My Silver Chap.18 [END]

Title : My Silver Chap.18
Author : GladizCass a.k.a Kim SuJin
Rating : PG-14
Length: Chaptered
Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)
Cast : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)
Other Cast : Shim Changmin (TVXQ), Choi SooYoung, ZhouMi, Kwon Yuri

Huwaaaaa…..,lama ya?? Jeongmal mianhaeyo, entah bagaimana niat menulis berkurang. Urgh…,aku tegaaanngggg!!!!!!! Last Chap!!!!!!! Huwaaaaa!!!!!! Aigo, huh, ok ok, hmmm…,apa ya? Ok, silakan dibaca aja deh! 😀 Gomawo ya yang udah menyempatkan diri baca last chap ini, saranghae~ :*

Malam telah datang, mungkin sekarang sekitar jam sembilan. Hujan deras kini telah reda, namun langit mendung masih belum pergi. Aku, Changmin, dan Yuri duduk di bawah pohon rindang yang sama untuk berlindung dari derasnya hujan tadi. Namun bagaimanapun juga, kami tetap basah kuyup, dan angin yang berhembus membuat badan kami menggigil.

“Apakah kita akan terus menunggu seperti ini?” Tanya Changmin dengan tidak sabar lalu bersin, “Aku akan kena flu”

“Lagipula apa yang sebenarnya kita tunggu?” Tanyanya lagi.

Yuri terdiam selama beberapa saat lalu menjawab, “Seohyun”

“Seohyun?!” Sahutku.

Yuri mengangguk dan menoleh padaku, “Ia akan menemuimu”

“Untuk meminum darahnya?” Tanya Changmin.

“Entah” Jawab Yuri, “Tapi ia pasti akan mencari dan menemui Kyuhyun”

“Wae?” Changmin kembali bertanya.

“Vernald selalu ingin bertemu dengan kekasihnya di detik – detik terakhir”

Lenggang.

“Ya, Yuri-ya..” Panggil Changmin.

“Eng?”

“Kau..” Ucap Changmin, “Kau meminum darah Silvermu kan?!”

Dengan segera aku menyikut Changmin dan menatapnya galak. Lalu dengan gugup melirik ke arah Yuri yang tampak termenung,

“Nde, aku meminum darah Silverku”

Suara Yuri yang terdengar berbeda membuatku sedikit terkejut. Seperti ada suatu kenangan yang tersimpan dalam kalimat yang ia ucapkan. Changmin baru saja hendak kembali membuka mulutnya saat aku mencubitnya kencang.

“Arkh!” Rintih Changmin.

“Aku pergi sebentar, kalian tetap bersama” Ujar Yuri lalu beranjak berdiri.

“Kau mau kemana?” Tanyaku.

“Hanya sebentar” Jawab Yuri singkat lalu mulai melangkah meninggalkan kami.

“Gara – gara kau!” Bisikku pada Changmin.

“Wae?! Aku hanya bertanya!” Tukas Changmin tidak terima.

Setelah sekitar sepuluh langkah, tiba – tiba saja Yuri berhenti. Aku mengernyit bingung, Yuri tampak berdiri diam seperti patung. Kemudian ia menoleh dan dapat kulihat wajahnya yang serius. Ia menatap ke arahku dan Changmin sekilas. Kemudian ia memejamkan matanya, tampaknya ia tengah berkonsentrasi pada sesuatu.

“Apa kalian mendengar itu?!” Tanya Yuri.

“Mwo?!” Sahut Changmin yang tidak mendengar ucapan Yuri.

“Diam!” Perintahku.

“Wae?”

“Dengarkan apakah ada sesuatu yang ganjil!” Perintahku lagi.

Maka dalam sekejap kami bertigapun hening dan menajamkan pendengaran. Semenit berlalu, dua menit, tiga menit..

Srek!

Otomatis aku menoleh ke belakang, namun tidak melihat apapun selain rerumputan dan pohon,

“Wae?” Tanya Changmin heran.

“Apa kau mendengarnya?” Tanya Yuri.

Aku menoleh pada Yuri lalu mengangguk, “Nde, sedikit” Jawabku.

“Mendengar apa?!” Tanya Changmin penasaran.

“Jangan berisik!”

“Aisshh..” Gerutu Changmin kesal.

Yuri mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali menghampiri kami. Yuri berdiri di dekat kami dan tampak mengawasi keadaan sekitar. Akupun berdiri diikuti oleh Changmin.

“Tampaknya Seohyun sudah datang” Ujar Yuri.

Mendengar hal itu, aku segera melayangkan pandanganku ke sekeliling. Mencari – cari sosok Seohyun namun tidak menemukannya. Dalam hati aku ragu apakah Seohyun benar – benar datang. Dan apabila ia benar – benar datang apa yang ingin ia lakukan? Mengucapkan selamat tinggal padaku atau membunuhku? Memikirkan hal itu membuatku kembali merasa kacau.

“Seohyun datang dengan wujud apa?” Tanya Changmin.

“Aku tidak yakin” Jawab Yuri dengan suara rendah.

Changmin menarikku sedikit menjauh dari Yuri dan berbisik,

“Gwanchanayo?”

Aku mengangguk, “Gwanchana”

“Tidak ada perubahan rencanakan?”

Aku terdiam sesaat lalu menggeleng dengan sedikit ragu. Changmin tersenyum puas,

“Aku akan membantumu untuk bertahan agar Seohyun tidak meminum darahmu” Ujar Changmin lalu menepuk pundakku.

Aku melirik kearah Yuri yang tampak mengamati kami. Dan saat pandanganku dengannya bertemu, ia memalingkan wajah. Aku menghembuskan napas. Walau aku sudah setuju untuk tidak membiarkan Seohyun meminum darahku, diriku masih diliputi kebingungan dan keragu – raguan. Aku mencintai Seohyun. Sangat mencintainya. Bagaimana bisa aku membiarkannya mati?

