[FF] Before U Go

 

Baru sadar kalau FF ini belum dipublish disini, ckckckck..

Title : Before U Go
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin
Rating : Semua umur, bebas..
Length : Oneshoot
Genre : Romance
Cast : Lee Haerin (Mine) & Kim Heechul
Other Cast : Im Yoona (nongol dikit)

Special FF buat Heechul oppa yang wamil^^..Telat ya? *Banget*
FF ini bukan FF sedih atau yang gimana gitu. Tapi lebih memfokuskan tentang perasaan tokohnya. Sebelumnya aku udah pernah baca model FF yang kayak gini, tapi baru coba sekarang. Sebenarnya aku juga nggak begitu yakin dengan hasilnya, tapi tetep aku post, hehehe^^
Maaf kalau banyak kekurangan, jangan lupa comment dan kalau suka di like, silakan dibaca~

-Haera POV-

“Kalau sekarang masih belum terlambat” Ucap Yoona sambil menatap lurus padaku, “Tapi kalau satu minggu lagi, aku tidak jamin” Tambahnya.

Aku mendesah, mengalihkan pandanganku dari Yoona, dan membenamkan wajahku ke bantal. Pikiranku benar – benar kalut dan perasaanku campur aduk saat ini. Menyebalkan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?!

“Haera-ya!” Panggil Yoona.

“Mwo?” Sahutku sambil mendongak.

“Sebaiknya kau pikirkan baik – baik dari sekarang!” Nasihat Yoona.

“Arrayo” Jawabku lesu lalu kembali menjatuhkan kepalaku ke bantal.

“Aku pulang ya!” Pamit Yoona.

Kudengar langkah kaki Yoona yang menjauh, membuka pintu kamarku, lalu menutupnya kembali. Sekarang aku sendiri di kamarku, dengan keadaan diriku yang sangat sangat galau. Aku menghembuskan napas, memutar tubuhku, memandang langit – langit kamarku yang putih bersih.

-FLASHBACK-

“Aku akan wamil”

Itulah ucapan pertama yang dikatakan Heechul oppa saat aku menuruti perintahnya untuk datang ke café yang biasa kami kunjungi untuk menemuinya seminggu lalu. Aku tercengang, ia pasti bercanda! Tidak mungkin Heechul oppa akan wamil sekarang!

“Mworago? Kapan?” Tanyaku terkejut.

“Dua minggu ke depan aku sudah masuk” Jawab Heechul oppa santai.

“Andwaeyo! Memang kapan oppa daftar?”

“Beberapa bulan lalu” Jawabnya singkat membuat kupingku panas.

“Kenapa baru bilang sekarang? Oppa serius akan wamil?” Tanyaku masih tidak percaya.

“Terserah aku mau bilang kapan” Jawabnya sambil mencibir, “Dan ya, aku serius” Ia menambahkan.

Untuk beberapa saat aku hanya diam, terasa ada sesuatu yang menggejolak dalam diriku. Aku tidak yakin apa, tapi aku jadi merasa benar – benar tidak nyaman,

“Tapi..,kenapa tiba – tiba?” Aku kembali bertanya.

“Tidak tiba – tiba” Tukas Heechul oppa, “Bukankah ini memang saat yang tepat?” Heechul oppa balik bertanya.

Aku kembali terdiam, tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, karna sejujurnya aku tidak pernah melihat waktu yang tepat untuk Heechul oppa menjalani wajib militer,

“Sampai kapan?” Tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan Heechul oppa.

Heechul oppa mendengus, “Ya, apa kau tidak belajar?! Tentu saja sekitar dua tahunan”

Aku menundukkan kepalaku, tentu saja aku tahu kalau masa wajib militer itu sekitar dua tahun lebih. Tapi bagaimanapun juga, aku ingin ingatanku itu salah. Apabila Heechul oppa akan menjalani wajib militer selama dua tahun, itu artinya akan sulit bagi kami untuk bertemu. Menyadari kenyataan itu, membuat diriku merasa sedih sekaligus kesal.

“Waeyo?” Tanya Heechul oppa membuyarkan lamunanku, “Apa kau sedih?” Ia kembali bertanya.

Aku bergerak – gerak tidak nyaman, dan saat itupula aku mengalihkan pandanganku dari Heechul oppa. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku memutuskan untuk diam.

“Gwanchanayo, akan ada waktu libur, nanti aku akan menemuimu” Ujar Heechul oppa lalu mengulurkan tangannya dan mengacak rambutku lembut.

Waktu libur? Memangnya waktu libur di wajib militer itu seminggu sekali? Aku hampir selalu bertemu Heechul oppa setiap hari, dan itu tidak akan cukup dibayar dengan pertemuan beberapa bulan sekali.

“Kenapa diam saja?” Heechul oppa kembali bertanya lalu mencubit ujung hidungku pelan.

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku yang ternyata sudah mulai berkaca – kaca. Aku menghembuskan napas,

“Oppa menyebalkan” Ucapku akhirnya.

Heechul oppa tertawa, “Ya, itulah aku” Ujarnya.

“Jadi tidak akan ada masalah denganmu kan, kalau aku wajib militer?” Tanya Heechul oppa sambil menyunggingkan senyumnya.

