OBE (Out Of Body Experience) + LE (Love Experience )

Title     : OBE (Out Of Body Experience) + LE (Love Experience )

Author  : GladizCass a.k.a Kim SuJin

Rating  : Semua umur, bebas..

Length : Oneshoot

Genre  : Romance

Cast    : Wooyoung 2PM & Lee JiEun (IU) –Milky Couple >.<-

Other Cast : Lee Junho

Wiiiihhhiiiiii…,akhirnya setelah nggak nongol – nongol, Gladis berhasil menyelesaikan FF OBE + LE. FF ini udah lumayan lama dibuatnya, tapi baru jadi sekarang. Yah..,untunglah jadi. Untuk aku pribadi, aku naksir sama judul FF ini, hehehe..,gimana gitu, kekeke~

Ayo – ayo, silakan dibaca, jangan lupa comment dan kalau suka di like ya!!

PS : Aku juga bakal nge publish yang versi Luna-Onew, tapi mungkin besok atau lusa^^ Yang beda namanya doang..^^

-WooYoung POV-

Dalam keadaan mata yang masih terpejam, kudapati tubuhku terasa lebih ringan dan relax. Dan tepat saat aku membuka mata, aku segera membangkitkan diriku ke posisi duduk. Aku mengerjap – ngerjapkan mataku, lalu melayangkan pandanganku ke sekitar. Entah kenapa, pandanganku terasa sedikit buram, seperti ada kabut tipis yang menghalangi pandanganku.

“Dimana??” Tanyaku pada diri sendiri.

Aku mendapati diriku duduk di atas tempat tidur dalam ruangan serba putih yang tampak familiar dalam ingatanku. Sekelilingku tampak pucat, dinding, tirai, semuanya berwarna putih. Aku menoleh ke sana kemari, hingga menyadari bahwa aku tengah berada di rumah sakit. Dan kudapati pula Junho yang tertidur di sofa yang berada tidak jauh dari ranjangku.

Aku pun mengayunkan kakiku ke bawah hingga menapaki lantai rumah sakit yang sedingin es. Lalu mulai melangkah untuk menghampiri Junho yang masih tertidur pulas. Langkahku terasa begitu ringan, seperti mengambang di udara. Namun aku yakin benar kalau kakiku menapak di atas lantai saat ini.

“Junho-ya” Ucapku setelah berada di dekatnya.

“Junho-ya, ireona!!” Ucapku lagi.

“Ya! Dasar sapi! Ireona!” Tegurku lalu mencoba untuk menepuk pundak Junho.

Disaat bersamaan, kudapati diriku membeku. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku mengamati Junho yang masih tertidur lelap tak terusik. Sekali lagi, dengan lebih berlahan, aku mencoba untuk menyentuh pundak Junho. Namun hasilnya sama, aku tidak dapat menyentuhnya. Yang ada, tanganku malah menembus tubuh Junho begitu saja. Benar – benar menembus, bahkan bisa kurasakan sesasi aneh saat tanganku melewati tubuhnya.

“Seolma (Tidak mungkin)” Gumamku.

Berlahan, aku membalik tubuhku membelakangi Junho. Mataku menatap tempat tidur dimana aku terbangun tadi. Aku melangkah mendekat, dan kudapati sesosok namja yang tampak sepertiku tengah tertidur di atas tempat tidur itu. Aku mengerjapkan mata tidak percaya. Namja itu bukan tampak sepertiku, namun benar – benar diriku.

Aku melihat diriku sendiri tertidur dengan selang infuse menancap di tangan kiriku, sedangkan saat ini aku benar – benar menyadari bahwa aku sedang berdiri tegap,

“Apa yang terjadi?”

Aku menunduk, menatap telapak tanganku, dan mencoba untuk menggerak – gerakkan jemariku,

‘Apakah aku mati?’

“WooYoung-a..,cepat bangun!!” Ujar Junho sambil mengamatiku.

“Sampai kapan kau mau tidur terus?! Cepat bangun! Jangan menghabiskan waktumu di rumah sakit yang membosankan ini!” Ujarnya lagi.

“Dasar cerewet! Kau pikir aku mau?!” Tukasku sambil bergerak ringan dan berdiri di samping Junho.

“Ya! Ireona!” Seru Junho lebih keras.

“Berisik!” Komentarku.

Namun sayang, Junho tidak dapat mendengar ucapanku ataupun melihatku. Wajar saja, akukan arwah, bagaimana bisa dia melihatku?! Sejak pertama kali aku melihat jasadku sendiri tertidur, aku berpikir aku telah mati. Namun nyatanya tidak. Pasien monitor yang berada tepat di samping tempat tidurku masih menunjukkan kalau aku masih hidup. Dan dokter yang beberapa saat lalu datang untuk memeriksaku juga tidak menyatakan kematianku.

Setelah aku berpikir selama seharian penuh, aku menyadari bahwa saat ini aku tengah mengalami Out Of Body Experience. Yah, setidaknya itu kesimpulanku saat ini. Karna itulah kemungkinan yang paling masuk akal dari apa yang aku baca di buku. Bahwa orang yang sedang koma dapat mengalami Out Of Body Experience atau OBE. Aku sendiri juga tidak terlalu mengerti mengapa bisa seperti itu. Yang kutahu, apabila aku tidak dapat kembali ke jasadku dalam waktu seminggu, aku akan mati.

Sudah dua hari sejak aku keluar dari tubuhku. Dan telah berkali – kali aku mencoba untuk kembali dalam tubuhku. Namun hasilnya nihil, diriku seakan tertahan di luar dan menolak untuk kembali ke tubuhku.

“Aku akan pergi untuk kerja sambilan” Ucap Junho, “Dan aku ingin kau bangun saat aku sampai” Lanjutnya.

“Annyeong!” Junho melambaikan tangannya singkat pada tubuhku yang tertidur lalu melangkah keluar ruangan.

“Annyeong!” Sahutku sambil membalas lambaian tangan Junho.

Junho adalah teman dekatku. Sudah tiga tahun sejak kami tinggal bersama. Tiga tahun lalu, aku kabur dari rumahku di Busan karna tidak tahan dengan perlakuan appa yang sangat kasar sejak meninggalnya eomma. Aku bertemu dengan Junho saat sedang mencari apartement untukku tinggal. Junho juga sedang mencari apartement saat itu, dan karna uang kami tidak cukup untuk menyewa apartement, kami pun menggabungkan uang kami lalu menyewa satu apartement kecil dan tinggal bersama. Sejak itulah kami menjadi sahabat, dan bisa kalau dibilang juga aku dan Junho adalah teman seperjuangan.

Sekarang, aku jelas sedang sangat menyusahkan Junho. Karna kini aku perlu dirawat di rumah sakit, dan biaya rumah sakit pastilah mahal. Selain karna Junho perlu mengatur uang agar dapat membayar biaya rumah sakit, ia juga perlu menghabiskan waktunya untuk menjagaku.

“Aku harus cepat bangun!” Tekadku.