“Kyu..”

“Eng?” Sahutku pada Changmin.

“Kau dengar itu?”

Aku mengernyit, “Dengar apa?”

Changmin tidak menjawab, dan membiarkan keheningan kembali menyelimuti kami. Untuk beberapa saat, aku tidak menangkap suara apapun. Namun beberapa menit kemudian, aku mendengar suara yang Changmin maksud. Suara geraman.

Aku baru saja hendak membuka mulut untuk memanggil Yuri saat tiba – tiba suatu sosok dengan sangat cepat bergerak hingga membuatku terdorong, kemudian menangkap Changmin dan menariknya menjauh,

“CHANGMIN!!!!!!” Seruku terkejut.

“Itu Seohyun!!” Seru Yuri lalu mendekat ke arahku.

Tanpa menyahuti ucapan Yuri, aku mengikuti sosok itu, mengejarnya untuk menyelamatkan Changmin. Dapat kudengar Changmin yang berteriak – teriak ketakutan. Ia juga memanggil – manggil namaku. Namun sosok itu tidak berhenti bergerak dan terus membawa Changmin menjauh.

“Arkh!”

Aku hampir saja terjatuh saat tersandung batu berukuran cukup besar yang tergelatak di atas rerumputan basah. Jempol kaki kananku terasa nyeri, dan itu memperlambat gerakanku. Hingga akhirnya, aku tidak lagi menangkap sosok itu maupun Changmin. Aku menyumpah, mengedarkan pandanganku ke sekitar, dan aku menangkap sosok Yuri berlari – lari menghampiriku.

“Kau yakin tadi itu Seohyun?” Tanyaku setelah Yuri sudah cukup dekat.

“Tampaknya seperti itu”

“Mengapa ia menangkap Changmin?”

Yuri mengangkat bahunya tanda tidak yakin, “Mungkin untuk makan malam”

“Aiissshhh!!!!!”

Dengan sedikit terseok – seok, aku kembali bergerak cepat sambil mengira – ngira arah perginya Seohyun. Yuri mengikutiku dari belakang hingga akhirnya kami berhenti di tepi danau. Aku menengadah, menatap bulan purnama yang bulat sempurna dan tampak terang benderang. Biasanya aku sangat menikmati bulan purnama, namun kali ini bulan purnama itu membuatku sedikit takut. Karna bulan purnama itu seakan terus mengamatiku.

“KYUHYUUNNN-AAA!!!!!!”

Suara Changmin membuatku terlonjak dan mengalihkan pandanganku. Tidak jauh dari tempatku dan Yuri, aku dapat melihat siluet Changmin dan sosok Seohyun yang tampak sedang bergulat. Akupun bergerak mendekati mereka, dan kudapati jantungku kembali mencelos saat melihat sosok Vernald Seohyun. Seohyun tampak tengah mencekik Changmin dengan sebelah tangannya, dan berusaha untuk menancapkan taringnya di leher Changmin, namun Changmin terus mengelak dan berusaha untuk melepaskan diri dari Seohyun.

Belum sempat aku bergerak, Yuri berlari melewatiku, mencoba untuk memisahkan Seohyun dan Changmin. Ia menarik Changmin agar dapat lepas dari Seohyun, sementara Seohyun mulai meraung marah. Melihat itu, aku pun membantu Yuri untuk melepaskan Changmin dari Seohyun. Hingga akhirnya, kami berhasil melepaskan Changmin.

“Gwanchana?”

Changmin terengah – engah, “Vernald itu…,benar – benar kuat”

Kulayangkan pandanganku pada Seohyun dan Yuri yang kini tengah berhadap – hadapan. Seohyun tampak tengah menilai Yuri, sementara Yuri hanya menatap Seohyun tajam tanpa mengatakan apa – apa. Samar – samar, aku mendengar Yuri berbicara, dan untuk pertama kalinya, aku mendengar sosok Vernald Seohyun berbicara,

“Cho Kyuhyun..” Ucapnya dengan suara yang terdengar bagaikan tercekik, “Membunuh eomma”

Aku tercengang. Merasa terkejut mendengar Seohyun mengatakan bahwa aku telah membunuh ibunya. Tidak, aku tidak membunuh ibunya. Aku melihat bahwa Inna Ahjumma sekarat, tapi aku sendiri tidak benar – benar yakin mengapa ia bisa sekarat.

“Anio, bukan Kyuhyun” Sergah Yuri, “Eomma…”

Belum sempat Yuri menyelesaikan ucapannya, tiba – tiba saja Seohyun menyerang Yuri. Ia bergerak dengan begitu cepat dan mengejutkan hingga Yuri tidak dapat mengelak. Seohyun mendorong Yuri hingga menghantam pohon di belakangnya. Dan saat Yuri telah berada di kondisi yang terdesak dan tidak dapat bergerak, Seohyunpun mulai menghisap darah Yuri.

“SHIT!!” Seru Changmin lalu segera melompat bangun.

Aku berdiri dengan kegok dan kebingungan. Entah kenapa, setiap aku melihat sosok Vernald Seohyun beraksi, pikiranku terasa kosong. Tidak tahu harus bertindak atau mengatakan apa. Segala yang kulihat seakan seperti mimpi, seakan tidak nyata dan hanya suatu kebohongan konyol. Atau mungkin, itulah yang aku harapkan, bahwa sosok Vernald Seohyun tidaklah nyata. Yang nyata hanyalah Seohyunku yang manis dan cantik, sosok manusia Seohyun.

Kulihat Changmin mengambil sebatang kayu berukuran sedang yang tergeletak tidak jauh dari kami. Dan aku merasa dadaku sesak saat Changmin melayangkan kayu di tangannya itu hingga menghantam kepala Seohyun. Kakiku terasa lemas melihatnya, namun aku juga dikejutkan saat melihat bagaimana Seohyun tampak tidak terpengaruh dengan pukulan keras Changmin.

