssi..”
“Nde?” Sahutku sedikit terkejut.
Seohyun terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya padaku, “Mengapa kau selalu tersenyum saat melihatku di jendela?” Tanyanya.
Aku menelan ludah, tidak benar – benar tahu harus menjawab apa, “Ah, aku hanya menyapamu secara tidak langsung” Jawabku, “Karna kau selalu muncul saat aku keluar rumah”
Seohyun tersenyum, “Kau sangat baik” Komentarnya.
“Nde?” Sahutku tidak begitu mengerti dengan perkataannya.
“Kau sangat baik” Ulang Seohyun sambil kembali memandangku, “Kalau orang lain, pasti akan merasa risih apabila diperhatikan terus seperti itu” Lanjutnya.
Kali ini aku tersenyum, “Yah, kemungkinan begitu” Ucapku mengingat perkataan Changmin.
Setelah itu kembali hening, hingga akhirnya aku kembali berbicara, “Baru kali ini aku melihatmu keluar rumah” Ucapku.
“Ya, aku memang tidak begitu sering keluar rumah” Seohyun menimpali.
Aku mengangguk – ngangguk mengerti, sesaat kemudian terlintas suatu ide di benakku, “Seohyun-a” Ucapku sambil tersenyum riang.
“Nde?”
“Apakah kau ada kegiatan atau harus pulang cepat setelah ini”
Seohyun terdiam sesaat, lalu menggeleng, “Waeyo?”
“Mau ikut aku jalan – jalan?” Tawarku sambil tersenyum lebar.
Seohyun mengernyit, “Jalan – jalan? Kemana?”
“Ke tempat rahasia, kau pasti suka”

“Ayo naik!” Perintahku sambil menyunggingkan senyum pada Seohyun.
Seohyun menatapku heran, tampak tidak yakin, “Memang kita mau kemana?” Tanya Seohyun yang tampak penasaran.
“Tempat rahasia” Jawabku, “Kalau kita jalan kaki, bisa – bisa kita terlambat” Ucapku lalu melihat ke jam tanganku, “Kita hanya punya waktu satu setengah jam kalau tidak kita akan terlambat” Lanjutku.
Seohyun tetap diam tidak bergerak, jadi aku kembali bertanya, “Tenang saja, aku pandai bersepeda kok! Kau tidak akan jatuh, kalau jatuh akan kutangkap” Ujarku sambil menyeringai.
Seohyun tampak geli. Namun akhirnya ia duduk di boncengan belakang sepeda, “Seohyun-a kau harus pegangan” Ujarku padanya.
Seohyun tidak menjawab, namun dapat kurasakan jemarinya yang berlahan menggenggam ujung kausku. Aku tersenyum, “Arraseo, kajja, kita berangkat!”
Kuayuh pedal sepeda menyusuri jalan perumahan yang tidak begitu ramai. Senyumku terus merekah, berada sedekat ini dengan Seohyun terasa seperti mimpi. Dan sebentar lagi, aku akan membawanya ke tempat dimana aku selalu berkhayal dapat bersama dengannya berdua.
-END KYUHYUN POV-
-SEOHYUN POV-
Aku turun perlahan dari sepeda, sementara Kyuhyun meletakkan sepedanya berlahan di atas rerumputan. Aku melihat ke sekeliling, saat ini kami berdua berada di sebuah bukit, dengan langit kemerahan memayungi kami. Kalau seandainya aku dapat merasakan udara di sekitarku, pasti udaranya akan terasa sangat sejuk. Karna suasana disini benar – benar asri, dengan sebuah pohon besar yang ada di samping kami dan rerumputan serta bunga – bunga kecil yang bertumbuhan.
“Bagaimana?” Tanya Kyuhyun yang tiba – tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku tidak menjawab, melainkan membalik tubuhku ke barat. Dan dari sudut pandangku sekarang, aku dapat melihat perumahan tempat aku dan Kyuhyun tinggal, dan sawah – sawah, dan lain – lainnya, yang terlihat sangat indah terhampar luas di bawahku. Dan matahari sore yang menggantung di langit kemerahan.