Dari yang aku ingat, aku tertabrak truk saat sedang menyebrang jalan. Hanya itu, sisanya aku tidak tahu. Yang kutahu, aku terbangun dan sudah berada di luar tubuhku. Membuatku berpikir aku telah mati dan menjadi hantu gentayangan.

Untuk beberapa lama, aku hanya berdiri diam di sisi tempat tidur sambil mengamati diriku sendiri yang masih tampak terlelap. Kesunyian di sekelilingku membuatku masuk ke dalam lamunan. Pikiran akan kematian terus berputar di kepalaku. Hingga akhirnya aku mengerang, dan memutuskan keluar dari ruanganku dan berjalan – jalan di sekeliling rumah sakit.

“Annyeong suster” Sapaku pada salah satu suster yang berjalan di sampingku, “Apa kau tidak melihatku?” Aku bertanya.

Seperti dugaanku, suster berseragam putih bersih itu tidak menjawab. Ia terus melangkah tanpa menunjukkan tanda kalau ia menyadari keberadaanku. Aku pun menjulurkan tanganku dan menyentuh pundak suster tersebut. Sebenarnya tidak benar – benar menyentuh, karna tanganku malah menembus tubuhnya dan memotong udara.

Tiba – tiba saja suster itu berhenti melangkah, ia menoleh ke arahku, walaupun pandangannya tidak benar – benar tertuju ke arahku. Lalu ia menoleh lagi ke belakang, sesaat kemudian ia bergidik sambil mengelus pundaknya singkat, hingga akhirnya melanjutkan langkahnya.

Aku tidak lagi mengikuti suster tersebut, dan membuat kesimpulan walau aku tidak dapat menyentuh manusia, manusia akan merasakan suatu sensasi aneh saat sosokku menyentuh tubuh mereka.

Aku pun melanjutkan langkahku menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi. Hari telah sore, jam besukpun sudah lewat dan para pasien tampaknya tengah beristirahat di ruangan masing – masing. Hanya beberapa petugas rumah sakit yang terlihat berlalu lalang. Aku terus melangkah tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di salah satu sudut rumah sakit saat menyadari ada sesuatu yang ganjil.

Di sudut rumah sakit di mana kursi – kursi berjajar, aku melihat seorang yeoja duduk meringkuk di atas salah satu kursi – kursi tersebut. Ia duduk sambil memeluk lututnya sekaligus menundukkan kepalanya dalam. Tubuh yeoja itu sedikit berguncang, dan dari posisi ku sekarang, aku dapat mendengar isakan yeoja tersebut.

Namun perhatianku teralih saat aku mendengar suara langkah kaki yang menggema di lorong. Suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas, aku pun menoleh ke asal suara dan mendapati seorang ahjussi berkaus hijau dan celana jeans tampak berjalan mendekat dengan santai. Ia melewatiku tanpa menunjukkan reaksi apa – apa. Yeoja yang tadi kulihat tampaknya juga menyadari kedatangan ahjussi tersebut. Ia pun segera bangun dan menghampiri ahjussi itu,

“Chogiyo..chogiyo..” Seru yeoja itu dengan suara serak sekaligus panik,”Apa kau bisa melihatku? Tolong aku!” Ucap yeoja itu sambil mencoba menggapai ahjussi tersebut namun hanya dapat menggenggam udara.

“AHJUSSI!!!!” Pekik yeoja tersebut, “Tolong aku!” Pintanya memelas.

Namun ahjussi itu terus melenggang pergi tanpa menoleh, sementara yeoja tadi telah jatuh terduduk di lantai. Melihat apa yang terjadi barusan, aku mulai bertanya – tanya dalam hati, apakah yeoja ini seseorang yang mengalami Out of Body Experience sepertiku, atau arwah sungguhan?!

Kudapati yeoja tadi masih terduduk lunglai di lantai sambil kembali terisak. Aku hanya diam di tempatku selama beberapa saat, hingga akhirnya memutuskan untuk menghampiri yeoja itu,

“Chogiyo” Tegurku setelah berada di depan yeoja tersebut, “Chogiyo..” Ulangku lalu berdehem.

Awalnya aku tidak yakin yeoja ini mendengar suaraku atau tidak, namun ia berlahan – lahan mengangkat kepalanya dan mendongak menatapku. Kulihat wajahnya yang manis berurai air mata. Pandangannya tertuju lurus padaku dengan penuh harap,

“A..annyeong haseyo..” Sapaku sambil tersenyum kaku.

Isakan yeoja ini terhenti, ia terdiam selama beberapa saat, “Apakah..apakah kau dapat melihatku?” Tanyanya dengan suara yang sangat pelan hingga hampir tidak terdengar.

Aku mengangguk, “Nde”

Yeoja itu kembali terdiam, hingga akhirnya aku mendapati matanya kembali berkaca – kaca,

“Wae irae??” Tanyaku kaget.

Namun yeoja itu tidak menjawab, melainkan beranjak bangun, dan menghambur kedalam pelukanku,

“Ya!!!” Seruku kaget.

Akan tetapi yeoja itu malah mempererat pelukannya sambil terinsak kencang,

“Hiks..hiks..aku takut”Ucapnya di tengah isakan.

Aku merasa yang berada dalam posisi yang canggung semakin canggung mendengar ucapannya,

“Musowo..” Ucap yeoja itu lagi.

Selama beberapa saat aku hanya diam kebingungan, namun aku akhirnya membalas pelukan yeoja itu  dengan lembut dan berbisik,

“Gwanchanayo”

Pandanganku tertuju pada seorang yeoja manis bertubuh mungil yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit dengan selang infuse yang tertancap di sebelah tangannya. Matanya terpejam rapat, dan kulitnya yang putih mulus tampak pucat. Disamping tempat tidur yeoja itu, duduk seorang ahjumma yang tampak setengah tertidur. Raut khawatir dan kesedihan terpeta di wajahnya.

“Kanker” Ucap yeoja yang baru kutemui tadi.

Aku menoleh, menatap yeoja yang sama seperti yang aku lihat di atas tempat tidur beberapa langkah di hadapanku,

“Kau yakin aku belum mati?” Tanya yeoja itu lagi.

Aku mengangkat bahu, “Belum” Jawabku lalu menunjuk pasien monitor  yang berada di sisi kanan tempat tidur, “Kalau garisnya lurus artinya kau sudah mati” Lanjutku.

“Tapi garisnya tidak lurus kan? Dan dokter pasti sudah memberikan keterangan kalau kau sudah mati apabila kau memang sudah mati”

Yeoja itu menghela napas (setidaknya terlihat seperti itu), “Jadi ini benar – benar Out of Body Experience?” Tanyanya lagi.

Aku kembali mengangkat bahu, “Itu satu – satunya yang menurutku masuk akal. Kita memang sedang mengalami OBE karena kita sedang dalam keadaan koma” Jawabku.

“Aku tidak merasa OBE adalah hal yang masuk akal” Komentarnya.