“AIIISSSHHH…,VERNALD SIALAN!!!!!” Seru Changmin kesal lalu melayangkan pukulan kedua.

Masih tidak berefek, Changminpun melayangkan pukulan ketiga dengan lebih keras dan membuatku berseru,

“CHANGMIN HENTIKANN!!!!!”

Namun Changmin tidak mendengarkan dan kembali melayangkan pukulan selanjutnya. Dan kali ini, Seohyun merespond. Kurasakan diriku merinding saat Seohyun melepaskan pegangannya dari Yuri, dan bagaimana Yuri seketika merosot jatuh dengan lemas. Kemudian Seohyun menoleh menampakkan wajahnya yang menyeramkan dan menatap Changmin tajam. Ia menggeram, sementara itu Changmin berlahan – lahan melangkah mundur dengan kayu yang masih digenggamnya erat dengan kedua tangan.

Diriku kembali terpaku. Aku tahu bahwa sesaat lagi Seohyun akan menyerang Changmin. Dan apapun yang Changmin lakukan, ia tidak akan bisa mengalahkan Seohyun. Sosok Vernald Seohyun terlalu kuat dan tidak dapat ditandingi oleh kami yang hanya manusia biasa.

Sedetik kemudian, seperti dugaanku, Seohyun menyergap Changmin bagai kilat. Begitu cepat dan tidak terduga. Changmin terdorong hingga terjerembab dan kepalanya menghantam tanah dengan sangat keras. Lalu dengan mudah Seohyun merebut kayu yang dipegang Changmin dan menaikkannya tinggi – tinggi. Menyiapkan ancang – ancang untuk memukul Changmin dengan keras. Namun belum sempat Seohyun melakukan hal tersebut, aku segera berlari secepat mungkin dan menyambar tangan Seohyun yang memegang kayu dan menahannya.

Kulit Seohyun terasa sangat dingin, lebih dingin dari biasanya. Hingga dinginnya kulit Seohyun terasa menyengatku. Seohyun seketika menoleh sambil berdesis menyeramkan, kemudian ia menghentakkan tangannya hingga peganganku lepas darinya. Aku tersentak kaget, tubuhku oleng dan hampir terjatuh,

BUGK!!!!

Pukulan keras yang dilayangkan Seohyun jatuh tepat di kepala Changmin. Aku tercengang saat darah keluar dari pelipisnya.

BUGK!!!!

Aku berdiri, berusaha untuk menjauhkan Seohyun dari Changmin. Namun sia – sia, lagi – lagi Seohyun dapat menyingkirkanku dengan sangat mudah. Aku menatap Changmin nanar, perasaanku teraduk – aduk melihat kondisi sahabat dan kekasihku saat ini,

“Kyuhyun-a..” Ucap Changmin pelan lalu terbatuk, “Lari” Ujarnya, “Lari”

Tubuhku gemetar, aku kebingungan. Changmin tengah dalam kondisi yang sangat lemah namun ia masih menyuruhku untuk menyelamatkan diri. Mataku panas, belum sempat aku mengatakan sesuatu, Changmin kembali mengulang ucapannya,

“Lari..”

BUGK!!!!

Seohyun memukul tubuh Changmin untuk ketiga kalinya. Dan kusadari Changmin mulai tak sadarkan diri. Aku hendak menghampirinya, namun Seohyun menghalangiku. Bahkan perhatian Seohyun kini tertuju padaku. Aku membalas tatapan matanya, menatap bola mata putihnya yang bergerak – gerak aneh.

“Cho Kyuhyun..” Desisnya.

Tubuhku merinding, tidak kulihat tatapan cinta di matanya. Tidak kulihat tanda – tanda bahwa ia mengingatku sebagai kekasihnya. Dan dalam waktu singkat, aku dapat menyimpulkan bahwa ia akan benar – benar membunuhku. Aku menatap Changmin, melangkah mundur dan mulai berlari.

Aku berlari menjauh, dan tanpa menoleh aku mengetahui bahwa Seohyun mengejarku. Dapat kudengar rerumputan yang diinjak tak jauh di belakangku. Napasku memburu, pandanganku tertuju lurus ke depan, sesekali aku terantuk namun tak berhenti berlari sedikitpun. Pikiranku kosong, kini diriku terfokus akan apa yang ada di hadapanku dan kecepatanku.

BRAK!!

Aku menahan napas saat Seohyun berhasil menggapaiku. Ia memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Ia meraung kencang. Aku berusaha melepaskan diriku, namun sia – sia. Seohyun mencengkram bajuku lalu melemparku keras ke tanah.

Aku menghantam tanah dengan sangat keras, hingga semua napas yang kumiliki seakan terempas keluar dari tubuhku, dan dalam sekejap Seohyun sudah menindihku, beban tubuhnya menekan tubuhku. Selama beberapa saat aku berusaha melepaskan diri, tapi tubuhku tertahan dan kelelahan, sedangkan ia masih terasa sangat kuat. Sebelah tangannya mencengkram erat leherku, sehingga aku sulit bernapas. Kemudian, dia merunduk hingga wajah kami hampir bersentuhan. Napasnya menerapa wajahku, dan entah bagaimana, dalam kondisi Seohyun saat ini, aroma napasnya masih sama seperti saat ia menjadi manusia. Napasnya terasa manis bagaikan bunga – bunga musim semi.

Mata kami bertemu. Aku menatap matanya yang seputih susu tanpa lingkaran hitam ditengahnya. Wajahnya yang mengerikan menyeringai menampakkan taringnya yang runcing. Sosok yang tidak pernah aku bayangkan akan kulihat dalam diri Seohyun.