Untuk beberapa saat aku hanya diam, namun aku akhirnya aku menggeleng lemah, “Gwanchanayo..” Ucapku berusaha terdengar senormal mungkin, “Aku mengerti kok! Lagipula itukan memang sudah kewajiban oppa” Tambahku sambil memaksakan senyum.

“Bagus kalau begitu” Komentar Heechul oppa masih dengan senyum di wajahnya.

-END FLASHBACK-

Ya, aku berkata aku tidak apa – apa hari itu. Tapi kenyataannya tidak. Aku sedih, marah, kecewa, tidak terima, dan segalanya. Namun aku tidak bisa mengungkapkan hal itu pada Heechul oppa. Entah kenapa, lidahku rasanya kelu untuk mengucapkannya. Sehingga aku tidak bisa berkata bahwa aku tidak ingin Heechul oppa pergi. Bahwa aku ingin terus dapat bertemu Heechul oppa setiap hari, berbicara dengannya, mendengar gurauannya, mendengar nyanyiannya saat aku sedang merasa kesal dan sedih. Melihat wajahnya dan merasakan dirinya yang mengacak rambutku dan mencubit hidungku lembut. Namun aku tidak bisa. Aku terlalu payah, tidak mampu untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.

Apapun yang terjadi, kau bisa mengatakannya padaku. Karna aku adalah Kim Heechul, Heenim yang akan selalu ada untukmu..

Mengingat perkataan itu membuatku tersenyum miris. Itulah kata – kata yang selalu Heechul oppa katakan padaku. Oppa yang akan selalu ada untukku kapanpun dan dimanapun. Awalnya aku pikir oppa hanya sedekar berkata – kata saja saat mengucapkan itu, tapi nyatanya oppa benar – benar membuktikan perkataannya.

Aku mengayunkan kakiku ke lantai, beranjak bangun dari tempat tidurku. Melangkah dan mendudukkan diriku di kursi meja belajarku. Aku menarik salah satu laci meja belajarku dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru sapphire. Kotak itu sudah hampir penuh dengan foto – foto dan benda – benda kecil. Semua foto – foto itu adalah fotoku dan Heechul oppa, dan sebagian besar barang – barangnya adalah pemberian Heechul oppa.

Aku memilah – milah foto – foto tersebut, dan menatap selembar foto dimana aku dan Heechul oppa tengah berfoto sambil menggenggam ice cream chocolate fovoriteku. Aku masih ingat hari saat foto itu di ambil.

Hari itu, aku dan Heechul oppa pergi ke taman ria. Segalanya berjalan dengan menyenangkan hingga hari hampir malam dan kami memutuskan untuk pulang. Dan tanpa di duga, saat kami tengah berjalan beriringan untuk menuju halte bus, kami di jambret *nah loh, bahasa apaan itu?!*. Semuanya berlalu dengan begitu cepat, hingga kami sadar bahwa seluruh uang kami sudah diambil, dan tidak ada yang tersisa sepeser pun.

Diriku yang sudah merasa lelah menjadi marah, menyadari bahwa satu – satunya jalan pulang adalah dengan berjalan kaki. Aku terus berceloteh ria karna kesal dan kelelahan. Hingga akhirnya aku berhenti berjalan dan duduk begitu saja dipinggir jalan.

“Aku capek” Itu yang aku katakan pada Heechul oppa saat ia bertanya ada apa denganku.

“Kita tidak bisa istirahat sekarang, malam semakin larut” Ucap Heechul oppa.

Tapi aku tetap duduk, tanpa memperdulikan perkataan Heechul oppa. Sesaat kemudian, Heechul oppa menjongkokkan dirinya di depanku. Ia menyuruhku untuk naik ke punggungnya, dan berkata akan menggendongku. Tentu saja aku menolak dan berkata bahwa aku akan jalan sendiri. Namun Heechul oppa bersikeras ingin menggendongku. Bahkan saat aku sudah berjalan, Heechul oppa tetap diam tak bergerak. Hingga akhirnya aku menyerah dan naik ke punggung Heechul oppa.

Heechul oppa menggendongku dan tidak ingin menurunkanku, bahkan disaat aku berkata aku sudah tidak lelah. Kami terus berjalan (atau lebih tepatnya Heechul oppa yang berjalan) hingga akhirnya kami sampai di pasar malam. Heechul oppa menyuruhku untuk turun, dan tanpa banyak protes, aku pun turun. Aku tidak tahu apa yang akan Heechul oppa lakukan saat itu, karna ia pun tidak menjawab saat aku akan bertanya.

Heechul oppa berjalan menuju pusat pasar malam yang ramai lalu menyuruhku duduk di sebuah kursi sementara ia berdiri beberap meter dariku dan menyampirkan sapu tangannya di hadapannya. Sesaat kemudian, Heechul oppa mulai bernyanyi. Suaranya yang merdu mengalun dengan begitu indah, hingga menarik perhatian banyak orang.

Barulah saat itu aku sadar bahwa Heechul oppa mengamen untuk mendapatkan uang agar kami dapat pulang dengan kendaraan umum. Sementara Heechul oppa terus bernyanyi dan orang – orang mulai melemparkan uang mereka, aku hanya duduk diam di kursiku, memandang Heechul oppa dengan terpesona.

