My Silver Chap.17

Title : My Silver Chap.17
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin
Rating : PG-14
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ), Choi SooYoung, ZhouMi, Kwon Yuri

Wiihhiiii….,yang abis UN :D Gimana lancarkah? Semoga sukses dan nilainya pada bagus, dan nanti dapet SMA idamannya masing – masing. Amin. Waduh, tahun gantian aku yang UN 0_O…


Hmm…,silakan dibaca, kekeke~

-SOOYOUNG POV-
Aku dan Changmin mengendap – endap keluar kamar. Berjingkat – jingkat sambil menahan napas, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Namun ketika kami hampir mencapai tangga, kami tidak melihat satu Vrizz atau apapun. Suasana tampak sepi, sangat sepi, walau begitu aku merasakan adanya sesuatu yang salah. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, dan kami hanya belum mengetahui apa.
“Tampaknya tidak ada siapa – siapa” Ucap Changmin dengan suara rendah.
“Aku pikir juga begitu” Sahutku pelan, “Kita bisa turun tangga sekarang”
Maka kamipun menuruni tangga dengan hati – hati. Posisi kami saat ini sangat terekspos dan berbahaya. Bila ada seseorang yang menatap ke tangga dari kejauhan sekalipun, kami akan langsung terlihat.
“Ayo, cepat!” Kata Changmin sambil menarikku untuk bergerak lebih cepat.
“Kita harus hati – hati” Aku mengingatkan.
“Cepat dan hati – hati” Sahut Changmin.
Namun hingga kami mencapai undakan terakhir, kondisi masih hening. Walau seharusnya kami bersyukur akan hal itu, aku tetap merasa curiga. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi. Ada sesuatu yang sedang berlangsung.
“Apakah kita akan langsung keluar?” Tanyaku ragu.
Changmin menggeleng, “Kyuhyun” Ujarnya.
“Nde, aku juga memikirkan soal Kyuhyun dan Yuri, dimana mereka?!”
“Dan dimana Seohyun?” Changmin menimpali.
Kami berdua bergerak ke tepi ruangan dan bersembunyi di balik lemari besar yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga,
“Rumah ini menakjubkan” Komentar Changmin.
Aku mengangguk setuju, “Dan menyeramkan”
“Ya, kau benar”
Ya, rumah ini memang sangat menakjubkan. Setiap ruangannya dipenuhi oleh berbagai perabot mewah dan antik. Semuanya tertata dengan begitu rapih dan selaras. Setiap prabotnya menambahkan kesan megah di rumah yang luas ini. Lantai marmernya yang dingin terasa menusuk – nusuk telapak kaki kami yang tidak beralas.
“Apa kau dengar?” Tanya Changmin membuatku mengeryit.
“Apa?”
“Suara raungan” Jawabnya.
“Raungan?” Gumamku heran.
Aku mencoba untuk menajamkan pendengaranku. Namun tidak yang kutangkap selain keheningan. Aku baru saja akan bertanya raungan macam apa yang Changmin dengar saat tiba – tiba aku mendengar raungan yang dimaksud olehnya.
“Apa kau mendengarnya tadi?!” Tanya Changmin.
Aku mengangguk, “Seperti..”
“Serigala” Potong Changmin, “Tapi..,berbeda..,tapi..”
“Tidakkah kau berpikir itu Seohyun?”
Changmin tercengang, “Seohyun? Vernald?”
“Mungkin sa..”
Perkataanku terputus saat raungan itu kembali terdengar. Dan kali ini, raungannya terdengar jauh lebih jelas,
“Ada di bawah kita” Ujar Changmin sambil menunduk menatap lantai.
“Ruang bawah tanah?” Tanyaku.
“Mungkin saja” Jawab Changmin.
“Ayo, kita cari tahu asal suaranya!” Ajakku.
“Changkaman” Cegah Changmin.
“Wae?”
“Kita baru saja melawan Vrizz dan sudah akan menghadapi Vernald?!”
Aku tersenyum, “Kita sedang berada dalam perang”
-END SOOYOUNG POV-
-KYUHYUN POV-
Pandangan kami saling bertemu, dapat kurasan sesuatu dalam perutku terasa bergejolak. Dadaku terasa sesak, mataku panas, aku merasa seperti ingin menangis. Aku merasa air mataku akan tumpah saat melihat kekasihku, orang yang paling aku cintai, berada dalam kondisi seperti ini.
“Seohyun-a..” Panggilku lagi.
Seohyun berdesis, sosok Vernaldnya itu mendengus, ia tampak gusar. Lalu Seohyun bangkit dan menjauh dariku. Berlahan aku turut bangkit berdiri. Mataku terus menatap Seohyun yang juga menatapku. Aku berdiri diam sementara Seohyun bergerak mengelilingiku. Ia tampak menilaiku, ia tampak sedang berpikir.
“Seohyun..”
Entah kenapa, mulutku hanya dapat menyebut namanya. Aku tidak tahu hal lain yang perlu aku katakan. Pikiranku terasa buntu, aku merasa payah, tidak tahu harus melakukan apa. Satu – satunya yang ada di pikiranku saat ini adalah keinginanku untuk memeluknya. Mendekap Seohyun, menjaganya tetap dekat denganku.