Jantungku berdetak cepat, bukan karna gugup atau takut. Tapi ada sesuatu yang lain yang membuat diriku merasa semakin tidak nyaman. Aku tidak yakin apa, tapi yang kusadari adalah bahwa hatiku terasa akan berteriak dan meledak melihat kondisi Seohyun sekarang, di jarak sedekat ini.

Aku kembali bertanya dalam hatiku, apakah aku memang tidak ingin meyerahkan darahku dan nyawaku untuknya. Aku tidak yakin, sebagian dalam diriku mengatakan tidak dan bersikeras berkata bahwa aku tidak boleh berkorban untuknya. Ia telah membunuh SooYoung, dan mungkin juga Changmin yang belum kuketahui kondisinya saat ini. Namun jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin mempersembahkan diriku pada Seohyun dengan sukarela. Membiarkannya meminum darahku, agar ia dapat kembali menjadi sosoknya yang sesungguhnya. Agar ia dapat hidup seutuhnya, sebagaimana yang ia inginkan.

Perang batin membuat kepalaku pening. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu apa yang benar – benar aku inginkan. Seohyun membunuh Sooyoung, hingga membuatku marah padanya, namun aku sadar bahwa rasa cintaku padanya masih ada. Seohyun menyerang sahabatku, Changmin, namun aku sadar bahwa aku tetap mencintainya. Seohyun menyerangku, menyiksaku, membunuhku, aku tahu aku akan tetap mencintainya.

Kupejamkan mataku tepat saat Seohyun mendekatkan taringnya ke leherku,

“Hisaplah Seohyun-a..” Bisikku, “Minumlah darahku…” Aku melanjutkan.

“Biarkan darah kita bersatu..,biarkan aku hidup dalam tubuhmu, mengalir dalam nadimu, hiduplah dengan darahku, kekasihku, biarkan kekuatan silver ini menjadi saksi cinta kita..”

Kata – kata itu mengalir begitu saja dari bibirku. Tanpa aku pikirkan terlebih dahulu, tanpa ada paksaan, atau apapun. Namun aku sadar keyakinanku untuk menyerahkan hidupku untuk Seohyun, diiringi oleh rangkaian kata – kata itu.

“Minumlah..” Bisikku lagi.

Mataku masih terpejam, menunggu. Namun hingga waktu terus berjalan, tidak kurasakan darahku yang terhisap keluar. Tidak kurasakn nyeri saat taring – taring tajam menembus kulitku. Yang kurasakan melainkan kuku – kuku tajam yang tadinya menekan lenganku berlahan – lahan melonggar, hingga rasa sakit akibat tusukan dari kuku – kuku tajam jemari Seohyun tidak lagi terasa. Geraman Seohyunpun tidak lagi terdengar. Yang terdengar kini suara napas pelan yang terasa dekat denganku.

Berlahan, aku membuka mataku, dan disaat bersamaan, kudapati gadisku hanya beberapa centi dari diriku. Rambutnya yang hitam dan beraroma mawar menjuntai mengenai wajahku hingga terasa sedikit geli. Wajahnya yang mungil menunjukkan raut kesedihan yang dalam. Aku menatap matanya yang indah, bibir mungilnya..

“Seohyun-a..” Ucapku tidak percaya.

“Oppa..” Sahut Seohyun pelan.

Kini bukan lagi makhluk menyeramkan yang menindih tubuhku, melainkan kekasihku yang cantik yang tampak sangat rapuh. Seohyun memandangku dengan tatapan rasa bersalah yang teramat dalam. Dan sedetik kemudian cairan bening tumpah dari matanya,

“Mianhae, oppa..” Isaknya, “Mianhae..”

Aku mengerjapkan mataku bingung, lalu menggeleng, “Anio, Seohyun-a”

Dengan berlahan, aku mengangkat tubuh Seohyun yang lemah dari tubuhku, mendudukkannya di atas rumput yang basah. Sementara aku duduk di sampingnya, merangkulnya erat,

“Seohyun-a..,palli!!” Seruku, “Minum darahku, waktumu tinggal sedikit!”

“Anio, oppa” Geleng Seohyun, “Anio”

Seohyun memelukku dengan begitu erat, ia terisak sambil bersandar di dadaku, dapat kudengar dirinya membisikkan kata ‘mianhae’ berkali – kali,

“SEOHYUN-A!!!” Seruku lalu melepaskan pelukanku dari Seohyun, “Minum darahku Seohyun, kau harus hidup, ini kesempatan terakhirmu!” Ucapku sambil menggucang pelan tubuh Seohyun.

Namun Seohyun kembali menggeleng, “Mianhae, oppa..” Gumamnya, “Mianhae..”

“Berhenti minta maaf, minum darahku sekarang!”

“Aku tidak bisa!” Tukas Seohyun, “Andwaeyo oppa, saranghaeyo..”

Aku menatap Seohyun, menatap kekasihku yang rapuh dan berurai air mata, menatap kekasihku yang berada di ambang kematian,

“Nado saranghaeyo, Seohyun-a..” Balasku.

“Seohyun-a..,aku mohon” Ucapku lagi, “Minumlah darahku, hiduplah untukku”

“Andwaeyo, oppa” Tolak Seohyun, “Aku tidak bisa hidup tanpa oppa” Ucapnya.

Aku menggeleng, “Aku akan ada di hatimu”

Isakan Seohyun semakin menjadi- jadi, dan kudapati mataku kembali berkaca – kaca,

“Aku ingin hidup dengan oppa” Rengeknya lalu menghambur ke dalam pelukanku.

Aku membalas pelukan Seohyun erat. Aku merasa tidak berguna, tidak dapat melakukan apa – apa. Hanya manusia payah yang bodoh. Seharusnya aku menyerahkan diriku dari awal, seharusnya aku membiarkan Seohyun meminum darahku sejak awal. Kini waktu yang tersisa tinggal sedikit, dan aku tidak tahu bagaimana cara memaksa Seohyun untuk meminum darahku.

