MY SILVER CHAP.4

Title : My Silver Chap. 4
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin
Rating : PG-13
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ)
Annyeong!!!! Untuk opening aku nggak mau ngomong banyak – banyak^^ Pas di akhir aja nanti, hehehe..Silakan dibaca dan jangan lupa comment!!!^^

-SEOHYUN POV-
“Kau pergi dengan Cho Kyuhyun lagi” Ucap eomma saat aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah.
Aku melirik malas ke arah eomma, dan melangkah santai melewatinya,
“Aku ingin bicara denganmu Seohyun”
Langkahku terhenti, aku menoleh kearah eomma yang tengah berdiri tegap dengan pandangan mata lurus padaku. Ia tampak serius,
“Ikuti aku ke ruang kerja” Perintah eomma tegas dan tanpa menunggu jawabanku mulai melangkah terlebih dahulu menuju ruang kerjanya.
Ingin rasanya aku mengabaikan eomma seperti yang biasa aku lakukan. Namun eomma terdengar begitu memerintah saat berbicara tadi. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia bicarakan. Walau aku sendiri tidak benar – benar yakin apa yang eomma sebut ‘penting’, aku anggap penting pula. Namun akhinya, aku memutuskan untuk mengikuti eomma dengan setengah hati.
Ruang kerja eomma ada di ruang bawah tanah, dibangun tepat saat kami pindah ke rumah ini sekitar tiga bulan lalu, dan selesai seminggu setelahnya. Ruang kerja itu terang benderang dan cukup luas. Mungkin tiga kali besar kamarku. Lantainya terbuat dari marmer yang mengkilap, dindingnya dilapisi wallpaper cokelat muda yang halus. Namun hanya sedikit wallpaper yang terlihat karna dinding – dinding ruang kerja eomma telah ditutupi oleh rak – rak buku yang berjejer rapi di pinggir. Hanya sedikit celah yang ada dalam rak buku tersebut, karna setiap rak telah dipadati oleh buku – buku tua tebal yang usang. Di tengah ruangan terdapat meja kerja persegi yang cukup besar. Di atas meja itu, beberapa buku tebal di tumpuk di sudut meja. Kertas – kertas yang entah apa isinya tampak berhambur di atas meja tersebut. Dan sebuah kursi dengan sandaran tinggi dan bantalan yang tampak empuk bertengger tepat di belakang meja tersebut.
Eomma berjalan melintasi ruangan dan duduk di kursi di belakang meja kerjanya. Sedangkan aku berdiri diam di dekat pintu, balas menatap eomma yang tampak tengah menelitiku.
“Duduk” Perintah eomma sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kursi yang ada di sebrang meja di hadapannya.
Aku tidak suka apabila eomma memerintahku seakan aku adalah anak kecil. Namun ada sesuatu dalam diri eomma yang membuatku menuritinya, walau dengan sedikit terpaksa, aku duduk di kursi yang eomma tunjuk. Mengalihkan tatapanku pada kertas – kertas yang ada di atas meja. Kertas – kertas itu berisi rune – rune yang tidak kukenali. Rune – rune itu berjajar rapi memenuhi setiap kertas, berdempetan, tanpa memberikan celah sedikit pun.
“Rune apa itu?” Tanyaku.
Tidak ada satupun rune yang aku pahami di antar beribu rune yang tergambar di kertas – kertas tersebut. Aku memang tidak pernah mempelajari rune. Karna aku berpendapat bahwa aku adalah Vernald, dan aku tidak memerlukan rune. Hanya para Vriz yang mempelajari rune.
Vriz, itu adalah julukan untuk eomma. Orang yang menikahi Vernald sebelum Vernald tersebut berusia 21 tahun. Mereka menikah hanya untuk berpisah pada akhirnya. Eomma dan Appa menikah saat Appa berumur sembilan belas tahun. Appa menceritakan pada eomma tentang makhluk macam apa sebenarnya dirinya. Dan setelah berbagai macam hal yang terjadi, eomma bersikeras untuk menikah dengan Appa, dan menerima konsekuensi, bahwa pada akhirnya Appa akan meninggal pada umur 21 tahun. Eomma melahirkanku satu tahun setelah pernikahan mereka, dan beberapa bulan kemudian, waktu Appa tiba. Eomma bersikeras menyerahkan darahnya pada Appa, namun Appa menolak dan berakhir mati. Sebagaimana nasibnya menjadi Vernald yang tak ingin meminum darah orang yang dicintainya.
