FF – Until It’s End

Title     : Until It’s End

Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin

Rating  : Semua umur, bebas..

Length : Oneshoot

Genre  : Friendship atau Romance ya??

Cast    : Choi Sulli & Henry Lau

Other Cast : Taeyeon, Victoria, Luna, Onew

Song : Mandy Moor – Only Hope

FF ini terinspirasi dari temen – temen sekelasku (mungkin termasuk aku juga) yang lagi heboh – heboh nya belajar sampe pusing sendiri. Sebenarnya bikin FF ini buat iseng – iseng aja, eh malah jadi panjang banget, dan akhirnya tamat.

Semoga nggak pada bosen bacanya^^ Silakan dibaca, jangan lupa comment dan nge – like kalau suka ya!!!”

-SULLI POV-

“Sulli-ssi..”

Kudapati Jonghyun seongsenim bergerak ke arahku, dan menatap ke lembar jawabanku. Dengan segera, aku bangkit berdiri, lalu segera berlari keluar dari kelas. mengabaikan teman – teman sekelas yang menyerukan namaku.

Aku berlari meninggalkan kelas dan masuk ke dalam toilet yeoja dan menghambur ke dalam salah satu bilik yang ada di dalamnya. Aku membuat suara muntah. Ya, aku hanya membuat, tidak benar – benar muntah. Walau akhirnya aku muntah juga karenanya.

Ini percobaan kudua, yang pertama tadi tampaknya tidak begitu dihiraukan. Yang kedua ini harus berhasil, tekadku. Aku melangkah keluar toilet dengan lunglai dan wajah lemas. Tepat saat aku telah beberapa meter dari pintu kelasku, Taeyeon, ketua kelas kami segera menghampiriku.

“Sulli-ya, gwanchanayo?” Tanyanya dengan wajah khawatir.

“Mual” Jawabku lemas.

Taeyeon segera memegangi lenganku berjaga – jaga apabila aku terjatuh, “Badanmu hangat, ayo kita ke UKS” Ajaknya.

“Anio” Tolakku langsung, “Ulangan matematikanya belum selesai”

“Gwanchana” Tukas Taeyeon, “Itu tidak penting, kamu bisa ikut susulan nanti”

“Tapi..”

“Lihat tanganmu gemetar” Ucap Taeyeon lalu menuntunku untuk mengikutinya ke UKS.

“Aku belum menyelesaikan ulangannya sedikitpun” Ucapku dengan wajah memelas.

“Gampang, nanti aku yang bilang ke Jonghyun seongsenim. Tidak usah dipikirkan, kau sedang sakit”

“Taeyeon-a..”

“Sudahlah, ikut aku, lebih baik daripada ada apa – apa nantinya”

Aku duduk sendirian di salah satu kursi yang ada di dalam UKS. UKS kosong saat aku dan Taeyeon tiba. Entah dimana penjaga UKS ini sebenarnya. Aku menyuruh Taeyeon untuk segera kembali ke kelas untuk melanjutkan ulangan dan meninggalkanku sendiri. Awalnya Taeyeon menolak, namun karna aku memaksa, ia pun setuju untuk kembali, lalu berjanji akan menyuruh orang lain datang untuk menjagaku.

Sudah sepuluh menit, namun tidak ada yang datang. Aku tidak mengharapkan ada salah satu guru, anggota PMR, ataupun dokter yang datang untuk menjagaku. Aku lebih membutuhkan teman, walau aku ragu mereka dapat keluar kelas disaat ujian seperti ini.

Aku menaikkan kakiku ke atas kursi, lalu memeluk kakiku, dan membenamkan wajahku di atas lutut. Kupejamkan mataku rapat – rapat. Membiarkan diriku berpikir bahwa aku benar – benar merasa sakit, pusing, dan mual, walau pun sebenarnya aku baik – baik saja. Tapi itu cukup berhasil, aku dapat membuat diriku berpikir bahwa aku benar – benar sakit. Bahkan mulai dapat kurasakan pusing di kepalaku dan mataku yang mulai berkaca – kaca seolah menahan rasa sakit.

Akting ku bagus, aku tahu itu. Kalau aku jadi artis, mungkin aku dapa lebih terkenal dari Kim TaeHee. Aku tidak pusing, tidak mual, tidak sakit, aku juga tidak gemetaran. Semua itu hanya trik ku saja. Aku hanya berakting, hanya untuk menghindari ulangan matematika sialan ini.

Pikiranku menjadi kalut saat aku mendapati soal ujian matematika yang diadakan hari ini, tidak ada satupun yang aku pahami. Satu jam aku berkutak – kutik dengan angkanya namun tidak mendapatkan hasil apa – apa. Hanya satu soal yang berhasil kujawab, yang lainnya kosong. Hingga aku sendiri dapat menebak bahwa aku mendapat nilai 2 pada ujian kali ini. Sialan, benar – benar sialan.

Aku tidak dapat membiarkan hal itu, aku tidak boleh mendapatkan angka buruk pada ujian kali ini. Namun tidak ada yang dapat aku lakukan dengan soal – soal ini. Aku tidak dapat bertanya ataupun mencontek pada temanku, karna kursi kami diberi jarak yang cukup jauh, dan mata elang Jonghyun seongsenim seakan tidak berkedip.

Satu – satunya yang dapat kulakukan adalah dengan menghindari ulangan ini. Aku tidak mampu untuk ulangan sekarang, aku harus mengikuti ulangan susulan. Tapi bagaimana? Hanya ada satu cara, yaitu dengan berpura – pura sakit.

Aku mencoba memberikan sinyal pada Jonghyun seongsenim tentang keadaan tubuhku yang tidak baik. Namun tampak jelas ia mengabaikannya. Entah karna ia tahu bahwa aku hanya berpura – pura atau karna ia memang tidak menyukaiku, semenjak aku berkata padanya aku tidak suka bagaimana ia mengajar matematika.

Untunglah ketua kelasku dapat masuk ke dalam tipuanku. Dan dengan begitu, seluruh murid di kelas pun akan mempercayaiku. Kalaupun Jonghyun seongsenim, memang berpikir aku hanya berpura – pura, ia tidak dapat menuduhku begitu saja.

Ia tidak punya bukti apa – apa. Dan aku yakin tidak akan ada guru yang percaya kalaupun Jonghyun seongsenim berkata bahwa aku berpura – pura sakit untuk menghindari ulangan. Hal itu dikarenakan aku punya nama yang cukup baik di mata guru – guru sebagai anak yang pintar dan rajin selama dua tahun lebih bersekolah disini. Tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan, semuanya lancar.

Keheningan di UKS membuatku tenggelam dalam lamunan kosong. Dan disaat bersamaan, aku menyadari bahwa aku benar – benar merasa pusing saat ini. Sepertinya penyakit yang dinamakan stress itu muncul lagi. Aku mendapati diriku belajar matematika sebelum tidur dan bangun jam tiga subuh untuk kembali belajar matematika. Namun hal itu tidak menghasilkan apa – apa.