“Seohyun-a..,sayangku..,tolong minum darahku” Pintaku lagi.

“Jangan paksa aku oppa..” Tolak Seohyun.

“Mianhaeyo, oppa..” Ucap Seohyun lagi.

“Mianhaeyo, Seohyun..” Balasku, “Mianhae..,mianhae..,tidak bisa melindungimu”

Aku mempererat pelukanku pada Seohyun, menekankan tubuhnya pada tubuhku, berharap pelukan itu dapat menyatukan tubuh kami. Sehingga tidak ada di antara kami yang harus ditinggalkan,

“Saranghaeyo, Seohyun-a..”

“Saranghaeyo, oppa..”

Tidak ada lagi kata yang terucap selain pernyataan cinta dan kata maaf. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain pelukan dan tangisan penyesalan dan takut akan ditinggalkan. Waktu terus berjalan, aku tidak melepaskan pelukanku pada Seohyun sesaatpun. Aku tidak dapat membiarkan yeoja yang sangat kucintai ini pergi dariku,

“Jangan tinggalkan aku, Seohyun-a..” Ucapku lemah.

“Mianhaeyo, oppa..”

“Andwaeyo..,Kajimma!!”

Air mataku akhirnya tumpah, mengalir dan menjadi satu bersama darah dan keringatku. Namun kini aku tidak peduli, tidak ada lagi yang aku pikirikan selain Seohyun. Selain keinginanku untuk terus bersamanya, hidup bersamanya, dan mati bersamanya.

Oh, tuhan..

Kalau kau benar – benar ada,

Kalau kau mendengar kami..

Tolong..,tolong jangan pisahkan kami..

Biarkan kami bersama..

Secercah cahaya putih menyilaukan mataku dan membuatku mendongak. Dan beberapa meter dari tempat kami berada, aku melihat suatu pendaran cahaya berwarna perak yang tampak sangat menyilaukan. Aku menyipitkan mataku, dan disaat bersamaan kurasakan pelukan Seohyun melonggar. Samar – samar kudengar Seohyun berbisik,

“Sudah saatnya..”

Seohyun berdiri di hadapanku, begitu dekat, dan terlihat sangat nyata. Lagi – lagi penyesalan muncul di hatiku, aku baru saja mengirimkan Seohyun ke gerbang ke matian. Seharusnya aku memaksa Seohyun dengan lebih keras agar ia mau meminum darahku, bukannya terus memeluk Seohyun seperti orang bodoh.

Aku menatap setiap inci dari diri Seohyun. Ingin menyimpannya dalam kepalaku. Menjadikannya suatu ingatan yang tidak akan pernah aku lupakan. Keanggunan dan kecantikan Seohyun yang elegan, segala sesuatu yang ada dalam diri Seohyun merupakan kesukaanku. Matanya, tangannya, dan bibirnya yang lembut. Aku bergerak mendekati Seohyun, menciumnya berulang kali, dan seiring setiap ciuman, aku semakin mendekati ciuman terakhir. Menyadari hal itu, membuat dadaku terasa begitu sesak.

Seohyun melangkah mundur, ia hendak berbalik, namun akhirnya kembali melangkah mendekatiku lalu mencium lembut bibirku. Kurasakan air mata Seohyun pindah ke wajahku, aku membalas ciumannya lembut,

“Saranghae..” Bisikku entah untuk keberapa kalinya.

“Saranghae..” Jawab Seohyun, “Terimakasih untuk segalanya” Ia menambahkan.

Kemudian Seohyun melangkah mundur, meninggalkanku yang berdiri mematung tanpa tahu harus melakukan apa. Seohyun melangkah mendekati cahaya perak yang tampak semakin membesar. Pandanganku terus mengawasi Seohyun, dan kurasakan jantungku mencelos kaget saat tiba – tiba Seohyun berlutut.

Cahaya perak itu berlahan – lahan membentuk suatu siluet tubuh seorang wanita. Aku mengernyitkan mataku silau, berlahan – lahan siluet tubuh wanita itu tampak semakin jelas, dan tiba – tiba, sepasang sayap merebak dan membuka lebar di balik punggungnya.

Cahaya perak tadi pun meredup berlahan. Hingga dapat kulihat sesosok wanita bersayap berdiri beberapa langkah di hadapan Seohyun yang masih berlutut tak bergerak bagai terikat. Aku menatap sosok bersayap itu dan mendapati diriku tercengang,

‘Silvara kah?’

Wanita bersayap itu pucat dan dingin serta cantik seperti es. Rambut panjangnya bagai rantai emas dan perak, jatuh dan melebar di kedua sisi wajahnya, berkilau dan tampak kontras dengan bulan yang menggantung di langit yang menjadi latar belakang di atas kepalanya. Wajahnya cantik dan tidak manusiawi, menunduk memandang Seohyun yang masih tak bergerak.

“Seohyun a, saatnya kau kembali anakku” Ucap wanita bersayap itu.

Suara Silvara seperti tangisan, teriakan, dan musik sekaligus. Sehingga sulit untukku mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Silvara bergerak mendekati Seohyun, membuatku ingin mencegahnya dan menyuruhnya menjauh, namun bibirku terasa kaku, begitupula kakiku yang tidak mau bergerak.

Aku hanya dapat diam sambil mengamati, hingga Silvara mengulurkan tangannya, kemudian mengusap pucuk kepala Seohyun lembut,

“Kembalilah pada bulan anak Vernald”

Silvara tersenyum, dan itu adalah senyuman paling mengerikan yang pernah aku lihat. Begitu dingin dan menusuk, hingga menambahkan ketegangan dalam diriku. Dadaku terasa begitu nyeri, begitu sesak, begitu merasa tidak rela, aku menyeret kakiku. Menyeret kakiku untuk segera mendekati Seohyun. Aku berhasil mencapai Seohyun tepat saat kekasihku itu terkulai dan hampir menghantam tanah bila aku tidak menangkapnya.