“Indah” Jawabku akhirnya, “Sangat indah” Tambahku.
Dari sudut mataku, dapat kulihat Kyuhyun yang tersenyum senang, “Ayo, kita duduk saja!” Ajak Kyuhyun.
Kyuhyun menuntunku ke rerumputan yang datar, membersihkannya dengan tangannya sendiri, lalu menyuruhku duduk. Aku duduk berlahan, sementara Kyuhyun mendudukkan dirinya di sampingku. Dapat kurasakan Kyuhyun yang terus menatapku, namun aku tidak mengalihkan pandanganku sesaat pun pada matahari sore yang tampak begitu indah. Ingin rasanya aku meraih matahari itu, bersembunyi dalam cahayanya yang terang dan lembut, merasakan hangatnya sentuhan di kulitku,
“Sebentar lagi” Kyuhyun mengumumkan.
“Apanya?” Tanyaku.
Kyuhyun tidak menjawab, jadi aku menolehkan kepalaku padanya. Ia tampak sedang mengamati jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Beberapa menit kemudian ia mendongak, dan tersenyum padaku.
“Ah, ini dia!” Ujar Kyuhyun.
Ia bangkit berdiri, dan menjongkokkan dirinya di belakangku. Aku mengamatinya dengan tatapan heran, sementara Kyuhyun terus tersenyum.
“Lihat kedepan!” Perintahnya.
Aku mengernyit, namun memutuskan untuk menuruti pekartaannya. Jadi aku mengalihkan pandanganku kedepan, kembali memandang ke arah matahari. Aku tersentak terkejut, saat merasakan telapak tangan Kyuhyun yang tiba – tiba saja menutup mataku, membuatku tidak dapat melihat apa – apa.
“Gwanchanayo..” Ucap Kyuhyun pelan.
Seharusnya aku memberontak, namun entah bagaimana, setelah mendengar ucapan Kyuhyun tadi, aku merasa tenang seketika. Hembusan angin lembut membelai kulitku, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, namun terjadi saat Kyuhyun keluar dari rumah, dan memandang ke jendela kamarku. Dan terjadi lagi saat ini, saat ia berada begitu dekat denganku.
Ada sesuatu yang tidak biasa kurasakan dalam diriku, entah apa. Aku sendiri tidak dapat mengerti. Menit – menit berlalu begitu saja tanpa kusadari, hingga aku kembali mendengar suara Kyuhyun di belakangku.
“Dalam hitungan ketiga, aku akan menyingkirkan tanganku, dan kau harus membuka matamu, lalu melihat ke depan. Arrasoe?”
Aku mengangguk tanda mengerti, sesaat kemudian, Kyuhyun mulai menghitung, “Han..du..se..”
Kyuhyun menyingkirkan tangannya, dan aku membuka mataku lalu melihat ke depan. Aku terperangah, terpesona akan pemandangan yang menghambar di depanku. Matahari sore yang tadi kulihat memancarkan kehindahannya berkali lipat dari yang tadi. Cahaya kemerahannya, menyebar dengan begitu indah. Langit kemerahan membentang di atasku. Suatu pemandangan yang tidak dapat dituliskan atau digambarkan. Aku merasa diriku melayang, berada di sisi dunia yang lain, bukan dunia asalku yang penuh dengan kesunyian.
-END SEOHYUN POV-
-KYUHYUN POV-
“Gomawo” Ucap Seohyun.
“Nde?”
“Gomawo. Karna sudah membawaku kesana, aku senang sekali” Ucap Seohyun lagi.
“Ah..”Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, “Nde. Aku juga berterima kasih, kau mau menemaniku kesana” Ujarku.
“Nde” Seohyun mengangguk sambil tersenyum simpul, “Kalau begitu aku masuk dulu” Lanjutnya.
Aku mengangguk, sementara Seohyun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun tepat saat ia hendak menutup pintu pagar rumahnya, aku berseru,
“Seohyun-a..”