Malahan aku berakhir dengan melakukan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan aku lakukan. Perbuatan yang hanya dilakukan oleh murid pintar penipu yang bodoh. Aku tidak tahu apa itu julukan yang tepat, namun aku berpikir bahwa aku memang seperti itu.

Aku mengangkat kepalaku, mendapati aku sudah lima belas menit di UKS, dan tidak ada siapa – siapa yang datang. UKS kosong, hanya ada aku, dan keheningan disekelilingku membuatku semakin pusing. Aku bangkit berdiri, tidak kuat dengan keheningan di ruangan luas ini. Aku suka keheningan saat pikiranku dan perasaanku sedang kacau, tapi aku tidak suka ruangan luas.

Jadi aku melangkah dimana berjajar bilik – bilik toilet yang ada di belakang UKS. Deretan bilik toilet itu tidak khusus diperuntukan untuk yeoja atau namja. Dan bilik – bilik kamar mandi itu sudah jarang digunakan, hal itu dikarenakan semenjak adanya toilet terpisah yang baru dan berada lebih dekat dengan kelas – kelas sudah selesai dibangun.

Aku masuk ke dalam salah satu bilik toilet yang berada agak di ujung. Lantai toilet tersebut cukup kering, begitu juga dindingnya. Tampaknya bilik yang kumasuki adalah bilik yang memang jarang digunakan. Aku menghembuskan napas, lalu duduk berlahan di lantai dalam bilik toilet tersebut. Itu adalah kali pertamanya aku duduk di lantai toilet selain di rumahku, namun saat ini aku tidak begitu peduli. Lagipula lantainya bersih, karna setiap sudut dan tempat – tempat di sekolahku memang terjaga dengan baik.

Lalu aku kembali memeluk kakiku dan membenamkan wajahku di atas lutut. Beberapa saat kemudian, aku mulai menangis. Kali ini, aku benar – benar menangis. Pipiku basah karna air mataku, aku menggigit bibir bawahku, berusaha untuk menahan isakan, agar tangisanku tidak terdengar dari luar.

Aku benci semua rutinitas ini, aku benci belajar, aku benci semua guru yang kutemui yang berlagak dirinya paling pintar. Aku benci kewajibanku, aku benci beban yang dijatuhkan oleh orangtuaku ini. Aku benci orang – orang yang tidak dapat memahami apa yang sesungguhnya aku inginkan, tidak memahami apa sebenarnya mimpiku. Aku benci semuanya.

Aku tidak peduli kalaupun aku pewaris dari perusahaan terbesar di dunia. Aku rela melepaskan semua itu, asal aku dapat lepas dari ikatan rutinitas yang menyesakkanku ini. Semua hal yang kubenci itu, membuatku berlahan – lahan mulai membenci diriku sendiri. Membenci diriku yang terlalu payah dan tidak dapat menerima semuanya dengan tegar. Aku benci diriku yang bodoh. Aku benci. Kalau aku tidak berakhir menjadi gila, mungkin aku akan membunuh diriku sendiri.

Tangisku mulai berhenti, namun kepalaku semakin berdenyut – denyut. Dan disaat bersamaan, aku mendapati diriku mengantuk. Maka, akupun memejamkan mataku.

-END SULLI POV-

-HENRY POV-

“Sulli tidak ada di UKS”

Perkataan Luna tadi seketika mengalihkan perhatianku dari layar laptop yang ada depanku.

“Mwo?” Ucap Taeyeon tampak terkejut.

“Jeongmalyo, dia tidak ada” Luna meyakinkan.

“Bagaimana bisa? Apa jangan – jangan dia pulang?”

“Tidak mungkin!” Sergah Luna, “Barang – barangnya masih ada di kelas” Ucapnya sambil menunjuk ke arah barang – barang Sulli yang masih ada di tempatnya.

“Ayo, kita cari dulu!” Ajak Victoria yang sedari tadi mendengarkan.

Maka mereka bertiga pun bergerak keluar kelas, sementara aku tetap diam di tempatku, menunggu. Lima menit kemudian, Luna masuk kedalam kelas dengan muka khawatir sekaligus panik, “Sulli tidak kelihatan dimana – mana” Ujarnya pada murid – murid di kelas.

Aku memandang sekeliling, mendapati bahwa tidak ada yang benar – benar peduli. Aku mendesah, mematikan laptopku, dan melangkah keluar kelas.

“Henry-a..,mau kemana?” Tanya Onew saat aku membuka pintu kelas.

“Kantin” Jawabku lalu segera melanjutkan langkahku.

Aku pun mulai berjalan menyusuri lorong – lorong sekolah sambil mencari – cari yeoja tinggi berambut panjang ikal itu. Namun hingga aku selesai mengitari sekolah, aku tidak berhasil menemukan Sulli.

“Apa ia di kamar mandi?” Gumamku pelan.

Maka aku pun bergerak ke kamar mandi yeoja, dan berdiri beberapa meter dari pintunya, menunggu kalau – kalau Sulli keluar dari sana. Namun kudapati Taeyeon keluar dari kamar mandi, yang artinya apabila Sulli ada disana, Taeyeon kemungkinan sudah bersamanya. Namun Taeyeon tampak hanya sendirian.

“Kau bilang kau ke kantin”

Aku menoleh dan mendapati Onew sudah berdiri di belakangku,

“Aku dari kantin” Sahuku.

“Dan sekarang mau masuk kesana?” Tanya Onew sambil menunjuk ke toilet yeoja di hadapan kami.

“Anio” Jawabku cuek, “Aku mau ke kelas”

-END HENRY POV-

-SULLI POV-

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku. Kepalaku masih terasa agak pusing, dengan berlahan kuangkat kepalaku, dan mendapati diriku masih ada di dalam toilet. Aku mendesah, menyandarkan kepalaku ke dinding toilet.

“Ketiduran” Gumamku.

Kulihat jam merah yang melingkar di tanganku dan menunjukkan pukul setengah satu siang. Sudah istirahat, artinya pelajaran matematika juga sudah berakhir. Aku mulai bertanya – tanya apakah teman – temanku sedang mencariku saat menyadari aku sudah tidak ada di UKS. Mereka pasti mencariku, namun aku tidak peduli karenanya. Walau begitu, aku tahu aku harus segera kembali ke kelas, atau mereka benar – benar berpikir aku hilang.

Aku kembali mendesah, lalu bangkit berdiri dengan enggan. Kakiku rasanya menolak untuk tegak. Aku masih ingin disini. Disini terasa lebih nyaman walau aku dapat mencium bau pesing dari WC. Namun setidaknya di sini tenang.