Eomma berkata, hal yang ia alami bukanlah yang pertama atau terakhir kalinya terjadinya. Walau begitu, kejadian tersebut dapat dibilang langka. Karna sebagian besar Vernald yang tak ingin meminum darah orang yang dicintainya lebih memilih mati seorang diri. Dan manusia yang bernasib seperti eomma disebut sebagai Vriz. Kebanyakan Vriz, menolak untuk kembali berurusan dengan Vernald, dan meninggalkan anak mereka yang otomatis telah menjadi Vernald, lalu melanjutkan hidup tanpa memperdulikan apapun, menganggap apa yang telah terjadi merupakan mimpi buruk. Namun ada pula Vriz yang mengapdikan dirinya kepada Silvara, membantu para Vernald yang terbuang untuk tumbuh dan menuntunnya untuk berpikir, agar mau meminum darah orang yang dicintainya saat besar nanti. Para Vriz mempelajari rune – rune yang dapat memberitahu mereka bagaimana mengendalikan Vernald yang mengamuk, mengumpulkan darah, dan sebagainya. Vriz melakukan hal – hal tersebut, sebagian besar karna di dorong rasa sakit hati, prihatin, dan lain – lainnya yang bersifat pribadi.
Mempelajari rune bukanlah suatu yang mudah, karna hanya ada beberapa buku yang menjelaskan secara mendetail tentang itu. Namun para Vriz tampaknya memiliki suatu tekad besar dalam dirinya sehingga mereka tidak mudah menyerah. Mereka membaca banyak buku, membuat berbagai macam kesimpulan, dan berbagai hal. Hingga akhirnya mendidik seorang bayi Vernald dan merubah mereka menjadi manusia seutuhnya.
Tugas Vriz bukanlah tugas yang mudah. Dan sejauh ini, eomma sudah mendidik sembilan Vriz, empat orang berhasil menjadi manusia, empatnya lagi gagal. Dan sisanya aku, anak kandungnya, yang hasilnya belum jelas. Walau begitu, tekadku adalah menjadi manusia, aku hanya butuh waktu.
“Kau tidak pernah tertarik pada rune” Komentar eomma.
“Benar” Aku mengangguk, “Aku ganti pertanyaan, kenapa kau membawaku kesini?”
“Ada yang ingin kubicarakan” Jawab eomma.
“Apa?”
“Sesuatu yang penting dan aku ingin kau mendengarkanku, tanpa ada bantahan atau apapun” Ucap eomma, “Kau harus mendengarkan sampai akhir” Lanjutnya.
“Aku akan mendengarkan sampai akhir, tapi tidak berjanji tidak akan ada bantahan pada akhirnya”
Eomma mendesah, “Bantahan di akhir, terserah, sekarang dengarkan” Ujar eomma lalu menghela napas.
“Entah kau sadar atau tidak, tinggal tiga minggu lagi sebelum kau berumur 21 tahun. Kau sudah menemukan Silver mu, tapi kau belum melakukan apapun yang penting. Kau tahu kalau Cho Kyuhyun, namja itu, memang benar Silver mu. Silvara telah mengatakannya padamu, jadi sudah pasti benar. Kau tidak bisa terus mengulur waktu seperti ini, aku tahu kalau kau bersungguh – sungguh ingin menjadi manusia. Tapi semua Vernald memang begitu, mereka bersungguh – sungguh ingin menjadi manusia, namun pada akhirnya menyerah karna cinta yang hanya akan mengakhiri hidup mereka. Aku memahami dirimu yang sebenarnya belum begitu menyadari perasaanmu pada Kyuhyun. Namun disaat kau sudah akan meminum darahnya nanti, perasaanmu itu akan benar – benar jelas, hingga kau dapat melihat hatimu yang terisi oleh Kyuhyun bahkan saat kau menutup mata. Meminum darah silver mu bukanlah sesuatu yang mudah, walau kau berpikir kau tidak mencintai silvermu sekalipun. Karna pada dasarnya, kau memang mencintai silvermu. Aku tidak akan menceramahimu tentang cinta pada silvermu yang dapat kau temukan lagi setelah kau menjadi manusia. Aku hanya ingin, kau bertindak secepat mungkin. Sebenarnya adalah hal bagus, kau tidak menyadari bahwa kau mencintai Kyuhyun, karna dengan begitu, kau dapat lebih mudah meminum darahnya. Karna itu, minum darahnya sekarang, sebelum perasaanmu mengembang…”
Eomma terus mengucapkan berbagai hal, namun pikiranku sudah meracau kemana – mana. Aku tidak suka mendengar eomma mengatakan bahwa aku tidak menyadari perasaanku pada Kyuhyun, kalaupun itu benar, aku tidak suka mendengarnya. Rasanya aku ingin memotong perkataan eomma, dan menyuarakan pikiranku, menyemburkan kata per kata pada eomma. Namun aku berhasil menahan diriku agar tetap diam dan mendengarkan ucapan eomma sampai akhir.