Aku tidak menanggapi perkataannya, karna yeoja itu sudah bergerak mendekati ahjumma yang duduk menamani tubuhnya yang masih tertidur,

“Mianhaeyo eomma..” Ucap yeoja itu, “Mianhae, karna sudah menyusahkanmu”

-END WOOYOUNG POV-

-JIEUN POV-

“Siapa namamu?” Tanya namja berpipi chubby itu.

“Lee JiEun” Jawabku pelan.

“JiEun-ssi” Namja itu mengucapkan namaku, “Aku Jang Wooyoung” Ia memperkenalan dirinya.

Aku tersenyum kecil, “Bangaseumnida” Ucapku.

WooYoung balas tersenyum, “Nde. Bangaseumnida” Jawabnya, “Berapa umurmu?” Tanyanya lagi.

“19” Jawabku singkat.

“Kalau begitu aku oppa!” Ujarnya riang, “Kau panggil aku oppa ya!”

Selama beberapa saat aku hanya diam, namun akhirnya memutuskan untuk mengangguk, “Nde” Gumamku.

WooYoung oppa tersenyum lebar, “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanyanya.

Aku kembali terdiam dan menggeleng pelan. Kami kini tengah berada di atap rumah sakit. Hanya duduk diam di lantai sambil menengadah menatap langit malam tak berbintang,

“Bagaimana caranya kita bisa kembali ke tubuh kita?” Tanyaku.

Kali ini Wooyoung oppa yang terdiam, “Mollayo” Jawabnya, “Aku sudah memaksakan diriku untuk kembali ke tubuhku, namun tidak bisa” Ujarnya.

“Aku juga sudah mencoba beberapa kali dan tetap tidak bisa” Sahutku.

“Dari yang kudengar, kita punya waktu seminggu untuk kembali ke tubuh kita”

“Seminggu?” Aku mengulang dengan sedikit panik, “Bagaimana kalau kita tidak bisa kembali lebih dari seminggu?” Tanyaku, namun Wooyoung oppa tidak menjawab, jadi aku melanjutkan pertanyaanku dengan sedikit ngeri,

“Apakah kita akan mati?”

Tidak terdengar jawaban Wooyoung oppa selama beberapa saat, hingga akhirnya ia berkata, “Tidak perlu memikirkan kematian”

Ucapan Wooyoung oppa membuatku terdiam. Sejak aku melihat tubuhku sendiri yang terbaring di atas tempat tidur, hal yang memenuhi kepalaku adalah kematian. Memikirkan apa aku sudah mati atau akan mati sama mengerikannya. Walau aku memaksakan diriku untuk tidak memikirkan kematian, hal itu terus terbesit di kepalaku.

“Sudah berapa lama oppa mengalami OBE?” Tanyaku.

“Ini hari kedua” Jawabnya, “Apakah ini hari pertamamu?” Ia balik bertanya.

“Nde” Anggukku lalu memeluk lututku da meletakkan daguku di atasnya.

Terjadi keheningan selama beberapa saat diantara kami, hingga akhirnya WooYoung oppa memecah keheningan dengan berkata,

“Gwanchanca, semuanya akan baik – baik saja” Ucapnya penuh keyakinan.

‘Siapa yang menjamin?’ Sahutku dalam hati.

-END JIEUN POV-

-WOOYOUNG POV-

“Ayo kita jalan – jalan!” Ajakku sambil menarik JiEun bersamaku.

“Jalan – jalan?” Sahut JiEun terdegar terkejut, “Kemana?” Tanyanya.

“Aku bosan di rumah sakit, ayo, kita jalan – jalan keluar!”

Mendengar ucapanku tersebut, JiEun segera menghentikan langkahnya dan melepaskan peganganku dari tangannya dengan berlahan,

“Waeyo?” Tanyaku.

“Sirheoyo” Ucap JiEun pelan, “Aku tidak mau keluar dari rumah sakit” Lanjutya.

“Waeyo? Apa kau tidak bosan?” Tanyaku.

Namun JiEun tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan lalu menudukkan kepalanya. Aku menatap JiEun dengan bingung, lalu akhirnya mengerti mengapa ia tidak ingin keluar dari rumah sakit. Aku pun tersenyum,

“Tenang saja! Kita pasti bisa kembali!” Aku menenangkan.

JiEun mengangkat kepalanya berlahan, “Oppa yakin?”

Aku mengangguk, “Tentu saja! Kita tidak akan nyasar! Dan tidak akan terjebak apa – apa!”

JiEun masih tampak ragu, jadi aku kembali berkata, “Lagipula aku masih punya waktu tiga hari, sedangkan kau masih punya waktu empat hari.Jadi, tenang saja”

Selama hampir semenit, JiEun hanya diam tidak menyahut, hingga akhirya ia mengangguk dan berkata,

“Tapi jangan lama – lama”

-END WOOYOUNG POV-

-JIEUN POV-

Aku dan Wooyoug oppa kini tengah menyusuri tepi jalan kota Seoul yang ramai Karena hari masih menunjukkan pukul dua siang, masih banyak toko – toko yang buka. Orang – orang berlalu lalang melewati kami tanpa menyadari keberadaan kami. Awalnya aku tegang saat berjalan menjauh dari jasadku, namun lama – kelamaan, aku dapat lebih bersantai dan menikmati acara jalan – jalan ini.

“Kita mau kemana?” Tanyaku pada Wooyoung oppa yang tengah bersenandung pelan.

“Kemana ya?” Wooyoung oppa malah balik bertanya sedangkan aku hanya menghela napas pelan.

“Kau mau kemana?” Tanya Wooyoung oppa.

“Molla” Jawabku singkat.

Wooyoung oppa tampak mengernyit, “Kemana kau pergi bila kencan dengan namjachingumu?” Tanya Wooyoung oppa lagi.

Mendengar pertanyaan Wooyoung oppa aku terkekeh, “Aku tidak pernah punya namjachingu, jadi tidak pernah kencan”

“Jeongmalyo?”

Aku mengangguk, “Nde, jeongmalyo”

Wooyoung oppa tertawa, “Kita senasib!” Ucapnya.

“Mwo?” Sahutku heran.

Wooyoung oppa kembali tertawa, “Aku juga belum pernah pacaran dan kencan” Ujarnya, “Kita sebasib” Ia mengulang.

Aku tertawa, “Hahahaha..,,ini nasib yang menyedihkan atau bagaimana ya?”

Wooyoung oppa berdecak, “Bagaimana ya?” Ia tertawa, “Mollayo. Bagaimana menurutmu?”

“Nado mollayo” Jawabku lalu kembali tertawa.

“Begini saja,” Ujar Wooyoung oppa setelah tawanya reda, “Kalau kau kencan, kemana kau ingin pergi?” Tanyanya.

“Hmm..”Aku terdiam sesaat memikirkan jawaban dari pertanyaan Wooyoung oppa, “Aku pikir, aku ingin ke taman bermain”Jawabku akhirnya.

“Taman bermain?! Boleh juga!” Komentar Wooyoung oppa.

“Apa kita akan kesana?” Tanyaku.

“Ke taman bermain maksudmu? Tentu saja!”

“Jeongmalyo?”

