Banshee

Annyeong..^^
Mau tanya nih, ada yang tahu tentang Banshee? Hehehe..,Gladiz sendiri belum lama tau, dan taunya juga pas abis nonton On The Spot, kekeke~
Bagi yang belum tau, bisa cek sekarang^^

Banshee dalam dunia modern sering hadir dengan sosok menyeramkan seperti hantu ganas lainnya.Penggambaran yang begitu menyeramkan dan spooky ini ternyata disebabkan oleh legenda Irlandia atau Skotlandia yang menyebutkanpara Banshee berasal dari roh wanita yang gentayangan karena dibunuh, atau wanita yang meninggal saat melahirkan.Tapi penggambaran ini ini sangat bertolak belakang dengan sejarah mengenai peran mereka yang sebetulnya jauh dari sifat sadis.

Kata Banshee disinyalir berasal dari bahasa Irlandia yaitu bean sidhe atau bean si,yang mempunyai arti “wanita dari dunia peri”. Sedangkan dalam bahasa Scottish Gaelic,Banshee memiliki artian sebagai people of peace atau “orang-orang yang membawa kedamaian”. Dalam mitologi Irlandia, Banshee dikenal sebagai roh wanita yang menandakan bahwa kematian sudah dekat. Oleh karena itu makhluk tersebut juga terkenal dengan julukan pengantar pesan kematian. Beberapa theolopist dan penganut Celtic Christians bahkan percaya bahwa sosok Banshee adalah para malaikat yang jatuh dan terjebak di bumi. Yang menyebabkan Banshee dimunculkan sebagai sosok yang menakutkan mungkin ada kaitannya dengan perannya sebagai dewi kematian. Banyak ragam cerita yang memaparkan cara Banshee memberitakan kematian. Contoh yang paling sederhana adalah jika sesosok Banshee muncul di sebuah rumah maka salah seorang anggota keluarga di rumah tersebut akan meninggal. Ada juga kepercayaan bahwa para Banshee memberi pertanda kematian dengan menyanyikan lagu berisi lirik-lirik kematian sendu pada keluarga tersebut, entah dinyanyikan oleh dia sendiri atau merasuk anggota keluarga berjenis kelamin wanita.

Makhluk ini dipercaya memiliki kaitan erat dengan beberapa keluarga bangsawan Irlandia seperti O’Gradys, O’Neills, O’Briens, O’Connors serta Kavanagh. Jika ada anggota keluarga tersebut yang pergi jauh untuk tugas atau berperang lalu meninggal, maka Banshee bakal memberitahu anggota keluarganya dengan menyanyikan lagu duka disekitar rumah. Biasanya mereka bernyanyi tepat pada saat orang itu meninggal, bahkan sebelum berita kematian dibuat dan disampaikan pihak berwenang. Jika sekelompok Banshee muncul secara bersamaan maka hal itu menandakan orang yang meninggal adalah pahlawan hebat atau orang suci. Uniknya nyanyian Banshee bakal berbeda-beda tergantung dari hubungan sang Banshee dengan orang yang meninggal atau keluarganya. Bila memiliki hubungan baik maka ia menyanyikan lagu bernada lembut untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan. Tapi jika tidak menyukai keluarga atau orang yang meninggal, nyanyiannya (meski tetap sendu) bernada keras dan menyeramkan. Bahkan konon sang Banshee akan mengabarkan kematian orang yang tidak disukainya lewat jeritan yang mengerikan!!

Ada juga kisah yang menyebutkan bahwa apabila seseorang meninggal akibat perang atau pertumpahan darah, selain menyanyi lagu maka Banshee akan muncul di sungai terdekat rumah anggota keluarga dari orang yang meninggal sambil mencuci jubah atau bajunya yang berlumuran darah. Menurut legendanya, apabila kita berpapasan dengan Banshee yang sedang membasuh baju kemudian menyapanya dengan sangat ramah maka kita akan mendapatkan kepercayaan mereka. Dengan begitu maka ia bakal memberitahu nama anggota keluarga yang akan meninggal nanti, maupun mengabukan satu permohonan kita. Namun tidak mudah menyenangkan para Banshee karena mereka hanya menyukai orang-orang pintar, khususnya yang piawai dalam bermusik dan berpuisi.

Terdapat beberapa versi cerita mengenai penampakan Banshee; kadang ia menampakan diri sebagai seorang wanita tua namun ia bias juga menjelma sebagai seorang wanita cantik. Biasanya ia muncul dengan mengenakan pakaian putih atau abu-abu dengan rambut yang panjang dan indah. Dalam berbagai mitos dijelaskan bahwa para Banshee sangat menyukai rambut mereka yang indah dan rajin menyisir rambutnya dengan sisir perak yang indah. Dalam dongeng tradisional Irlandia dipaparkan bahwa jika kita menemukan sisir yang nampak mahal dan indah tergelatak di jalan maupun di Ireland, kita tidak boleh menyentuhnya apabila mengambilnya. Pasalnya sisir yang tergeletak tersebut dipercaya disimpan secara sengaja oleh mereka, dan orang yang mengambilnya bakal dijahili atau diganggu oleh para Banshee. Meski tidak disebutkan bahwa gangguan mereka dapat berakibat fatal namun mereka bisa menyesatkan kita sehingga tidak dapat menemukan jalan untuk pulang.

Sebagai bukti Banshee bukanlah sekedar isapan jepol atau imajinasi orang-orang Irlandia, sampai saat ini masyarakat Irlandia memiliki beberapa tempat khusus yang dipercaya sebagai tempat tinggal para Banshee. Misalnya sebuah kuil yang terletak di istana Dunluce yang dipercaya menjadi tempat tinggal Banshee yang terikat dengan keluarga O’Donnels. Keluarga O’Neills bahkan punya nama untuk Banshee mereka yaitu Maeveen. Ketika ada keluarga O’Neills yang meninggal, dikabarkan bahwa Maeveen akan muncul di kastil O’Neill dengan wujud seorang wanita tua dengan gaun putih yang sangat panjang.

Bukti penampakkan Banshee tercatat di Dublin pada tanggal 6 Agustus 1801, ketika Lord Rossmore sebagai pimpinan pasukan militer Inggris di Irlandia meninggal. Sahabatnya yaitu Sir Jonah Barrington terbangun karena mendengar nyanyian yang berasal dari luar jendela. Setengah jam kemudian ia kembali mendengarkan suara lembut yang menyebut nama Rossmore sebanyak tiga kali,dan tepat pada saat itulah Lord Rossmore meninggal!!