Aku melangkah untuk mendekati Seohyun, namun melihat gerakanku, Seohyun mengeram dan mundur,
“Seohyun-a..”
Kami masih saling memandang, memandang dalam diam. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Aku tahu ia tidak mengingatku, tapi aku yakin bila ia masih dapat mengingat perasaannya.
“DARAH!!!”
Aku tersentak kaget saat mendengar seruan itu. Aku menoleh dan menyadari bahwa ahjumma bergaun itulah yang berbicara, eommanya Seohyun. Inna ahjumma tampak marah dan kebingungan, lalu ia kembali berseru,
“KELUARKAN LEBIH BANYAK DARAH!!!” Perintahnya.
Entah kepada siapa dan apa maksud dari perintah yang diserukan Inna ahjumma tadi. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku mendapati seseorang menyergapku dari belakang. Aku tersentak kaget dan memberontak, aku menoleh mendapati Vrizz yang tadi telah membuatku terluka kembali muncul dan menahan tubuhku agar tidak bergerak dengan begitu kuat.
“Lepaskan!!!” Seruku.
Namun Vrizz itu malah memperkuat pegangannya, dan tiba – tiba kurasakan benda tajam kembali melukai lenganku. Aku berteriak terkejut dan kesakitan, ujung tajam pisau itu menekan dalam menembus kulitku, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat. Aku terus merintih kesakitan, namun rintihanku terabaikan, dan Vrizz itu terus membuat goresan panjang dengan pisaunya dilenganku.
Goresan pisau itu terasa sangat menyakitkan, kepalaku terasa pening, tubuhku semakin terasa lemas, pandanganku memburam,
“Seohyun-a..” Bisikku lemah.
BUGK!!!
Pegangan Vrizz itu tiba – tiba terlepas, tubuhku yang oleng seketika ambruk ke lantai. Aku terbatuk, pandanganku tertuju pada lenganku yang terus mengalirkan darah. Aku memaksakan kepalaku yang masih terasa pening untuk melihat yang terjadi. Dan aku tersentak terkejut saat melihat Seohyun yang kini tengah mencabik – cabik Vrizz yang tadi melukaiku dengan kukunya yang tajam.
Aku kembali terbatuk lalu menyeret tubuhku menjauh. Kudengar derap langkah kaki mendekat dan aku menyadari beberapa Vrizz mencoba untuk membantu temannya namun berakhir hanya dengan berdiri mematung sambil mengamati. Vrizz yang masih diserang oleh Seohyun itu berusaha untuk mengelak dan melepaskan diri. Namun usahanya sia – sia, Seohyun terus menyerangnya tanpa henti. Dan seragan terakhir adalah Seohyun yang membenamkan taringnya di leher Vrizz tersebut. Vrizz itu berteriak – teriak kesakitan, teriakannya terdengar begitu memilukan. Aku mengedarkan pandanganku kesekitar bertanya – tanya mengapa tidak ada yang membantu. Semua yang ada di ruangan itu hanya berdiri diam sambil mengamati. Mereka tampak was – was kalau – kalau mereka akan diserang, namun tidak ada tanda – tanda bahwa akan ada yang menolong.
Teriakan Vrizz itu akhirnya berhenti, tangannya yang tadinya terus menggapai – gapai udara kini terkulai lemas di lantai. Mati. Seohyun, seperti inikah ia yang sebenarnya? Semenyeramkan inikah? Tapi ia menyerang Vrizz itu untuk menolongku kan? Ia melakukannya untukku kan?
Tanganku masih terasa perih, darah masih terus mengucur dari lukanya. Pikiranku kacau dan kepalaku semakin bertambah pening. Semua yang terjadi begitu rumit dan memusingkan. Raungan penuh amarah Seohyun membuatku untuk memaksakan diri memperhatiakan keadaan.
Kulihat Seohyun, sosoknya yang menyeramkan terus menggeram menampakkan taringnya yang tajam. Lalu dengan secepat kilat ia menyerang Vrizz yang lain, kali ini beberapa Vrizz mencoba untuk menahan Seohyun. Namun Seohyun dapat menyingkirkan Vrizz yang menahannya dengan mudah.
Aku membeku. Seohyunku, yeoja yang paling aku cintai, kini sedang melakukan pembunuhan masal.
-END KYUHYUN POV-
-YURI POV-
“Apa yang terjadi?! Apa yang terjadi?!” Seru eomma gusar.
“Racun Kyuhyun menghilang, ia mengingat Seohyun. Tadi ia menyebut nama Seohyun dan membuat…”
“Bagaimana bisa?!” Tanya eomma yang terdengar begitu frustasi, “Bagaimana bisa racun Kyuhyun hilang?!”
“Penawar racun” Jawab Minyoung lagi. Kali ini pandangannya terarah sinis padaku, “Ada yang memberikan penawar racun pada Kyuhyun” Tambahnya.