Untuk orang – orang yang baru mengenal Heechul oppa selama beberapa bulan, pasti tidak akan mengira seorang Heenim dapat berbuat seperti itu. Tapi itulah Heechul oppa, seorang namja yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya, selalu terlihat ceria, dan terkesan sensitive, namun sesungguhnya hatinya sangat lembut.

“Ayo, kita beli ice cream!”

Itu ucapan yang pertama kali Heechul oppa katakan saat menghampiriku dengan uang di tangannya. Maka kami pun membeli ice cream cokelat favoriteku, lalu atas paksaan Heechul oppa, kami pun mengambil beberapa foto melalui photo box yang ada di sana. Barulah setelah itu kami pulang dengan bus.

Mengingat semua itu membuatku semakin tidak rela untuk melepaskan Heechul oppa. Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa Heechul oppa ‘hanya’ akan pergi selama dua tahun. Namun dua tahun bukanlah ‘hanya’ untukku. Dua tahun adalah waktu yang sangat lama bagiku. Walaupun ada saatnya aku bertemu dengan Heechul oppa dalam dua tahun itu. Tapi hanya beberapa kali, dan beberapa kali tidak masuk dalam hitunganku. Mungkin aku terkesan begitu egois. Tapi bagaimanapun juga, itulah yang aku rasakan sesungguhnya.

Aku menghembuskan napas, merapikan kembali foto – foto di tanganku lalu menutup kotak biru sapphire itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci. Rasanya pikiranku semakin terasa kalut saja.

Aku bangkit berdiri, melangkah keluar kamar, dan menutup pintu di belangku. Aku berniat untuk pergi ke café Sukira, tempat aku dan Heechul oppa biasa bersantai dan mengobrol bersama. Letaknya tidak jauh dari rumah kami berdua, hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki untuk sampai di sana.

“Oseo Eoseyo..” Sapa salah satu pelayan café.

Kulayangkan senyumku, dan tanpa berkata apa – apa kembali melanjutkan langkahku dan duduk di kursi yang berada di sisi kanan café, yang berada tepat di samping jendela café yang menghadap ke arah taman kota di luar. Aku dan Heechul oppa selalu duduk di sana apabila datang ke sini.

“Chocolate Milkshake” Pintaku pada salah satu pelayan yang menghampiriku.

“Algasseumnida. Tunggu sebentar” Sahut pelayan itu lalu melenggang pergi.

Sambil bertopang dagu dengan pandangan keluar jendela, aku kembali memikirkan tentang Heechul oppa. Sekitar enam bulan lalu, di taman kota yang tengah kupandang saat ini, Heechul oppa pernah tiba – tiba menelponku dan menyuruhku untuk datang kesana. Sebenarnya hal seperti itu sering terjadi, jadi aku tidak begitu mempertanyakannya dan langsung datang untuk menemui Heechul oppa.

Saat aku sampai di sana, Heechul oppa tampak tengah duduk sambil mengayun – ayunkan pelan dirinya di salah satu ayunan di taman tersebut dan segera berdiri saat menyadari kedatanganku. Heechul oppa tampak normal – normal saja saat itu, namun saat aku mendekatinya dan berdiri di hadapannya, aku menyadari pandangan mata Heechul oppa yang tampak berbeda.

Sorot matanya tampak lebih tajam, namun di saat bersamaan terasa lembut. Tampaknya ada sesuatu hal yang penting yang ia ingin sampaikan padaku.

“Ada apa, oppa?” Tanyaku saat itu.

Heechul oppa tidak langsung menjawab, ia menatap lurus ke mataku, seakan ingin meyakinkanku bahwa apa yang akan ia katakan adalah sungguh – sungguh yang ia maksudkan. Beberapa saat kemudian, Heechul oppa meraih kedua tanganku dan menggenggamnya hangat di tangannya, dan dalam satu bisikan lembut ia berkata,

“Saranghaeyo, Haera-ya”

Mungkin sudah keseratus kalinya, aku kembali menghembuskan napas. Pikiranku melayang – laying mengingat hari dimana Heechul oppa menyatakan perasaannya padaku saat itu. Kurasakan jantungku kembali berdebar – debar.

Heechul oppa tidak pernah bercanda soal pernyataan cinta, jadi aku yakin benar bahwa Heechul oppa memang bersungguh – sungguh. Sebagaimana aku tahu bahwa Heechul oppa memang bersungguh – sungguh saat berkata ia akan menjalani wajib militer.

Walau begitu, pada saat itu, aku berharap Heechul oppa hanya bercanda. Karna aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tidak pernah membayangkan Heechul oppa akan berkata bahwa ia mencintaiku. Dan saat itu, aku juga tidak berpikir akan berkencan dengan Heechul oppa. Saat itu, Heechul oppa memaksaku untuk memberikan jawaban sekarang. Dan setelah beberapa saat mempertimbangkan, aku pun memutuskan hanya ingin menganggap Heechul oppa sebagai ‘oppa’ ku saja, bukan sebagai kekasihku.