Aku sudah berdiri, namun aku kembali menyandarkan tubuhku ke tembok. Pikiranku melayang pada teman – temanku. Aku punya teman – teman yang baik. Mereka perhatian dan mau menolongku. Namun, walau mereka seperti itu, aku tahu bahwa aku tidak dapat menangis di depan mereka. Karna di depan mereka, aku adalah Sulli yang kuat dan selalu tersenyum. Teman –  temanku itu tidak tahu apa – apa. Dan mereka sesungguhnya tidak pernah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Mereka hanya tahu sampul palsu diriku.

“Kau dari mana saja?” Tanya Henry saat pertama kali aku menjejakkan kakiku di dalam kelas.

Aku tersenyum kecil, “Toilet” Jawabku sekenanya lalu melangkah melewatinya ke tempat dudukku.

Belum sempat aku mendudukkan diriku di kursi, kudapati Luna, Taeyeon, dan Victoria sudah mengerumuniku,

“Kau dari mana saja sih?” Tanya Luna khawatir.

“Kami mencarimu dari tadi!” Taeyeon menambahkan.

“Mian” Jawabku sambil mengulas senyum tipis, “Aku tadi di toilet”

“Jeongmal?” Tanya Victoria, “Aku tadi sempat mencarimu di toilet, namun tidak melihatmu” Ucapnya sambil mengernyit.

“Aku juga tidak melihatmu” Ucapku.

Beberapa saat kemudian, bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Murid – murid segera berhamburan masuk ke dalam kelas. Dan teman – teman sekelas yang menyadari keberadaanku segera menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Sementara itu, aku hanya tersenyum sambil menjawab bahwa aku sudah tidak apa – apa.  Walau begitu, acting ku untuk terlihat lemas dan pusing masih berlanjut. Sebenarnya untuk berakting seperti itu cukup mudah. Aku hanya perlu diam dan terlihat tidak focus, dan lelah.  Karna biasanya aku termasuk anak yang cerewet dan aktif. Jadi, apabila aku hanya diam, teman – temanku pasti berpikir aku sakit.

“Hari ini kau pulang sendiri lagi?” Tanya Taeyeon saat kami hendak pulang.

“Nde” Anggukku.

“Sebaiknya jangan pulang sendiri dulu” Nasihat Krystal.

“Gwanchanayo” Jawabku, “Aku tidak apa – apa kok”

“Sekarang tidak apa – apa, tapi nanti di jalan kan tidak tahu apa yang akan terjadi” Tukas Yuri.

“Anio. Tidak akan ada apa – apa” Aku mencoba meyakinkan.

“Biar aku antar”

Aku menoleh ke asal suara, dan mendapati Henry sudah berdiri di belakangku,

“Tidak usah, terima kasih” Sahutku langsung.

“Gwanchana, aku sedang tidak ada acara kok” Ujar Henry.

“Nde, lebih baik kau di antar Henry, dia kan naik motor” Luna menimpali.

“Majayo, kita tidak bisa menemanimu, karna perlu latihan drama hari ini” Ujar Taeyeon.

“Tapi..”

“Sudah ayo!” Potong Henry lalu meraih pergelangan tanganku dan menarikku keluar kelas.

“Hati – hati ya!” Teriak Victoria.

“Igeo..” Henry menyodorkan helm nya padaku.

Aku menerimanya dengan ragu – ragu, “Aku benar – benar bisa pulang sendiri kok” Ucapku sambil menunduk.

“Sudahlah, cepat pakai helmnya!” Perintah Henry.

Aku menghela napas, lalu dengan sedikit enggan mengenakan helm yang Henry berikan tadi. Sejujurnya aku jarang naik motor, dan artinya aku juga jarang pakai helm. Dan helm ini membuat kepalaku terasa kaku dan berat.

“Kalau sudah beberapa menit, helmnya tidak akan terasa berat lagi kok” Ujar Henry seakan bisa membaca pikiranku.

“Nde” Sahutku pelan.

“Ayo, naik!” Ujar Henry lagi yang telah siap di posisinya.

Untuk beberapa saat aku hanya berdiri diam, namun akhirnya aku pun naik ke atas motor dan duduk di belakang Henry,

“Siap?” Tanya Henry.

“Nde” Jawabku.

Dan beberapa saat kemudian, Henry pun mulai mengendarai motornya keluar dari pekarangan sekolah, melintasi jalan kota Seoul yang ramai.

“Gamsahamnida” Ucapku sambil menyodorkan helm yang tadi kukenakan.

“Cheonmaneyo” Jawab Henry sembari tersenyum dan menerima helm yang kusodorkan.

“Apa kau mau mampir dulu?” Aku menawarkan.

“Anio, tidak perlu. Sudah terlalu sore” Tolak Henry lembut.

“Mianhaeyo, sudah membuatmu repot”

“Anio, gwancahanayo. Lagipula aku yang mengajakmu” Ucap Henry.

Aku tersenyum, “Jeongmal gomawoyo”

“Nde. Istirahatlah” Ucap Henry lalu mengenakan kembali helmnya.

“Nde” Anggukku.

“Kalau begitu, aku pulang dulu” Pamit Henry.

“Nde” Aku kembali mengangguk.

Henry pun melambaikan tangannya sekilas, dan kembali melajukan motornya meninggalkanku. Aku menghela napas, menatap motor yang dikendarai Henry berbelok dan hilang dari pandanganku. Setelah itu, aku pun berbalik dan masuk ke dalam rumah.

“Sulli-ya..,kau sudah pulang?” Tanya eomma setibanya aku di rumah.

“Nde” Jawabku.

“Tadi kamu diantar siapa?” Tanya eomma.

“Chingu” Jawabku singkat lalu berlalu meninggalkan eomma dan masuk ke dalam kamar.

Sesampainya aku di kamar, aku segera mengunci pintu kamarku, dan melempar asal tas sekolahku, lalu merebahkan diriku di kasur. Aku mendesah, menatap langit – langit kamarku yang di cat putih bersih.

Entah ada gerangan apa si Henry itu mau mengantarku pulang. Sebenarnya aku menyadari kalau namja itu sering kali memperhatikanku. Namun aku tidak peduli dan tidak pula menanggapinya.

Henry adalah salah satu teman sekelasku, yang bisa dibilang cukup unik. Ia adalah pewaris tunggal dari perusahaan mobil terbesar di Korea yang dimiliki oleh orangtuanya. Namun ia tampak tidak peduli dengan itu. Ia memiliki kewajiban yang sama dengan ku sebagai pewaris perusahaan besar di Korea, yaitu belajar untuk menghadapi masa depan nanti.

Ia terlihat sangat santai, bahkan aku tidak pernah melihatnya benar – benar memperhatikan pelajaran. Walau begitu ia selalu mendapatkan nilai tinggi di setiap mata pelajaran. Dan itulah yang membuaku jengkel padanya. Ah, bukan jengkel, tapi iri. Aku selalu berusaha keras dalam pelajaran, namun nilaiku seringkali dibawahnya yang tampak santai – santai saja.

“Menyebalkan”

“Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya appa yang baru saja pulang dari Amerika malam ini.

“Seperti bisanya” Jawabku sambil terus melanjutkan makan malamku.