“SEOHYUN-A!!!!!” Panggilku sambil mendekap tubuhnya erat.

Aku menangis, menangis dengan sangat keras bagaikan anak kecil. Isakanku tidak terhenti, bibirku berulang kali memanggil – manggil nama Seohyun. Namun Seohyun tidak bergerak dalam dekapanku. Ia hanya terkulai lemas seakan seluruh tenaga dalam dirinya telah terkuras.

“Seohyun-a…,Seohyun-a…Seohyun-a…”

-END KYUHYUN POV-

-AUTHOR POV-

Kyuhyun menangis dan terisak, meratapi nasib kekasihnya, meratapi nasibnya. Sementara itu Seohyun yang berada dalam dekapan Kyuhyun merasa tidak berdaya. Ia tidak dapat bergerak, ia tidak mampu berpikir dan berbicara, ia merasa seakan nyawanya ditarik keluar dalam tubuhya dengan berlahan. Ia merasakan sakit yang teramat sangat dalam dirinya. Namun ia tidak dapat menunjukkan reaksi apa – apa untuk menunjukkan kesakitannya tersebut.

Seohyun setengah menutup matanya dan banjir gambar menyiram bagian belakang kelopak matanya. Kyuhyun yang selalu ia pandangi dari jendela kamarnya. Senyuman yang selalu Kyuhyun sunggingkan untuknya. Segala perilaku yang Kyuhyun berikan padanya. Juga sensasi hidup dan kebahagiaan yang menyenangkan setiap dirinya berada di dekat Kyuhyun.

Seohyun tidak pernah menyangka ia akan begitu mencintai Kyuhyun. Cinta yang mengalahkan keinginan terbesarnya untuk hidup sebagai manusia. Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat hidup bahagia tanpa Kyuhyun, karna itu, lebih baik ia yang pergi. Walaupun Kyuhyun dengan rela menyerahka darahnya untuk Seohyun, ia tidak akan pernah bisa meminum darah Kyuhyun. Ia terlalu mencintai Kyuhyun, ia terlalu menyayangi Kyuhyun. Ia ingin Kyuhyun tetap hidup walaupun pada akhirnya Kyuhyun akan mencintai dan hidup bersama dengan wanita lain. Itu tidak masalah, asalkan Kyuhyun akan selalu mengingatnya walau hanya sedikit.

‘Saranghae Kyuhyun oppa…,saranghae…’

‘Walaupun ragaku hilang, cintaku padamu akan selalu ada’

Berlahan – lahan tubuh Seohyun menghilang. Lenyap entah bagaimana. Tangisan Kyuhyun semakin menjadi – jadi, bibirnya terus memanggil nama Seohyun. Walau kini tidak ada lagi Seohyun dalam dekapannya. Kyuhyun mendongak dengan berurai air mata, menyadari bahwa Silvara masih ada di depannya, menatap lurus padanya. Kyuhyun beringsut mendekati Silvara,

“Tolong..,tolonglah Seohyun” Isak Kyuhyun, “Hidupkanlah ia kembali, ambillah aku. Ambil seluruh darahku, tapi tolong biarkan Seohyun hidup. Biarkan ia menjadi manusia sebagaimana yang ia inginkan”

Namun Silvara diam tak bergeming. Ia hanya menatap Kyuhyun dalam, ia tampak sedang menilai manusia di hadapannya itu. Akhirnya Silvara berbicara,

“Cinta tidak pernah berakhir” Ucapnya, “Cinta antara Vernald dan manusia adalah kisah cinta pengorbanan”

Jeda selama beberapa saaat, “Kekuatan Silver tidak pernah berakhir” Ia menambahkan.

Sesaat setelah Silvara mengucapkan kalimat tersebut, cahaya perak kembali bersinar menyilaukan, membuat Kyuhyun melindungi matanya dengan lengan. Namun cahaya perak itu hanya berlangsung selama semenit. Kemudian menyisakan kegelapan dan keheningan.

Hujan kembali turun, menetes membasahi bumi. Membasahi Kyuhyun yang masih duduk terpaku dengan air mata yang tampaknya tidak akan pernah berhenti mengalir. Ia kehilangan orang yang ia cintai. Dan ia tahu, bahwa ia tidak akan menemukan orang yang lebih ia cintai dari Seohyun.

Kyuhyun merasakan ada sesuatu yang aneh di telapak tangannya, ia menunduk dan menatap telapak tangan kanannya, dan mendapati ada sesuatu di sana. Di atas telapak tangannya tergeletak sebuah kalung perak berbandul bulan sabit. Kalung itu tampak bercahaya sesaat kemudian meredup dan kembali tampak normal. Kyuhyun menggenggam erat kalung tersebut, air matanya kembali menetes, kemudian ia memejamkan matanya,

“Seohyun-a…”

-THE END-

-EPLOG-

            Sudah setahun sejak Seohyun pergi. Sudah setahun sejak rasa bersalah dalam diri Kyuhyun terus merayapinya. Dan dalam kurun waktu setahun itu tidak satu benangpun akan kenangannya dengan Seohyun terlupakan. Ia masih mengingat segalanya dengan sangat jelas dan nyata. Kekasihnya yang paling ia cinta dan sayangi. Kekasihya yang bagai malaikat.

Sejak kepergian Seohyun, ia merasa bagaikan mayat hidup. Ia merasa kosong. Ia merasa tidak memiliki semangat ataupun tenaga. Waktu lenggangnya ia habiskan untuk berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit – langit kamar. Orangtuanya membawanya ke rumah sakit bahkan pernah memaksanya untuk datang ke psikiater. Namun Kyuhyun menolak perawatan apapun yang orangtuanya anjurkan. Orangtuanya tidak tahu apa – apa, yang mereka tahu hanyalah kebohongan yang dikarang – karang oleh Changmin.