Aku tahu Heechul oppa marah saat mendengar jawabanku, karna ia juga tidak tampak ingin menyembunyikan emosinya. Heechul oppa menyuruhku pulang dan hari itu berlalu begitu saja. Awalnya aku merasa canggung saat bertemu Heechul oppa keesokan harinya, namun karna Heechul oppa bersikap netral seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya, aku pun menjadi lebih santai. Dan hubungan kami tetap berjalan dengan baik seperti dulu.

Sekarang, semuanya berubah. Aku menyesal setengah mati atas penolakanku saat itu. Aku baru menyadari bahwa sesungguhnya aku juga mencintai Heechul oppa dan menginginkannya untuk menjadi lebih dari sekedar oppa ku. Namun aku tidak yakin apakah masih pantas bagiku untuk menyatakan perasaanku. Aku takut Heechul oppa mengira aku mempermainkannya. Dan aku lebih takut lagi, kalau Heechul oppa sudah tidak mencintaiku sebagaimana ia mencintaiku saat ia menyatakan perasaannya padaku.

“Silakan” Ujar salah satu pelayan café sambil meletakkan segelas penuh milkshake chocolate di atas mejaku.

“Gamsahamnida” Ucapku sambil menyunggingkan senyum.

Pelayan itu balas tersenyum, menundukkan kepalanya sedikit, lalu berlalu. Aku mendesah, mengaduk pelan milkshake chocolate ku, dan menyerapnya perlahan dengan sedotan.

Disaat bersamaan, aku kembali menerawang. Yoona, temanku yang telah kuceritakan tentang perasaanku yang sesungguhnya pada Heechul oppa, berkata bahwa aku harus menyatakan perasaanku pada Heechul oppa sebelum ia pergi wamil. Karna setelah wajib militer, ceritanya akan berbeda apabila aku menyatakan perasaanku. Sebenarnya perkataan Yoona ada benarnya, tapi aku masih tidak yakin untuk melakukannya. Aku bahkan tidak yakin bagaimana cara melakukannya.

“YA!”

Aku tersentak terkejut, hampir saja tersedak oleh milkshake chocolate yang tengah kuminim. Sontak aku menoleh ke belakang, mendapati Heechul oppa yang tengah menyeringai lebar. Sepertinya ia senang sekali berhasil mengejutkanku.

“Oppa..” Gumamku pelan.

Heechul oppa tersenyum, mendudukan dirinya di kursi di sebrangku, “Kenapa kau kesini sendirian?” Tanya Heechul oppa sambil memasang wajah cemberut.

Aku mengalihkan pandanganku, sedikit bingung harus menjawab apa, “Kupikir oppa akan datang sendiri tanpa kuajak” Jawabku, “Dan benarkan, oppa datang sendiri” Aku menambahkan.

Heechul oppa tertawa, “Majayo. Aku bisa tahu dimana kau dan menghampirimu kapanpun kalau aku mau” Tutur Heechul oppa.

Aku menundukkan kepala, perkataan Heechul oppa untuk saat ini mungkin benar. Tapi setelah Heechul oppa masuk wajib militer, aku tidak yakin hal itu masih dapat dibenarkan.

“Kemana saja kau seminggu ini?” Tanya Heechul oppa membuatku salah tingkah.

“Tidak kemana – mana. Aku di rumah” Jawabku cepat masih mengalihkan pandanganku dari mata Heechul oppa.

“Itu yang kumaksud” Ujar Heechul oppa lalu berdehem, “Kau tidak biasanya di rumah saja. Aku jadi ragu untuk mengunjungimu” Tambahnya.

“Oppa bisa datang kapanpun oppa mau” Aku menanggapi.

“Tapi tampaknya kau tidak sedang ingin aku kunjungi”

Mendengar ucapan Heechul oppa tadi membuatku tersedak dan terbatuk. Selama seminggu ini, sejak Heechul oppa berkata bahwa ia akan mengikuti wajib militer, aku memang tidak ingin keluar rumah. Tapi bukan berarti aku tidak ingin bertemu Heechul oppa. Walau memang benar juga aku sedang tidak ingin terlalu sering bertemu Heechul oppa sesering biasanya. Hal itu pun dikarenakan perasaanku yang terasa semakin tidak normal setiap kali aku bertemu Heechul oppa. Bahkan sekarangpun aku tidak dapat menatap langsung ke mata Heechul oppa lebih dari tiga detik.

“Anio” Sergahku cepat, “Malahan aku menunggu oppa datang” Tambahku.

“Jeongmal?” Tanya Heechul oppa walau tidak terdengar benar – benar tertarik.

Aku mengangguk pelan, “Nde”

“Mianhae, tapi aku sedang sedikit sibuk belakangan ini” Ujar Heechul oppa.

“Arrayo” Sahutku.

Tentu saja aku tahu kalau Heechul oppa sedang sibuk belakang ini. Pasti ada banyak hal yang perlu ia persiapkan untuk waktu wajib militernya nanti. Memikirkan hal itu, membuat perasaanku semakin tidak enak.

“Apa ada yang kau ingin katakan padaku?” Tanya Heechul oppa membuatku kembali tersentak terkejut.

“Anio” Sahutku cepat.

“Jeongmal? Tapi mukamu aneh sekali!” Tukas Heechul oppa.