Aku balas menatap Minyoung tenang. Namun aku tidak dapat menjaga diriku tetap tenang saat pandangan penuh amarah eomma tertuju padaku. Wajah eomma memerah, ia tampak benar – benar murka. Ia melangkah mendekatiku,
“Eomma..”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, eomma melayangkan tamparan keras ke pipiku. Dengan seketika panas menjalari pipiku, kudapati tubuhku oleng, lalu tamparan kedua datang, kemudian tamparan ketiga, dan aku terjatuh ke lantai. Aku tidak sempat bergerak atau mengucapkan sesuatu saat eomma mulai menendangi tubuhku dengan kencang. Kurasakan sepatu hills yang dikenakan eomma menghantam tubuhku berkali – kali dan mulai menimbulkan lebam di tubuhku.
“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU EOMMA!!!” Serunya, “ANAK SIALAN!!! PENGHANCUR RENCANA! SSIBAL!!!”
Eomma terus menendangku tanpa henti. Eomma terus mengucapkan sederet hinaan – hinaan kasar padaku, dan aku juga dapat mendegar Seohyun yang tampaknya masih melancarkan serangannya pada para Vrizz.
“Kita harus pergi, Seohyun mengamuk!” Minyoung memperingatkan membuat eomma menghentikan tendangannya.
“Tidak!” Tolak eomma, “Tidak sebelum aku membunuh Vernald sialan ini!”
Kurasakan diriku seperti dilempari oleh batu ketika eomma menyebutku sebagai ‘Vernald’. Aku tercengang, ucapan eomma itu memberikan suatu pukulan yang sangat menyakitkan bagiku. Aku mendongak dan telah mendapati eomma mengeluarkan sebuah pisau. Ia mengangkatkan pisau itu tinggi – tinggi, siap untuk menancapkannya ke tubuhku. Aku diam membeku, pikiranku kosong,
‘Ia akan membunuhku..’
“Aaaaaaaaarrrrrhhhhh!!!!”
Pekikan itu menarik kembali pikiranku. Aku mencoba memfokuskan pandanganku, mendapati eomma menoleh pada Minyoung yang sebelah sayapnya tampak berada digenggaman seorang yeoja. Seorang yeoja tinggi kurus yang rambutnya diikat kuda.
“Ya! Apakah kau si Minyoung itu?! Kau yang meracuni Kyuhyun dan Seohyun?!” Bentak Sooyoung galak sambil menarik – narik sebelah sayap Minyoung.
“Ya! Lepaskan aku!” Seru Minyoug panik.
Sooyoung tertawa hambar, “Tentu aku akan melepaskanmu setelah sayapmu ini aku patahkan!”
“YAAA!!!!” Pekik Minyoung gusar.
Pandangan eomma kembali terarah padaku, kini amarahnya semakin bertambah. Ia kembali mengayunkan pisaunya padaku, namun belum sempat pisau itu mengenaiku, seorang lelaki menahan tangan eomma,
“Apakah para Vrizz selalu membawa pisau kemanapun mereka pergi?” Tanya Changmin sambil terus menahan tangan eomma.
Eomma membelalak terkejut, dan saat itu juga, Changmin memelintir tangan eomma. Ia merebut pisau eomma dengan cepat lalu menghempaskan eomma keras ke lantai,
“Mianhe” Ucap Changmin tanpa penyesalan lalu segera menghampiriku.
“Gwachanayo?” Tanyanya sambil membantuku bangun.
Aku mengangguk gugup, menatap eomma yang balas menatapku galak,
“Eomma, nasib Vernald tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh Vernald itu sendiri” Ujarku serak.
“DIAM KAU!!” Bentak eomma lalu beranjak bangun.
Aku berpikir eomma akan mencoba untuk kembali menyerangku. Namun tidak, ia berbalik dan tampaknya akan keluar ruangan saat tiba – tiba seorang namja berkulit pucat dan berambut pirang muncul di hadapan eomma. Aku memandang namja itu bingung, aku tidak mengenalnya, dan sebelum aku berpikir lebih jauh, tiba – tiba saja, dengan begitu cepat, namja itu mencengkram pudak eomma kencang. Kemudian namja itu mengeram, dan disaat itulah aku menyadari bahwa namja itu adalah vampire. Belum sempat aku menarik eomma menjauh, vampire itu telah membenamkan taringnya di leher eomma.
“EOMMA!!!”
Changmin menahanku yang sudah akan berlari untuk menghampiri eomma,
“Jangan!!” Cegah Changmin.
“EOMMA!!” Panggilku histeris.
“HERO, APA YANG KAU LAKUKAN??!!!”Seru Sooyoung yang tampak kaget.
Aku menatap Sooyoung dengan gusar, merasa yakin bahwa Sooyounglah yang bertanggung jawab atas kemunculan vampire ini. Sementara itu, Minyoung yang berusaha melepaskan diri memanfaatkan kesempatan saat Sooyoung tengah terpusat pada vampire itu. Namun Sooyoung menyadari betul bahwa Minyoung hendak kabur, dan segera menarik sebelah sayap Minyoung dengan keras saat Minyoung baru bergerak beberapa saat.
KREK!!
“AAAAARRRRRGGGGGGGHHHHHH!!!!!!”