“Nilaimu?” Tanya appa lagi.

“Seperti biasanya” Aku kembali mejawab dengan jawaban yang sama.

“Tidak ada peningkatan?” Appa kembali bertanya.

Untuk beberapa saat aku terdiam, “Ada, di beberapa pelajaran” Jawabku akhirnya.

“Penurunan?”

Aku kembali terdiam, kali ini lebih lama, “Sepertinya tidak ada”

Kudapati Appa tersenyum, lalu ia membelai kepalaku singkat, “Charanda” Pujinya.

“Untuk kedepan kau harus lebih giat dalam belajar agar mendapat hasil yang maksimal. Ingat, kau adalah Choi Sulli, penerus perusahaan terbesar di Korea. Arraseo?”

Aku mengangguk, “Arraseo”

-END SULLI POV-

-HENRY POV-

“Kau pulang terlambat. Dari mana saja?” Tanya Appa setibanya aku di rumah.

“Tadi aku mengantar temanku yang sakit” Jawabku.

Appa mengangguk – ngangguk mengerti, lalu ia kembali berkata, “Aku dengar kau sekarang semakin sering bermain biola” Ucapnya.

Aku mengernyit, “Nde” Jawabku.

“Sebaiknya kau mengurangi bermain biola” Ujar Appa lalu melipat koran yang tadi dibacanya, “Itu dapat mengganggu konsentrasi belajarmu” Ucapnya.

“Tidak akan mengganggu” Sergahku.

“Tidak sekarang, tapi nantinya aku mengganggu. Kamu bukan pemain biola, kamu adalah pengusaha” Ucap Appa tegas.

Aku mengalihkan pandanganku dari Appa, dan berkata, “Aku suka bermain biola” Ucapku lalu berlalu begitu saja.

Aku menghempasku tubuhku ke atas tempat tidur, lalu memejamkan mataku. Yah, begitulah Appa, begitulah keluargaku. Selalu berkata bahwa aku pengusaha dan permainan biolaku hanya membuang – buang waktu. Dasar orang – orang yang tidak tahu seni! Menyebalkan!

Sebenarnya apa sih, mau mereka? Melihatku terus – terusan belajar sampai kepalaku botak? Membosankan. Aku benci rutinitas belajar yang terlalu menekan. Untunglah Appa tidak menyuruh orang untuk mengawasi proses belajarku di sekolah. Kalau tidak, aku tidak akan punya waktu untuk istirahat. Di rumah belajar, di sekolah belajar. Benar – benar melelahkan.

Aku beranjak bangun dari tempat tidurku, lalu meraih tas sekolahku dan menarik keluar biolaku dari dalamnya. Kemudian, aku pun mulai memainkan biolaku. Kali ini, aku memainkannya bukan karna aku sedang ingin memainkannya. Melainkan karna aku hanya ingin membuat Appa kesal.

“Aku akan menjadi pemain biola terkenal nanti” Tekadku dalam hati.

Hari ini pembagian ulangan matematika. Dan aku mendapat nilai A dalam ulangan kali ini. Appa akan berkata bahwa aku seharusnya mendapat nilai A+, namun aku tidak peduli apa kata Appa dan berapa nilai yang kudapat.

“Choi Sulli-ssi” Panggil Jonghyun seongsenim

Aku menatap Sulli yang beranjak dari kursinya untuk mengambil hasil ulangan matematikanya. Sulli mengikuti ulangan susulan tiga hari setelah ulangan pertama dilakukan. Jonghyun seongsenim tampak mengatakan sesuatu pada Sulli saat ia menyerahkan lembar ulangannya. Dan ketika Sulli berbalik untuk kembali ke tempat duduknya, kulihat wajah Sulli yang kelihatan sedikit muram, namun kembali cerah seperti biasanya saat Luna menanyakan hasil ulangannya.

Aku sering mengamati Sulli. Sehingga aku dapat menilainya sebagai yeoja yang selalu menyembunyikan perasaannya. Ia sering terlihat sedih untuk beberapa saat, namun saat seseorang mulai mengajaknya bicara, kesedihan itu seketika terhapus seakan tidak pernah ada. Sulli terkenal sebagai anak yang santai dan ejoy. Walau begitu, aku tahu ia tidak benar – benar santai. Ia seringkali terlihat tegang dan panik. Namun ia menyembunyikan ketegangan dan kepanikannya itu dengan sangat pintar.

“Mau kemana?” Tanya Victoria saat melihat Sulli bangkit dan beranjak keluar kelas saat bel istirahat berbunyi.

Sulli berbalik dan tersenyum pada Victoria, “Aku mau ke perpustakaan sebentar” Jawabnya.

“Mau aku temani?” Victoria menawarkan.

Sulli menggeleng masih dengan senyum dibibirnya, “Tidak perlu. Cuma sebentar kok!” Jawabnya lalu segera melanjutkan langkahnya keluar kelas.

Dengan segera aku bangkit berdiri dan melangkah cepat keluar kelas. Aku menoleh kesana kemari dan mendapati Sulli sudah melangkah cepat menyusuri lorong – lorong sekolah. Aku pun segera mengikuti Sulli diam – diam.

Sulli tidak biasanya keluar kelas saat jam istirahat. Ia bisanya hanya memakan bekalnya, membaca buku, atau sekedar mengobrol debgan teman – temannya. Ia sangat jarang keluar kelas.

Aku juga tidak yakin kenapa aku mengikuti Sulli. Namun aku tidak dapat menahan diriku untuk mengikutinya. Aku teralalu penasaran, dan aku tidak ingin memperparah rasa penasaranku dengan hanya duduk diam di kelas.

Sulli tidak menuju ke perpustakaan seperti dugaanku. Ia bergerak ke arah yang berlawanan. Ia berjalan melalui ruang laboratorium dan UKS, menuju bagian belakang sekolah. Aku berdiri diam saat melihatnya melintasi bilik – bilik kamar mandi yang merupakan toilet lama sekolah ini. Setelah itu, ia masuk ke dalam salah satu bilik, dan menutup pintunya.

Aku mengernyit heran, mengapa ia ke toilet ini, padahal toilet yeoja yang baru berada lebih dekat dari kelas. Aku tetap diam di posisiku hingga hampir sepuluh menit. Namun Sulli tidak kunjung keluar. Aku mulai bertanya – tanya apa yang sebenarnya ia lakukan disana. Namun aku tidak dapat mengetuk pintunya dan bertanya apa yang ia lakukan di dalam. Aku pasti terlihat seperti orang aneh dan akan ketahuan mengikutinya.

Maka akupun melangkahkan kakiku dan masuk ke dalam bilik kamar mandi yang berada di samping bilik kamar mandi yang dimasuki Sulli. Karna bilik – bilik toilet yang berjajar disini tidak diperuntukkan khusus untuk namja atau yeoja, jadi tidak masalah kalau aku masuk ke sini.

Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah aku masuk ke dalam toilet tersebut. Lantai toilet itu cukup kering, jadi aku memutuskan untuk duduk dan menyandarkan tubuhku di dinding. Aku menghembuskan napas, bingung atas apa yang sebenarnya aku lakukan saat ini. Kupejamkan mataku, masuk ke dalam keheningan di sekelilingku ini.

 “There’s a song that’s inside of my soul”

Aku membuka mataku, merasa terkejut dengan nyanyian tiba – tiba yang terasa sangat dekat denganku.

“It’s the one that I’ve tried to write over and over again”

“Sulli?” Bisikku.

“I’m awake in the infinite cold”

“But, you sing to me over, over and, over again”

            Suara Sulli yang mengalun merdu terdengar dari balik tembok dimana aku bersandar. Aku kembali memejamkan mataku, mendengarkan suara Sulli yang begitu indah dan menenangkan.

“So, I lay my head back down”

“And, I lift my hands and pray”

“To be only yours, I pray”

“To be only yours, I know now you’re my only hope..”

-END HENRY POV-

-SULLI POV-

“B-“ Ucap Jonghyun seongsenim, “Ulangan susulan cukup membantu kan?” Tanyanya sambil tersenyum kecil.

Mendengar hal itu membuat jantungku seakan diremas dengan sangat erat hingga tidak dapat berdetak. Aku diam tidak menjawab dan langsung berbalik kembali ke kursi ku.

“Berapa?” Tanya Luna.

“B-“ Jawabku berusaha terdengar ceria seperti biasanya.

“Charanda” Puji Luna sambil menyunggingkan senyum.

Hanya perkataan sederhana Jonghyun seongsenimlah yang dapat membuatku kembali ke toilet pesing ini. Aku duduk di lantainya yang kering sambil menatap hasil ulangan matematiku. Sebenarnya tidak terlalu buruk, namun cukup membuatku merasa sangat bodoh. Terlebih setelah Jonghyun seongsenim mengatakan hal itu.

Aku memang lemah dalam pelajaran matematika. Namun sejak aku menginjak kelas tiga SMA, aku merasa jadi sangat bodoh dalam pelajaran ini. Padahal Appa berkata bahwa aku harus mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran matematika. Tapi, hanya ini yang dapat kuraih.

Aku menghembuskan napasku, merasa kecewa pada diriku sendiri. Ingin rasanya aku meninggalkan semua rutinitas membosankan ini. Seandainya aku bisa mengikuti sekolah seni dan melatih kemampuan vokalku. Seandainya aku dapat mencoba mewujudkan mimpiku dari sekarang. Mewujudkan mimpiku menjadi seorang penyanyi terkenal. Bukan pengusaha dengan nilai matematika yang bagus.

“There’s a song that’s inside of my soul”

“It’s the one that I’ve tried to write over and over again”

“I’m awake in the infinite cold”

“But, you sing to me over, over and, over again”

Aku menyanyi, dan disaat bersamaan, air mataku mulai mengalir. Entah kenapa, namun aku membiarkannya, dan terus bernyanyi.

-END SULLI POV-

-HENRY POV-

Sulli kembali ke kelas lima menit sebelum jam istirahat berakhir. Dan saat pelajaran kembali berlangsung, aku tidak dapat melepaskan pandanganku darinya. Suaranya bagaikan kaset yang terus berputar dikepalaku. Aku tidak tahu kalau ia memiliki suara seindah itu. Ia tidak pernah bernyanyi di dalam kelas. Dan kalaupun ia bernyanyi, selalu bersama – sama dengan temannya yang lain.

Namun setelah mendengar suaranya hari ini, aku benar – benar terpesona. Kalau ia penyanyi, aku pasti sudah menjadi fans nya. Bahkan aku pikir sudah menjadi fans nya sekarang.

Aku mulai membayangkan diriku yang bermain biola sementara Sulli menyanyi di sampingku. Mengiringinya bernyanyi pasti akan sangat menyenangkan. Seandainya ada kesempatan untuk itu, aku akan merasa sangat senang.

“Henry-ssi konsentrasi” Tegur Leeteuk seongsenim.

Lamunanku buyar seketika, aku segera mengalihkan pandanganku dari Sulli, dan menatap ke papan tulis, “Nde, seongsenim” Sahutku.

“Baiklah, kita lanjutkan” Ucap Leeteuk seongsenim lalu kembali menjelaskan sambil menulis sesuatu di papan tulis.

Aku menghembuskan napas, dan untuk terakhir kalinya di pelajaran ini, aku melirik ke arah Sulli yang tampak tengah berkonsentrasi mendengarkan. Senyum kecil terlukis di bibirku,

“Choi Sulli” Gumamku.

-END Henry POV-

-SULLI POV-

“Nilai semua murid di kelas ini melangalami peningkatan” Jonghyun seongsenim mengumumkan di iringi tepuk tangan riuh murid – murid sekelas.

“Terutama Henry Lau” Ia melanjutkan.

Aku melirik ke arah Henry yang tidak tampak begitu peduli. Sementara itu, aku ikut bertepuk tangan untuknya bersama murid – murid lain.

“Semua murid mengalami peningkatan, kecuali satu orang” Ucap Jonghyun seongsenim, membuat jantungku mencelos.

“Kecuali Choi Sulli yang mengalami penurunan”

Seketika kelas hening setelah Jonghyun seongsenim mengucapkan hal tersebut. Kurasakan seluruh pandangan tertuju ke arahku. Ingin rasanya aku segera berlari keluar kelas, dan bersenyembunyi dalam bilik toilet tempatku biasa menenangkan diri. Namun aku berusaha untuk menjaga ekspresi agar tetap tenang.

“Kau harus lebih berusaha lagi” Nasihat Jonghyun seongsenim sambil menatapku tajam.

“Nde, seongsenim” Jawabku langsung dengan cukup kencang dengan nada yang terdengar bersemangat.

Aku harus terlihat tegar dan kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah dan malu di depan siapapun, terutama di hadapan guru sialan ini.

Walau begitu, pada jam istirahat pertama, aku kembali bersembunyi di dalam toilet seperti hari – hari biasanya saat perasaanku kacau.

“Tidak ingin sekolah!!!” Ucapku dengan cukup keras.

Setelah berkali – kali bersembunyi dalam toilet ini, aku tahu bahwa jarang sekali ada yang kemari. Jadi,tidak akan ada yang menyadari keberadaanku kalaupun aku berteriak. Dan itu salah satu alasan aku suka berada di sini.

Seperti biasanya, pagi ini aku berjalan ke stasiun untuk berangkat ke sekolah. Aku memang menolak saran Appa agar aku diantar jemput dengan mobil oleh supir. Hal itu dikarenakan, aku lebih senang pergi sendiri. Dan berjalan pada pagi hari itu benar – benar menyegarkan.