 

Source : indohogwartsschool

Advertisements

10 thoughts on “Banshee

  1. […] -Donghae POV- “Mollayo! Aku tidak peduli!” Komentar Eunhyuk. Aku tersenyum kecil, mengamati Eunhyuk yang masih tampak sibuk melatih gerakan dance nya di depan kaca. Sementara itu, aku mulai memetik senar gitarku dan bernyanyi pelan. Nyanyianku terhenti, saat Eunhyuk dengan tiba – tiba berhenti menari dan membalik tubuhnya menghadap ke arahku. “Wae?” Tanyaku. “Aku tidak peduli bagaimana aku mati nanti. Tapi aku penasaran,” Ucap Eunhyuk lalu duduk bersila di depanku, “aku penasaran, kenapa dari kemarin kau selalu bicara tentang kematian” Lanjutnya. Aku tertawa pelan, “Apakah aku selalu berbicara tentang kematian?” Aku balik bertanya. “Nde” Eunhyuk mengangguk, “Kemarin kau bertanya model mati seperti apa yang paling menyeramkan dan menenangkan, lalu bagaimana rasanya mati, apa yang terjadi setelah mati nanti, bagaimana detik – detik sebelum kita mati, dan beberapa menit lalu, kau bertanya padaku bagaimana aku ingin mati nanti.Dan banyak lagi, selama seminggu ini” Ujar Eunhyuk panjang lebar. Aku menggeleng pelan, lalu melanjutkan permainan gitarku, “Tidak ada apa – apa. Aku hanya penasaran” Ucapku. “Ya, Lee Donghae!” Tegur Eunhyuk sambil menepuk pundakku. “Mwo?” Sahutku. “Kau..” “Mwo?” Tanyaku lagi sedikit heran dengan ekspresi Eunhyuk yang tiba – tiba menjadi serius. “Kau tidak berniat untuk bunuh diri kan?” “MWOYA!” Seruku lalu menepis tangan Eunhyuk dari pundakku, “Michosseo? Tentu saja tidak!” Tukasku. “Baguslah kalau begitu!” Eunhyuk bangkit berdiri, “Jangan bicara tentang kematian lagi, membosankan!” Lanjutnya. – Matahari sudah akan tenggelam, jalanan di sekitar rumahku semakin sepi. Namun aku belum ingin pulang. Dengan gitar di tangan kananku, aku menyusuri jalan yang sepi sambil bersenandung pulang. Langit kemerahan memayungiku, dan hembusan angin sore terasa begitu menyejukkan. Aku tersenyum kecil, inilah saat – saat favoriteku. Di saat aku dapat berjalan sendiri dengan tenang, di suasana yang sejuk seperti ini. Rasanya dunia indah sekali. Langkahku terhenti, aku memandang sungai kecil yang berada di dekat rumahku. Sungai yang biasa mengalir tenang itu tampak berbeda saat ini. Tampak seorang yeoja di pinggir sungi yang tengah mencuci. Dan itu tampak sedikit aneh, tidak biasanya di hari sesore ini, ada yeoja yang mencuci. Aku menimbang – nimbang sesaat, dan akhirnya memutuskan untuk menghampiri yeoja itu. Sungainya tidak begitu jauh, hanya butuh lima menit hingga aku sampai. Dan semakin aku mendekat ke sungai, dapat kudengar suara sendu yeoja yang tengah mencuci tadi menyanyikan lagu dengan begitu merdu. Entah lagu apa yang yeoja itu nyanyikan, namun terdengar begitu sedih. “Annyeong haseyo” Sapaku setelah berada di dekat yeoja itu. Yeoja itu berhenti bernyanyi, dan menolehkan kepalanya padaku. Disaat bersamaan, kurasakan jantungku berdetak dengan lebih cepat. Yeoja itu memiliki wajah yang begitu cantik, rambutnya yang panjang terurai tertiup angin, terlihat begitu indah. Yeoja itu tersenyum padaku, hanya senyum tipis, namun membuat jatungku berdetak lebih cepat lagi. Sesaat kemudian, ia kembali bernyanyi sambil mencuci pakaian yang ada di tangannya. Aku mengerjap – ngerjapkan mataku, mencoba untuk menyadarkan diriku sendiri. Entah bagaimana, yeoja itu terlihat begitu mempesona, wajahnya yang polos tampak sendu dan dingin. Namun ia memancarkan suatu pesona menenangkan yang tidak dapat dijelaskan. Dan rambutnya yang panjang dan indah membuat kecantikannya berlipat ganda. Aku tetap berdiri di tempatku, namun yeoja itu tampak tidak peduli dan terus melanjutkan pekerjaannya. Kualihkan pandanganku ke pakaian yang ia cuci. Ia bukan mencuci pakaian, melainkan selembar jubah, dan jubah itu dinodai oleh darah. Aku tersentak, “Jubah itu..,apakah ada sesuatu yang terjadi?” Tanyaku hati – hati sambil berlutut di samping yeoja itu. Yeoja itu kembali menghentikan nyanyiannya, dan menoleh padaku. Matanya yang sendu, kembali menyihirku. Namun gelengan kepalanya, memaksaku untuk menyadarkan diri. “Kau tampak sedih, apakah ada yang bisa kubantu?” Tawarku. Yeoja tadi kembali tersenyum, dan menggeleng, “Anio, gwanchanayo. Gamsahamnida” Jawabnya lalu menarik jubah yang telah bersih itu dan melipatnya, kemudian menaruhnya di atas rumput di sampingnya. Entah apalagi yang harus kukatakan. Aku hanya diam sambil mengamatinya yang berlahan – lahan menyelupkan kakinya ke dalam sungai. Yeoja itu memandang ke depan, lalu kembali bernyanyi. Menyanyikan lagu yang sama dengan sebelumnya, dengan nada sendu yang begitu sedih. Akupun menggulung celana jeansku ke atas, dan ikut mencelupkan kakiku ke dalam air sungai. Setelah itu, aku mulai memetik senar gitarku, menyesuaikan dengan nada yang yeoja itu nyanyikan. Dan beberapa saat kemudian, aku mulai terhanyut dalam nada – nada sendu itu. Permainanku terhenti, saat yeoja itu berhenti bernyanyi. Aku menoleh padanya, dan aku mendapati bahwa ia tengah menatapku, entah sejak kapan. Aku menelan ludah, merasakan diriku merasa gugup. “Pemainan gitarmu sangat indah” Komentarnya. Aku tersenyum, “Gomawo, tapi suaramu lebih indah lagi” Aku balas memuji. Yeoja itu tersenyum. Senyuman tipis yang sama seperti tadi, tidak lebih dan tidak kurang. Kulihat yeoja itu memungut jubah yang tadi dicucinya yang telah terlipat rapih, lalu ia menyodorkan jubah itu padaku. Aku menatapnya bingung, “Waeyo?” Tanyaku heran. “Tolong serahkan jubah ini