My Silver Chap.3

Title : My Silver Chap.3
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin (udah ganti nama korea^^)
Rating : PG-13
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ)

Telat lagi..-,-“ Mianhae *bow* Setelah melewati berbagai macam rintangan akhirnya chap ini selesai juga-Terima kasih bagi yang masih setia menunggu^^ *nggak tau mau ngomong apa lagi* Silakan dibaca dan jangan lupa comment!!!

Changmin POV-

Malam sudah mulai larut, namun mau tidak mau, aku tetap harus menyusuri jalan yang telah sepi ini. Dengan hanya berbekal senter kecil di tangan kananku, aku berjalan dalam diam, lalu akhirnya masuk ke dalam sebuah gang sempit yang ada di sisi kanan jalan. Kunyalakan senterku, menyorotkan cahayanya ke jalan di hadapanku, supaya aku dapat melihat dengan lebih jelas. Pada malam hari, gang ini terasa lebih sempit, dan setiap belokannnya seakan menyesatkanku. Walau begitu, aku cukup yakin bahwa jalan yang aku lalui adalah jalan yang benar.

Saat ini, aku tengah menuju tong sampah yang berada di salah satu sudut gang yang aku datangi dua hari lalu. Pada hari itu, aku membuang kantung pelastik yang berisi bungkus – bungkus bekas makananku di tong sampah tersebut. Dan keesokan harinya, aku baru tersadar bahwa game Kyuhyun yang kupinjam darinya, kumasukkan pula kedalam kantung pelastik tersebut, dan kubuang ke tempat sampah bersama bungkus – bungkus makanannya. Benar – benar sial!

Kyuhyun marah besar tadi siang, dan ia menyuruhku untuk segera mengambil game nya kembali. Aku tidak bisa menyalahkannya karna ia marah dan tidak mau memaklumi perbuataanku. Game itu adalah game termahal yang paling ia banggakan, dan ia beli dengan tabungannya sendiri. Ia menabung selama tiga bulan lebih dan selama tiga bulan itu pula ia tidak menggunakan uang saku nya. Bahkan ia tidak datang ke game center. Sampai – sampai Yesung, pemilik game center itu, bertanya apakah Kyuhyun benar – benar masih hidup. Aku juga sudah berjanji akan menjaga game nya itu dengan baik, dan jelas aku tidak menepati janjiku itu. Lagipula, ia kan EvilKyu, ia tidak akan peduli kalaupun aku berjalan menyusuri gang sempit yang gelap dan bau ini di tengah malam. Yang ia inginkan adalah game nya sudah ada di tangannya tepat jam lima pagi besok. Benar – benar EvilKyu, bocah paling mengerikan di dunia.

Dan kenapa aku melakukannya di tengah malam sebenarnya adalah kesalahanku juga. Tadi sore, saat Yunho hyeong mengajakku untuk pergi ke mall dan berjanji akan meneraktirku makan, aku langsung melupakan game Kyuhyun saat itu juga. Aku baru teringat saat aku sampai di rumah, saat malam telah larut. Kalau saja Kyuhyun tidak memberikan ancaman padaku, aku pasti tidak akan mau melakukannya sekarang. Ya, Kyuhyun memang mengancamku, ia mengatakan akan bilang ke Yunho hyeong kalau akulah yang menjatuhkan handphone nya beberapa hari lalu  hingga rusak. Dan kalau sampai Kyuhyun mengadukanku pada Yunho hyeong, maka aku akan berada dalam posisi yang lebih berbahaya dari sekarang.

Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya aku sampai ke tempat dimana aku membuang kantung plastik yang berisi game milik Kyuhyun. Aku bertanya – tanya dalam hati apakah tong sampah itu sudah dibersihkan atau belum. Namun tampaknya belum, karna bau busuk sampah tercium bahkan sebelum aku mendekatinya. Bau busuk sampah itu membuat kepalaku pening. Aku mengutuki diriku dalam hati kenapa tidak membawa masker dan satung tangan.

“Aiissshh..,jeongmal!” Gerutuku saat membuka tutup tong sampah itu dan melemparnya asal ke samping.