Namun hari ini rasanya aku enggan sekali berangkat ke sekolah, entah kenapa. Aku hanya tidak ingin berangkat ke sekolah. Aku merasa apabila aku sampai di sekolah, otakku akan segara meledak.

Tin! Tin!

Klakson motor dibelakangku membuatku sedikit terlonjak. Aku mencibir dan segera bergerak lebih minggir dari jalan, walau sebenarnya aku juga sadar posisiku sebelumnya tidak mengganggu kendaraan apapun yang lewat.

Tin! Tin!

Aku menoleh ke belakang dengan jengkel dan mendapati sebuah motor sport hitam berhenti tepat di belakangku. Namja yang mengendarainya mengenakan seragam yang sama denganku. Dan dari postur tubuh juga motor yang ia kendarai, ia terlihat sangat familiar dengan seseorang yang kukenal. Sesaat kemudian namja itu melepaskan helmnya dan tersenyum padaku,

“Annyeong haseyo” Sapanya.

“Henry-ssi” Ucapku sedikit terkejut.

-END SULLI POV-

-HENRY POV-

“Ayo, berangkat sama – sama” Aku menawarkan.

Namun tawaranku segera disambut gelengan oleh Sulli, “Anio, gwanchanayo. Aku akan jalan sendiri” Tolaknya lembut sambil tersenyum kecil.

Aku balas tersenyum, “Gwanchanayo, akan lebih cepat sampai kalau berangkat sama – sama” Ucapku lagi.

Sulli terdiam sesaat, “Anio, tidak perlu” Ia tetap menolak.

“Wae? Apakah karna kau tidak ingin cepat sampai di sekolah?” Tanyaku.

“Mwo?” Sulli tampak benar – benar terkejut dengan apa yang kukatakan dan hal itu membuatku tersenyum.

“Wae? Apakah benar?”

“Anio!” Sergah Sulli langsung, “Bukan seperti itu” Ucapnya pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Lalu kenapa?”

“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu” Ucap Sulli.

Aku tertawa singkat, “Anio, kau sama sekali tidak merepotkan. Ayo, naik!” Ujarku.

“Anio, tidak perlu. Gamsahamnida, aku harus kembali berjalan” Ujarnya lalu melangkah cepat meninggalkanku yang masih duduk diam di atas motor.

Aku tersenyum geli, lalu menjalankan motorku, dan berhenti tepat di samping Sulli,

“Sebenarnya aku berniat membolos” Ucapku membuat Sulli berhenti melangkah.

“Mworago?” Ia membelalak.

“Aku mau bolos” Ucapku lagi.

“Waeyo?” Tanyanya heran.

Aku menghela napas lalu mengarahkan pandanganku lurus ke depan, “Mollayo, aku hanya sedang tidak ingin sekolah. Terlalu lelah dan bosan” Ucapku.

Kudapati Sulli hanya diam, jadi aku tersenyum, dan berkata, “Maaf, aku hanya membuatmu telat. Jangan bilang kalau kita bertemu hari ini ya!” Aku memperingatkan sambil mengenakan kembali helmku.

“Apa kau serius akan membolos?” Tanya Sulli ragu.

Aku mengangguk, “Sudah kurencanakan sejak semalam” Ucapku, “Wae? Apa kau mau ikut bolos denganku?” Tanyaku sambil tersenyum.

Sulli diam, ia tampak ragu. Walau begitu, aku tahu benar ia mau ikut bolos denganku. Dan sebenarnya aku juga membolos karna mendengarnya berteriak tidak ingin sekolah di toilet kemarin. Jadi aku sengaja memutar arah untuk melewati rumah Sulli hingga bertemu dengannya, dan melakukan ini semua.

“Hanya sehari tidak masalah” Ujarku sambil menyodorkan helm cadanganku padanya.

Sulli masih tampak ragu, namun akhirnya ia meraih helmku dan memakainya. Aku tersenyum sementara Sulli naik ke motorku dan duduk di belakangku,

“Kita kemana?” Tanya Sulli.

“Kemanapun kau ingin pergi” Jawabku.

-END HENRY POV-

-SULLI POV-

“Kita masih pakai seragam” Aku mengingatkan saat kami berdua tengah menikmati ice cream yang dibeli Henry saat kami melihat stant ice cream di perjalanan.

“Majayo” Henry mengangguk, “Kalau begitu kita harus beli baju ganti”

Mendengar hal itu aku terdiam. Beli baju ganti? Uang yang kubawa sepertinya tidak cukup untuk membeli pakaian.

“Tenang, semuanya aku yang bayar” Ucap Henry sambil menepuk sebelah pundakku, “Sebagai rasa terima kasih, karna kau sudah menemaniku”

“Menemanimu bolos maksudmu?” Tanyaku sambil mengerucutkan bibir.

Henry tertawa, “Apa yang membuatmu kesal?” Tanyanya.

“Ini pertama kalinya aku bolos” Ucapku.

“Kalau begitu ini pengalaman pertama” Ia menanggapi, “Ayo, kita belanja!”

“Bagaimana kalau yang ini?” Tanya Henry.

Aku memperhatikan dress biru muda yang disodorkan Henry. Dress biru muda polos muda itu tampak simple dan manis. Panjangnya selutut, dan dilengkapi dengan jaket rajutan berwarna putih. Pilihan Henry boleh juga.

Kuambil dress tersebut dari tangan Henry dan melihat harga yang tergantung di dress tersebut. Untunglah tidak terlalu mahal, jadi tidak masalah kalau aku memilih ini.

“Ya, aku yang ini saja” Jawabku.

Henry tersenyum, “Kalau begitu, sana kau cepat ganti pakaian!” Ujarnya.

Aku mengangguk, berbalik menjauhi Henry dan masuk ke ruang pas untuk berganti pakaian. Setelah bertukar baju, aku segera melipat baju seragamku dan memasukkannya ke dalam tas. Aku keluar dari ruang pas dan mendapati Henry telah berganti pakaian dengan kaus merah dan celana jeans.

“Bagaimana?” Tanyanya saat melihat kedatanganku.

Aku tersenyum, “Moshita”

Henry balas tersenyum, lalu ia menyodorkan sepasang sepatu flat berwarna putih, “Lebih nyaman kalau pakai sepatu ini” Ujarnya.

“Tidak usah” Tolakku langsung, “Aku pakai sepatuku saja, terima kasih” Lanjutku.

“Gwanchanayo. Lagipula sepatumu itu tidak cocok dengan dress yang kau pakai” Ucap Henry lalu menyerahkan sepatu flat itu ke tanganku.

“Tapi..”

“Aku bayar dulu!” Ujar Henry lalu segera berbalik meninggalkanku menuju kasir.

Aku menghembuskan napas, lalu menatap sepatu flat putih yang sudah ada di tanganku ini, “Dasar!” Gumamku.

“Kita mau kemana?” Tanyaku setelah keluar dari toko.

Henry tampak berpikir sesaat, lalu akhirnya menjawab, “Aku juga belum tahu. Kita jalan – jalan saja dulu!” Jawab Henry sambil menyodorkan helm nya padaku.