Dalam hati aku menggerutu, bagaimana bisa namja satu ini begitu memperhatikan wajahku. Aku mengangkat sebelah tanganku, memberikan tanda pada salah satu pelayan café disana, kemudian membuka dompetku dan menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan tersebut. Aku masih ingat betul harga milkshake chocolatenya karna baru beberapa hari lalu aku datang ke sini, dan memesan minuman yang sama.

“Mianhaeyo oppa, aku rasa aku harus pulang sekarang” Ujarku lalu beranjak bangun.

Kurasakan tatapan Heechul oppa yang mengikuti gerak – gerikku, sesaat kemudian ia berkata,

“Aku..”

“Nde?” Sahutku.

Heechul oppa menggeleng, lalu tersenyum lebar padaku dan melambaikan tangannya, “Annyeong..,hati – hati di jalan! Nanti aku akan menelponmu!”

Aku membalas senyum Heechul oppa dan melambaikan tanganku, “Annyeong!!” Ujarku lalu melangkahkan kaki ku keluar café meninggalkan Heechul oppa.

-END Haera POV

-Heechul POV-

“Annyeong!!” Haera tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu melangkah keluar café meninggalkanku.

Aku menghembuskan napas. Awalnya tadi aku ingin mengantarnya pulang, namun setelah aku berpikir kembali tampaknya Haera memang sedang tidak ingin bersamaku. Entah ia sedang marah padaku atau apa, aku tidak begitu mengerti.

Ya, untuk saat ini, aku memang sedang tidak dapat begitu mengerti keadaan Haera. Jelas ada sesuatu yang mengganggunya, tapi aku tidak tahu apa. Ia tampak tidak nyaman bersamaku, tidak seperti biasanya. Bahkan ia menghindari kontak mata denganku tadi. Apakah ia marah padaku? Tapi kenapa ia marah? Apakah karna aku akan menjalani wajib militer? Kalau iya, apa masalahnya dengan itu? Apabila ia sedih karna akan berpisah denganku, tidak seharusnya ia malah menghindariku. Dasar yeoja aneh!

Aku melangkah keluar café, tidak berniat sedikitpun untuk memesan makanan ataupun minuman. Aku datang kesini, juga untuk mencari Haera. Tapi karna Haera sudah pergi, tidak ada lagi yang ingin aku lakukan di café ini.

Kulangkahkan kakiku menyusuri pinggiran jalan kota Seoul yang ramai dengan berbagai aktifitas. Matahari bersinar cukup terik, kendaraan – kendaraan tampak berlalu lalang di jalanan. Aku menyebrangi jalan menuju taman yang ada di sebrang café.

Taman sedang tidak begitu ramai, namun ada beberapa anak kecil yang tampak tengah bermain sambil tertawa – tawa gembira. Aku melangkah melewati mereka, duduk di salah satu ayunan kosong yang ada di taman itu. Aku menengadah, menatap gumpalan – gumpalan awan putih yang tampak lembut bagaikan kapas di hamparan luas langit biru.

Aku tersenyum miris, mengingat hari saat aku menyatakan perasaanku pada Haera sekitar enam bulan lalu. Hanya kata ‘Saranghaeyo’ yang ku ucapkan padanya, tanpa tambahan kata – kata manis lainnya. Aku bahkan tidak berpikir kata – kata manis di perlukan. Saat itu aku berpikir bahwa kata ‘Saranghaeyo’ adalah kata inti yang akan menjelaskan segalanya.

Tapi setelah Haera menolakku, aku mulai berpikir apakah kata – kata tambahan manis dapat merubah jawabannya. Jujur saja, aku marah padanya saat ia menolakku, namun tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak pernah benar – benar marah padanya. Entah kenapa dan bagaimana, yeoja itu tampak terlalu polos dan manis hingga membuat hatiku selalu luluh.

Padahal kalau dipikir – pikir, aku kan Kim Heechul, Heenim yang tidak akan mudah luluh oleh seorang yeoja. Tapi sepertinya Lee Haera benar – benar harus dimasukkan dalam daftar pertama dan terakhir dalam pengecualianku. Yeoja yang berhasil membuatku menggendongnya hingga berkilo – kilo meter, mengamen di pasar, membelikannya hadiah – hadiah, dan lainnya.

Maka dari itu, aku berpikir bahwa aku memang mencintai Haera. Bukan hanya sekedar mencintainya sebagaimana aku berpikir aku mencintai yeoja – yeoja lain yang bahkan hubungan kami tidak pernah lebih dari tiga bulan. Aku merasa bahwa Haera memang yeoja yang berbeda. Walaupun ia menolakku, aku dapat menerima kenyataan itu dengan sangat mudah.

Mungkin aku memang tidak pantas untuk Haera. Dan mungkin Haera sendiri juga meragukan perasaanku. Kami sudah saling mengenal sejak lama, dan ia juga pasti sudah hafal dan tahu ada seberapa banyak tabiat – tabiat burukku. Sekarang, perasaan cintaku dan keinginanku untuk memiliki Haera sebagai seorang kekasih sudah tidak begitu penting lagi. Karna aku sudah menerima kenyataan bahwa ia hanya menginginkanku cukup sebagai ‘oppa’ nya. Dan kurasa itu sudah cukup bagiku. Selama Haera masih ada di sampingku, maka itu sudah cukup.