Kusorotkan cahaya senter pada permukaan tong yang dipenuhi dengan sampah itu. Aku menghembuskan napas, apakah aku harus benar – benar mengaduk – ngaduk sampah itu dengan tangan kosong seperti ini? Benar – benar menjijikkan! Aku mengarahkan cahaya senterku ke sekeliling, mencoba mencari – cari kantung pelastik kosong yang bisa membungkus tanganku. Dan aku menemukannya beberapa meter di sampingku, aku memungutnya, dan memasukkan tangan kananku ke dalamnya. Sebenarnya kantung pelastik itu tidak benar – benar bersih, namun lebih baik daripada aku harus mengorek – ngorek sampah dengan tangan kosong.

Sementara tangan kiriku menggenggam erat senter kecilku, tangan kananku sibuk mengaduk – ngaduk tong sampah di depanku. Memeriksa setiap kantung plastik yang ada dan meneliti setiap sampah menjijikkan di dalamnya. Setelah hampir setengah jam mencari, aku tetap tidak menemukan apa – apa. Dalam hati aku mulai bertanya – tanya apakah ini tong sampah yang benar atau bukan.

“Kalau bukan gara – gara si evil itu mengancamku, aku tidak akan melakukan ini!” Gerutuku sambil terus menelti plastik hitam di tanganku.

“Menjijikkan!” Komentarku saat menemukan popok bau dan segera melemparkannya asal menjauh dariku.

Aku mengeluarkan suara ingin muntah, lalu mulai melanjutkan pencarianku, “Rasanya aku ingin menjejalkan Kyuhyun dengan sambal terasi!” Gumamku lagi.

“Bocah menyebalkan!” Aku kembali menggerutu.

“Kalau bukan gara – gara Kyuhyun, aku tidak akan ada disini” Lanjutku.

Aku terus bekerja sambil menggerutu. Rasanya aku kesal sekali! Yah, walau ini memang salahku, aku tidak bisa berhenti untuk menyalahkan Kyuhyun juga. Gerutuanku terhenti saat aku mendengar suatu suara yang tampaknya berasal dari belakangku.

Kutajamkan pendengaranku, dan disaat bersamaan, dapat kudengar suara langkah kaki ringan di atas asapal becek di belakangku. Aku mengernyit, dan dengan berlahan dan ragu – ragu, aku menoleh ke belakang.

Aku mengerjapkan mata terkejut, menyorotkan senterku ke seliwet bayangan hitam di belakangku. Kusorotkan senterku kesana, dan kudapati seseorang dengan jubah hitam panjang yang jatuh hingga menyentuh tanah, dan tudung yang di tarik ke depan hingga menutupi wajahnya berdiri beberapa meter di hadapanku. Hawa dingin perlahan menyelubungiku, entah hanya khayalanku atau bukan, tapi aku merasa sedikit kedinginan.

Kudapati diriku menegang, aku menelan ludah, dan berseru, “Neo nuguya?” Tanyaku sedikit bergetar.

Sosok di hadapanku itu menyeringai dan jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat taring di deretan giginya.

“Sepertinya aku sudah mendapatkan makan malam yang sangat nikmat” Ucapnya dengan suaranya yang dingin hingga berhasil membuat bulu kudukku merinding.

Aku melangkah mundur, namun malah menabrak tong sampah di belakangku. Mataku tertuju pada sosok bertudung hitam tersebut. Sosok itu melangkah mendekatiku.

“Jangan mendekat!” Aku memperingatkan.

Sosok itu tampak tidak peduli, dan tetap melangkah mendekatiku. Aku menggerakkan tanganku ke samping, mencoba meraih apapun yang dapat kujadikan senjata. Namun lenganku malah terkena pinggiran tajam tong sampah.

“Akh!” Rintihku pelan menyadari lenganku yang telah berhias garis merah yang mengeluarkan darah.

Sambil menahan rasa perih di tanganku, aku mengalihkan kembali pandanganku pada sosok bertudung tadi. Entah sejak kapan, sosok itu berhenti melangkah. Ia diam mematung di tempatnya. Aku memutar otakku, menebak – nebak siapa sosok di hadapanku ini. Apakah seorang pereman, penculik, pembunuh, atau apa? Apabila dilihat dari postur tubuhnya ia tidak tampak seperti laki – laki yang sanggup untuk membantingku seperti boneka ataupun menyergapku dan memasukkanku ke dalam karung. Ia bahkan tidak terlihat seperti laki – laki sama sekali. Dan kalaupun ia wanita, apa yang ia lakukan di sini selarut ini, dengan jubah hitam panjang seperti itu. Dan taring yang kulihat tadi, mengarahkan pikiranku bahwa sosok di hadapanku adalah vampire. Namun aku hanya melihat taringnya sekilas, bisa saja itu hanya khayalanku. Dan dengan jubah hitamnya yang ia pakai, sosok itu mengingatkanku pada Dementor (Tau kan? Makhluk yang bibirnya memble yang terbang2 di film Harry Potter itu!).