Sementara itu, aku hanya mengangguk – ngangguk setuju, lalu mengenakan helm yang Henry berikan. Setelah itu aku beranjak naik ke atas motor dan duduk di belakang Henry.

“Siap?” Tanya Henry.

“Nde” Sahutku.

“Igeo”

Aku mendongak, mendapati Herny menyodorkan kembang gula berwarna pink dengan tangan kanannya dan berwarna putih di tangan kirinya.

“Silakan pilih mau yang mana” Ucapnya.

Aku tersenyum, dan meraih kembang gula pink dari tangan kanan Henry, “Gomawo” Ucapku.

Henry hanya tersenyum mendengar ucapanku dan mendudukkan dirinya di sampingku. Saat ini, kami sedang berada di salah satu taman di Seoul. Taman ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anak kecil yang tampak tengah bermain riang, dan beberapa orang tua. Taman ini terletak cukup jauh dari sekolah dan rumahku, jadi aku tidak perlu khawatir.

“Bagaimana?” Tanya Henry.

“Enak” Jawabku sambil terus menikmati kembang gula yang Henry berikan.

Henry terkekeh, “Maksudku bolos sekolah” Ucapnya.

Aku terdiam, merasa sedikit malu, namun aku menjawab, “Menyenangkan karna aku dapat lebih bersantai. Tapi juga merasa bersalah karna aku tidak seharusnya bersantai saat ini”

Aku menoleh pada Herny, “Bagaimana denganmu?”

Henry tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke depan, “Kurang lebih sama sepertimu. Tapi aku tidak terlalu merasa bersalah karna aku merasa memang seharusnya aku mendapatkan waktu untuk bersantai sesekali” Jawabnya.

Aku mengangguk – ngangguk, “Apakah ini pertama kalinya kau bolos?”

“Bagaimana menurutmu?” Henry balik bertanya.

Aku mengernyit berpikir, lalu mengangkat bahu, “Mungkin ini yang ketiga kali” Jawabku.

Henry tertawa, “Sebenarnya ini yang kesepuluh kali”

“Mwo?”

“Hanya bercanda” Sergahnya sambil terkekeh.

Aku menatapnya dengan curiga, “Jeongmalyo?”

“Ya, apa kau tidak percaya padaku?! Ini juga pertama kalinya aku bolos”

“Molla” Sahutku sambil terkekeh.

“Aaaissshh..,kau ini!”

Aku tertawa, “Kau selalu terlihat santai sih!” Ucapku.

Henry menghembuskan napas, “Hanya kelihatannya saja” Tukasnya.

Aku terdiam, hanya kelihatannya saja, berarti tidak seperti itu kenyataannya. Sesuatu memang tidak selalu seperti kelihatannya, untuk yang itu aku cukup paham.

“Yah, semua memang tidak seperti kelihatannya” Aku menimpali, “Nilaimu selalu bagus, kau pasti bekerja keras” Lanjutku.

Henry mengangguk, “Kerja kerasku tidak melebihi kerja kerasmu”

Aku terdiam, dan melirik kea rah Henry yang tersenyum,

“Kau pasti sadarkan, kalau aku selalu memperhatikanmu?” Tanyanya sambil tersenyum nakal.

“Tentu saja!” Jawabku langsung sambil memasang wajah kesal.

“Yah, karna itu aku tahu kalau kau lebih bekerja keras dariku”

“Aku lebih bekerja keras darimu, tapi kau lebih baik dariku” Ucapku.

“Itu bukan masalah, suatu saat kau pasti bisa melebihiku”

“Kau mau aku melebihimu?”

Henry tersenyum, “Anio”

“Tapi aku memang akan melebihimu” Ujarku lalu balas tersenyum.

“Kita membicarakan sesuatu yang bersangkutan dengan sekolah saat kita membolos” Ucap Henry lalu menghembuskan napas.

Aku mengangkat bahu, “Kita memang tidak bisa lepas dari itu. Suka atau tidak”

“Mungkin pada akhirnya bisa” Henry menanggapi.

“Mungkin” Aku menimpali.

Untuk hampir sepuluh menit, kami tidak saling bertukar kata sekalipun. Kami hanya duduk diam sambil menatap keadaan sekitar. Kami bukan dalam keadaan diam yang canggung, melainkan keadaan diam yang hangat dan menenangkan.

“Ayo, kita pergi!” Ajak Henry lalu bangkit berdiri.

“Kemana?” Tanyaku penasaran.

“Sudah, ayo kita jalan saja!” Jawab Henry lalu mengulurkan tangannya.

Aku terdiam sesaat, lalu meraih uluran tangan Henry, membiarkannya menggandeng tanganku, dan menuntunku kembali untuk menaiki motor.

-END SULLI POV-

-HENRY POV—

Saat ini, aku sedang ingin bersenang – senang. Jadi aku membawa Sulli ke game center. Kami bermain cukup lama disana, lalu mumutuskan untuk makan siang di sebuah kedai makan. Lalu berlanjut dengan berjalan – jalan mengelilingi kota Seoul. Kami mampir ke beberapa toko, dan memberi beberapa barang dan makanan ringan. Sulli yeoja yang menyenangkan. Walau awalanya ia bisa dibilang pendiam.

Menjelang petang, aku dan Sulli bergerak ke Namsan Tower. Sesampainya disana, kami segera naik ke atas.

“Waah..,yeoppoda..” Komentar Sulli sesampainya kami di puncak.

“Sunset” Aku menimpali.

Sulli tersenyum, pandangannya tidak lepas dari sunset yang dapat kami lihat dengan jelas dari atas menara ini. Tidak ada orang selain kami saat ini, mungkin karna ini bukanlah hari libur, sehingga tempat ini sepi. Dan itu cukup membuatku senang, karna ramai orang bukanlah situasi yang nyaman dan tenang.

“Gomawo” Ucap Sulli tiba – tiba.

“Nde?” Sahutku sedikit kaget.

“Gomawo untuk hari ini” Ucap Sulli lagi.

Aku tersenyum, “Aku juga berterima kasih” Sahutku.

“Sudah lama sekali sejak pertama kali aku bersenang – senang seperti ini” Ujarnya.

“Kau pasti sangat lelah” Komentarku.

“Memang sangat lelah” Sahutnya, “Appa dan Eomma selalu berkata bahwa aku harus belajar. Lebih keras dan lebih keras lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, supaya aku dapat menjadi penerus perusahaan yang baik nanti” Ujarnya.

“Jadi itulah yang ku lakukan, belajar dan terus belajar, hingga aku tidak bisa melakukan apa yang benar – benar ingin kulakukan. Hingga aku tidak sempat memikirkan mimpiku yang sebenarnya, walau aku sangat ingin” Ia menambahkan.