Yuri membawa Changmin ke rumah sakit setelah kejadian hari itu. Luka yang dialami Changmin cukup serius, namun ia dapat pulih setelah seminggu. Changmin mengarang cerita untuk dilaporkan pada orangtuaku karna tidak ada gunanya menceritakan yang sebenarnya. Mereka pasti akan mengira bahwa kami gila dan memasukkan kami ke rumah sakit jiwa.

Dan setelah itu, semuanya kembali berjalan normal. Atau setidaknya aku berusaha untuk menjalani segalanya dengan normal. Namun bagaimanapun juga bayang – bayang Seohyun selalu menghantuiku. Aku tidak pernah lupa akannya semenitpun. Aku selalu merindukannya. Bahkan terkadang aku menangis karnanya.

Penyesalanku ini tampaknya tidak akan pernah berakhir. Aku tidak dapat hidup tanpa Seohyun. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Setiap hari aku berdoa pada Tuhan agar suatu saat kami dapat kembali bersatu, atau setidaknya waktu dapat kembali diulang dan aku dapat memutar balikkan takdir. Sehingga Seohyun tidak perlu pergi dari dunia ini.

Seohyun..

Lamunanku buyar saat terdengar ketukan dari pintu kamarku. Aku menegakkan tubuhku dan membuka pintu kamar. Kulihat eomma berdiri di sana sambil memandangku khawatir,

“Kyuhyun-a, gwanchanayo?” Tanyanya.

“Gwanchanayo, eomma” Jawabku, “Ada apa?”

“Seseorang datang untuk menemuimu” Jawab eomma.

Aku mengernyit, “Siapa?”

“Eomma tidak tahu” Gelengnya, “Seorang yeoja, ia menunggumu di ruang tamu” Jawab eomma lalu berbalik dan melangkah pergi.

Aku menghela napas, merasa malas untuk menemui siapapun. Namun eomma pasti akan marah bila aku mengabaikan tamu yang datang. Jadi, tanpa memperdulikan penambilanku yang acak – acakan, aku melangkah keluar kamar menuruni tangga, lalu menuju ruang tamu.

Di sofa ruang tamu, duduk seorang yeoja cantik berambut hitam terurai. Yeoja itu menoleh padaku dan menyunggingkan senyum tipis. Sesaat setelah menyadari siapa yeoja itu aku tercengang.

“Annyeong haseyo, Kyuhyun-a..” Sapanya.

“Yuri-ya..” Sahutku bingung.

Yuri kembali tersenyum, “Kau tampak berantakan” Komentarnya.

“Ada apa?” Tanyaku masih terkejut.

Yuri terkekeh, “Bagaimana kabarmu?” Tanya santai.

Dengan kegok aku duduk di sofa di sebrang Yuri dan menjawab, “Seperti katamu, berantakan”

Yuri tersenyum prihatin. Tampak sedikit aneh melihatnya terus tersenyum seperti ini. Mengingat betapa dinginnya ia saat kami terakhir kali bertemu,

“Kenapa tiba – tiba datang?” Tanyaku.

“Tampaknya kau penasaran sekali ya!” Komentar Yuri.

Aku mengangguk dengan canggung, “Benar – benar tidak menyangka kau akan datang”

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” Ucap Yuri.

“Kemana?”

“Kau akan tahu saat kita sampai nanti. Sekarang, apakah kau ingin ikut?”

Aku terdiam sesaat, berpikir. Namun aku benar – benar ingin tahu kemana Yuri akan membawaku, jadi aku mengangguk, “Kau akan memulangkanku lagi kan?”

Yuri tertawa, “Tentu saja!”

Memerlukan waktu tiga jam untuk mencapai tempatku dan Yuri sekarang. Aku tidak tahu persis dimana sebenarnya kami saat ini. Pemandangan pertama yang kulihat saat turun dari mobil adalah langit biru bersih yang memayungi kami, juga padang rumput yang menghampar luas tanpa batas. Tempat ini indah. Sangat indah dan sejuk.

Aku mengikuti langkah Yuri menyusuri jalan setapak dimana kerikil – kerikil kecil berhamburan. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling, menyadari bahwa tidak melihat seorangpun kecuali kami berdua. Diriku mulai diliputi rasa was was, namun belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat sebuah rumah kayu cantik yang cukup besar bersembunyi di balik pohon – pohon tinggi yang rindang.

Kami menuju rumah tersebut, dan entah kenapa dadaku tiba – tiba terasa berdebar – debar. Aku merasakan sesuatu yang tidak dapat aku jelaskan. Suatu perasaan aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Atau mungkin perasaan yang telah terlupakan.

“Kita masuk ke rumah ini?” Tanyaku saat kami telah berada di pintu depan rumah tersebut.

Yuri menoleh ke arahku dan mengangguk, “Nde”

Ia lalu mengeluarkan kunci dari tas kecilnya dan membuka pintu rumah dengan salah satu anak kunci yang dipegangnya. Kemudian kudengar pintu rumah tersebut berderit saat Yuri mendorongnya hingga terbuka. Yuri masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu terbuka untuk membiarkanku masuk. Namun aku terpaku di tempatku, merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

“Masuklah Kyuhyun, tidak apa – apa. Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, dan tidak akan ada yang melakukan hal buruk padamu” Ucap Yuri sambil melongokkan kepalanya dari ambang pintu.

Aku menelan ludah, lalu masih dengan langkah ragu aku masuk ke dalam rumah. Rumah kayu ini gelap, penerangan yang ada hanya berasal dari cahaya matahari sore yang menerobos masuk dari jendela. Aku menatap Yuri yang menyunggingkan senyum sekilas padaku. Lalu ia melangkah meninggalkanku menuju salah satu sisi ruangan. Dapat kudengar langkah kakinya yang ringan di atas lantai kayu, mataku tak lepas darinya, ia tampak meraba – raba dinding, dan sesaat kemudian cahaya lampu rungan yang tiba – tiba menyala menyilaukan mataku.