Patahnya sebelah sayap Minyoung membuat Minyoung berteriak kencang kesakitan. Dengan seketika ia terjatuh ke lantai. Ia terduduk dengan tubuh menggigil menahan sakit. Aku membeku. Menatap eomma yang tidak dapat melepaskan diri dari vampire yang menghisap darahnya dan tampak semakin lemah. Menatap Minyoung yang semakin kehilangan tenaganya dan terkulai lemah di lantai.
Sayap pixie adalah nyawa pixie tersebut. Bila sayap pixie itu patah, maka pixie itu akan meninggal. Kini Minyoung tergeletak di lantai dan tidak bergerak. Semenit kemudian, yang tersisa dari diri Minyoung adalah serbuk hitam yang berserakan bagai debu.
Aku merosot terduduk ke lantai, kepalaku sakit, apa yang terjadi barusan terlalu cepat dan mengejutkan. Kualihkan pandanganku pada Seohyun, kini hanya ada tiga Vrizz yang tersisa. Dan tampaknya, ketiga Vrizz itu akan segera melarikan diri setelah menyadari keadaan eomma yang sekarat.
“Anio..” Gumamku, “Seharusnya tidak seperti ini”
-END YURI POV-
-SOOYOUNG POV-
Tubuh pixie itu hancur menjadi serbuk berwarna hitam setelah beberapa menit aku mematahkan sayapnya. Aku terpaku selama beberapa saat lalu menoleh pada Hero yang entah bagaimana secara tiba – tiba muncul.
“HERO LEPASKAN!!” Seruku sambil menarik Vrizz dalam genggamannya.
Tubuh eommanya Seohyun sudah sangat lemah saat aku berhasil melepaskannya dari Hero. Hero tampak marah, matanya memerah, dan bekas darah di sudut bibirnya membuat kesan vampire dalam dirinya semakin kuat.
“Bukankah aku boleh membunuh vrizz manapun yang kumau?!” Tanya Hero dingin.
“Tidak wanita ini!” Sahutku sambil menyangga tubuh Vrizz ini.
“Wae?”
“Ia orang penting” Jawabku singkat.
Hero berdecak kesal, lalu ia menolehkan kepalanya memandang ke tengah ruangan. Aku mengikuti arah pandangannya, dan saat itu juga aku mendapati sesuatu yang membuat napasku semakin memburu. Seohyun berdiri disana, dalam wujud Vernaldnya, menghempaskan Vrizz terakhir ke lantai dengan kencang. Beberapa meter dari Seohyun, Kyuhyun berdiri membeku.
“Vernald”
Suara Hero barusan membuatku merinding,
“Hero..” Gumamku.
Aku tersentak terkejut saat tiba – tiba Yuri mendorongku pelan dan merebut eommanya dariku,
“Eomma!!” Panggil Yuri.
Yuri membaringkan eomma di lantai dan meletakka kepala eommanya di pahanya. Aku terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. Vrizz itu sekarat, ia kehabisan darah.
“SEOHYUUNN!!!!!!”
Aku kembali terkejut saat mendengar seruan Kyuhyun barusan. Dengan cepat aku menoleh ke arahnya, mendapati dirinya yang tegang, dan kebingungan. Lalu pandanganku beralih kearah Seohyun. Dan rasa kaget kembali menjalariku saat kulihat Hero sudah berada beberapa langkah di hadapan Seohyun.
“Aku akan membunuhmu” Ujar Hero.
Ucapannya itu terdengar jelas di telingaku. Membuat jantungku berdegup kencang panik,
“Andwae!!!” Seruku lalu berlari ke menghampiri Hero dan Seohyun.
Sedetik kemudian aku mendengar Changmin menyerukan namaku. Namun aku tidak peduli dan terus bergerak menghampiri vampire dan Vernald itu. Saat aku telah berada cukup dekat dengan Hero, aku meraih tangannya dan mencoba untuk menariknya menjauhi Seohyun. Namun Hero adalah vampire, ia kuat, aku tidak dapat menariknya begitu saja seperti aku menarik – narik Changmin.
“YA! KAU TIDAK BOLEH MEMBUNUHNYA!” Seruku pada Hero.
Hero memiringkan kepalanya dan menatapku tajam,
“Aku tidak mendengarkan ucapanmu” Jawabnya datar.
“Tapi..”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Hero menghentakkan tangannya dan membuatku terhempas ke lantai. Aku terduduk di samping mayat seorang Vrizz yang telah tergolek tak berdaya. Di tangan Vrizz itu terdapat sebuah pisau kecil yang tampak tajam. Aku mengalihkan pandangan pada Hero dan Seohyun yang masih berdiri berhadap – hadapan dalam diam. Hero tampak tenang, namun dapat kurasakan nafsu membunuh mengaliri dirinya. Sedangkan Seohyun terus mengeram sambil menatap Hero tajam.
Lalu aku meraih pisau yang kulihat tadi dan menggenggamnya erat – erat. Walaupun Hero belum tentu dapat membunuh Seohyun, ia tidak boleh menyentuh Seohyun sedikit pun. Hero harus pergi sekarang, memberikan waktu untuk Seohyun dan Kyuhyun agar mereka dapat saling mengingat.