pada salah satu keluarga dari Kang Hodong” Pintanya. Aku mengernyit, namun akhirnya aku memutuskan untuk menerima jubah itu. Namun yang membuatku semakin bingung adalah, jubah itu yang telah kering, dan entah bagaimana terasa hangat. “Darimana kau mendapatkannya?” Tanyaku yang mengingat bahwa Hodong ahjussi tengah berada di luar negri untuk melakukan misi negara, yang aku sendiri juga tidak tahu apa. Yeoja itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil. Pandangannya lalu kembali tertuju lurus ke sebrang sungai, entah apa yang ia lihat. Aku pun memutuskan untuk merubah pertanyaanku, “Siapa namamu?” Tanyaku hati – hati. Yoeja itu tidak langsung menjawab, ia mengamatiku dengan pandangannya yang sendu itu, lalu akhirnya menjawab, “Im Yoona” “Im Yoona” Ulangku, “Nama yang indah, aku akan mengingatnya” Ujarku. Yoona bangkit berdiri, begitupula aku yang mengikutinya, “Senang bertemu denganmu Lee Donghae” Ucapnya membuatku terkejut. “Bagaimana kau tahu namaku?” Yoona tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum, “Jagalah dirimu, dua bulan kedepan kita akan bertemu kembali” Ujarnya lagi. Belum sempat aku berucap, Yoona telah berbalik dan melangkah pergi. Sementara itu, aku berdiri diam di tempatku, mengamati kepergiannya dengan perasaan yang tidak dapat kujelaskan. “Im Yoona” Gumamku tanpa sadar. – “Jubah ini..” “Aku mendapatkannya dari seorang yeoja yang bernama Im Yoona, ia yang mencucinya di tepi sungai di belakang rumah” Jelasku pada Kang ahjumma. Sepulangnya dari sungai, aku langsung ke rumah Hodong ahjussi yang berada sangat dekat dari sungai tadi. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter, dan tidak sampai lima menit aku sudah sampai di rumahnya. “Im Yoona? Aku tidak kenal” Ujar Kang ahjumma, istri Hodong ahjussi. “Tapi itu benar jubah Hodong ahjussi?” Tanyaku merasa sedikit bingung dengan reaksi Kang ahjumma. Kang ahjumma tampak memeluk jubah itu erat. Matanya berkaca – kaca, “Apakah yeoja itu mencuci jubah ini sambil bernyanyi?” Tanyanya. Aku menangguk, “Ahjumma, gwanchanayo?” Bukannya menjawab, Kang ahjumma malah berbalik dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkanku yang kebingungan di ambang pintu. – Keesokan harinya, kudapati Shindong, salah satu anak dari Hodog ahjussi datang ke rumahku. Wajahnya yang besar, tampak merah, seperti habis menangis. “Hyeong, gwanchanayo?” Tanyaku heran. Shindong hyeong mengangguk lesu, “Gamsahamnida, sudah mengantarkan jubah ayahku kemarin” Ucap Shindong. Aku mengangguk, “Bukan apa – apa. Tapi, apakah ada sesuatu yang terjadi?” Tanyaku hati – hati. “Apakah kau pernah dengar tentang Banshee?” Shindong hyeong balik bertanya. Aku menggeleng, “Belum. Apa itu, hyeong?” Tanyaku. “Banshee adalah dewi penyampai pesan kematian” Jawab Shindong hyeong. “Mworago?” Seruku terkejut. “Kami sekeluarga mendengar suara nyanyiannya dari rumah kemarin sore. Tapi kami mencoba untuk mengabaikannya, hingga akhirnya kau datang dan mengantarkan jubah ayah ke rumah” Ujar Shindong hyeong, “Dan beberapa menit setelahnya, kami mendapat kabar, kalau ayah kami meninggal” Kurasakan bulu kudukku meremang, “Jadi maksud hyeong, yeoja yang aku temui kemarin adalah bashee?” Tanyaku tidak percaya. Shindong hyeong mengangguk, “Sepertinya begitu” “Tapi..” Kataku yang masih merasa bingung dan tidak percaya, “Tapi aku bersamanya cukup lama, ia tampak..” “Apakah ia terlihat begitu cantik, dengan rambut panjang dan dress berwarna putih atau abu – abu?” Shindong hyeong memotong perkataanku. “Nde, ia mengenakan dress putih” Jawabku yang masih merasa tidak percaya. Shindong hyeong menghela napas, “Sepertinya ia benar – benar banshee, entah takdir apa yang membawamu kepadanya. Apakah ia mengatakan sesuatu padamu?” Aku memutar otakku, mencoba mengingat – ngingat perkataan Yoona. Dan kalimat pertama yang terlintas adalah pengungkapannya bahwa kami akan bertemu lagi dalam waktu dua bulan. Apakah itu artinya.. “Tidak ada. Ia hanya memperkenalkan dirinya” Jawabku. “Memperkenalkan diri? Sepertinya ia telah menaruh kepercayaan padamu” Ucap Shindong hyeong. “Kepercayaan? Apa maksudnya?” Tanyaku. “Sulit untuk dijelaskan. Aku harus kembali, keadaan eomma tidak begitu baik” Aku mengerjap – ngerjapkan mataku, lalu mengangguk, “Aku dan keluargaku ikut berduka cita. Kami akan berkunjung nanti” Ucapku sambil menepuk pundak Shindong hyeong dengan sedikit canggung. Sepulangnya Shindong hyeong, aku masuk ke dalam kamar, dan mulai sibuk dengan komputerku. Mecari tahu segala hal tentang Banshee sang penyampai pesan kematian. Setelah hampir sejam berkutat di depan computer, aku sudah cukup mengerti tentang apa itu Banshee. Banshee adalah suatu makhluk yang menyampaikan pesan kematian yang muncul dengan wujud wanita. Ia dapat muncul menyerupai wanita cantik dengan rambut panjang dan indah, mengenakan dress berwarna putih atau abu – abu. Dapat pula menyerupai wanita tua dengan gaun panjang. Banyak ragam cerita yang memaparkan bagaimana Banshee memberitakan kematian. Namun sebagian besar mengatakan Banshee menyanyikan lagu dengan lirik – lirik kematian yang sendu pada keluarga yang akan ditinggalkan, entah dinyanyikan oleh dia sendiri, atau dengan merasuki salah satu anggota keluarga yang berjenis kelamin wanita. Namun kisah yang paling cocok dengan yang aku alami adalah Banshee yang muncul di sungai terdekat rumah keluarga yang ditinggalkan sambil mencuci jubah atau pakaian dari orang yang meninggal karna