Belum sempat aku memutuskan makhluk apa ia sebenarnya, sosok bertudung itu tiba – tiba saja bergerak dengan sangat cepat ke arahku. Hingga diriku yang tidak siap terdorong ke belakang, menghantam tong sampah yang berada tepat di belakangku sehingga tergeser dan ambruk menghantam aspal. Sementara itu punggungku menabrak dinding basah dengan sangat keras hingga aku mengerang kesakitan.

Kepalaku pening, kurasakan sebuah tangan menekan tubuhku ke dinding, dan  kuku – kukunya yang sangat tajam menembus kaus ku dan melukai kulitku. Aku mencoba untuk memberontak, namun sosok di hadapanku ini terlalu kuat. Kufokuskan pandanganku pada sosok di hadapanku tersebut, dan merasakan tubuhku merinding seketika. Tudung yang menutupi sosok itu sudah tersibak ke belakang, sehingga aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Kulitnya pucat seperti orang mati, seluruh bola matanya putih, dan rambutnya menjuntai ke depan bagaikan tirai. Ia menyeringai, menampakkan taringnya yang runcing. Di saat bersamaan aku menyadari bahwa sekitar tiga menit lalu aku memang tidak berkhayal.

Sedetik kemudian, sosok itu membenamkan taringnya ke leherku. Aku berteriak, mengeram, dan berusaha memberontak. Namun sia – sia, sosok yang telah kusimpulkan adalah vampire itu menahanku hingga tidak dapat berkutik. Kurasakan leherku panas dan sakit luar biasa, aku pun dapat merasakan bagaimana vampire ini menghisap darahku hingga tubuhku melemas.

Pandanganku memburam. Aku tidak pernah menyangkan akan mati dengan cara seperti ini, dengan vampire yang menghisap darahku hingga aku mati. Namun secara tidak di duga, tiba – tiba saja vampire itu melepaskan pegangannya dariku, hingga aku jatuh, dan tergolek tak berdaya di atas aspal. Kudapati vampire itu berdiri di sisi lain tubuhku, namun aku tidak tertarik untuk menatap ke arahnya. Ku alihkan pandanganku pada tumpukan – tumpukan sampah yang ada beberapa meter di sampingku.

Dan tiba – tiba saja, aku melihat ada sesuatu yang berkilau di antara tumpukan sampah tersebut. Aku tidak yakin apa, namun terlihat familiar. Sedetik kemudian aku menyadari bahwa benda itu adalah Game milik Kyuhyun. Entah apa yang aku lakukan, namun tanpa pikir panjang, dengan sisa – sisa tenagaku, aku menarik tubuhku untuk meraih game tersebut. Entah apa yang dipikirkan vampire itu melihatku saat ini, mungkin ia berpikir aku akan kabur. Dan sebenarnya, kalau aku sanggup, aku akan kabur. Setidaknya setelah aku berhasil mengantungi game tersebut.

Aku berhasil meraih game tersebut tanpa banyak halangan. Aku bertanya – tanya dimana dan apa yang dilakukan vampire itu lakukan, mengapa ia tidak membunuhku. Apakah ia ingin membiarkanku mati pelan – pelan dan membusuk disini, ataukah mungkin setelah ia menggigit dan menghisap darahku, aku akan menjadi vampire seperti dirinya, dan sekarang ia sedang menunggu perubahanku. Entah lebih baik memilih mati atau menjadi vampire.

Seakan menjawab pertanyaanku, kudengar langkah kaki ringan yang mendekat ke arahku. Dan sedetik setelahnya vampire itu sudah berdiri tepat di depan wajahku. Yang kulihat hanyalah kakinya yang putih mulus dan tanda bulan sabit tepat di atas mata kakinya. Aku memejamkan mata, menggenggam game Kyuhyun erat, lalu tenggelam dalam kegelapan.

-END CHANGMIN POV-

-SEOHYUN POV-

Eomma duduk di sana, di tepi tempat tidurku. Matanya menatap tepat ke arahku, saat aku membuka kamar dan menyadari keberadaanya.