Seohyun membalik badannya dan menatapku, “Nde?”
“Kalau kau ada waktu, mau kesana lagi bersamaku?” Tanyaku dengan jantung berdebar.
Untuk beberapa saat Seohyun terdiam, namun akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja”

“YEAH!!!!!” Sorakku girang sambil melompat – lompat di atas tempat tidur.
Sesaat kemudian, aku menghempaskan tubuhku di atas kasur, aku menghembuskan napas. Menatap langit – langit kamarku, dan sesaat kemudian bayangan wajah Seohyun yang tengah tersenyum kembali membayangi pikiranku. Hari ini rasanya seperti mimpi. Aku tidak menyangka dapat berada sedekat ini dengan Seohyun., benar – benar bagai mimpi.
Aku bangkit berdiri, meraih handphoneku, dan menekan nomor handphone yang sudah sangat kuingat.
“Mwoya?” Terdengar sahutan dari sebrang.
“Ya! Changmin-a! Kuberitahu ya, Seohyun itu benar – benar manusia!”
-END KYUHYUN POV-
-SEOHYUN POV-
Aku menghambur masuk ke dalam rumah, dan ambruk tepat saat aku menutup pintu. Kerongkonganku teras kering, sesuatu terasa meledak – ledak dalam diriku. Aku mengerang, dan kepalaku mulai terasa berdenyut – denyut.
“Seohyun-a” Seru eomma panik, lalu segera menghampiriku.
Dan tepat saat eomma berlutut di sampingku, pikiranku semakin terasa kalut. Aku kembali mengerang, dan menggeliat. Sesaat kemudian aku telah siap untuk menerkam eomma. Namun eomma tampaknya telah mengetahui apa yang akan aku lakukan. Dengan cekatan eomma menangkap pergelangan tanganku, memutarnya ke belakang, mengunci tanganku, dan menahanku agar tidak bergerak.
Aku mencoba untuk menahan, namun eomma tetap menahanku, dan membuatku tidak dapat bergerak. Kepalaku sakit, pandanganku memburam, aku mengerang, dan sedetik kemudian, aku tidak dapat memikirkan apapun lagi.
-END SEOHYUN POV-
-AUTHOR POV-
Tubuh Seohyun yang perlahan mulai melemah. Namun hal itu tidak membuat In Na ahjumma melepaskan pegangannya dari Seohyun.
“Bong Sun-a!!!!” Seru In Na ahjumma kencang.
“Nde, sajangnim!” Terdengar sahutan seorang ahjumma gendut pendek berlari dengan tergopoh – gopoh sambil memeluk sebotol cairan merah kental.
Belum sempat Bong Sun menyerahkan botol itu pada In Na ahjumma. Tiba – tiba saja tubuh Seohyun mengejang. Seohyun menghentakkan tangannya kencang hingga terlepas dari pegangan In Na ahjumma. Dan dengan secepat kilat Seohyun bangkit berdiri.
Tubuh Seohyun bergetar, kukunya perlahan – lahan memanjang dan menjadi runcing. Kulitnya yang telah pucat semakin memucat. Seohyun mengangkat kepalanya, memperlihatkan pupil matanya yang memutih. Di balik rambut panjangnya yang menjuntai ke depan, Seohyun menyeringai, menampakkan taring di giginya.
Dengan sigap, In Na ahjumma segera mundur. Ia memberikan tanda pada Bong Sun yang telah gemetaran untuk menyerahkan botol berisi cairan kental merah yang merupakan darah itu padanya. Bong Sun pun segera menyerahkan botol itu pada In Na ahjumma.
“Pergilah!” Perintah In Na ahjumma pada Bong Sun.
Bong Sun mengangguk, dan tanpa berkata apa – apa, segera berlari pergi. Sementara itu mata In Na ahjumma tidak lepas dari Seohyun yang menatapnya penuh perhitungan. Ia tahu bahwa kurang dari dua menit, Seohyun pasti akan menyerangnya dan berusaha untuk meminum darah di tubuhnya.