perang atau pertumpahan darah sambil menyanyikan lagu kematian yang sendu. Kuhempaskan tubuhku ke kasur, pandanganku terarah ke langit – langit kamar, ucapan Yoona kemarin berputar – putar di kepalaku, “Jagalah dirimu, dua bulan kedepan kita akan bertemu kembali” Dua bulan kedepan, kenapa kita akan bertemu kembali? Apakah salah satu anggota keluargaku akan meninggal? Ataukah aku sendiri yang akan meninggal? -END DONGHAE POV- -AUTHOR POV- Di puncak sebuah bukit yang berada sangat jauh dari keramaian, berdiri sebuah kastil batu megah yang selalu di selimuti kabut. Kastil yang tidak akan ditemukan oleh makhluk biasa seperti manusia. Hal itu dikarenakan kabut yang menyelimuti kastil itu, berperan sebagai penghalang magis bagi manusia biasa untuk melihatnya. Hingga kastil itu pun tidak akan pernah diketahui keberadaannya, kecuali oleh suatu makhluk dengan kekuatan tertentu. Kastil itu adalah kediaman para penyampai pesan kematian. Para penyampai pesan kematian itu, menamai diri mereka sebagai Banshee. Sesuai namanya, Banshee bertugas untuk menyampaikan pesan kematian, pada seseorang yang akan meninggal, atau keluarga yang akan ditinggalkan. Banshee dapat menyampaikan pesan, dengan memunculkan dirinya di rumah yang salah satu anggota keluarganya akan meninggal. Para Banshee juga dapat memberikan petanda dengan menyanyikan lagu berisi lirik – lirik kematian sendu pada keluarga tersebut, entah dinyanyikan oleh dia sendiri atau merasuk keluarga berjenis kelamin wanita. Dan di jendela paling atas kastil itu. Tampak yeoja cantik berambut panjang, dengan wajahnya yang tenang dan sendu, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Pandangannya seakan menembus kabut tipis yang menyelimuti kastil tempatnya berada. -YOONA POV- Aku memandang keluar jendela kamarku. Ke arah langit gelap tanpa bintang yang membungkus malam. Kupejamkan mataku, dan disaat bersamaan, alunan gitar dari namja bernama Lee Donghae tadi kembali terngiang di telingaku. Alunan gitarnya begitu indah dan menenangkan, berhasil menghanyutkanku. Hingga membuatku menaruh ketertarikan dan kepercayaanku padanya. “Yoona-ya..” Aku menoleh mendapati Yuri eonni telah berdiri di ambang pintu kamarku. Tubuhnya yang indah di balut oleh gaun abu – abu selutut yang sangat cantik. Rambut hitam panjangnya bergelombang tampak berayun di balik punggungnya. “Nde, eonni..” Sahutku. Yuri eonni melangkah mendekat dan berdiri di sampingku. Ia mengarahkan pandangannya keluar seperti yang aku lakukan tadi. Sesaat kemudian, ia kembali berucap, “Aku dengar kau memberikan jubahnya pada seorang namja bernama Lee Donghae” Ujarnya. Aku terdiam sesaat, lalu mengangguk, “Nde. Aku memberikan jubahnya padanya” Yuri eonni mengalihkan pandangannya padaku, dan tersenyum, “Apakah kau tertarik padanya?” TanyaYuri eonni. Aku tersenyum geli, “Ia begitu pandai bermain gitar, selain itu ia juga ramah dan baik hati” Ujarku. Yuri eonni menghela napas, “Aku menyayangkan takdir namja itu” Aku menerawang, takdir Lee Donghae, sangat disayangkan aku baru bertemu dengannya kemarin, “Aku tahu, eonni” Ujarku. “Dan disaat waktu itu tiba, akulah yang akan melakukannya” Ucapku mantab. “Kau harus melakukannya” Yuri eonni menimpali sambil memandangku dalam. Aku tersenyum, lalu kembali mengarahkan pandanganku ke depan. Bibirku mengucapkan nama Lee Donghae tanpa bersuara, dan di saat bersamaan, alunan gitar itu kembali terngiang di telingaku. Mengalun dengan begitu indah dan menenangkan. -END YOONA POV- -DONGHAE POV- “Apakah Banshee yang kau lihat benar – benar cantik?” Tanya Eunhyuk sambil menjejalkan potongan pisang terakhir di tangannya ke mulut. Aku menghela napas, “Sulit untuk mendeskripsikannya, cantik, sangat cantik. Atau mungkin lebih tepatnya anggun atau mempesona? Yah, semacam itulah!” “Siapa tadi namanya? Yoona? Apa itu nama aslinya?” Aku mengangkat bahu, “Entahlah, sepertinya begitu. Ia sendiri yang bilang” Jawabku. Ya, aku telah menceritakan tentang Yoona pada Eunhyuk. Terkecuali ucapan terakhirnya bahwa aku dan dia akan bertemu dua bulan lagi. Kalau seandainya saja, Yoona bukanlah seorang Banshee atau semacamnya, aku dengan bersedia bertemu dengannya dua bulan kedepan, setiap hari pun aku bersedia. Namun, setelah mengetahui bahwa Yoona adalah seorang Banshee. Hal itu membuatku gelisah setiap saat. Entah kenapa perasaanku tidak mau tenang. Dalam hati aku selalu bertanya – tanya, mengapa ia berkata seperti itu? Apakah akan ada yang meninggal? Kalau iya, siapa orang itu? Apakah salah satu anggota keluargaku, teman, atau malah diriku sendiri? Kalau boleh jujur, rasanya aku ingin memutar waktu, untuk tidak bertemu dengan Yoona beberapa hari lalu. Sehingga perasaanku tidak akan cemas seperti ini. Selain itu, aku sama sekali tidak ingin mengetahui siapa yang akan meninggal nanti. Kapan ataupun siapa, aku tidak ingin tahu. Akan lebih baik kalau tidak ada yang terjadi dua bulan kedepan. Tidak ada yang meninggal, atau apapun. – Aku menggulung celana jeansku, mendudukkan diriku di tepi sungai, dan mencelupkan kakiku ke dalam air sungai yang dingin. Aku menghembuskan napas, dan melirik ke samping. Tidak ada siapa – siapa, tidak ada lagi yeoja cantik berambut panjang di sampingku, tidak ada Yoona yang tampak begitu mempesona, seperti satu bulan lalu. Hanya ada aku dan gitarku. Kupejamkan mataku, kurasakan hembusan angin yang membelai kulitku. Samar – samar nyanyian Yoona sebulan lalu kembali terngiang di telingaku. Aku