Minggu depan, aku sudah akan menjalani wajib militer. Sebenarnya aku sudah merencanakan hal ini sejak lama dan sudah memikirkannya matang – matang. Walau begitu, aku baru memberitahukan hal ini pada Haera seminggu lalu. Aku tahu, seharusnya aku mengatakan tentang ini padanya sejak lama, karna bagaimanapun juga, ia adalah orang yang sangat dekat padaku, dan berhak tahu. Namun instingku berkata, bahwa aku tidak perlu memberitahukan hal ini padanya terlalu terburu – buru. Dua minggu sebelumnya mungkin akan lebih baik. Maka dari itu, aku baru memberitahunya seminggu lalu.

Dan kalaupun ia tidak suka, seharusnya ia tidak menghindariku seperti ini. Mungkin ia tidak bermaksud menghindariku, tapi seharusnya ia lebih sering bersamaku. Karna bagaimanapun juga, minggu depan aku kan sudah pergi. Dan saat aku menjalani wajib militer nanti, aku dan Haera tidak dapat lagi selalu bertemu setiap hari seperti dulu. Mungkin hanya beberapa kali dalam beberapa bulan. Dari berbagai hal yang membuatku merasa malas untuk menjalani wajib militer, keterbatasan untuk bertemu dengan Haera adalah yang terburuk. Namun, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai lelaki Korea yang sehat. Tidak peduli aku suka atau tidak.

Menurutku sekarang adalah waktu yang tepat, dan kalaupun aku terus mengundur waktunya. Pada akhirnya aku tetap harus menjalani wajib militer selama dua tahun lebih. Maka dari itu, di waktu terakhir aku dapat bermain dengan bebas di Seoul, aku sangat ingin menghabiskannya dengan Haera.

-End Heechul POV-

-Haera POV-

Aku mempercepat langkahku melintasi pinggir jalan kota Seoul. Setelah bertemu dengan Heechul oppa di café tadi, aku merasa dadaku seakan meledak – ledak. Dan aku sadar, bahwa aku memang harus menyatakan perasaanku pada Heechul oppa, sebelum ia pergi. Tidak peduli Heechul oppa akan menolakku atau tidak. Yang jelas, aku harus menyatakan perasaanku, sebelum aku jadi gila karna perasaanku itu.

Aku ingin menyampaikan perasaanku secara langsung pada Heechul oppa, tidak dengan surat atau media lainnya, aku harus menyatakannya secara langsung. Mungkin akan lebih singkat dan lebih mudah kalau aku melakukan seperti apa yang dilakukan Heechul oppa saat menyatakan perasaannya padaku. Dengan hanya mengucapkan ‘Saranghaeyo’ padanya. Dan aku juga harus mengucapkan permintaan maafku karna telah menolaknya dulu sebelum berkata begitu.

Tapi apakah hanya seperti itu? Apakah aku harus menambahkan kata – kata lainnya? Tapi apa? Aku benar – benar tidak pandai dalam berkata – kata! Atau mungkin akan lebih baik kalau aku memberikannya sesuatu sekaligus sebagai kenang – kenangan agar ia selalu mengingatku saat menjalani wajib militer di asrama nanti? Tapi apa? Makanan? Tidak! Kalau makanan, Heechul oppa pasti akan menghabisinya saat itu juga! Apa ya? Baju? Tas? Celana? Boneka?

Otakku rasanya sudah akan meledak! Untunglah aku sudah sampai di rumah, jadi aku tidak perlu terus berjalan dengan otak yang terus berputar. Aku segera masuk dan menghambur ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhku ke tempat tidur.

“Ottokeh?” Gumamku pelan lalu menghela napas.

Aku menarik selimutku dan menggulung tubuhku dengan selimut itu. Kupejamkan mataku, rasanya hangat sekali, selimut memang salah satu benda favoriteku. Karna selimut dapat membuat tubuhku merasa hangat dan nyaman, dan membuat tidurku lebih nyenyak.

“Changkamnyo..” Aku membuka mataku, dan sesaat kemudian senyumku merekah.

Aku melompat bagun dari tempat tidur. Mengambil dompet dan jaketku lalu kembali menghambur keluar rumah. Aku berniat untuk membeli bahan – bahan jahit. Aku sudah memutuskan akan memberikan apa pada Heechul oppa nanti. Aku akan memberikan selimut buatanku sendiri padanya!!

-END Haerin POV-

-Heechul POV-

Tinggal tiga hari lagi sebelum aku menjalani wajib militer. Tapi baru sekarang Haerin, menghubungiku. Dan sekarang ia menyuruhku untuk datang ke taman tepat jam empat sore.Tapi sekarang sudah jam empat lewat tiga belas menit. Kalau bukan Haerin yang kutunggu, aku pasti sudah pulang sekarang! Aku kan hanya akan memberikan waktu sepuluh menit untuk menunggu orang yang terlambat.

“Oppa..!!!!”

Aku menoleh ke asal suara yang sudah sangat familiar di telingaku. Kulihat Haerin yang tengah berlari – lari sambil memeluk sebuah kotak biru sedang di tangannya.