“Rutinitas belajar itu benar – benar membuatku lelah. Terlebih fakta tidak ada peningkatan dalam hasil pelajaranku. Itu membuatku merasa lebih lelah dan putus asa”

“Kau lelah” Ucapku, “Maka dari itu tidak ada peningkatan. Kau harus istirahat, lalu baru kembali belajar lagi” Lanjutku.

Sulli tampak menerawang, “Aku sempat memikirkan untuk beristirahat. Namun yang aku takutkan adalah, aku tidak mau lagi belajar dan melanjutkan semuanya setelah beristirahat” Jawabnya.

Aku menghembuskan napas, “Perkataanmu benar, aku juga merasakannya” Aku menanggapi.

“Sekali aku berhenti, rasanya aku ingin berhenti untuk selamanya. Lalu melakukan apa yang sebenarnya ingin kulakukan, mewujudkan mimpiku sendiri. Namun yang menjadi masalah adalah, tidak ada waktu untuk mimpiki, karna masa depanku sudah ditentukan” Ucapku.

Sulli menoleh padaku, memandang ke dalam mataku, “Kalau begitu kita sama” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum , lalu ia bertanya, “Apa mimpimu?”

Untuk beberapa saat aku terdiam, namun akhirnya aku meraih tasku yang kuletakkan di dekat kakiku, dan mengeluarkan biola kesayanganku,

“Igeo” Ucapku sambil menunjukkan biolaku tersebut.

“Biola?” Sulli mengernyit.

Aku mengangguk, “Aku ingin menjadi pemain biola professional. Bukankah itu menggelikan?” Tanyaku lalu terkekeh.

“Tidak ada impian yang menggelikan” Sergah Sulli.

Aku menghembuskan napas, “Setidaknya itulah yang ayahku katakan”

“Ayahmu hanya tidak mengerti” Sulli menanggapi, “Begitu juga ayah dan ibuku” Tambahnya.

“Apa mimpimu?” Aku balik bertanya.

Sulli menghembuskan napas, “Apakah aku harus menjawabnya?”

“Tentu saja!” Sahutku.

Sulli tersenyum, “Menjadi seorang penyanyi” Jawabnya.

Aku tersenyum, “Kau punya potensi untuk itu” Komentarku.

Sulli tertawa, “Tidak juga” Ucapnya.

“Aku berpikir, kalau kita memang harus menyelesaikan semua ini sampai akhir” Ucapku.

“Semua pelajaran ini dan lain – lainnya tentang bisnis dan segalanya?”

Aku mengangguk, “Mau tidak mau” Jawabku, “Sampai akhir. Hingga suatu saat kita pun dapat mewujudkan mimpi kita yang sebenarnya”

“Ya, itu memang kewajiban. Dan kita memang harus menyelesaikan kewajiban kita sampai akhir” Sulli menyetujui.

“Dan setelah itu, kita masih dapat mewujudkan mimpi kita. Dua profesi, tidak ada masalah dengan itu kan?”

Sulli kembali tersenyum, “Dua profesi terdengar menyenangkan”

Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan sebuah gembok dan spidol, lalu aku menulis sesuatu di atasnya, dan menunjukkannya pada Sulli.

“Seorang penyanyi dan pemain biola terkenal yang merupakan pemilik perusahaan terbesar di dunia?” Baca Sulli lalu tertawa.

“Keren kan?”

Sulli kembali tertawa, “Keren sekali!”

“Boleh aku memasangnya?” Tanya Sulli.

Aku mengangguk, lalu menyerahkan kunci gembok tersebut pada Sulli yang memasang gemboknya bersama dengan gembok – gembok lain di sana. Setelah memasang gembok tersebut, Sulli menggengam kunci gembok tersebut, dan mendekatkannya ke dadanya, lalu memejamkan mata.

“Semoga Henry Lau dapat menjadi pemain biola terkenal dan menjadi pengusaha dari perusahaan terbesar di dunia. Begitu juga Choi Sulli yang menjadi seorang penyanyi terkenal dan pengusaha dari perusahaan terbesar di dunia” Ucapnya dengan cukup keras.

Mendengar perkataannya membuatku terdiam. Sementara itu, Sulli melemparkan kuncinya dengan satu ayunan kuat, hingga terlempar jauh dan tidak lagi terlihat. Sulli lalu menoleh padaku dan tersenyum sangat manis.

Aku balas tersenyum padanya lalu menyodorkan jari kelingkingku, “Kalau kita sudah berhasil nanti, kita harus kembali ke sini” Ucapku.

Sulli mengangguk, “Harus” Ujarnya lalu mengaitkan jari telunjuknya padaku.

“Ya, bagaimana kalau kau bernyanyi sekarang dan aku mengiringimu dengan biolaku?”

“Mwo?” Sulli tampak terkejut.

“Gwanchanayo, aku ingin mendengar suaramu lagi” Ucapku.

“Lagi?”

“Nde. Only Hope, aku ingin mendengarmu menyanyikan lagu itu sekali lagi”

Sulli tampak bingung, “Bagaimana kau..”

“Paboya, kau benar – benar tidak sadar kalau aku mengikutimu dan bersembunyi di bilik toilet di sampingmu?!”

Sulli membelalak, “Mwo?”

Aku tertawa, dan bersiap dengan biolaku, “Palli!”

-END HENRY POV-

-SULLI POV-

Aku terbelalak tidak percaya dengan pengakuan Henry. Bagaimana bisa aku tidak sadar kalau ia selalu mengikutiku selama ini?! Aiissh..,benar – benar memalukan!

“Ya, palli!” Tegur Henry.

Aku mengerucutkan bibir, merasa sedikit kesal namun juga bersyukur. Karna mungkin karna itu, Henry dapat mengerti aku, dan membawaku bersenang – senang seperti ini.

“Ara, kalau begitu aku akan bernyanyi sekarang” Ucapku.

Maka aku memejamkan mataku, dan dalam hati aku berdoa agar mimpi kami dapat terwujud, hingga kami dapat menjadi seseorang yang sukses. Dan aku juga sangat berterima kasih pada Henry. Terima kasih atas perhatiannya padaku, terima kasih atas semua yang telah ia lakukan untukku, terima kasih sudah menjadi orang pertama yang mendengar nyanyianku, dan terima kasih sudah menjadi orang pertama yang mengiringi nyanyianku.

Alunan lembut biola Henry mulai terdengar, dan aku pun mulai bernyanyi..

“There’s a song that’s inside of my soul”

“It’s the one that I’ve tried to write over and over again”

“I’m awake in the infinite cold”

“But, you sing to me over and, over and, over again”

“So, I lay my head back down”

“And I lift my hand and pray”

“To be only yours I pray”

“To be only yours, I know now, you’re my only hope…”

-END-`

Gimana? Apakah ceritanya ngebosenin tau tidak? Comment ya, biar aku tau!!^^ Gomawo dah baca! Sekali lagi jangan lupa comment dan kalau suka di like^^

Gomawo~

Advertisements

2 thoughts on “FF – Until It’s End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s