“Aku tidak tahu apa yang ingin eomma dengar dariku, setelah eomma mengucapkan semua ini” Ucapku dingin.
“Sebenarnya aku ingin mendengar kau akan meminum darah bocah itu besok malam” Eomma menimpali.
Aku terkekeh masam, “Tidak bisa” Tukasku lalu bangkit berdiri, “Tapi aku akan segera melakukannya” Lanjutku lalu melangkah keluar dari ruang kerja eomma.
Aku menutup pintu ruang kerja eomma di belakangku. Pandanganku menerawang, dan tanpa sadar aku berbisik,
“Cho Kyuhyun”
-END SEOHYUN POV-
-KYUHYUN POV-
Aku terperangah, “Seohyun..” Bisikku hampir tak percaya.
Seohyun tersenyum, ia berlari – lari kecil, dan berdiri tepat di hadapanku,
“Annyeong” Sapanya sambil tersenyum manis.
“A..annyeong” Sahutku sedikit gugup.
“Apa yang kau lakukan di sana?” Tanyaku heran karna semenit lalu aku mendapati Seohyun tengah berdiri diam di depan rumahnya.
“Aku menunggumu” Jawab Seohyun tampak malu – malu, “Tapi oppa baru keluar sekarang” Tambahnya.
Kurasaka wajahku memanas, sepertinya baru kali ini Seohyun benar – benar memanggilku oppa,
“Kau bisa datang ke rumahku saja, kalau kau mau” Ucapku.
“Aiisshh…,aku tidak bisa membayangkan mengetuk – ngetuk pagar rumah oppa” Tukas Seohyun.
Dalam hati aku menyetujui apa yang dikatakan Seohyun. Pasti aku merasa tengah bermimpi kalau tiba – tiba saja Seohyun duduk di kursi ruang tamuku. Sebenarnya bukan apa – apa, tapi rasanya aneh saja.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Anio. Aku hanya bosan melihat oppa dari balik jendela” Ucap Seohyun, “Dan aku sedang bosan di rumah. Oppa mau kemana?” Tanyanya.
Aku terdiam sesaat, sebenarnya aku tidak mau kemana – mana. Aku hanya ingin keluar, dan melihat Seohyun yang mengamatiku di jendela. Namun melihatanya secara lebih dekat seperti ini sebenarnya lebih baik. Tapi apabila aku mengatakannya pada Seohyun, lidahku pasti sudah kelu duluan.
“Aku mau ke taman. Kau mau ikut?” Aku menawarkan dengan sedikit berdebar.
Seohyun mengangguk, “Nde. Kalau oppa tidak keberatan”
“Tentu saja tidak” Ujarku dengan wajah berbinar, “Aku senang kalau ada yang menemani”
Seohyun kembali tersenyum, “Kalau begitu, ayo, kita pergi sekarang!” Ajak Seohyun.
Aku mengangguk, dan akhirnya berjalan beriringan berasama Seohyun menuju taman.

“Aaahh..,udaranya sejuk sekali!” Ujarku lalu mendudukan diri di kursi taman.
“Majayo” Seohyun menyetujui dan duduk di sampingku.
Selama beberapa menit, kami hanya diam sambil mengamati sekeliling taman yang ramai oleh anak – anak kecil yang tengah bermain. Pikiranku menerawang, mengingat hari saat aku pertama kali melihat Seohyun di taman, dan mengajaknya ke bukit untuk melihat matahari terbenam. Kenangan itu masih tampak jelas dalam kepalaku.