Dan sebelum itu terjadi, dengan perlahan In Na ahjumma membuka botol yang diserahkan oleh Bong Sun tadi. Sedetik kemudian, bau darah mulai tercium di udara. Seohyun mengeram, tubuhnnya kembali bergetar hebat. Dan dengan secepat kilat ia menerjang kedepan, mencoba untuk menyerang In Na ahjumma.
Namun In Na ahjumma segera menyingkir sambil terus menjaga agar darah dalam botol yang dipegangnya tidak tumpah sedikit pun. Kali ini Seohyun mengerang, ia mulai merangkak di lantai. Bola matanya yang telah seluruhnya memutih, menatap tajam pada In Na ahjumma. Ia bergerak berlahan, lalu mengeram, dan membuka mulutnya sesaat, menampakkan taringnya yang tajam.
“Seohyun-a..” Ucap In Na ahjumma, “Cobalah untuk kendalikan dirimu” Lanjutnya.
Seohyun tampak tak peduli, ia kembali menerjang In Na ahjumma. Kali ini ia telah membuka mulutnya, siap untuk menancapkan taringnya pada pundak In Na ahjumma. Kali ini In Na ahjumma terdorong ke belakang, hingga darah di botolnya memuncerat keluar. Bau darah semakin kuat di hidung Seohyun.
Perhatian Seohyun teralih, ia menatap percikan darah di lantai. Dan dengan segera ia menghampiri percikan darah di lantai itu dan mulai menjilatinya. Melihat kesempatan ini, In Na ahjumma segera bergerak. Ia menyergap Seohyun dari belakang, dan di saat itupula Seohyun memberontak. Tapi In Na ahjumma telah siap, sehingga Seohyun tidak lepas dari pegangannya.
Sementara In Na ahjumma memeluk Seohyun dari belakang untuk menahan Seohyun agar tidak terlepas ataupun menggigitnya. Dengan cepat In Na ahjumma mendongakkan wajah Seohyun dengan sebelah tangan, lalu meminumkan botol berisi darah itu ke mulut Seohyun.
Merasakan darah di lidahnya, Seohyun semakin menjadi – jadi. Ia mendorong kuat In Na ahjumma kebelakang, hingga ia terjengkang. Seohyun merebut botol itu dari In Na ahjumma, dan mulai menegak isinya.
“Hentikan!” Perintah In Na ahjumma galak.
Tapi Seohyun tidak peduli, ia tetap meminum darah di botol itu hingga hampir habis. Sampai akhirnya In Na ahjumma berhasil merebut botolnya dari Seohyun. Seohyun sempat melawan, namun sesaat kemudian ia terbatuk, dan akhirnya ambruk tidak berdaya di lantai.
-END AUTHOR POV-
-CHANGMIN POV-
“Kau jalan dengannya?” Tanyaku masih tidak percaya.
Kyuhyun mengangguk, “Kau masih tidak percaya? Apa kau harus bertanya langsung pada Seohyun?”
“Apa aku bisa bertemu dengannya?” Aku kembali bertanya.
Kyuhyun mengangkat bahunya, “Molla. Tapi kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan mengajaknya bertemu denganmu” Ucap Kyuhyun.
Aku mengangguk – ngangguk, “Lalu, apa kau benar – benar tahu ia bernapas dan detak jantungnya masih ada?” Tanyaku sambil menyeringai.
Kyuhyun mendengus, namun ia tidak menjawab. Keningnya mengernyit, tampaknya ia tengah berpikir,
“Wae?”
Kyuhyun mengalihkan pandangannya padaku lalu menggeleng, “Anio” Ucapnya.
“Jadi, ia tidak bernapas. Ia benar – benar vampire?”
“Aaaiissshh..,kau ini!” Ujar Kyuhyun lalu melemparkan topi yang dipakainya padaku.
Aku tergelak, “Ya! Kalau aku dan dia benar – benar bertemu, jangan salahkan aku kalau dia jatuh cinta padaku ya!”