“Nde” Wooyoung oppa mengangguk, “Lagipula di dekat sini ada taman bermain” Ia menambahkan.

“Apakah kita bisa naik wahana permainannya?”

“Tentu saja!” Jawab Wooyoung oppa, “Tapi aku tidak yakin tentang roller coaster atau wahana tinggi dan menyeramkan yang mungkin bisa menerbangkan tubuh kita”

“Aku juga tidak berani naik wahana seperti itu” Aku menimpali.

“Baiklah, jadi kita sana!” Ujar Wooyoung oppa dengan bersemangat.

“Nde!” Sahutku.

“Omong – omong oppa,” Ucapku, “Apakah tubuh kita bisa tertiup angin?” Tanyaku.

Mendengar pertayaanku itu, Wooyoung oppa hanya tertawa tanpa menjawab,

‘Dasar’ Gerutuku dalam hati.

-END JIEUN POV-

-WOOYOUNG POV-

“JiEun-a!” Panggil WooYoung oppa.

“Nde?” Sahutku.

“Ayo, kita naik itu!” Ucap Wooyoung opppa sambil menunjuk kesalah satu wahana yang ada di taman bermain ini.

Aku mengarahkan pandanganku pada wahana yang Wooyoung oppa tunjuk dan sedetik kemudian mengernyitkan wajahku, “Torowongan cinta?” Ucapku heran.

“Nde” Angguk Wooyoung oppa, “Kita naik bebek – bebekan!” Tambahnya.

“Mmm..”

“Sudah, ayo kita naik itu! Jangan buang – buang waktu!” Ucap Wooyoung oppa lalu meraih sebelah tanganku dan menarikku menuju wahana yang tadi ditunjuknya.

Kami baru beberapa menit sampai di taman bermain, dan Wooyoung oppa sudah menarik – narikku seperti ini. Tidak ada barisan pada wahana lorong cinta yang biasanya ramai. Mungkin karna hari ini bukanlah hari libur, sehingga taman bermain sepi pengunjung.

“Lompat!” Seru Wooyoung oppa bersemangat saat sebuah perahu bebek bergerak berlahan di hadapan kami.

Sementara Wooyoung oppa melompat naik ke atas perahu bebek, aku hanya melangkah lebar lalu duduk di samping Wooyoung oppa di atas perahu bebek tersebut,

“Untung kita bisa menyentuh barang dan tidak tembus ya!” Ujar Wooyoung oppa yang direspond dengan anggukan kecilku.

Ya, aku dan Wooyoung oppa memang bisa menyentuh benda – benda mati. Kita tidak bisa menembus tembok dan sebagainya, seperti hantu yang aku lihat di film. Hanya saja, apabila terkena air kami tidak akan kebasahan ataupun merasakan udara. Yang tidak bisa kami sentuh hanyalah manusia ataupun makhluk hidup lainnya.

Perahu bebek yang kami lewati bergerak berlahan ke dalam terowongan yang remang – remang. Aku mengerjap – ngerjapkan mataku takjub melihat dekorasi terowongan ini. Di langit – langit terowongan, lampu – lampu kecil yang berwarna – warni tampak berkelip – kelip. Dinding – dindingnya di hiasi ukiran berkelok – kelok unik,  dan di sisi kiri kanan tampak berbagai hiasan yang manis dan lucu.

Kami terus bergerak di atas perahu, sedangkan aku terus mengagumi apa yang aku lihat dalam diam. Pencahayaan dalam terowongan ini terasa hangat dan nyaman.

‘Pantas saja banyak pasangan yang ingin menaiki wahana ini’ Gumamku dalam hati.

“Apa kau pernah masuk terowongan cinta seperti ini?” Tanya Wooyoung oppa membuyarkan lamunanku.

Aku menggeleng, “Belum” Jawabku, “Ini pertama kalinya”

“Ini juga pertama kalinya untukku” Wooyoung oppa menanggapi.

Jeda selama beberapa saat, hingga akhirnya Wooyoung oppa kembali berkata,

“Tapi bila aku punya yeojachingu, aku selalu berencana untuk naik wahana ini”  Ujarnya.

Mendengar ucapannya aku tersenyum kecil, “Sayang sekali ya, disaat pertama kali menaiki wahana ini, oppa malah bersamaku. Dan dalam keadaan seperti ini”

“Anio” Sahut Wooyoung oppa langsung, “Aku senang bisa bersamamu” Ucapnya sambil menoleh dan tersenyum padaku.

“Jujur saja” Ujarnya, “Sebenarnya kau adalah tipe idealku, jadi aku senang bisa bersama denganmu” Lanjutnya, “Dan dalam keadaan seperti ini kita tidak perlu bayar”

Aku terkekeh, “Gratis” Ucapku yang direspond dengan anggukan Wooyoung oppa, “Dan..,aku tipe ideal oppa??”

Wooyoung oppa kembali mengangguk, “Nde. Imut dan cantik, johayo” Ucap Wooyoung oppa yang membuat wajahku memanas karna malu.

“JiEun-a..” Panggil Wooyoung oppa.

“Nde?”

“Bagaimana..” Ucapan Wooyoung oppa terputus, ia kembali menatapku dengan senyum manis, “Bagaimana kalau kita jadikan acara jalan – jalan ini sebagai kencan pertama kita?”

“MWO??!!” Seruku kaget, “Kencan?”

“Nde!” Wooyoung oppa mengangguk, “Terlalu membosankan kalau kita hanya mengalami Out Of Body Experience. Pasti akan lebih menyenangkan kalau sekalian First Date Experience!” Usulnya.

Aku hanya diam, tidak tahu harus menjawaba apa dan bagaimana. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Wooyoung oppa.

“Bagaimana?” Tanyanya.

“Kencan?” Aku balik bertanya.

“Hanya bohongan”

Aku menghela napas pelan, “Bbb..baiklah” Jawabku pasrah.

Aku tertenggun bingung sekaligus kaget saat dengan tiba – tiba, Wooyoung oppa mengaitkan jemarinya diantara jemariku,

“Waeyo?”Tanya Wooyoung oppa sambil tersenyum nakal, “Bukankah kita sedang berkencan?”

“Aish..” Gerutuku pelan namun tidak mengatakan hal lain.

“Kajja, sebaiknya kita berkeliling!” Ajak Wooyoung oppa lalu menuntunku untuk berjalan.

“Kau mau lihat apa, JiEun-a?” Tanya Wooyoung oppa.

Aku menggeleng, “Mollayo”

“Coba lihat itu!” Ucap Wooyoung oppa sambil mengacungkan jari telunjuknya.

Aku mengarahkan pandanganku pada apa yang Wooyoung oppa tunjuk. Dan ternyata, Wooyoung oppa menunjuk dimana terdapat dua pasang badut yang mengadakan Bubble Show di dekat kolam ikan di taman bermain tersebut.

“Oppa..,ayo ke sana!” Pekikku senang dan langsung berlari lari kecil menghampiri badut badut tersebut.

“JiEun a..,pelan pelan!” Seru Wooyoung oppa yang masih bergandengan denganku.