“Oppa..” Panggil Seohyun membuyarkan lamunanku.
“Nde?”
“Bagaimana kabar Changmin-ssi?” Tanya Seohyun.
“Oh, Changmin..” Gumamku sedikit terkejut karna tidak menyangka Seohyun akan menanyakannya, “Sudah membaik. Tapi orangtuanya menyuruhnya untuk tetap di rumah sakit sampai beberapa hari ke depan” Jawabku.
“Waeyo?”
“Mollayo. Orangtua Changmin mungkin beranggapan bahwa Changmin lebih aman di rumah sakit setelah serangan anjing itu”
“Anjing?” Seohyun mengernyit, “Changmin-ssi bilang ia digigit vampire”
Aku terkekeh, “Ia bilang dia digigit anjing pada orangtuanya, agar ia tidak dianggap gila” Ucapku, “Tapi ia meyakinkanku bahwa ia memang digigit vampire”
Seohyun mengangguk – ngangguk, “Vampire..” Gumamnya pelan.
“Apa kau percaya apa yang dikatakan Changmin?” Tanyaku.
“Mmm..” Gumam Seohyun tampak berpikir, “Dilihat dari ekspresi wajahnya, aku rasa ia bersungguh – sungguh” Jawab Seohyun.
Aku mendesah, “Apakah vampire benar – benar ada?” Tanyaku jauh pada diriku sendiri.
Seohyun menolehkan kepalanya padaku, matanya tampak mengamatiku dengan teliti. Aku balas menatapnya dengan canggung.
“Ada banyak hal yang tidak di ketahui manusia di dunia ini” Ujar Seohyun membuatku mengernyit.
“Apa maksudmu?” Tanyaku.
Seohyun tersenyum, “Bukan apa – apa” Jawabnya lalu mengalihkan pandangannya ke depan, “Pasti Changmin-ssi syok sekali setelah di serang oleh vampire itu” Ujar Seohyun.
Aku mengangkat bahu, “Sepertinya ia sampai sekarang masih khawatir ia akan berubah menjadi vampire”
Seohyun tertawa pelan. Sesaat kemudian, kami kembali diam. Aku mengamati Seohyun yang tampak tengah tercenung, sepertinya ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
“Seohyun-a..” Panggilku.
“Nde?”
“Apa kau lapar?” Tanyaku.
Seohyun tampak mengernyit, “Wae?”
“Ayo, kita cari makanan!” Ajakku.
“A..anio..” Ujar Seohyun sedikit tergagap, “Aku tidak lapar. Tapi kalau oppa lapar, kita bisa cari makanan untuk oppa” Lanjutnya.
“Kau tidak mau makan?” Tanyaku sedikit kecewa.
“Anio, mianhae” Seohyun menggeleng pelan, “Aku baru saja makan” Tambahnya.
“Ah, gwanchana” Aku mengibaskan tanganku.
“Apa oppa lapar? Kalau oppa lapar, ayo, kita cari makanan!” Ajak Seohyun.
Aku menggeleng sambil menyunggingkan senyum, “Anio. Aku tidak lapar, aku hanya khawatir kau lapar” Ujarku.
-END KYUHYUN POV-
-SEOHYUN POV-
Mendengar perkataan Kyuhyun tadi, membuatku merasa tidak enak. Sebenarnya aku memang merasa sedikit lapar, hanya saja, tidak mungkinkan aku mengajaknya mencari darah. Dan aku juga tidak mungkin makan makanan manusia. Aku Vernald dan akan muntah apabila memakan makanan manusia.
“Oppa..” Panggilku pelan.
“Nde?”
“Mana yang oppa lebih suka, matahari atau bulan?” Tanyaku.
Kyuhyun terdiam sesaat, ia tampak berpikir, “Waeyo?”
“Anio. Aku hanya bertanya” Sahutku.
“Apa aku harus menjawab?” Kyuhyun kembali bertanya.
“Aku akan senang kalau oppa menjawab”
“Ara, aku akan menjawab. Tapi aku harus mempertimbangkannya sebentar” Ucap Kyuhyun.
Ia mengernyit, sementara tangan kanannya mencubit – cubit dagunya, ia tampak berpikir keras. Dan jujur saja, di mataku ia jadi terlihat sangat lucu.