“Apa yang eomma lakukan disini?” Tanyaku sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

Eomma tidak langsung menjawab, dan aku juga tidak begitu peduli. Kulepaskan berlahan jubahku, dan menggantungkannya di balik pintu.

“Kau mencari darah sendiri?” Eomma balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku mengalihkan pandanganku kembali dan menatapnya penuh penilaian, “Aku hanya ingin darah segar” Jawabku.

“Aku bisa mencarikanmu, kau tidak seharusnya pergi sendiri” Tukas eomma.

Aku mengerling, “Tidak, eomma tidak bisa. Eomma bukan Vernald, eomma hanya pemburu darah”

Eomma menggigit bibirnya, tampak jelas ingin mengucapkan sesuatu namun menahannya. Aku pun kembali berkata,

“Pergilah eomma, aku mau istirahat” Kataku.

Eomma menatapku penuh arti, namun akhirnya bangkit berdiri dan berlalu keluar kamar. Aku mengunci pintu kamarku, dan menghempaskan tubuhku yang kotor ke kasur.

“Namja itu..” Gumamku pelan lalu memejamkan mata.

-END SOEHYUN POV-

-KYUHYUN POV-

Changmin masih belum sadarkan diri. Ia terbaring lemah di ranjang di dalam salah satu ruang inap rumah sakit. Entah apa yang terjadi padanya, tapi ia terlihat sangat parah.

Aku menghela napas, mengalihkan pandanganku pada game ku yang tergelatak di meja kecil di samping ranjang. Aku meraihnya perlahan, game itu kotor oleh tanah, sisa – sisa sampah, dan darah. Walau begitu masih dapat bekerja dengan baik. Aku mengambil tissue yang ada di atas meja itu pula, dan mulai membersihkan gameku itu perlahan.

“Apakah rusak?”

Aku tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan game yang ada di tanganku, “Changmin-a” Gumamku terkejut mendapati Changmin telah membuka matanya dan tengah mengamatiku.

Changmin menyeringai, “Tidak rusakkan?”

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Tanyaku sambil mengamati Changmin yang tengah memakan makanannya dengan lahap.

“Tidak bisakah menunggu hingga aku selesai makan?!” Protes Changmin.

Seketika aku terdiam, menunggu Changmin hingga selesai makan dengan sabar. Walau keadaan Changmin terlihat parah, ia masih dapat makan dengan lahap, dan artinya keadaannya tidak akan bertambah parah.

“Sudah selesai kan? Jadi beri tahu aku apa yang terjadi!” Ujarku setelah Changmin selesai makan.

Changmin mencibir, “Aku tidak ingin membicarakannya” Jawab Changmin sambil bergidik.

“Kau harus” Bantahku, “Lehermu seperti habis digigit vampire!” Lanjutku.

Kudapati Changmin yang menegang, wajahnya tampak gugup. Ia meneguk air di gelas dengan tangannya yang gemetar. Jujur saja, aku jadi merasa tidak enak,

“Mianhae, aku hanya penasaran” Ujarku pelan.

“Kau sudah tahu apa yang terjadi” Ucap Changmin membuatku bingung.

“Apanya?”

“Bahwa aku di gigit vampire” Jawab Changmin sementara tangan kanannya meraba sisi kiri lehernya yang telah diperban.

“Mworago?” Tanyaku tak percaya, “Kau bercanda!”

Changmin menatapku jengkel, “Kau tidak akan percaya kan?! Aku sudah tau itu!”

Aku menggelengkan kepala, “Tapi itu memang mustahil”

“Kedengarannya memang mustahil, tapi sebenarnya tidak kalau kau yang digigit” Tukas Changmin.

Aku terdiam, “Ok, kau digigit vampire” Ucapku, “Sekarang, bagaimana kau bisa bertemu vampire?”

“Sepertinya vampire itu sedang mencari makan dan menemukanku” Jawab Changmin lalu kembali membaringkan tubuhnya.

“Bisa jelaskan asal mulanya dengan lebih terperinci?!” Pintaku.

Changmin mendesah, “Beri tahu aku dulu bagaimana aku bisa ada di sini!”