Kudapati Hero mengepalkan tangannya. Dan akupun sadar pertarungan akan dimulai beberapa saat lagi. Aku bangkit berdiri, menyeret langkahku mendekati Hero. Namun sayang, selangkah lagi sebelum aku menancapkan pisauku ke kepala Hero, vampire itu menyadari kedataganku. Hero menoleh cepat ke arahku, lalu ia menjulurkan tangannya, mencengkram leherku sebelum aku dapat mengelak.
Aku mencoba untuk memberontak, namun Hero begitu kuat. Kudengar Changmin menyerukan namaku berkali  –  kali. Aku tidak dapat bernapas, sementara Hero mengangkatku dengan sebelah tangannya lalu menghempaskan tubuhku ke lantai dengan begitu keras. Tulangku terasa remuk, aku tidak dapat bergerak selama beberapa saat, dan peganganku pada pisauku tadi hampir telepas. Aku mengernyit, dengan pandangan sedikit buram    , lalu mencoba untuk kembali menggenggam pisauku. Namun sayang, aku malah menggenggam ujung tajam pisau tersebut. Hingga akhirnya pisau tersebut menancap cukup dalam di telapak tanganku. Aku mengeram kesakitan, lalu dengan cepat menarik pisau itu dari telapak tanganku dan melemparnya jauh dariku.
Telapak tanganku robek, darah mengucur deras dari lukaku. Berlahan aku membangkitkan diriku. Pandanganku tertuju pada darah yang menetes ke lantai. Darah yang berasal dari luka di telapak tanganku tadi. Disaat bersamaan, aku mendengar eraman pelan di samping kanan dan kiriku. Dan disaat itupula aku merasakan jantungku seakan berhenti berdetak,
Aku berada di antara vernald dan vampire,
diantara dua makhluk penghisap darah..
-END SOOYOUNG POV-
-CHANGMIN POV-
Aku terus memanggil Sooyoung, namun Sooyoung terus mengabaikanku. Dasar yeoja keras kepala! Aku baru saja hendak menyusul Sooyoung dan menariknya dari zona berbahaya tersebut saat kurasakan seseorang menepuk pundakku dan membuatku terlonjak kaget.
“Bawa Kyuhyun keluar!” Perintah Yuri.
Aku menoleh pada Kyuhyun yang tampak seperti orang bodoh. Berdiri diam mengamati tanpa melakukan apa – apa. Lalu pandanganku kembali tertuju pada Sooyoung. Aku memang seharusnya membawa Kyuhyun keluar, tapi bagaimana dengan Sooyoung? Ia juga harus keluar.
“Cepat!” Perintah Yuri, “Jangan khawatirkan Sooyoung dulu, ia pasti bisa mengurus dirinya sendiri”
Aku menatap Yuri ragu, lalu akhirnya bergerak menghampiri Kyuhyun yang masih mematung,
“Ya, Kyuhyun-a!!” Panggilku.
Kyuhyun menoleh, ia terdiam selama beberapa saat, “Changmin?”
“Kau mengingatku? Baguslah. Senang melihatmu masih hidup, kita harus segera keluar” Ujarku.
Kyuhyun benar – benar tampak seperti orang linglung. Ia mengikutiku untuk bergerak keluar ruangan tanpa berkata apa – apa. Dapat kulihat Yuri berdiri di dekat eommanya yang tergolek di lantai. Aku mengira – ngira apakah Vrizz itu sudah mati atau belum.
“Changmin” Panggil Kyuhyun.
Aku berhenti melangkah dan menoleh padanya, “Wae?”
“Sooyoung” Jawabnya.
Aku mengernyit dan kembali menatap ke tengah ruangan. Sooyoung berdiri disana, dengan luka di tanganya yang mengucurkan darah deras dan terus menetes ke lantai. Ia berada di antara Vampire dan Vernald yang menatapnya dengan penuh nafsu. Dua makhluk penghisap darah yang siap menyantap makanan mereka. Jantungku mencelos,
“SOOYOUNG!!!!!”
Aku hendak berlari menghampiri Sooyoung saat Kyuhyun dengan sigap menahanku. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari Kyuhyun namun Yuri telah ikut serta untuk menahan diriku agar tidak menghampiri Sooyoung.
“YA!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN??!!! KITA HARUS MENOLONG SOOYOUNG!!!! SOOYOUNG!!!!”
“ANDWAE!!!” Seru Yuri, “Kita tidak bisa menolongnya!!! Kita harus pergi!!!”
“ANIO!!! KITA HARUS MENOLONGNYA!!! SOOYOUNG!!!!”
Mataku panas, diriku terasa akan meledak. Dapat kudengar teriakan kesakitan dan ketakutan Sooyoung. Teriakan memilukan itu terdengar jelas di telingaku. Sooyoung dicabik dan digigit oleh dua monster itu. Dibunuh dengan begitu keji dan menyakitkan. Itu semua terlihat jelas di hadapanku namun aku tidak segera menolongnya.
“SOOYOOUNG!!!!!!”
“Kyuhyun, ayo kita tarik Changmin keluar!” Ajak Yuri.
“Nde” Jawab Kyuhyun.