“Kau telat” Ujarku sambil mengamati Haerin yang tengah mengatur napasnya.

“Ah, nde..” Sahut Haerin masih dengan napas terengah, “Mianhaeyo” Tambahnya.

Aku menghembuskan napas, “Gwanchana. Ada apa?” Tanyaku to the point.

Haerin tidak langsung menjawab, ia tampak ragu – ragu, namun akhirnya menghembuskan napas, dan menyodorkan kotak yang dibawanya padaku. Aku mengernyit heran,

“Ini untukku?” Tanyaku sambil menatap kotak itu.

Haerin mengangguk, jadi aku menerima kotak itu, meraihnya dari tangan Haerin,

“Igeo mwoya?” Tanyaku lagi sambil menimbang – nimbang kotak tersebut di tanganku.

“Buka saja” Tukas Haerin.

Aku menurut, memutar – mutar kotak itu sesaat dan membuka tutup kotak tersebut. Aku mengernyit, mendapati sebaih kain berwarna cream terlipat rapi di dalamnya. Kusapukan tanganku di permukaan kain tersebut. Kain tersebut terasa begitu lembut dan hangat di telapak tanganku.

“Itu selimut” Ujar Haerin.

Aku menatap Haerin sekilas, lalu menarik selimut itu keluar dari dalam kotak. Selimut itu cukup lebar, cukup untuk menyelimuti seluruh tubuhku. Aku memutar – mutar selimut itu di tanganku dan meraba – raba permukaannya, sambil menjaga agar ujung selimut tersebut tidak mengenai tanah.

Sesaat kemudian, aku menemukan sebuah jahitan hangul yang dijahit rapi dengan benang biru di salah satu sudut selimut. Aku memicingkan mataku, dan membaca tulisannya yang berbunyi,

“사랑해요 김희철 우유 빛깔 김희철 (Saranghaeyo Kim Heechul, Uyu bitkkal Kim Heechul) *I Love U Kim Heechul, Milky Skin Kim Heechul*^^

Senyumku merekah, “Igeo mwoya?” Tanyaku geli.

“Oppa tidak bisa baca?!” Haerin balas bertanya.

Aku berdecak, menjitak kepala Haerin pelan, “Tentu saja bisa!” Tukasku, “Maksudku apa maksudnya selimut ini? Apa kau membuatnya sendiri?”

Haerin mengangguk sambil tersenyum lebar, “Nde, aku membuatnya sendiri. Hebatkan?!”

Aku terkekeh, “Nde, charanda!” Pujiku, “Gomawo” Aku menambahkan.

Sesaat kemudian, kami tidak mengucapkan kata – kata apapun. Sementara aku melipat kembali selimut tadi, dan memasukkannya lagi ke dalam kotak, dari sudut mataku, dapat kulihat Haerin yang tampak bergerak – gerak tidak nyaman.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Nde?” Sahut Haerin tampak salah tingkah.

“Ada apa denganmu?” Tanyaku lagi.

Haerin terdiam, ia menundukkan kepalanya sedikit, “Ani..” Gumamnya tidak jelas.

“Wae?” Aku kembali bertanya, kali ini sambil menatapnya lekat – lekat.

“Oppa aku..” Perkataan Haerin terputus, ia menghela napas singkat, lalu mengangkat kepalanya.

Ia balas memandang lurus ke mataku. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu yang penting padaku, dan tampaknya ia sangat bersungguh – sungguh saat ini,

“Oppa, saranghaeyo..”

-END Heechul POV-

-Haerin POV-

Kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Rasanya aku ingin segera berbalik dan menyembunyikan mukaku. Aku sama sekali tidak berani melihat reaksi Heechul oppa setelah aku mengatakan hal itu tadi. Namun aku sudah membulatkan tekadku, dan memaksakan diriku untuk tetap menatap mata Heechul oppa, agar ia tahu bahwa aku bersungguh – sungguh.

“Mworago?!” Tanya Heechul oppa yang tampak jelas terkejut.

“Maafkan aku karna sudah menolak oppa dulu, dulu aku memang belum menyadari perasaanku pada oppa. Tapi sekarang, aku sudah menyadari bahwa sebenarnya aku..” Perkataanku terputus, bukan karna aku berubah pikiran atau apa, aku hanya mencoba untuk memberikan penekanan pada Heechul oppa agar ia dapat mengerti perasaanku,

“Aku mencintaimu oppa, bukan sekedar karna aku dongsaengmu. Tapi aku mencintai oppa, dan ingin menjadi kekasih oppa” Ujarku akhirnya.

Heechul oppa tidak berkata apa – apa, jadi aku melanjutkan,

“Aku sudah memikirkannya dengan baik, dan aku menyadari bahwa aku memang mencintai oppa. Dan karna oppa akan segera menjalani wajib militer, aku ingin menyampaikan perasaanku ini sebelum oppa pergi”

Heechul oppa masih diam, matanya tidak lepas dariku. Sedangkan mataku rasanya sudah mulai berkaca – kaca sekarang, entah kenapa. Tapi aku berhasil membentuk seulas senyumanku untuk Heechul oppa,

“Oppa akan menerimaku kan?” Tanyaku sambil terus tersenyum.