“Matahari dan bulan, bukankah adalah benda langit yang berlawanan?” Tanya Kyuhyun tampak lebih ke dalam dirinya sendiri, sementara aku tidak berkomentar apa – apa.
“Matahari memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan bulan mendapatkan cahaya dari matahari. Jadi kalau dilihat dari segi kehebatan, matahari jelas lebih hebat” Kyuhyun mendesah, lalu melanjutkan, “Walau begitu, apabila aku melihat bulan purnama, aku merasa bulan tampak begitu elegan dan indah”
“Jadi, oppa pilih yang mana?”
“Aku rasa aku pilih matahari” Jawab Kyuhyun oppa akhirnya.
“Waeyo?”
“Karna..”Kyuhyun memutus perkataannya dan tersenyum sangat manis padaku, hingga aku mendapati diriku merasa sedikit gugup, “Matahari selalu bersinar dan mau berbagi sinarnya ke pada bulan” Lanjutnya, “Jadi kalau dipikir – pikir matahari itu sangat baik” Tambahnya.
“Kalau kamu, kamu pilih yang mana?” Kali ini Kyuhyun balik bertanya.
“Aku?” Aku terdiam lalu menggeleng pelan, “Aku tidak yakin, makanya aku bertanya pada oppa”
Kyuhyun mengangguk – ngangguk, “Kau sudah melihat matahari terbenam saat di bukit itu kan? Bagaimana menurutmu?”
“Indah sekali” Jawabku tanpa ragu.
“Apakah kamu mau melihat keindahan bulan juga sehingga kau bisa membandingkan mana yang lebih indah?” Kyuhyun menawarkan.
Aku mengernyit, “Bulan?”
“Nde” Angguk Kyuhyun.
“Dimana?”
“Aku tahu suatu tempat dan aku rasa malam ini malam purnama, jadi pasti akan indah sekali. Bagaimana?”
Aku terdiam sesaat, lalu akhirnya memutuskan untuk mengangguk, “Tentu aku mau” Jawabku.
Kudapati wajah Kyuhyun oppa tiba – tiba saja tampak lebih berseri – seri, “Aku akan jemput kamu nanti malam. Tidak apa – apa kan kalau kau pergi malam – malam?”
“Tentu saja” Aku meyakinkan.

`Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Kyuhyun oppa tadi sore. Sekitar jam delapan malam, Kyuhyun oppa datang menjemputku. Sebelum ia sempat mengetuk pintu rumahku, aku sudah melesat turun dan menghampirinya di luar rumah. Lebih baik pergi secepat mungkin, sebelum eomma menyadari kedatangan Kyuhyun dan mulai berbicara macam – macam.
“Annyeong..” Sapaku sambil tersenyum.
Kyuhyun balas tersenyum, “Sudah siap?” Tanya Kyuhyun.
Aku mengangguk, “Nde, aku sudah menunggu oppa sejak tadi”
Untuk perkataanku tadi, aku berkata jujur. Sejak matahari terbenam hari ini, aku sudah menunggu Kyuhyun datang menjemputku. Ya, aku memang tidak sabar untuk segera pergi, aku benar – benar penasaran bulan macam apa yang dikatakan indah oleh Kyuhyun.
“Jeongmalyo? Apakah kau menunggu lama?”
“Lumayan” Jawabku sambil tertawa pelan, “Bisa kita berangkat sekarang?” Tanyaku.
“Tentu saja! Kajja!” Ajaknya.

“Oppa dari mana tadi?” Tanyaku memecahkan keheningan sambil terus melangkah di samping Kyuhyun.
“Ah, aku dari rumah sakit” Jawabnya.
“Menjenguk Changmin-ssi?”
“Nde” Angguk Kyuhyun, “Ia masih khawatir akan berubah menjadi vampire, terlebih ini bulan purnama” Tambahnya.
Aku mengernyit, “Bukankah makhluk yang berubah di malam bulan purnama itu warewolf?”
Kyuhyun tergelak, “Majayo. Otak Changmin memang sudah error”
Aku ikut tertawa, “Aku rasa Changmin-ssi tidak akan berubah menjadi vampire” Ujarku.
“Waeyo?” Tanya Kyuhyun.
“Karna kupikir Changmin-ssi pasti akan berubah menjadi vampire sejak malam – malam kemarin, kalau memang ia seharusnya berubah” Jelasku.