“ANDWAE!!!! SOOYOUNG!!!!”
Namun tidak ada yang dapat aku lakukan. Aku ditarik paksa untuk keluar. Aku tidak terlalu kuat untuk melepaskan diri ataupun melawan Vernald dan Vrizz itu. Aku hanyalah namja payah bodoh seperti dikatakan Sooyoung. Aku tidak dapat melindungi Sooyoung yang selama ini melindungiku. Melindungi Kyuhyun dan Seohyun. Melindungi kami bertiga yang sebenarnya hanya orang asing yang kebetulan ia kenal.
Hatiku terasa sangat sakit. Diriku terasa ditusuk oleh seribu pisau karna rasa bersalah. Dan rasa sakit itu bertambah berkali – kali lipat saat aku berada di luar ruangan dan aku dapat mendengar teriakan terakhir Sooyoung yang menyerukan namaku. Disaat bersamaan, air mataku menetes.
Mianhae, Sooyoung-a..
Mianhae..
-END CHANGMIN POV-
-KYUHYUN POV-
Hari telah sore dan mendung. Langit gelap dan awan hitam tampak menggumpal pekat di langit. Gerimis berkali – kali datang dan pergi. Namun sebentar lagi aku yakin hujan deras akan turun. Angin yang berhembus membuatku menggigil. Aku duduk di rumput taman yang basah, sementara itu Changmin duduk beberapa meter di hadapanku sambil menyandarkan punggungnya ke pohon. Kepalanya tertunduk, ia tampak sangat frustasi dan berantakan.Yuri juga ada di dekat kami, berjalan mondar – mandir dengan gelisah.
Kini kami tengah berada di sekitar danau yang dulu pernah aku dan Seohyun kunjungi. Kami bersembunyi di balik rerumputan tinggi yang ada di sekitar danau tersebut. Sudah berjam – jam kami di sini tanpa tahu harus melakukan apa. Aku menghembuskan napas dan menengadah menatap langit. Bayangan Seohyun kembali muncul dalam pikiranku. Dua bayangan Seohyun yang benar – benar berbeda. Yang satu tampak sangat menyeramkan sedangkan yang satunya lagi tampak seperti malaikat.
“Vampire itu, Sooyoung yang membawanya kan?” Tanya Yuri membuyarkan lamunanku.
Pandanganku tertuju pada Yuri yang kini tengah berdiri diam sambil menatap lurus pada Changmin. Yuri tampak marah, namun ia jelas menahannya dan mencoba untuk tetap tenang.
“YA!” Bentak Yuri.
“Nde, Sooyoung yang membawa vampire itu” Jawab Changmin pelan masih dengan kepala tertunduk.
“Wae? Kenapa ia membawanya?” Tanya Yuri lagi.
“Untuk pelindung kami bila ada sesuatu yang terjadi”
Yuri tertawa getir, “Pelindung?! Michosseo?!”
“Sooyoung tidak sengaja bertemu dengan vampire itu saat mengambil darah di rumah Zhoumi. Kami membutuhkan seseorang atau apapun yang dapat membantu kami bila ada sesuatu yang terjadi. Dan hanya vampire itu yang ada, jadi Sooyoung meminta bantuannya”
“Benar – benar tidak punya otak! Vampire itu tidak akan memberikan bantuan apa – apa! Lihat! Sekarang seluruh rencana berantakan karna vampire itu!”
“Vampire itu seharusnya kembali saat matahari kembali terbenam. Namun ia tampaknya menyusup masuk dan akhirnya melakukan apa yang ia lakukan tadi” Ujar Changmin.
“Tentu saja ia akan menyusup! Tentu saja ia akan mencoba untuk membunuh semua Vrizz dan Vernald yang ia temui! Vampire selalu ingin menghancurkan anggota Vernald! Sooyoung seharusnya tahu itu! Ia benar – benar bodoh, karna itulah ia..”
“DIAM!!!”
Bentakan Changmin hampir membuatku terlonjak. Aku menatap Changmin bingung, Changmin beranjak dari duduknya dan menghampiri Yuri. Baru kali ini aku melihat Changmin begitu marah. Sangat marah hingga tubuhnya terlihat bergetar seperti akan meledak.
“Sooyoung melakukan banyak hal, dan kita meninggalkan ia terbunuh. Dan dimana  otakmu dapat mengatakan hal – hal seperti itu?!” Ujar Changmin dingin.
“Kalian manusia bodoh!” Ucap Yuri, “Mencari bantuan yang tidak diperlukan, dan malah..”
“Kau pikir kenapa kami mencari bantuan?!” Potong Changmin, “Kami tidak percaya padamu! Kalian para makhluk – makhluk bodoh yang menyeret kami semua ke situasi seperti ini!”
“Kami?! Tidak ada rencana untuk menyeret mu dan Sooyoung dalam semua ini! Kalian datang tanpa diundang!!”
“Kau meminta bantuan kami!” Tukas Changmin.
“Changmin-a..” Panggilku lalu bangkit berdiri, “Ini salahku, mianhaeyo”
Changmin menoleh padaku, memandangku dengan tatapan yang tidak pernah ia tunjukan sebelumnya. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu namun batal dan akhirnya kembali duduk di tempatnya tadi. Ia mencabut – cabuti rumput dengan sebelah tangannya sambil kembali menundukkan kepala.