“Wuaaaahhh..!!” Seruku kagum saat berada di pertunjukan balon sabun tersebut.

“Yeoppoda..” Komentarku.

Aku bergerak melewati para penonton lainnya dan berdiri lebih dekat dengan badut – badut yang tengah meniupkan gelumbung – gelumbung balon. Aku melepaskan genggamanku dari Wooyoung oppa dan menjulurkan tanganku untuk menyentuh gelumbung – gelemubung bening yang bertebangan di udara. Kurasakan tanganku menembus gelembung tersebut, terasa sedikit dingin, namun sentuhanku hanya membuat gelembung tersebut bergoyang pelan tanpa menunjukkan tanda – tanda akan pecah.

Senyuman tipis terlukis di wajahku, aku mengamati salah satu gelembung yang berukuran cukup besar yang berlahan turun ke bawah dan akhirnya pecah sebelum menyentuh tanah.

-END JIEUN POV-

-WOOYOUNG POV-

Aku mengamati Jieun yang tampak sangat tertarik pada gelumbung sabun di depannya. Dan sesaat kemudian aku mendapati seulas senyuman terlukis di wajahnya. Senyumannya terlihat sangat manis, membuatku ikut tersenyum. JiEun terlihat sangat cantik, hingga entah kenapa dan bagaimana, aku merasakan jantungku seakan berdetak kencang menyenangkan. Namun detak jantung tersebut tidak terasa benar –benar nyata, hanya terasa samar – samar bagaikan khayalanku.

“Oppa..” Panggil JiEun lalu menoleh padaku.

“Nde?!” Sahutku.

JiEun tersenyum, lalu ia menggeleng pelan, “Anio” Ucapnya.

Aku tidak berkata apa – apa, melaikan kembali terpesona akan JiEun yang berdiri dengan gelembung – gelembung cantik disekelilingnya. Sebelumnya, aku selalu melihat sosok JiEun dengan samar, tidak sejelas manusia yang aku lihat. Namun saat ini, JiEun terlihat benar – benar jelas, lebih jelas dari manusia yang jiwa dan raganya bersatu. Bahkan aku seakan melihat secercah cahaya lembut tampak menerangi JiEun. Ia tidak terlihat seperti arwah, melainkan tampak seperti seorang malaikat.

“Tahu tidak, aku bosan di rumah sendirian!” Ujar Junho yang duduk di atas kursi yang berada tepat di samping tempat tidurku.

Aku terkekeh, “Sebentar lagi aku kembali, tenang saja!” Ucapku.

“Sekarang aku harus beres – beres rumah sendiri dan masak sendiri! Pokoknya setelah kau bangun nanti, kau harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri selama satu bulan penuh!” Ucap Junho.

“Sirheo!” Tukasku langsung.

Sudah sejam sejak Junho ‘curhat’ tentang keadaannya selama di rumah sendirian. Ia berbicara banyak padaku, tidak peduli aku mendengar atau tidak. Dan selama ia berbicara, aku selalu menanggapi perkataannya, namun sayang Junho tidak dapat mendengar ucapanku.

“Junho-ya..” Panggilku saat Junho tampaknya sudah kehabisan cerita.

“Apa kau tahu yeoja yang dirawat tepat di samping ruanganku ini?” Tanyaku, “Namanya Lee JiEun, ia sakit kangker” Lanjutku.

Aku menatap Junho yang tidak menunjukkan reaksi apa – apa. Ia hanya diam sambil menatap lurus padaku. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu, entah apa.

“Lee JiEun itu..” Ucapku lagi, “Nomu yeoppeoyo” Aku melanjutkan.

“Sebelumnya aku pernah bilang padamu kan..” Perkataanku terputus saat Junho membuka mulutnya, namun mencibir saat menyadari bahwa Junho hanya ingin menguap.

“Aku pernah bilang kalau aku tidak pernah jatuh cinta. Tapi setelah aku bangun nanti..” Ujarku lalu tersenyum, “Aku akan menceritakan padamu kalau aku telah jatuh cinta pada seorang yeoja bernama Lee JiEun”

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, aku melangkah keluar ruangan sesaat setelah Junho pergi untuk kembali ke apartement. Aku menuju ruang inap yang berada tepat di sebelah kanan ruanganku. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, dengan berlahan aku menggeser pintu tersebut agar terbuka lebih lebar sehingga aku bisa lewat.

Untunglah tindakanku tidak membuat seorang suster dan eomma nya JiEun curiga, mereka hanya melirik sedikit dan tampaknya menyimpulkan kalau pintu yang kudorong itu tertiup angin. Kulihat JiEun berdiri di salah satu sisi tempat tidur, pandangannya tertuju lurus padaku. Ia tersenyum,

“Wooyoung oppa” Ucapnya.

Aku balas tersenyum, “Annyeong” Sapaku lalu melangkah mendekatinya.

“Keadaannya tidak terlalu meningkat” Ucap suster bertubuh gempal dengan rambut hitam yang dipotong pendek.

“Apakah ia belum akan sadar dalam waktu dekat ini?” Tanya eomma JiEun.

Suster tadi menggeleng, “Tampaknya belum” Jawabnya singkat.

“Jadi, apa yang perlu kita lakukan?” Tanya eomma JiEun dengan wajah khawatir.

“Pihak kami akan melakukan yang terbaik” Jawab suster tadi, “Dan mungkin anda dapat memulai dengan melunasi tagihan rumah sakit” Lanjutnya.

Aku melirik pada eomma JiEun yang tampak tidak dapat berkata – kata saat mendengar ucapan suster tersebut. Aku beralih menatap JiEun yang tampak marah mendengar ucapan suster tadi,

“Saya permisi dulu” Ujar suster tadi lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan.

Sementara itu, eomma JiEun tampak menghela napas panjang dan mendudukkan tubuhnya di sofa,

“Suster menyebalkan!” Gerutu JiEun dengan nada kesal.

Selama beberapa saat aku terdiam, lalu tersenyum dan meraih sebelah pergelangan tangan JiEun,

“Kajja!” Ajakku.

“Odi?” Tanya JiEun bingung.

“Kita kerjain suster menyebalkan tadi!” Jawabku sambil menyeringai lebar.

JiEun tersenyum, “Kajja!” Sahutnya bersemangat.

“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya JiEun.

Saat ini kami tengah mengamati suster menyebalkan yang kini tengah berjalan menyusuri koridor rumah sakit sementara kami berdua mengikutinya dari belakang,

“Kita lihat dulu dia mau kemana” Jawabku.

Maka kami berdua pun mengikuti suster menyebalkan itu dalam diam. Suster tersebut terus berjalan, hingga akhirnya sampai di suatu ruangan yang kutebak sebagai kantin rumah sakit.Kantin rumah sakit itu kosong, hanya ada sang suster dan kami yang tidak dapat dilihat manusia lain.

Suster menyebalkan itu meletakkan papan dan kertas – kertas yang tadi dibawanya di salah satu meja kantin. Ia lalu melangkah masuk ke suatu pintu yang menuju dapur rumah sakit dan mengambil seplastik roti dari salah satu lemari.