Aku menghembuskan napas jengkel. Lalu aku mulai menceritakan bagaimana aku yang menunggu Changmin di rumahku tepat jam lima pagi hingga jam tujuh pagi namun ia tidak muncul – muncul juga untuk mengembalikan game ku. Hingga aku memutuskan untuk menghampirinya di rumahnya. Namun rumahnya kosong, orangtua Changmin memang sedang keluar kota. Seharusnya Changmin yang merupakan anak satu – satunya yang menjaga rumah, namun manusia itu malah hilang entah kemana. Lalu aku juga menceritakan aku yang bertanya pada Yunho hyeong yang merupakan tetangga Changmin, dan akhirnya memutuskan untuk mencari Changmin di gang yang ia ceritakan sebelumnya. Gang dimana ia membuang gameku bersama sampah – sampah sisa makannannya di tong sampah di sana.

Butuh setengah jam lebih aku mencari – cari di gang yang sempit dan bercabang itu, hingga  akhirnya aku menemukan Changmin. Menemukannya tergolek seperti orang mati, berdarah – darah, sambil menggenggam game ku di sebelah tangannya.

“Kau akan benar – benar mati kalau aku tidak menggotong badanmu yang berat itu kesini” Ujarku mengakhiri ceritaku.

Changmin tersenyum kaku, “Gomawo kalau begitu”

“Jadi setidaknya, beri tahu aku apa yang terjadi padamu”

Changmin menghela napas. Dan kali ini, ia bercerita bagaimana ia bertemu dengan vampire dan semacamnya. Aku mendengarkan dengan seksama, namun tidak benar – benar mengerti apa yang dikatakan Changmin. Sebenarnya bukannya tidak mengerti, hanya tidak yakin bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

“Istirahat sana, orangtua mu sedang dalam perjalanan kesini!” Ucapku setelah Changmin mengakhiri ceritanya. Sebenarnya aku ingin bertanya macam – macam padanya, namun melihat wajahnya yang memucat, aku jadi tidak tega.

Changmin mengerang, “Bagaimana aku bisa menjelaskan tentang vampire?!” Keluhnya.

“Itu masalahmu” Komentarku lalu melangkah keluar ruangan.

Aku mendongak, tidak butuh waktu lama bagi Seohyun untuk muncul dan menatapku dari balik jendela kamarnya. Aku tersenyum dan melambai ke arahnya, memberikan tanda padanya untuk keluar rumah. Seohyun diam tak bergerak, sepertinya ia tidak mengerti apa maksudku atau memang tidak ingin keluar dan menemuiku. Tapi aku lebih memilih untuk berpikir bahwa Seohyun tidak mengerti maksudku tadi. Jadi, aku memutuskan untuk duduk di depan rumahku sambil memandang ke arah jendela dimana Seohyun masih berdiri di baliknya.

Kembali kulambaikan tanganku dan akhirnya Seohyun berbalik dan hilang dari pandanganku. Jantungku berdebar – debar, bertanya – tanya apakah Seohyun akan keluar dan menemuiku atau tidak. Senyumku seketika merekah saat melihat pagar rumah Seohyun bergeser, dan kulihat Seohyun yang tengah melangkahkan kakinya melewati pagar tersebut.

Aku melompat bangkit dan segera menghampiri Seohyun, “Annyeong” Sapaku ceria.

Seohyun tersenyum tipis, “Annyeong” Balasnya.

“Apakah aku mengganggumu?” Tanyaku.

Seohyun menggeleng, “Anio” Jawabnya, “Ada apa?”

“Aku hanya ingin bertemu denganmu” Jawabku sambil tersenyum nakal.

Seohyun tampak geli, “Kita bertemu setiap hari” Ia menimpali.

Aku tertawa, “Kalau begitu, ayo kita jalan – jalan sekarang!” Ajakku langsung.

Seohyun terdiam sesaat, “Apakah kita akan ke bukit lagi?” Tanyannya.

“Masih terlalu siang” Aku menjawab, “Tapi kalau kau ingin ke sana, kita bisa berangkat nanti sore. Atau kalau kau ingin berangkat sekarang juga tidak masalah” Lanjutku.

“Anio, aku hanya bertanya. Jadi kalau kita jalan – jalan, kita kemana?” Tanyanya.

Aku terdiam sesaat, “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat” Jawabku walau sedikit ragu.

“Kemana?”

“Rahasia”

-END KYUHYUN POV-

-SEOHYUN POV-

Kurasakan tubuhku menegang, indraku seakan menjadi tajam berkali – kali lipat. Aku memejamkan mata, mencoba sekuat tenaga untuk mengontrol diriku. Menjaga diriku untuk tidak terpengaruh oleh nafsu yang mulai mengebu – ngebu dalam diriku, memisahkan diriku dalam aroma darah di sekeliligku.