“Berisik!”
-END CHANGMIN POV-
-KYUHYUN POV-
Aku sedang bermain game di laptopku, saat aku kembali teringat akan Seohyun. Hingga aku pun memutuskan untuk menghentikan permainan dan merebahkan diriku di kasur. Aku menerawang, kalau kuingat – ingat lagi, saat aku duduk di belakang Seohyun dan menutup matanya, aku tidak merasakan hembusan napasnya sama sekali. Yang kurasakan adalah kulitnya yang dingin, dan kalau soal detak jantung, aku tidak begitu yakin.
Aku tidak melihatnya lagi di jendela, saat aku keluar rumah tadi siang. Benar – benar aneh, biasanya ia tidak pernah absen. Ada apa dengannya? Mengapa yeoja itu begitu misterius? Pikiranku mulai berputar – putar memikirkan kemungkinan kalau Seohyun adalah vampire seperti yang dikatakan Changmin.
Sesaat kemudian, aku mulai memukuli kepalaku sendiri dengan bantal. Bagaimana bisa aku terpengaruh dengan perkataan Changmin? Seohyun pasti manusia, vampire dan segala macam makhluk yang Changmin katakan itu hanya omong kosong. Lagipula bagaimana bisa, aku merasakan napas Seohyun saat jantungku berdetak tak karuan. Terlebih saat perasaan magis yang tidak dapat kujelaskan yang menyelubungiku, membuat darahku seakan berdesir berkali – kali.
Aku mengehembuskan napas, berharap dapat bertemu dan berada bersama Seohyun lebih sering. Dan dengan begitu, aku berharap dapat lebih mengenalnya dan menyingkirkan aura misterius dalam diri Seohyun.
-END KYUHYUN POV-
-AUTHOR POV-
In Na ahjumma duduk di tepi tempat tidur, dimana Seohyun tengah terbaring. Wajah Seohyun menampakkan ketegangan yang sulit untuk dijelaska. In Na ahjumma menghela napas, dan mulai membelai kening anak perempuannya itu.
Seohyun meminum darah melebihi dari yang seharusnya ia minum. In Na ahjumma telah membiasakan Seohyun agar tidak berlebih meminum darah. Karna semakin banyak vernald meminum darah manusia, maka akan semakin buas vernald itu. Dan apabila vernald diberikan darah secara berlebih dengan tiba – tiba, maka organ tubuhnya akan mengejang, hingga menyebabkannya drop selama beberapa saat.
Seohyun membuka matanya perlahan, sementara In Na ahjumma segera menyingkirkan tangannya,
“Kau sudah sadar?”
Seohyun menggeliat lalu segera membangkitkan dirinya. Ia tidak tampak seperti baru bangun dari tidur. Wajahnya yang pucat tampak datar seperti biasanya. Ia melayangkan pandangannya pada In Na ahjumma, menggerling, lalu bangkit berdiri.
“Seohyun-a” Panggil In Na ahjumma.
Tetapi Seohyun tidak menanggapi panggilan In Na ahjumma, melainkan melanjutkan langkahnya dan berhenti di satu – satunya jendela di kamar itu. Ia tampak memandang keluar dengan tatapan sendu yang menenangkan.
In Na ahjumma tidak bergerak, ia hanya mengamati Seohyun dalam diam. Ia tahu, bahwa Seohyun tengah mengamati namja itu, Cho Kyuhyun.
“Kemana kau pergi kemarin?” Tanya In Na ahjumma.
Seohyun mengalihkan pandangannya pada In Na ahjumma lalu menjawab, “Aku pergi bersama Kyuhyun”
“Kemana?”
“Eomma tidak perlu tahu” Jawab Seohyun dingin.
In Na ahjumma menghela napas, “Kau harus bersyukur masih dapat mengontrol dirimu hingga sampai ke rumah. Kalau tidak akan sangat berbahaya” Ujarnya.