“Kalau belum sarapan pasti lapar seperti ini” Ucap suster menyebalkan itu pada diri sendiri.

Setelah membawa roti tadi bersamanya, ia kembali menuju meja dimana ia meletakkan papan dan kertasnya. Ia menarik salah satu bangku, aku tersenyum jail pada JiEun lalu bergerak ke belakang kursi dimana suster tersebut hendak duduk. Dan saat suster itu hendak meletakkan bokongnya di atas kursi, aku menarik kursi itu ke belakang.

“Arkh!” Pekik suster tadi kaget saat tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai.

Tawaku pecah, JiEun ikut tertawa, sementara suster tersebut tampak meringis kesakitan. Ia menoleh kebelakang, menatap bingung pada kursi yang tadi kutarik. Lalu dengan berlahan, ia beranjak bangun sambil mengelusi bokongnya,

“Sial!” Umpatnya kesal.

Sementara aku dan JiEun masih terkikik – kikik, suster tersebut menarik kursinya mendekat dan duduk dengan hati – hati,

“Apa lagi ya?” Aku bertanya.

“Ayo,kita ambil rotinya!” Sahut JiEun.

“Kau mau melakukannya?” Tanyaku.

JiEun mengangguk bersemangat, “Nde”

Maka, kami membiarkan suster tersebut menikmati rotinya selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia meletakkan rotinya di atas meja, dan menegak segelas air yang ada di dekatnya.

“Cepat ambil rotinya!” Perintahku.

JiEun pun bergerak cepat hingga terlihat seperti melayang dimataku, dan menyambar roti suster menyebalkan itu dari atas meja. Aku mengalihkan pandanganku pada si suster menyebalkan untuk melihat reaksinya. Tampaknya ia tidak sadar hingga akhirnya meletakkan gelasnya yang telah kosong dan hendak mengambil rotinya kembali saat menyadari bahwa rotinya tampak melayang di udara.

Aku kembali tertawa saat melihat wajah suster menyebalkan itu yang tampak tercengang sekaligus terkejut. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi, ia terlihat seperti ingin mengucapkan sesuatu namun suaranya tidak dapat keluar. Kudengar JiEun yang terkekeh – kekeh, dan mulai menggerak – gerakkan roti di tangannya.

“A..a…app..apa..apa yy..yang…” Ucap suster tersebut tergagap – gagap.

Wajah ketakutan suster tersebut membuatku semakin bersemangat, maka akupun bergerak mendekati meja, lalu menyentuh pinggiran meja dan menggoyang – goyangkannya, hingga membuat meja itu tampak seperti bergerak sendiri. Tawa JiEun kembali terdengar, sementara wajah sang suster telah memucat, ia bergerak – gerak mundur, hingga akhirnya terjatuh dari atas kursi.

Suster menyebalkan itu memekik, entah karna ketakutan atau kesakitan atau keduanya. Hingga akhirnya ia belari dengan tergopoh – gopoh meninggalkan kantin rumah sakit.

“Hahahaha…,rasakan itu!” Seruku lalu kembali tertawa.

-END WOOYOUNG POV-

-JIEUN POV-

“Sejak aku kecil, aku ingin sekali terlentang seperti ini sambil menatap bintang” Ucapku lalu menoleh pada Wooyoung oppa yang berbaring di sampingku.

Aku mendapati Wooyoung oppa tersenyum, “Akhirnya terwujud” Komentarnya.

“Nde” Aku menanggapi.

Malam ini, kami naik ke atap rumah sakit untuk sekedar menatap langit. Malam yang biasanya gelap tanpa bintang kini berubah bagaikan opera yang dihiasi gemerlap bintang – bintang kecil. Kami berbaring di lantai atap rumah sakit yang dingin dan berdebu, menatap lurus kelangit malam yang bercahaya.

“Omong – omong, bagaimana oppa bisa masuk rumah sakit?” Tanyaku.

“Aku kecelakaan” Jawab Wooyoung oppa, “Tertabrak truk saat sedang menyebrang. Konyol kan?”

“Tidak konyol. Menyeramkan” Aku menanggapi.

Wooyoung oppa terkekeh, “Tertabrak truk sepertinya memang menyeramkan, tapi aku tidak ingat sama sekali saat kecelakaan itu terjadi”

Terjadi keheningan selama beberapa saat, hingga akhirnya aku kembali berkata,

“Aku terkena kanker sejak berumur 17 tahun” Ucapku sambil menerawang kenangan saat dokter mengatakan bahwa aku terkena kangker.

“Aku mengalami berbagai macam pengobatan, tapi hasilnya tidak benar – benar membuat keadaanku membaik. Apalagi keadaan keluargaku yang tidak terlalu mendukung dalam biaya pengobatan, semuanya terasa sangat sulit..”

“Semua hal baik dimulai dari hal yang sulit” Potong Wooyoung oppa.

Aku tersenyum, “Keadaanku memburuk selama sebulan terakhir ini” Ujarku, “Hal terakhir yang kuingat sebelum mengalami OBE adalah aku yang merasa sangat mengantuk. Karna itu aku membaringkan tubuh dan memejamkan mataku, namun walau aku telah memejamkan mataku, aku merasa masih dapat melihat cahaya lampu kamarku yang terang benderang” Lanjutku panjang,  “Setelah itu aku tidak ingat apa – apa lagi” Kataku.

“Lalu aku terbangun dalam keadaan seperti ini” Aku menambahkan.

Kutolehkan kepalaku untuk menatap Wooyoung oppa dan tersenyum lembut,

“Waktu itu aku takut sekali” Ucapku, “Tapi untunglah aku bertemu opppa”

Kudapati Wooyoung oppa ikut tersenyum, “Untunglah aku bertemu kamu, jadi aku tidak perlu melewati hari – hari OBE ku ini sendirian”

Aku mengangguk, lalu kembali memalingkan wajahku, dan menengadah menatap bintang, “Gomawo oppa” Bisikku.

-END JIEUN POV-

-WOOYOUNG POV-

“Kyeopta..” Komentar JiEun saat kami berkunjung ke tempat perawatan bayi – bayi yang baru lahir.

“Kau lebih imut JiEun” Sahutku sambil menyeringai lebar.

JiEun melirikku lalu tertawa pelan, “Oppa ada – ada saja!”

“Ayo, keluar! Nanti kita mengganggu bayi – bayi ini!” Ajakku.

“Mengganggu??”

“Sudahlah, ayo keluar dan jalan – jalan di taman rumah sakit!”

JiEun pun akhirnya mengangguk. Kami pun berjalan beriringan menuju taman rumah sakit yang asri dan sejuk. Sesampainya di sana, kami berdua memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang berada di taman tersebut. Kami berdua duduk bersebelahan dalam diam. Bukan keadaan diam yang canggung, melainkan keadaan diam yang sangat nyaman.

“Oppa..” Panggil JiEun memecahkan keheningan.

“Nde?”