Untuk beberapa saat Heechul oppa tidak menjawab, namun ekspresinya tampak mengeras. Sesaat kemudian ia berkata,

“Kau..” Ujarnya dalam, “Saat aku menyatakan perasaanku padamu, apa yang kau katakan?” Tanya Heechul oppa dingin.

Kurasakan jantungku seakan berhenti berdetak. Seakan ada yang meremas jantungku dengan kuat hingga dadaku terasa sesak. Di saat bersaman setetes air mata jatuh dari sudut mataku begitu saja.

“Kau berkata bahwa kau hanya menginginkanku sebagai oppa mu. Dan sekarang, apa yang kau maksud, huh?”

Aku mengusap air mataku, tidak mampu lagi memandang langsung ke arah Heechul oppa,

“Mianhaeyo..” Bisikku pelan sambil terisak.

Heechul oppa diam tidak menjawab, masih dapat kurasakan tatapan matanya yang menusukku, “Aku akan segera menjalani wajib militer. Apakah kau tahu akan berapa lama itu? Apakah karna kau tahu tidak akan bertemu denganku dalam waktu yang lama, maka kau menyatakan perasaanmu padaku. Lalu mengabaikanku saat aku pergi? Mempermainkanku?”!

“Anio!” Sergahku cepat. Aku kembali menatap Heechul oppa, walaupun kini mataku telah berurai air mata, “Aku tidak pernah bermaksud mempermainkan oppa. Aku tahu kalau oppa akan pergi dalam waktu yang lama. Maka dari itu, aku menyatakan perasaanku sekarang, sebelum waktu berlalu terlalu lama, hingga perasaan oppa padaku akan hilang” Ujarku lalu kembali terisak, “Sebelum aku terlabat”

“Dan selama oppa pergi, aku akan selalu menunggu oppa sampai akhir” Tambahku lagi.

“Apakah kau tahu?” Tanya Heechul oppa lalu terdiam selama beberapa saat, “Kalau perasaanku padamu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun” Lanjutnya kali ini dengan suara yang lebih lembut.

Sesaat kemudian, Heechul oppa meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku begitu erat, sehingga aku sulit bernapas. Namun itu tidak menjadi masalah, setwlah Heechul oppa berbisik lembut di telingaku,

“Nado saranghaeyo..”

→☆★☆←

-EPILOG-

-Haera POV-

“Ya!!!”

Aku tersentak terkejut dan hampir saja tersedak milkshake chocolate yang tengah ku minum. Sontak aku segera menoleh ke orang yang mengejutkanku tadi. Tampak seorang namja dengan wajah yang bisa dibilang cantik, tengah tersenyum lebar, dengan kedua tangan di atas pundakku.

Seketika tawaku meledak, “Ya!!!” Tegur Heechul oppa yang tampak heran dengan reaksiku.

“Oppa botak!” Ujarku geli, lalu kembali tertawa.

“Ya! Namjachingu mu baru saja kembali, tapi itu kata – kata pertama yang kau ucapkan padaku, huh?!” Tanya Heechul oppa tidak terima lalu duduk di kursi di hadapanku.

Tawaku mereda, mataku mengamati Heechul oppa yang duduk dimana ia biasanya duduk bersamaku sebelum menjalani wajib militer. Heechul oppa tampak sedikit lebih kurus, kepalanya botak, dan kulitnya sepertinya juga tidak semulus dan seputih sebelumnya. Namun senyum yang disunggingkan Heechul oppa, juga cahaya matanya yang cerah, membuktikan bahwa ia adalah Heenim, Kim Heechul.

“Ya, bukankah kepala botakku ini seksi?!” Tanya Heechul oppa membuatku kembali tertawa.

“Kalau seksi, aku tidak akan tertawa seperti ini!” Tukasku di sela – sela tawa.

Heechul oppa memasang wajah cemberutnya. Ah, rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah itu! Aku benar – benar merindukannya.

“Apa kau selingkuh?!” Tanya Heechul oppa tiba – tiba.

“Mwoya?!” Seruku kesal, “Tentu saja tidak!” Sergahku, “Sepertinya oppa yang selingkuh!” Aku menambahkan.

“Selingkuh dengan siapa? Tidak ada yeoja seksi di tempatku sekarang!” Ujarnya.

Aku mencibir, “Bagaimana kabar oppa?” Tanyaku.

“Kabarku?” Heechul oppa balik bertanya, “Aku selalu merindukanmu” Jawab Heechul oppa lalu mencondongkan tubuhnya dan mengecup keningku lembut.

Kemudian Heechul oppa kembali menyunggingkan senyumnya. Sambil membelai pipiku lembut, ia berkata,

“Gomawo, sudah menungguku” Bisiknya.

“Aku akan selalu menunggu oppa”

-END Haerin POV-

-THE END-

Maaf FF nya geje T,T..Padahal ini special buat goodbye Heechul oppa..T,T..Gomawo dah baca^^ Jangan lupa comment dan kalau suka di like!

~사랑해요 김 희철!!!!!! 우유 빛깔 김희철!!!!!!~

^^Will waiting for Heechul oppa^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s