membuka mata dan menarik gitarku mendekat. Sambil mengingat – ngingat nada lagu yang dinyanyikan Yoona, aku mulai memetik sinar gitarku sambil bergumam pelan. Pandanganku tertuju pada aliran air sungai yang tenang. Sesuatu tiba – tiba seakan merayapi diriku, suatu rasa yang tidak dapat kujelaskan. Seperti perpaduan dari rasa cemas dan kosong. Apakah mungkin aku merindukannya? Sesosok Banshee yang membuat perasaanku gusar selama sebulan ini. Im Yoona. Apakah benar ia adalah sesosok Banshee? Dimanakah ia sekarang? -DONGHAE POV- -YOONA POV- Setiap hari, sejak hari pertama bulan kedua dari saat pertama kali kami bertemu. Namja itu, Lee Donghae, selalu duduk di tepi sungai tempat pertama kali kami berjumpa. Ia duduk sambil memainkan gitarnya, memainkan nada sendu yang kunyanyikan untuk menyampaikan pesan kematian Kang Hodong. Dan sejak pertama kali Donghae duduk sendiri di tepi sungai sambil memainkan gitarnya, aku selalu datang. Selama dua minggu penuh, aku mengamatinya dari jauh dalam diam. Sambil memejamkan mataku, aku bernyanyi dalam hati. Menikmati alunan gitarnya yang berhasil menghanyutkanku. Namun hari ini, aku melangkah pelan mendekatinya. Untuk duduk di sampingnya dan mendengarkan permainan gitarnya dari jarak yang lebih dekat. “Annyeong haseyo” Sapaku. Donghae berhenti memainkan gitarnya, ia mendongak, dan menatap ke arahku. Aku tersenyum, dan disaat bersamaan, aku menangkap raut terkejut di wajahnya. “Yoona..” Ucap Donghae hampir menyerupai bisikan. Kududukan diriku di sampingnya, ikut mencelupkan kakiku ke dalam air sungai yang dingin seperti apa yang aku lakukan saat pertama kali aku kesini. Aku menoleh menatap Donghae. Ia terkejut, aku tahu itu, dan ia juga tampak tidak dapat berkata apa – apa. “Kita sudah bertemu lagi” Ucapku, “Walau belum dua bulan” Aku menambahkan. Donghae tidak langsung merespond, ia mengerjapkan matanya, “Apakah kau..” Aku tersenyum, ia pasti ingin menanyakan kebenaran tentang siapa aku, namun bukan itu yang aku ingin lakukan saat ini. Yang ingin kulakukan adalah mendengarkan alunan gitarnya, “Bisakah kau bermain gitar untukku?” Pintaku. “Nde?” Sahut Donghae dengan wajah bingung. “Bisakah kau bermain gitar untukku?” Ulangku. Donghae tampak ragu sesaat, namun akhirnya ia mengangguk. Dan ia pun mulai memetik senar gitarnya, memainkan nada – nada indah yang mengalun lembut. Aku memejamkan mataku, dan mulai menyanyi dalam bisikan pelan. -END YOONA POV- -DONGHAE POV- Aku menghentikan permainan gitarku, dan menolehkan kepala. Kulihat Yoona yang tengah mengayunkan kakinya yang putih dan jenjang di dalam air sungai. Sementara tangannya tampak sibuk menyisiri rambut panjangnya yang bagai sutra dengan sisir perak yang berkilau. “Aku sangat suka permainan gitarmu. Sangat indah” Ujar Yoona sambil terus menyisiri rambutnya. Aku menelan ludah, aku sudah membaca tentang ini di internet, bahwa para Banshee sangat menyukai rambut mereka. Dan suka menyisiri rambut mereka dengan sisir perak yang indah, persis seperti yang dilakukan Yoona saat ini. “Gomawo” Jawabku. “Ada yang ingin kau tanyakan atau katakan padaku?” Tanya Yoona dengan suaranya yang lembut dan pelan. Aku ragu – ragu sesaat, namun akhirnya berhasil memaksa diriku untuk bertanya, “Mungkin tidak sopan kalau aku bertanya tentang ini, tapi Banshee..,apakah kau..” Perkataanku terputus, dan menatap Yoona yang telah tersenyum tipis dan meletakkan sisirnya di pangkuan, “Nde. Tepat seperti dugaanmu” Jawab Yoona. Aku terhenyak, bagaimanapun juga, aku tidak akan menyangka Yoona dapat menjawab dengan semudah ini. Entah apalagi yang harus aku katakan, aku sudah benar – benar kehabisan kata – kata saat ini. “Apa kau takut padaku?” Tanya Yoona. Aku tidak langsung menjawab, apakah aku takut padanya? Aku tidak tahu. Selama sebulan lebih Yoona membuat perasaanku gusar, membuatku merasa cemas dan sebagainya. Namun disaat bersamaan, aku merasa diriku merindukannya. Dan sekarang, saat ia duduk di sampingku sambil mendengarkan permainan gitarku. Kurasakan darahku tak henti – hentinya berdesir, dadaku seakan meletup – letup karna gugup dan senang mengetahui bahwa Yoona menyukai permainan gitarku. Apakah aku takut padanya? Tidak, aku tidak takut. Walaupun ia adalah Banshee sang penyampai pesan kematian sekalipun. “Anio, kurasa aku tidak takut padamu” Jawabku. Yoona memandang tepat ke mataku, lalu ia tersenyum, “Kau sudah membuatku merasa bahagia karna permainan gitarmu” Ujar Yoona membuat wajahku memerah. “Aku akan mengabulkan satu permintaanmu, katakan saja, apapun itu” Tambah Yoona. “Permintaanku?” Tanyaku sambil mengernyitkan dahi. “Nde, apa saja” Angguk Yoona. Aku memutar otakku. Permintaan macam apa yang aku inginkan? Sesuatu yang benar – benar aku inginkan? Apakah itu? -END DONGHAE POV- -YOONA POV- Donghae tampak berpikir keras. Bukan sesuatu yang aneh, ia pasti mencari – cari keinginan yang paling ia inginkan, dan tentunya itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diputuskan. Karna keinginan seseorang pasti sangat banyak, dan untuk mecari sesuatu yang paling kita inginkan memang membutuhkan waktu. Kudapati Donghae menghembuskan napas. Dan untuk pertama kalinya, Donghae menatap tepat ke mataku. Pandangan Donghae tampak matab dan menuntut. Aku balas menatapnya dan bertanya, “Apa keinginanmu?” “Saat aku mati nanti, kaulah yang ada di sampingku, dan bernyanyi untukku” -END YOONA POV- -DONGHAE POV- Pertemuanku dengan Yoona berlalu begitu saja. Entah