“Aku pernah mencari tahu tentang OBE sebelumnya” Ujarnya.

“Lalu?”

“Lalu ada satu hal yang aku ingat tentang OBE”

“Apa itu?”

JiEun terdiam selama beberapa saat lalu akhirnya berkata, “Bahwa setelah seseorang mengalami OBE dan terbangun dalam tubuh mereka, maka mereka akan melupakan apa yang mereka alami selama mereka mengalami OBE”

Aku terdiam. Aku juga pernah mendengar tentang hal itu, bahwa orang yang kritis dan terbangun akan melupakan apa yang terjadi saat mereka mengalami OBE. Menyadari hal tersebut aku merasakan sesuatu berdesir gundah dalam diriku.

“Bukankah itu artinya kita akan saling..”

“Anio” Aku memotong perkataan JiEun, “Aku tidak akan melupakanmu” Ucapku tegas.

JiEun menatapku dalam, “Tapi kalau memang seharusnya lupa bagaimana?”

“Kalaupun memang seharusnya begitu,” Ucapku sambil membalas tatapan JiEun, “Akan ada satu hal yang pasti aku ingat tentang dirimu”

“Apa itu?”

“Namamu, Lee JiEun” Jawabku, “Senyummu, tawamu, tangisanmu, suaramu, apapun itu, pasti ada satu hal yang aku ingat darimu. Dan saat kita terbangun dan bertemu, aku pasti tidak akan merasa asing saat melihatmu”

“Bagaimana oppa bisa begitu yakin?” Tanya JiEun lalu mengalihkan pandangannya, ia tampak menerawang.

Aku menjulurkan tanganku, dan meraih jemari JiEun lalu menggenggamnya erat, membuat JiEun kembali menoleh dan menatapku,

“Aku tidak akan melupakan yeoja yang bersamaku pada pengalaman cinta pertamaku”

JiEun yang mengerjapkan matanya, “Pengalaman cinta..”

Aku tersenyum, “Ini bukan hanya Out Of Body Experience ini juga Love Experience”

JiEun ikut tersenyum, “Saranghaeyo oppa..” Ucapnya lembut.

“Saranghaeyo JiEun-a..” Balasku lalu mendekatkan diriku pada JiEun kemudian mengecup keningnya lembut, “Saranghae..” Bisikku.

-END WOOYOUNG POV-

-JIEUN POV-

Seperti biasanya, malam ini aku dan Wooyoung oppa menghabiskan waktu di atap rumah sakit sambil menatap bintang. Kini kami berdua duduk berdekatan, dengan Wooyoung oppa yang memeluk tubuhku hangat, sementara aku menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang.

“Besok oppa sudah harus kembali ke tubuh oppa” Aku mengingatkan.

Wooyoung oppa tidak langsung menjawab, ia terdiam selama beberapa saat hingga aku kembali berkata,

“Oppa harus bisa kembali” Ucapku.

“Nde, begitu juga denganmu” Sahut Wooyoung oppa, “Aku tidak akan melupakanmu” Ia menambahkan.

“Aku juga tidak akan melupakan oppa”

“Mianhaeyo, tidak bisa menemanimu saat kau kembali ke tubuhmu” Ujar Wooyoung oppa dengan nada menyesal.

“Gwanchanayo” Aku menenangkan, “Oppa sudah menemaniku selama beberapa hari ini, itu sudah lebih dari cukup”

Hening.

“JiEun-a..”

“Nde?”

“Saranghae..”

-END JIEUN POV-

-WOOYOUNG POV-

“Oppa..” Panggil JiEun membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh dan menatap yeoja manis dihadapanku ini. Jemari yeoja ini masih menggenggam erat jemariku, memberi aliran kekuatan yang menyemangatiku. Aku melirik pada Junho yang duduk diam di sisi tempat tidurku, menatapku dalam pandangan yang tidak dapat aku mengerti. Akupun kembali mengalihkan pandanganku pada JiEun, menatapnya lekat – lekat. Aku ingin menyimpan wujud yeoja ini dalam kepalaku. Mengingat wajahnya yang manis, matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, semuanya, aku ingin mengingat semuanya. Aku tidak ingin melupakannya. Aku akan selalu mengingatnya. Cinta pertamaku, aku tidak akan melupakannya.

Aku membalas genggaman JiEun, ingin memberitahunya bahwa aku tidak ingin pergi sekarang. Bahwa aku ingin bersamanya dan tidak ingin pergi selain beriringan dengannya. Tapi aku tahu aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang, walau aku sendiri tidak tahu aku akan pergi kemana. Hanya ada dua arah yang hanya takdir yang dapat mengaturku kemana aku harus menuju. Kembali ke kehidupan atau menghadap kematian.

“Oppa..” Panggil JiEun lagi, “Sekarang” Ucapnya.

Aku menggeleng, lalu menarik JiEun kedalam pelukanku. Aku memeluknya erat dan merasa sangat bahagia karna JiEun membalas pelukanku dengan erat.

“Saranghae, JiEun-a.., saranghaeyo..” Bisikku.

Aku ingin mengucapkan kata ‘Saranghae’ padanya beribu – ribu kali. Untuk memberitahunya bahwa aku memang mencintainya dan akan selalu begitu.

“Nado saranghaeyo oppa” Jawab JiEun.

“Aku tidak akan melupakanmu” Ucapku.

Tidak terdengar jawaban JiEun selama beberapa saat, hingga akhirnya ia berkata, “Kita akan bertemu lagi nanti”

“Ya” Jawabku, “Harus” Aku menambahkan.

Aku terus memeluk JiEun dan tidak ingin melepaskannya. Namun JiEun akhirnya dengan lembut melepaskan pelukannya dariku,

“Kembalilah oppa” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku hanya diam menatap mata cokelat JiEun yang indah,

“Kembalilah oppa, kita akan bertemu lagi nanti”

“Kita akan bertemu lagi” Ulangku penuh tekad.

“Nde” Angguk JiEun sambil tersenyum.

Selama beberapa menit aku kembali menatap lekat wajah JiEun, hingga akhirnya aku mulai melangkah dan berdiri di salah satu sisi tempat tidur. Aku menatap jasadku yang tampak tertidur dengan damai, dan menyadari bahwa kini aku tengah berada dalam ambang kematian.

“Bangunlah, Wooyoung-a..” Ucap Junho dengan parau membuatku mendongak dan menatapnya, “Bangunlah” Ulangnya.

Dan disaat bersamaan aku melihat setetes air mata mengalir di pipinya,

“Bangunlah” Rengek Junho seperti anak kecil.

“Sebentar lagi Junho-ya..” Jawabku lalu menoleh pada JiEun.

Kudapati yeoja itu tersenyum dengan penuh dukungan, “Sampai jumpa nanti oppa” Ucap JiEun, “Annyeong” Ia menambahkan.

Akupun membalas senyumnya, “Annyeong”

Setelah itu aku kembali menatap tubuhku yang tertidur lalu memejamkan mataku rapat, berkonsentrasi dengan begitu keras. Memaksakan jiwaku untuk kembali ketubuhku.