Kyuhyun mengangguk, “Memang seharusnya begitu” Ia menyetujui.
‘Memang itu tidak akan terjadi’ Aku menanggapi dalam hati.
Manusia tidak akan menjadi vampire apabila darahnya diminum oleh Vernald. Menjadi Vernald pun tidak akan. Apabila darah manusia diminum oleh Vernald, maka ia akan mati karna Vernald akan meminum seluruh darahnya. Dan kalaupun tidak diminum sampai habis, dan manusia itu masih dapat hidup, ia akan tetap menjadi manusia. Tidak ada gigitan Vernald yang mempengaruhi manusia menjadi makhluk lain. Kami berbeda dengan vampire dan dracula atau semacamnya. Kami tidak menyebar virus.
“Sebentar lagi kita sampai” Kyuhyun oppa mengumumkan.
“Kita akan ke danau?” Tanyaku, yang menyadari keberadaan danau beberapa meter di depan kami.
“Nde, memandang bulan di pinggir danau adalah yang terbaik” Kyuhyun menanggapi.
Kami pun melanjutkan langkah kami hingga akhirnya sampai di tepi danau. Danau itu kosong, dan cukup gelap. Namun bulan purnama memancarkan cahaya dengan begitu indah dan terang di langit berbintang malam ini. Sehingga suasana di danau terasa lebih damai dan tenang daripada menyeramkan.
“Ayo, kita kesana!” Ajak Kyuhyun yang tiba – tiba saja meraih pergelangan tanganku dan menuntunku ke salah satu kursi yang tidak kusadari keberadaannya.
Kursi itu berada sekitar dua meter dari tepi danau. Posisi yang sangat bagus untuk mengamati bulan di langit sekaligus pantulan bulan di permukaan air danau yang tenang.
“Indah sekali..” Gumamku pelan saat melihat bulan keemasan yang menggantung di langit.
Mataku tidak lepas dari bulan itu, sebagaimana aku melihat matahari tenggelam yang Kyuhyun tunjukkan dulu. Sebenarnya aku tidak pernah begitu terpesona akan bulan. Hal itu dikarenakan, setiap aku melihat bulan, maka aku akan teringat sosok Silvara yang dingin dan mengancam. Tapi bulan yang kulihat saat ini terasa berbeda. Begitu indah dan mengalihkan. Memberikan ketenangan yang membuatku berlahan masuk ke dalam kedamaian yang langka untuk ku dapatkan. Sesaat kemudian angin lembut yang entah dari mana asalnya seakan membelai kulitku dan mengalihkan perhatianku.
Aku menoleh, mendapati pandangan Kyuhyun yang terpaku padaku. Aku balas menatapnya dan tanpa sadar tenggelam dalam pandangan matanya yang lembut. Disaat bersamaan kusadari, bahwa jemari Kyuhyun masih ada di atas jemariku.
Kyuhyun mengedipkan matanya lalu buru – buru menyingkirkan tangannya, dan seakan baru tersadar dari lamunan panjang, kami berdua mengalihkan pandangan. Merasa canggung atas satu sama lain. Aku mengalihkan pandanganku ke pantulan cahaya bulan di permukaan danau. Sesuatu yang berbeda terasa menjalari seluruh tubuhku. Mungkin, kalau jantungku masih dapat berdetak, pasti saat ini tengah berdetak dengan sangat cepat.
Beberapa saat kemudian, kurasakan sesuatu bahan kain yang lembut dan sedikit menggelitik menyentuh kulitku. Dengan sedikit terkejut, aku mendongak, mendapati Kyuhyun tengah menyelimutiku dengan selimut cokelat yang sangat lembut, yang pasti ia ambil dari tas yang ia sandang sedari tadi.
-END SEOHYUN POV-
-KYUHYUN POV-
Dengan sedikit terkejut, aku menyingkirkan tanganku dari tangan Seohyun yang sedingin es. Bukannya aku keberatan ataupun kedinginan dengan suhu tubuh Seohyun, aku hanya merasa canggung bersentuhan dengannya. Bukannya aku tidak suka, hanya saja saat aku dan Seohyun berpandangan seperti tadi, aku takut Seohyun berpikir yang tidak – tidak tentangku.