apa yang membuatku mengucapkan keinginan itu. Walau begitu aku sadar bahwa aku memang menginginkan Yoona ada di sampingku dan bernyanyi untukku saat aku meninggal nanti. Ucapannya setelah aku mengungkapkan keinginanku kembali terngiang di telingaku, “Permintaanmu adalah permintaanku” Satu ucapan yang ia ucapkan dengan suatu senyuman yang tidak biasa. Bukan senyuman tipis datar yang biasa ia tunjukan. Namun senyuman yang sangat manis, tanpa pancaran kesedihan dari matanya. Senyum yang sangat indah, dan sempat membuatku seakan terbawa ke dunia lain. Mungkin terdengar terlalu berlebihan, tapi itulah yang kurasakan. Kalau aku menceritakan hal ini pada Eunhyuk, pasti ia akan mengataiku bodoh, idiot dan sebagainya. Menyianyiakan sesuatu yang hanya kudapatkan sekali, suatu permohonan apa saja yang akan dikabulkan. Untuk beberapa saat, aku juga merasa diriku bodoh, namun suatu perasaan asing dalam diriku berteriak kalau apa yang aku ucapkan, memang benar keinginanku yang terpendam yang paling kuinginkan. – “Donghae-ya..,ada apa denganmu? Kau kelihatan gelisah sejak tadi pagi” Tegur eomma. Aku tersentak, “Ah, anio. Gwanchanayo” Jawabku lalu berlalu masuk ke dalam kamar. Ya, sejak aku pertama kali membuka mataku. Perasaanku sudah tidak karuan, perasaan gelisah yang sangat mengganngu. Hari ini tepat dua belan sejak aku pertama kali bertemu dengan Yoona. Entah kenapa perasaanku tidak enak, hingga aku pun menjadi was – was. Sedari tadi aku mengamati eomma dan saudara – saudaraku. Semuanya tampak sehat, namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun setidaknya, aku pikir mereka aman saat ini. Pikiranku lalu teralih pada Eunhyuk. Dimana bocah itu? Kenapa aku tidak mendapat telpon ataupun sms darinya sejak tadi? Benar – benar tidak seperti biasanya. Aku menyambar handphoneku yang tergeletak di atas meja belajar, dan menekan nomor telephone Eunhyuk. Namun sia – sia handphone nya tidak aktif. Aku mengerang, kemana anak itu? Aku pun memasukkan handphoneku ke dalam saku jeans yang kupakai, dan melangkah cepat keluar kamar. “Donghae-ya, mau kemana?” Tanya eomma sambil melongokkan kepalanya dari pintu dapur. “Ke rumah Eunhyuk” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari sepatu yang kupakai. “Aku pergi dulu!” Seruku setelah mengikat asal tali sepatuku. Aku menuju rumah eunhyuk sambil berlari. Jujur saja, bocah itu memang berhasil membuatku cemas. Bagaimana kalau alasan bahwa Yoona akan bertemu denganku selama dua bulan itu, dimaksudkan untuk menyampaikan pesan kematian atas Eunhyuk?! Aissshh..,jeongmal! Dimana manusia itu sebenarnya?! – “Eunhyuk tidak di rumah, ia keluar sekitar dua jam lalu” Jawab kakak perempuan Eunhyuk sesampainya aku di rumahnya. “Dia kemana?” Tanyaku. Kakak perempuan Eunhyuk mengangkat bahunya, “Mollayo. Kenapa kau tidak menelponnya?” Saran kakak Eunhyuk. “Handphone nya tidak aktif” Jawabku semakin merasa cemas. “Kenapa wajahmu seperti itu? Apakah ada yang terjadi?” Tanya kakak Eunhyuk heran. Pikiranku sudah tidak terfokus saat ini, aku menggelengkan kepala, “Anio. Kalau begitu aku pergi dulu” Ujarku lalu berlari pergi meninggalkan rumah Eunhyuk. Napasku memburu, rasa cemas dalam diriku semakin mengembang, kali ini diikuti rasa jengkel yang luar biasa. Dimana sebenarnya namja itu? Kenapa menghilang tiba – tiba seperti ini? Aku mendatangi setiap tempat yang sering Eunhyuk kunjungi, tempat – tempat dimana ia biasa bersembunyi apabila sedang sedih atau marah. Aku bahkan mendatangi rumah teman – teman Eunhyuk, yang sering ia datangi. Namun nihil, aku tidak menemukan Eunhyuk. Kutegak air mineral yang baru saja kubeli, menghembuskan napas, lalu melayangkan pandanganku ke sekeliling. Berharap Eunhyuk muncul tiba – tiba dengan seringaian khasnya dengan keadaan baik – baik saja. “Donghae oppa!” Sontak aku menoleh ke asal suara, kulihat Sulli yang tengah berlari cepat ke arahku. Wajahnya pucat dan penuh keringat, hal itu membuatku semakin merasa panik, “Ada apa?” Tanyaku cepat. “Eunhyuk oppa..” Ucap Sulli terengah. “Eunhyuk? Eunhyuk kenapa?” Tanyaku. “Ia dikeroyok geng Heenim” Kurasakan jantungku mencelos, “Dimana?” Tanyaku sedikit bergetar. “Di gang dekat taman, oppa palli!” Ujar Sulli. Tepat saat Sulli selesai bicara, tanpa berkata apa – apa, aku segera berlari untuk menyusul Eunhyuk. Dalam hati aku berdoa, agar semuanya dapat baik – baik saja. – Aku mengintip dari balik dinding gang. Benar saja, geng Heenim tampak tengah mengerumuni Eunhyuk yang telah babak belur. Melihat keadaan Eunhyuk saat itu membuat amarahku memuncak, ingin rasanya aku segera menerjang mereka dan membalas perbuatan mereka. Tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya, aku hanya sendiri, sedangkan ada Heechul, KangIn, dan Yesung disana. Kuamati Eunhyuk yang tampak semakin lemah, aku berharap ia menyadari keberadaanku. Dengan begitu, aku dapat meminta tanda darinya disaat yang tepat bagiku untuk keluar. Dan suatu keberuntungan datang saat mata Eunhyuk tiba – tiba menangkap keberadaanku. Pancaran harapan dan terima kasih tampak jelas di mata Eunhyuk, dengan segera aku menekankan jari telunjukku ke bibir agar ia tidak membocorkan keberadaanku. Setelah itu, aku memberikan tanda pada Eunhyuk bahwa aku akan menolongnya, dan memintanya untuk memberikan tanda disaat waktu yang tepat bagiku untuk muncul. Aku dan Eunhyuk memang telah mempelajari kode rahasia dengan tangan yang kami buat sendiri, dan itu memang sangat berguna untuk