Seohyun kembali menerawang, ingatannya melayang pada saat Kyuhyun mengajaknya pulang dari bukit. Saat itulah perasaan haus untuk meminum darah kembali mendatangi dirinya. Dan keinginan itu semakin mengembang dari waktu ke waktu. Bahkan dorongan untuk segera meminum darah Kyuhyun yang ada di dekatnya, begitu memaksa. Namun entah kenapa, ada suatu dorongan dalam dirinya yang menentang hal itu. Yang berhasil membuatnya dapat mengontrol dirinya hingga sampai di rumah.
“Ngomong – ngomong, apakah namja itu..”
“Ada sesuatu” Ucapku memotong perkataan eomma, “Yang membuatku tidak dapat meminum darahnya. Bukannya tidak mampu, hanya..”
“Seohyun-a” Kali ini eomma yang memotong perkataanku, “Minumlah darah namja itu, sebelum perasaanmu semakin mengembang. Hingga akhirnya kau benar – benar tidak bisa melakukannya. Waktumu tinggal beberapa bulan, eomma tidak ingin kamu bernasib sama dengan..”
“Yonna eonni, HyoYeon eonni, Taeyoen eonni, dan Sunny eonni kan?” Potongku lagi, “Tidak akan eomma, aku masih ingin hidup” Lanjutku.
“Aku ingin jadi manusia seutuhnya”

Malam berikutnya tepat pukul dua belas malam, aku keluar dengan jubahku. Malam ini, aku akan mencari mangsaku sendiri. Aku sudah rindu meminum darah segar langsung dari tubuh manusia. Dan malam ini, aku akan memuaskan rasa rindu itu.
Dengan jubah hitam bertudung yang menutupi seluruh tubuhku, aku melangkah keluar rumah. Bersembunyi dalam kegelapan malam, melangkah dengan ringan, dan diam. Hingga tidak akan ada seorangpun yang menyadari keberadaanku.Kulangkahkan kakiku menyusuri gang sempit becek yang gelap. Instingku mengatakan bahwa aku hanya perlu terus berjalan, dan tidak akan butuh waktu lama hingga aku menemukan mangsaku.
Setelah hampir tiga menit menyusuri gang sempit itu, kudapati gang itu bercabang. Aku memejamkan mata, dan disaat itupula aku mencium bau darah yang sangat menggiurkan. Aku menyeringai, berbelok ke gang di sebelah kiriku. Bau darah itu semakin kuat, aku menjaga diriku agar tetap tenang, dan tetap mengikuti bau darah itu.
“Kalau tidak gara – gara Kyuhyun, aku tidak akan disini”
Kuhentikan langkahku saat mendengar suara namja beberapa meter di depanku tadi. Aku melangkah lebih dekat, lalu menajamkan mataku. Kulihat seorang namja berpostur tinggi yang tengah memunggungiku. Ia tampak tengah mengaduk – aduk tong sampah yang ada dihadapannya sambil menggerutu tanpa henti.
Aku melangkah lebih dekat, senyumku merekah, gejolak dalam diriku semakin terasa kuat. Rasa haus dan nafsu yang teramat sangat atas aroma darah menggiurkan yang ada beberapa meter di depanku ini semakin meracuniku.
Namja di hadapanku itu, tiba – tiba berhenti besuara. Ia berbalik berlahan, menyorotkan senter kecil yang ada di sebelah tangannya ke arahku. Kulihat wajahnya yang terkejut sekaligus heran. Dan sesaat kemudian, raut tegang berlahan – lahan mulai merayapinya.
“Neo nuguya?!” Tanya namja itu.
Aku menyeringai, menampakkan taringku yang tajam, “Sepertinya aku sudah mendapatkan makan malam yang sangat nikmat”
-END SEOHYUN POV-
-TBC-
Ok, kalaupun memang telat, dan banyak yang pengen perotes, author terima. Cuma, buat next part author nggak janji cepet publishnya, janjinya author bakal berusaha biar cepet, ok? Hehehe^^ Jeongmal gomawoyo dah baca, jangan lupa comment, dan kalau suka di like ya! Gamsahamnida *bow*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s