Aku menatap Yuri tanpa tahu harus mengatakan apa. Terjadi keheningan yang cukup lama di antara kami bertiga. Hembusan angin dingin membuatku yang hanya memakai kaus, dan celana jeans, tanpa alas kaki ini membuatku semakin menggigil. Dan sedetik kemudian, gerimis kembali turun. Diriku diliputi perasaa yang membuatku merasa mual. Perasaan bingung, putus asa, kecewa, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu.
“Apa yang akan kita lakukan?” Tanyaku pada Yuri.
Yuri menatapku, “Keputusan ada di tanganmu” Jawabnya.
Aku menerawang, “Keputusan..”
“Kau akan menyerahkan darahmu, nyawamu, pada Seohyun atau tidak” Ucap Yuri.
Aku terdiam sesaat lalu menjawab, “Aku benar – benar tidak tahu”
“Kalau begitu pikirkan!” Perintah Yuri, “Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa, semuanya ada di tanganmu”
“Apakah kita akan menunggu di sini?”
Yuri mengangkat bahu, “Sepertinya. Kita tidak boleh pergi terlalu jauh dan tidak boleh terlalu dekat dari Seohyun”
“Apakah Seohyun masih ada di rumah?”
“Tampaknya begitu”
“Mengapa kau memilih tempat ini untuk menunggu?”
Yuri menengadah, “Malam ini bulan purnama, dan disinilah tempat paling dekat dimana kita bisa melihat bulan purnama dengan jelas”
Aku menatap Yuri bingung, dan Yuri balik menatapku lalu berkata, “Silvara akan datang malam ini”

“Changmin-a..”
Aku mendudukkan diriku di samping Changmin. Sementara itu Changmin hanya melirikku tanpa mengatakan apa – apa. Lenggang selama beberapa saat, lalu aku menghembuskan napas,
“Gomawo” Ucapku, “Mianhae” Aku menambahkan.
Kali ini Changmin menoleh padaku dan tersenyum,
“Kau berterima kasih dan meminta maaf” Ucapnya.
Aku balas tersenyum, “Memang seharusnya seperti itu”
Changmin mengangguk – angguk, “Nde, kau memang seharusnya berterima kasih dan meminta maaf padaku”
Lenggang.
“Bagaimana awalnya kau jadi ikut – ikutan begini?” Tanyaku.
Changmin tertawa singkat, “Ikut – ikutan? Aku juga tidak yakin bagaimana” Jawabnya.
Sesaat kemudian, Changmin mulai menceritakan bagaimana ia mengikuti Sooyoung dan menyelamatkannya dari Seohyun. Lalu ia pergi ke rumah seorang vampire berambut merah dan berbagai macam hal yang terjadi di sana. Hingga akhirnya ia dan Sooyoung ditahan di rumah Seohyun dan hampir diracuni. Changmin juga bercerita dengan bersamangat saat ia dan Sooyoung melawan salah satu Vrizz hingga terbunuh.
“Sooyoung sangat hebat” Ucapnya sambil menerawang, “Ia sangat pintar” Tambahnya.
Aku menatap Changmin, merasa sangat bersalah atas kematian Sooyoung. Ekspresi Changmin saat menyebut nama Sooyoung terdengar pedih. Ia pasti sangat merasa benar – benar kehilangan. Walaupun hanya sekitar tiga hari ia dan Sooyoung bersama.
“Aku tidak pernah benar – benar mengucapkan terima kasih padanya” Ujar Changmin lagi, “Ia sudah sangat membantuku, ia menyelamatkanku”
“Menyelamatkan kita” Koreksiku lalu menepuk pundaknya singkat, “Ia sangat hebat”
Changmin mengangguk, “Aku akan berbicara dengan ibunya saat semua ini telah berakhir”
Mendengar ucapan Changmin membuatku mengira – ngira kapan sebenarnya semua ini akan berakhir. Apakah malam ini? Saat rembulan muncul nanti?
“Apakah kau tahu dimana Sooyoung tinggal?” Tanyaku.
Changmin menggeleng lesu, “Anio” Jawabnya, “Tapi aku akan mencari tahu. Bagaimanapun juga semua yang terjadi harus dijelaskan pada eommanya Sooyoung”
“Aku akan menemanimu” Ucapku.
Lenggang lagi.
“Kyuhyun-a” Panggil Changmin.
“Nde?”
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya.
Aku terdiam, “Sebenarnya aku baru saja ingin menanyakan hal itu padamu”
Changmin mendesah, “Sooyoung telah meninggal, aku tidak ingin kau menyusul” Ujarnya pelan.
Aku menatap Changmin, “Maksudmu…”
“Hanya ada dua pilihan kan?” Potong Changmin, “Kau yang mati, atau Seohyun yang mati” Lanjutnya.