saat – saat seperti ini. Beberapa menit kemudian, Eunhyuk memberikan tanda dengan tangannya bahwa aku bisa keluar sekarang. Sambil berdoa dalam hati, aku segera keluar. Dan sebelum ketiga anggota geng Heenim itu menyadari keberadaanku, aku segera menerjang Heechul yang berdiri tepat di depan Eunhyuk hingga terdorong dan jatuh kebelakang. Kudegar Heechul mengumpat, sementara KangIn yang dengan sigap segera menangkap lenganku. Namun aku dapat melepaskan pegangannya, dan menarik Eunhyuk hingga bangun. Tubuh Eunhyuk oleng, hingga aku perlu menyangganya. Dan hal itu cukup membuatku sulit bergerak. Walau begitu, aku tetap berusaha untuk menyangga tubuh Eunhyuk. “Gwanchana?” Tanyaku pelan pada Eunhyuk. “Terimakasih sudah datang” Sahut Eunhyuk sambil menyeringai. Kalau tidak mengingat situasi saat ini dan bagaimana kondisi Eunhyuk, rasanya aku ingin menonjok wajahnya itu. Benar – benar menyebalkan! “Siapa ini yang datang? Si ikan?” Seru Heechul lalu tertawa. “Kita kabur saja” Bisik Eunhyuk padaku. Aku tidak menanggapi, mataku waswas memperhatiakan gerakan tiga orang di hadapanku. Karna mereka bisa menyerangku kapan saja. “Apapun yang manusia ini lakukan, bisa kalian lupakan saja? Aku ingin membawanya pergi sekarang juga” Ujarku berusaha tenang. Yesung tersenyum sinis, “Kami tidak melepaskan pengganggu dengan begitu mudah” Aku menggeretakkan gigi kesal, “Kau sudah membuatnya babak beluar. Tidakkah cukup?” “Tidak” Jawab KangIn santai. “Selain itu, kau juga mengganggu kami, jadi hukumannya ditambah lagi” Ujar Heechul sambil mengarahkan jari telunjukkanya padaku. “Kami minta maaf. Bisa biarkan kami pergi sekarang?” Pintaku setenang mungkin. “Kami tidak meminta permintaan maaf” Jawab Heechul. Dan dengan tiba – tiba Heechul mengarahkan tinjunya tepat ke perutku. Aku terbatuk, tubuhku oleng, untunglah Eunhyuk membantuku menjaga keseimbangan hingga aku tidak terjerembab jatuh. Belum sempat aku membalas perbuatan Heechul, KangIn sudah menerjang kami berdua hingga ambruk. Tubuh Eunhyuk jatuh dan menimpa tubuhku, aku mengerang dan mendorongnya agar menyingkir. Eunhyuk mengguling tubuhnya dan bangkit dengan berpegangan pada tembok. Ia menjulurkan tangannya dan membantuku berdiri. Setelah berhasil berdiri, aku tidak lagi berbasa – basi. Dengan segera, aku melayangkan tinjuku sekuat mungkin ke wajah KangIn. Tepat setelahnya Yesung balas menyerangku, namun aku sudah siap, dan dapat menangkis lalu membalas serangannya. Eunhyuk juga berusaha untuk membantuku. Dua lawan tiga, hanya beda tipis. Kalau kami tidak bisa mengalahkan mereka, kami bisa kabur disaat waktu yang tepat tiba. Wajahku pasti sudah penuh memar sekarang, namun aku tidak begitu memperdulikannya. Mataku sesekali mengawasi Eunhyuk yang tampak sedang menangani Yesung. Disaat bersamaan kudapati tubuh Eunhyuk oleng, dan tampak akan benar – benar jatuh. Aku hendak membantunya, namun tanpa diduga, KangIn menyeruduk tubuhku ke belakang, hingga kepalaku membentur tembok gang dengan sangat keras. “Donghae-ya!” Terdengar seruan Eunhyuk. Namun kepalaku terasa benar – benar sakit, sangat sakit, hingga pandanganku merabun. Kurasakan tendangan seseorang di tubuhku. Aku tidak tahu siapa, kepalaku terlalu sakit dan pening, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Bahkan suara – suara di sekelilingku hanya terdengar samar – samar. Hingga akhirnya kurasakan suatu tangan yang membopongku hingga aku bangkit berdiri. Berlahan – lahan pandanganku semakin jelas. Kudapati Eunhyuk yang memanggil – manggil namaku berulang kali, aku tersadar, bahwa saat ini Eunhyuk tengah bersusah payah menarik tubuhku untuk membawaku kabur. Aku segera menyadarkan diriku, dan kali ini akulah yang membopong tubuh Eunhyuk yang sudah benar – benar lemah untuk pulang. – Aku melemparkan handuk yang telah kubasuh dengan air hangat pada Eunhyuk yang tengah membaringkang tubuhnya di sofa. “Gomawo” Ucap Eunhyuk lalu mulai membersihkan luka – lukanya berlahan sambil berbaring. Aku mendudukan diriku di salah satu kursi di dekat Eunhyuk sambil mengompres kepalaku dengan sekantung es batu yang kuambil dari kulkas, “Ya, sebenarnya apa yang kau lakukan, huh?” Tanyaku. “Mereka mengganggu Sulli” Jawab Eunhyuk singkat. Aku menghembuskan napas, menyandarkan diriku pada sandaran kursi, “Kau baik – baik saja kan?” Tanyaku. Eunhyuk melirikku lalu terkekeh, “Tidak akan bertambah parah. Kau se-khawatir itu ya?” Mendengar perkataan Eunhyuk aku terdiam. Eunhyuk tampak baik – baik saja, yah, walau tubuhnya babak belur tapi ia tidak akan mati sekarang. Eomma dan keluargaku yang lain tengah keluar rumah untuk menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat dekat eomma. Aku sudah menelpon eomma dan menanyakan kondisi di sana, semuanya terdengar baik – baik saja. Aku menghembuskan napas, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dalam hati aku berharap, hari ini dapat berlalu dengan lebih cepat. Tanpa ada apapun yang terjadi. “Donghae-ya..” Panggil Eunhyuk. “Nde?” Sahutku sambil menekan keningku yang tiba – tiba kembali terasa sakit dengan sebelah tangan. “Ada apa denganmu? Kenapa kau kelihatan begitu gelisah?” Tanya Eunhyuk dengan wajah heran. Aku bangkit berdiri, lalu menggeleng pelan, “Gwanchanayo” Jawabku. “Kau mau kemana?” Tanya Eunhyuk. “Ke kamar” Jawabku tanpa menoleh. Tiba – tiba saja, kepalaku kembali terasa sakit. Sangat sakit, hingga aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mataku sebentar. Namun