Bagaimanapun juga, tubuh Seohyun terasa begitu dingin. Apakah ia kedinginan? Aku sudah mempertimbangkan akan hal itu sebelumnya, jadi aku membuka tas yang kubawa, dan menarik keluar selimut cokelat yang kubawa dari rumah. Sebenarnya selimut itu adalah selimutku, selimut favoriteku sejak aku berumur sepuluh tahun. Aku tidak pernah bisa tidur tanpa selimut itu. Entah bagaimana, selimut itu selalu berhasil membuatku merasa hangat dan nyaman. Karna itulah aku membawanya, khawatir Seohyun akan kedinginan karna udara malam ini.
Seohyun tampak tengah mengamati pantulan bulan di permukaan air danau. Sepertinya ia juga tidak menyadari saat aku mengeluarkan selimutku. Untuk beberapa saat aku merasa bingung dan canggung, namun akhirnya aku meyakinkan diriku untuk menyelimuti Seohyun. Dengan berlahan, aku menyampirkan selimutku ke pundak Seohyun. Ia tampak sedikit terkejut dan mendongak saat aku melakukannya. Jadi aku buru – buru tersenyum untuk menenangkannya,
“Sepertinya kau kedinginan” Ujarku.
Untuk beberapa saat Seohyun hanya terdiam, namun akhirnya ia tersenyum, “Gomawo..” Bisiknya pelan.
Aku balas tersenyum, lalu mengalihkan pandanganku pada bulan keemasan di langit, “Kau suka bulannya?”
“Nomu johayo (Sangat suka)” Sahut Seohyun.
Aku melirik ke arah Seohyun, dan menyadari bahwa dirinya tengah menatapku, sebagaiman aku menatapnya tadi. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak balas menatapnya, dan akhirnya tenggelam dalam pandangan matanya yang tenang dan bercahaya. Kurasakan jantungku mulai berdetak dengan lebih cepat. Aku tahu kalau aku menyukai Seohyun sejak pertama kali aku melihatnya. Walaupun saat itu aku hanya dapat melihatnya dari jauh, dari balik jendela kamarnya, namun aku sadar kalau aku memang menyukainya. Dan sekarang, saat aku dapat berada lebih dekat dengannya, berbicara dengannya, dan memandangnya dengan seperti ini, perasaan itu terasa lebih besar dari sebelumnya. Rasa suka itu tampaknya telah mengembang menjadi sesuatu yang bahkan tidak cukup untuk diungkapkan oleh kata – kata. Mungkin itu berlebihan, tapi itulah yang kurasakan.
Entah apa yang aku lakukan, mungkin karna bisikan dalam hatiku yang paling dalam, aku menjulurkan tanganku. Dan dengan lembut mendaratkannya di pipi kanan Seohyun yang dingin. Namun rasa dingin itu tidak menggangguku sama sekali, bahkan terasa menyentrum dan menyenangkan.
Seohyun tidak menyingkirkan tanganku, jadi aku membiarkan tanganku untuk membelai pipinya yang lembut. Dan dalam satu bisikan lembut yang bahkan tidak aku rencanakan ataupun aku duga akan aku katakan, aku berbisik,
“Saranghaeyo..”
-END KYUHYUN POV
-TBC-
Cie..,Kyu oppa..ehem..ehem..!!! Kekekeke~ Mian kalau nggak romantis, karna otak aku memang nggak ada romantis – romantisnya. Udah nggak berpengalaman, nonton dan baca buku thriller mulu, jadinya begini deh! Hehehe..^^ Apalagi aku lagi galau karna Heechul oppa, hiks T,T..*udah pada taukan knp?!*
And plus plus aku mau ngumumin besok abis sahur, aku mau berangkat mudik ke Palembang *yuhhuuu!!!* (Siapa nanya?) Jadinya, next chap aku nggak tau kapan bakal di publish, karna agak susah untuk mendapatkan privasi menulis FF (saudaraku anak kecil semua jdi pada rusuh) dan untuk mendapatkan koneksi internet juga ribet, jadi mungkin prosesnya bakal agak ngadat *mian*
Tambah lagi, sekarang udah mau lebaran, jadi aku mau minta maaf kalau ada salah sama chingu – chingu sekalian^^ -Mohon Maaf Lahir Batin-
Gomawo dah baca n jangan lupa comment + kalau suka di like ya! *SARANGHAEYO!!!!!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s