‘Kembali!’ Teriakku dalam hati, ‘Kembali!!’ Teriakku lagi.

Dua detik kemudian, kurasakan tubuhku seakan melayang terbawa angin. Aku ingin membuka mataku namun tidak bisa. Tubuhku terasa lemas dan semakin lama semakin terasa lebih lemas. Seakan seluruh energiku terkuras dan terbawa angin. Dan di detik – detik terakhir dimana aku akan merasa kehilangan kesadaran, aku mendengar suatu suara yang membuatku tersenyum,

‘OPPA…,AKU LEE JIEUN…,AKU ADALAH CINTA PERTAMAMU…,SARANGHAEYO!!!!!’

-END WOOYOUNG POV-

-AUTHOR POV-

“Apa yang terjadi?”

Suara panik tadi terdengar akrab ditelinga Wooyoung. Namun kepalanya yang terasa nyeri membuatnya sulit untuk berpikir. Dan matanya masih terasa berat hingga kelopak matanya menolak untuk membuka.

“Ia sadar” Jawab seorang laki – laki.

“Jeongmalyo?!” Tanya suara yang pertama.

“Eerrgg..” Erang Wooyoung.

“DOKTER!” Pekik suara yang kini Wooyoung sadari sebagai suara Junho.

“Buka matamu berlahan, Wooyoung-ssi” Perintah laki – laki yang Wooyoung tebak sebagai dokter.

Wooyoung pun menuruti perintah dokter tersebut dan membuka matanya berlahan. Secercah cahaya putih menyilaukan matanya, ia mengerjap – ngerjapkan matanya selama beberapa saat. Hingga akhirnya terbiasa dengan cahaya ruangan tempatnya berada.

Hal pertama yang ia lihat adalah namja berambut merah yang menatapnya dengan pandangan khawatir sekaligus lega, sahabatnya, Junho. Lalu seorang ahjussi beruban dengan kacamata bundar yang menatapnya dengan penuh perhatian.

“Wooyoung-a..” Panggil Junho dengan nada lega, “Kau tidur lama sekali” Ia menambahkan.

-END AUTHOR POV-

-WOOYOUNG POV-

“Aku ingin ke taman” Ujarku pada Junho lalu menegakkan diriku dan turun dari tempat tidur.

“Ya! Pelan – pelan, kau ini baru bangun kemarin tahu!” Junho memperingatkan.

Aku menjawab ucapan Junho dengan cengiran lebar lalu mengenakan sandal yang tergeletak rapi di dekat tempat tidur. Sementara aku melangkah dengan berlahan keluar ruangan, Junho mengikuti dari belakang sambil membawa tiang infuseku.

“Waeyo?” Tanya Junho saat langkahku terhenti tepat di ruang inap di samping ruang inapku.

“Sebentar” Sahutku.

Pandanganku tertuju pada rungan tersebut dengan perasaan yang tidak dapat aku mengerti. Pintu ruangan itu terbuka lebar, sehingga aku dapat dengan jelas melihat ke dalam ruangan. Terdapat empat suster dan seorang dokter yang tengah mengerumuni tempat tidur dalam ruangan tersebut.

Suasana dalam rungan itu tampak tegang, para dokter dan suster yang berkerumunan tersebut bekerja dengan cepat, sang dokter memimpin dan mengucapkan perintah – perintah, hingga akhirnya seorang suster berkata dengan nada tegang,

“Dokter..” Ucapnya.

San dokter menghela napas lalu mengangkat tangannya dan menatap arloji yang melingar di pergelangan tangannya lalu berucap,

“Lee JiEun” Ujarnya membuat jantungku seakan berhenti berdetak, “Waktu kematian, 02.00 PM”

-END-

-EPILOG-

“Lihat dirimu” Ucap Junho pada Wooyoung yang tengah asyik menonton TV.

“Ini hari Valentine ke-23 selama kau hidup, tapi kau masih tidak punya yeojachingu” Lanjut Junho dengan nada mengejek.

Wooyoung yang mendengar ejekan Junho hanya mencibir, “Bukan urusanmu!” Tukasnya.

“Lihat!” Ucap Junho sambil mengangkat sekotak cokelat ditangannya, “Ini dari Min!” Ujarnya bangga.

Wooyoung mengalihkan pandangannya dari Junho dengan kesal,

“Norak!” Komentar Wooyoung.

Junho tertawa, “Kau sudah setua sekarang, tapi tidak pernah jatuh cinta” Ucap Junho sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Mendengar ucapan Junho, Wooyoung terdiam. Tiba – tiba ia merasa melupakan sesuatu. Melupakan sesuatu yang benar – benar penting. Ia merasakan ada suatu hal yang hilang. Suatu hal yang seharusnya ia ingat.

“Aku pernah..” Ucap Wooyoung pelan.

“Mworago?” Tanya Junho yang tidak mendengar ucapan Wooyoung dengan jelas.

“Aku pernah jatuh cinta” Ulang Wooyoung.

Junho mengernyit, “Jinca? Dengan siapa?”

‘Dengan siapa?’

            Pertanyaan itu berputar – puta dikepala Wooyoung. Ia yakin ia pernah jatuh cinta dengan seseorang, namun siapa? Entah bagaimana, Wooyoung tidak ingat. Tapi itu tidak mungkin! Seseorang tidak seharusnya melupakan orang yang dicintanya! Wooyoung pun memejamkan matanya, dan tiba – tiba ia bisa mendengar suatu suara dalam kepalanya, suara yang terdengar sangat jelas, hingga membuatnya tersenyum,

‘OPPA…,AKU LEE JIEUN…,AKU ADALAH CINTA PERTAMAMU…,SARANGHAEYO!!!!!’

Wooyoung membuka matanya lalu menatap Junho dengan senyuman, “Lee JiEun” Jawabnya.

0oo0

GYYYAAAAAA!!!!!!! TAMAT!!!!!!! TAMAT!!!!!!YEAAAAAHHHHH!!!!!!!!!

Huaaahhh…,akhirnya tamat juga! Betapa bahagianya!!! Kddhjadasdjshjas..

Gimana chingudeul??? Ayo..ayo..,dicomment!! Silakan bagi yang suka dilike! Oya, mianhaeyo kalau FF nya geje dan mengecewakan^^

Dan gomawo udah dibaca! Ayo, jangan lupa commentnya!^^

Advertisements

5 thoughts on “OBE (Out Of Body Experience) + LE (Love Experience )

  1. huwaaaaa,
    kenapa Ji eun nya mati ? ><
    padahal udah ngarep bakal happy ending, tapi ternyataaaaa..
    huwaaaaa T.T

    ffnya keren unnie,
    kata2nya menyentuh dan mudah dimengerti oleh otak saya *yg pas2an*.. wkwk
    alurnya juga pas, gak kecepetan, gak kelamaan..
    pokoknya daebakk lahh.. hehe

    buat lagi ff milky couple dongg unn..
    tapi harus happy end..
    yaa? yaa? yaa? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s