setelah aku berbaring, rasa sakit di kepalaku tidak berkurang. Kepalaku terus berdenyut – denyut menyakitkan, terutama bagian belakang kepalaku. Mungkin efek setelah terbentur dinding tadi. Aku mengerang, napasku memburu, karna rasa sakitnya semakin tidak tertahankan. Ingin rasanya aku memanggil Eunhyuk, namun suaraku sulit keluar, dan sekarang pandanganku mulai memburam. Sementara diriku berusaha keras melawan rasa sakit di kepalaku sambil memejamkan mata, telingaku tiba – tiba menangkap suatu suara lirih di dekatku. Suatu suara yang hampir menyerupai bisikan, dan berlahan – lahan suara itu terdengar semakin jelas. Kali ini, suara itu terasa berada sangat dekat di sampingku. Dan suara itu terasa sangat familiar, suara seorang yeoja yang tengah menyanyikan lagu sendu dengan sangat indah dan merdu. Kurasakan darahku berdesir, berlahan kubuka mataku, benar saja. Yoona telah berada di sana, duduk di tepi tempat tidurku. Berada begitu dekat di sisiku, sinar matanya yang sedih dan penuh kasih menatapku lekat. Suatu pemahaman berlahan mendatangi pikiranku. Akulah yang dimaksud oleh Yoona. Dua bulan, adalah jangka waktu sebelum aku meninggal. Yoona memberitahuku akan hal itu. Ia tidak mengatakan dengan jelas apa yang ia maksud dengan pertemuan dua bulan yang ia katakan. Karna pertemuan kami pada waktu dua bulan, adalah saat Yoona menyampaikan pesan kematianku. Awalnya aku pikir aku akan merasa takut saat menghadapi kematian. Namun tidak, aku merasa tenang, lebih tenang dari yang kusadari. Kupandang wajah Yoona yang tampak sangat mempesona, dan menyadari begitu beruntungnya diriku. Di saat aku akan meninggal, yeoja yang baru kusadari ternyata telah mencuri hatiku lah yang berada di sisiku. Rasa sakit di kepalaku masih terasa, namun entah bagaimana sudah tidak begitu mengganggu ku lagi. Aku dapat merasakan rasa sakitnya, namun tidak bermasalah dengan itu. Tubuhku bagai terpisah dari rasa sakit itu. Kupejamkan mataku, menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Yoona. Lagu yang dinyanyikan Yoona bukanlah lagu sendu yang terasa sangat menyedihkan seperti saat ia mencuci jubah Hodong ahjussi. Lagu yang ia nyanyikan saat ini berbeda. Walau nadanya tetap sendu, lirik – lirik yang ia lantunkan membawaku kedalam ketenangan yang hening. Kubuka mataku berlahan, memandang wajah Yoona untuk terakhir kalinya. Kulihat ia tersenyum, senyum yang sangat indah. “Gomawo” Bisikku pelan. Dan sedetik kemudian, aku memejamkan mataku. Jatuh tertidur untuk selamanya, dengan damai dan senyum di wajahku. -END DONGHAE POV- -EUNHYUK POV- Entah hanya perasaanku atau apa, aku mendengar seorang yeoja yang tengah menyanyi. Tidak yakin dari mana asalnya, karna suara nyanyian yeoja itu sangat pelan. Awalnya aku tidak begitu peduli, namun lama – kelamaan, entah kenapa, perasaanku jadi tidak enak. Aku bangkit berdiri, menegak segelas air di atas meja makan, sambil bertanya – tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Donghae. Mungkin ia tertidur, ia terlihat sangat lelah, dan pucat tadi. Kuletakkan gelas yang telah kosong di tanganku ke atas meja. Lalu melangkahkan kakiku, bermaksud untuk menghampiri Donghae. Namun baru beberapa langkah aku berjalan, tiba – tiba kurasakan tubuhku membeku. Beberapa meter di hadapanku, tampak seorang yeoja berambut panjang hitam indah dan dress putih selutut berdiri di sana. Wajahnya yang cantik dan mata indahnya yang sendu memandang lurus padaku. Jantungku seakan berhenti berdetak, dan disaat aku belum benar – benar sadar. Tiba – tiba saja yeoja itu menghilang begitu saja. Entah bagaimana, aku tidak melihatnya, walau aku yakin aku tidak mengalihkan pandanganku ataupun mengedip sekalipun. Sesaat kemudian, aku segera melangkah cepat menuju kamar Donghae. Perasaanku mulai kalut, cemas, dan khawatir merayapiku. “Donghae-ya!” Seruku setelah membuka pintu kamar Donghae. Donghae ada di sana, di atas tempat tidurnya. Dengan mata terpejam, tampak tenang, sangat tenang. Kakiku terasa lemas, namun aku menyeret diriku hingga ke tepi tempat tidur. Kujulurkan tanganku, menyentuh pergelangan tangan Donghae. Menyentuh kulitnya yang terasa dingin. “Donghae-ya..” Bisikku, “Donghae-ya!” Kali ini aku berucap dengan lebih keras. Namun Donghae tidak bergerak, tidak membuka matanya, tidak membentakku agar diam. Dan tidak kurasakan pula denyut nadi di pergelan tangannya, ataupun napasnya. Mataku memanas, dadaku terasa sesak, aku tidak percaya hal ini terjadi. Di saat bersamaan, kudengar suara nyanyian seorang yeoja yang terasa dekat denganku. Suatu nyanyian sendu, seperti yang kudengar sebelumnya. Aku mendongak, mendapati yeoja yang kulihat tadi tengah menatap Donghae sambil bernyanyi pelan. “Banshee..” Gumamku tidak percaya. Pandangan yeoja itu teralih padaku, kurasakan darahku berdesir. Dan sesaat kemudian yeoja itu menghilang dari pandanganku, bersamaan dengan keyakinanku bahwa Donghae memang telah meninggal. THE END GAKSHJDAASDAL…,FF macam apa ini? Hohoho..,mian kalo anehT,T..Jangan lupa comment dan kalau suka di like ya! Bulan ramadhan nih, pahala berlipat ganda^^ Yang comment berarti pahalanya berlipat ganda, jadi ayo comment! *maksa* Gamsahamnida sudah dibaca^^ PS : Bagi yang mau baca penjelasan tentang Banshee, bisa cek di blog ku disini^^ […]

  2. oh, my god!
    berhasil buat aku merinding.. ckck, ternayata banshee serem juga kekeke o.O
    gomawo ya udah share infonya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s