“Seohyun-a..,apakah ada yang salah?”

Aku membuka mataku terkejut, seakan baru terbangun dari mimpi, aku merasakan diriku sedikit pusing, “Anio” Jawabku cepat, “Kenapa kesini?” Tanyaku langsung.

“Aku hanya ingin mengajakmu untuk bertemu dengan temanku yang sedang dirawat disini” Jawab Kyuhyun, “Apakah kau keberatan?” Tanya Kyuhyun.

Aku menggeleng, “Anio”

“Kalau begitu, kajja!” Ajak Kyuhyun.

Aku mengikuti Kyuhyun menyusuri lorong rumah sakit yang lebar. Pikiranku masih terasa melayang – layang, namun aku mencoba sekuat tenaga untuk mengontrol diriku. Aku melangkah di samping Kyuhyu melewati ruang rawat  yang berjajar di kanan kiri lorong rumah sakit. Setiap rungan memiliki aroma darah yang berbeda – beda, namun memiliki daya tarik yang sama yang membuatku ingin melompat masuk dan menghisap darah siapapun yang ada di dalamnya.

Para Vernald memang menikmati darah orang yang sedang dalam kondisi lemah atau sakit. Hal itu di karenakan darah orang yang sakit memiliki bakteri yang bagaikan bumbu penyedap bagi para Vernald. Aku tahu aku tidak seharusnya di rumah sakit ini, namun aku juga tidak bisa berkata tidak pada Kyuhyun.

Langkah kaki kami bergema di lorong rumah sakit yang sepi. Kyuhyun berhenti melangkah di depan sebuah ruang rawat dengan nomor 044,

“Sebentar” Ucapnya lalu membuka sedikit pintu ruangan, dan mengintip ke dalam.

“Nuguya?!” Terdengar seruan terkejut dari dalam.

“Dewa penyelamatmu” Jawab Kyuhyun langsung.

“Ayo masuk!” Ajak Kyuhyun lalu membuka pintu lebih lebar untuk memberikanku jalan.

Aku ragu sesaat, namun Kyuhyun seakan memberikan isyarat dengan pandangan matanya bahwa tidak akan ada masalah. Jadi dengan perlahan, aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu seperti ruang rawat pada umumnya. Diterangi bolam putih terang benderang yang menerangi seluruh ruangan dan sebuah jendela berukuran cukup besar yang ditutupi oleh tirai putih tipis. Dan adapula alat – alat kedokteran yang ditata dengan rapi juga sebuah ranjang berukuran sedang. Di atasnya tampak namja berpostur tubuh tinggi yang tampak familiar. Aku mengernyit, menahan diriku agar tidak menyeringai hingga menampakkan taringku.

“Ya, Changmin-a! Kau harus mengucapkan salam!” Tegur Kyuhyun.

“Siapa dia?!” Tanya namja yang dipanggil Changmin tadi tidak peduli.

Dengan canggung aku membungkukkan badanku sedikit dan memperkenalkan diri, “Annyeong haseyo.Seohyun imnida”

“Ingat kan? Aku pernah menceritakannya padamu” Kyuhyun menimpali sambil memberikan tanda padaku untuk mengikutinya dan berdiri di samping ranjang Changmin.

“Seohyun? Yeoja yang mengamatimu dari jendela itu?!”

Aku serasa disambar petir saat mendengar perkataannya. Kalau aku ‘manusia’ wajahku pasti sudah semerah tomat sekarang.

“Ya!” Tegyr Kyuhyun.

“Mianhaeyo, dia memang bicara sebelum berpikir” Ujar Kyuhyun padaku.

“Sebenarnya dia juga begitu, hanya saja dia sedang jaga image di depanmu Seohyun-ssi” Tukas Changmin, sementara aku hanya tersenyum kecil.

“Changmin sebenarnya ingin bertemu dengamu” Ucap Kyuhyun.

“Jeongmalyo?” Ujarku sambil menyunggingkan senyum pada Changmin.

“Itu karna Kyuhyun tidak berhenti bicara tentangmu” Jawab Changmin.

“Ya!” Seru Kyuhyun lagi,  tapi Changmin tampak tidak peduli sama sekali.

“Jadi, bagaimana keadaanmu? Kau tampak sakit” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Ya, aku memang sakit” Jawab Changmin, “Dan baru beberapa jam aku disini” Tambahnya.