Kau yang mati, atau Seohyun yang mati
Kalimat itu membuat kepalaku sakit, membuat hatiku sakit. Aku ingin dapat hidup bersama dengan Seohyun. Aku tidak ingin ada salah satu dari kita yang meninggal. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk mengorbankan nyawaku untuknya. Nyawaku tidak sebanding dengan kebahagiaan Seohyun. Namun bila aku mati, bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan teman – temanku? Masa depanku?
“Seohyun..” Ucap Changmin membuyarkan lamunanku, “Bukan manusia”
Aku mengepalkan tangan, “Ia…”
“Ia akan menjadi manusia bila membunuhmu” Ujar Changmin kembali memotong perkataanku.
“Apakah Seohyun..” Aku terdiam sebentar lalu melanjutkan, “Apakah ia benar – benar ingin meminum darahku?”
“Aku rasa tidak” Jawab Changmin, “Tapi ia monster sekarang”
“CHANGMIN!!!” Bentakku.
“Ia membunuh Sooyoung” Sahut Changmin tenang.
“Ia tidak membunuhku saat seharusnya ia bisa membunuhku”
“Belum” Tukas Changmin, “Bukannya tidak”
Aku menghela napas panjang, “Kau ingin aku membiarkan Seohyun meninggal?”
Changmin tidak menjawab dan menyisakan keheningan panjang di antara kami. Aku kembali menghela napas dan berucap dengan parau,
“Aku mencintainya, sangat mencintainya”
-END KYUHYUN POV-
-AUTHOR POV-
Mayat wanita itu tampak terkoyak menyeramkan. Tubuh dan wajahnya hancur, organ – organ dalam wanita itu tampak berhamburan di lantai. Wujud manusia dari wanita itu tidak lagi terlihat, melainkan hanya tampak seperti daging – daging yang bertebaran. Dua pemangsa wanita itu kini tengah saling menatap. Dua makhluk yang berdiri di ruangan di mana mayat – mayat bertebaran di lantai, dan darah tampak menodai seluruh ruangan.
“Vernald” Ujar Hero dengan nada meremehkan, “Makhluk menjijikkan yang terkutuk”
Seohyun mengeram, “Vampire, penghisap darah menyedihkan”
Hero tersenyum tipis, “Aku akan membunuhmu”
“Sialakan” Sahut Seohyun.
“Oh, tapi tampaknya kau akan mati walaupun tidak aku bunuh” Ujar Hero dengan nada mengejek, “Tinggal beberapa jam lagi hingga dewi mu itu mencabut nyawamu”
Seohyun seketika menyerbu ke arah Hero. Namun Hero dengan baik dapat mengelak lalu tertawa,
“Makhluk penghianat yang ingin jadi manusia. Betapa menjijikkannya” Ejek Hero sambil tergelak.
Seohyun menatap Hero dengan penuh amarah. Pikirannya kini tertuju penuh pada vampire di hadapannya itu. Dan satu – satunya yang ia pikirkan adalah membunuh vampire itu secepat mungkin.
Tiba – tiba saja Hero menyerbu ke arah Seohyun. Namun Hero bukan apa – apa untuk Seohyun. Seohyun dapat menebak gerak – gerik Hero dengan mudah. Dan sesaat setelah itu Seohyun kembali melancarkan serangannya pada Hero. Kali ini Hero tidak dapat mengelak, Seohyun mencengkram bagian depan bajunya dengan sebelah tangan yang lain. Sementara tangan Seohyun yang lain sibuk mencakar wajah Hero berkali – kali. Hero berteriak kesakitan, namun itu tidak berpengaruh pada Seohyun. Ia membanting tubuh Hero ke lantai dengan keras. Kemudian Seohyun menjabak kepala Hero, dan diiringi teriakan ketakutan Hero, Seohyun menarik kepala Hero hingga terputus dari lehernya.
Mati.
Seohyun melemparkan kepala Hero asal, lalu mulai melangkahi mayat – mayat untuk ke luar ruangan. Ia ingin mencari mangsa, rasa laparnya akan darah tampaknya tidak pernah berakhir. Namun langkahnya tiba – tiba terhenti saat mata susunya itu menangkap seorang wanita paruh baya yang tergolek lemah di lantai. Wanita itu sekarat, gaunnya tampak dinodai oleh darahnya sendiri.
Suatu rasa yang tidak dapat dijelaskan mengalir dalam diri Seohyun. Ia mengenali wanita itu, ia menyayangi wanita itu. Seohyun menghampiri wanita itu dan berdiri di dekatnya. Tanpa mengatakan apa – apa, Seohyun terus memandangi wanita tersebut. Pandangan Seohyun dan wanita itu bertemu, lalu wanita itu berkata,
“Bunuh namja itu Seohyun-a” Ucap wanita itu lalu tampak seakan tersedak oleh napasnya sendiri, “Karna Kyuhyunlah aku mati. Bunuh dia, Seohyun!”
Dan sebelum wanita itu memejamkan mata untuk selamanya, ia kembali berkata, “Minum darah silvermu dan jadilah manusia seutuhnya”
-TBC-
Ok, Sooyoung died…
JEDERR!!!!!! (?)
Yuna eonni mianhaeyo….,kekeke~
Dangdingdungdangdingdungdungdang!!!!!!!!!!!!!!!
Satu part lagi ENDING!!!!!!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s