“Kalau boleh aku tahu, kau sakit apa?” Tanyaku berbasa – basi.

“Entah kau akan percaya atau tidak, aku digigit vampire” Jawabnya lagi.

Tubuhku menegang, vampire? Ia bilang vampire? Kami memang seperti vampire, tapi kami lebih baik daripada mereka. Jauh lebih baik, kami vernald.

“Vampire atau mungkin makhluk lain yang suka mengisap darah” Tambah Changmin sambil mendaratkan tangan kanannya di lehernya yang ditutupi oleh perban.

Aku memutuskan untuk tidak berkomentar apa – apa, dan hanya memasang wajah bingung. Jauh dalam diriku, perasaanku tengah bergulat, menyadari bahwa pikiranku tentang namja kemarin memang benar. Namja yang kuhisap darahnya semalam adalah Changmin, yang merupakan teman dari Kyuhyun. Itulah yang membuatku tidak berniat untuk meminum darahnya hingga habis, seperti yang biasa aku lakukan.

Vernald yang telah bertemu dengan silver nya memang tidak dapat dengan mudah menghisap darah dari silvernya tersebut, ataupun orang – orang yang memiliki ikatan yang dekat dengan silvernya tersebut.

Walau kemungkinannya sangat kecil Changmin menyadari bahwa aku adalah makhluk yang ia sebut sebagai vampire yang menghisap darahnya, aku merasa ada yang salah. Changmin tampak merasakan sesuatu dalam diriku, hal itu tampak jelas di wajahnya, dan itu cukup membuatku marah. Hingga aku menyesali tidak membunuhnya semalam. Sebenarnya mudah, kalau ia mengancam identitasku, aku dapat membunuhnya kapan saja.

-END SEOHYUN POV-

-KYUHYUN POV-

“Kau kenapa?” Tanyaku pada Changmin setelah mengantar Seohyun pulang.

“Apanya?” Changmin balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada langit – langit ruangan.

“Kau terlihat kesal saat Seohyun datang” Ujarku.

Changmin melirikku lalu tersenyum geli, “Untuk apa aku kesal? Memangnya aku cemburu melihatnya jalan bersamamu?!”

Aku mencibir, “Tapi kau memang kelihatan seperti itu”

“Anio. Aku hanya merasa tidak nyaman”

“Wae?”

“Si Seohyun itu, ia..” Ucap Changmin lalu memutus perkataannya sesaat, “Auranya aneh”

“Aura apa?” Tanyaku bingung.

“Entahlah, ia membuatku tidak nyaman” Jawab Changmin lalu menghembuskan napas.

“Anehnya, ia malah membuatku sangat nyaman dan hangat” Tukasku.

“Jadi, apa yang kau katakan pada orangtuamu?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Aku bilang aku digigit anjing” Changmin menjawab, “Anjing besar” Tambahnya.

“Jadi kau benar digigit anjing bukan vampire kan?”

Changmin melirikku kesal, “Aku digigit vampire, tapi mereka akan membawaku ke rumah sakit jiwa bila berkata begitu”

“Mungkin memang seharusnya begitu” Komentarku lalu tergelak.

-END KYUHYUN POV-

-CHANGMIN POV-

Kyuhyun sudah pulang sejak sejam lalu. Lampu di kamarku juga sudah dimatikan. Namun aku masih tidak dapat memejamkan mataku sebentar saja. Bayangan vampire yang menerjangku itu masih terbayang – baying di belakang kepalaku. Terlebih aura yang kurasakan saat Seohyun masuk ke dalam ruangan. Aura dingin yang familiar. Aku tidak yakin bagaimana, tapi itu benar – benar membuatku merasa tidak nyaman.

Aku mendesah, berharap dapat melupakan kejadian itu secepat mungkin, dan tertidur dengan nyenyak lalu terbangun dan mendapati semua itu hanya mimpi buruk. Mungkin aku terlihat santai sedari tadi, tapi sebenarnya aku terus – terusan merasa resah. Hanya saja, aku tidak ingin menunjukkan hal itu.

Kupejamkan mataku dan kembali membukanya saat bayangan mata putih dan taring itu kembali muncul. Makhluk itu, apakah benar – benar vampire?

-END CHANGMIN POV-

-TBC

Chapeter ini paling lama dibuat tapi yang paling sedikit page-nya, hehehehe..Gomawo dah baca^^ Jangan lupa comment dan kalau suka di like ya!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s