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku hingga terbiasa dengan cahaya disekelilingku. Rumah kayu ini seperti rumah pada umumnya. Kini kami tengah berada di tempat yang tampak seperti ruang tamu. Sofa cokelat dengan dua bantal yang tampak nyaman di letakkan di tengah ruangan di depan meja kayu yang dilapisi taplak cream bercorak bunga – bunga. Yuri mengajakku untuk lebih masuk ke dalam rumah. Lalu kami menaiki undak – undakan tangga menuju lantai dua.

Diriku diliputi berbagai macam pertanyaan. Kemana sebenarnya kami? Apa yang akan kami lakukan? Aku menatap punggung Yuri, ingin bertanya padanya, namun aku merasa bahwa sebenarnya aku tidak perlu menanyakan hal itu karna kurasa sebentar lagi kami akan tahu.

Kami berdua menyusuri lorong, dimana pintu – pintu tampak berjajar di kanan kiri dinding. Kami terus melangkah hingga mencapai bagian terujung lorong, Yuri berhenti melangkah dan menoleh padaku. Sebelah tangannya menggenggam gagang pintu yang berada di sisi kanan kami, lalu ia berkata,

“Pemakan Vernald keluarga kami” Ucap Yuri membuat jantungku mencelos.

“Pemakaman?”

Yuri mengangguk, “Aku rasa kau pasti ingin mengunjungi Seohyun” Ucapnya.

Jantungku mulai berdetak cepat, aku membayangkan jasad Seohyun yang terbujur kaku dalam peti. Namun sedetik kemudian aku mengingat bahwa saat Silvara mengambil Seohyun, tidak ada jasad yang tersisa. Seohyun hilang begitu saja bagai asap.

“Kalung bulan sabit” Ujar Yuri, “Apakah kau masih ingat?” Tanyanya.

Otakku berputar mengingat kalung berbandul bulan sabit berwarna perak yang entah bagaimana berada di tanganku tepat saat Seohyun menghilang. Aku tidak tahu bagaimana kalung bulan sabit tersebut bisa ada di tanganku. Dan sebelum aku bertanya, Yuri sudah mengambil kalung itu dariku.

Aku menganggguk, “Nde, kalung itu ada di tanganku saat…”

Tenggorokanku tercekat, entah kenapa tidak mampu melanjutkan ucapanku tersebut. Yuri tampaknya mengerti dan berucap,

“Kalung itu semacam symbol, ah, tidak aku menganggap kalung itu sebagai jasad para Vernald” Ujarnya.

Aku tercengang, “Jasad?”

Yuri mengangguk, “Setiap Vernald meninggal, selalu muncul kalung berbandul bulan sabit. Kalung itu adalah satu – satunya yang tersisa dari para Vernald, yang menandakan bahwa mereka pernah hidup”

Setelah mendengar ucapan Yuri tersebut, aku tidak tahu harus menjawab atau melakukan apa. Bayangan kalung itu berputar di kepalaku. Kalung itu merupakan Seohyun, seharusnya aku menyimpannya bersamaku. Tiba – tiba kurasakan mataku panas, namun aku berusaha keras untuk tidak menangis.

“Kyuhyun-a..” Panggil Yuri.

Namun aku tidak menyahut, hanya menatapnya mengisaratka bahwa aku mendengar. Yuri berkata,

“Apakah kau mau masuk dan melihat kalung itu?” Ia menawarkan.

Pandangku beralih pada pintu yang berada di sampingku itu. Yuri telah menggenggam gagang pintunya dan telah membuka kuncinya. Kini ia tinggal menarik gagang pintu itu ke bawah hingga pintunya terbuka. Wajah Seohyun terlintas di benakku, aku dapat mendengar senyumnya, dan akhirnya aku menelan ludah lalu mengangguk.

“Ya” Jawabku.

Yuri tersenyum, ia pun menarik gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Jantungku kembali berdegup tegang, Yuri melangkah masuk diikuti olehku yang melangkah ragu. Pandanganku menyapu ruangan tersebut, mendapati bahwa ruangan itu kosong, hanya terdapat satu tempat tidur kecil, dan tidak ada satupun jendela. Lampu kecil yang menggantung di langit – langit menjadi satu – satunya pencahayaan.

Aku menghampiri Yuri yang telah berlutut di samping tempat tidur dan berdiri di sampingnya. Kulihat Yuri menjulurkan tangannya dan mengambil kalung berbandul bulan sabit yang berada di atas tempat tidur. Kalung itu tampak persis seperti yang kuingat. Samar – samar kudengar Yuri menggumamkan nama Seohyun lalu memandang kalung itu dalam diam.

Pikiranku terasa kosong. Aku bingung, sangat bingung. Pandanganku tertuju lurus pada kalung itu. Kalung itu adalah sisa dari Seohyun. Seohyunku yang tercinta kini hanyalah seuntai kalung. Yuri kembali meletakkan kalung itu di atas tempat tidur. Ia berdiri dan menghadapku,

“Aku tida tahu kenapa eomma selalu meletakkan kalung bulan sabit para Vernal di atas tempat tidur di rumah ini. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan, karna itulah aku melakukan hal yang sama pada Seohyun” Ucap Yuri lalu tersenyum, “Aku akan mengunjungi yang lain, tidak apa – apakan kalau aku tinggan sendiri?” Tanyanya.

Mengunjungi yang lain apakah artinya jasad Vernald yang lain? Tiba – tiba saja aku teringat akan pintu – pintu yang aku lewati sebelum mencapai pintu ruangan ini. Ada berapakah Vernald yang ada di sini? Ada berapakah pasangan yang memiliki nasib buruk sepertiku dan Seohyun.

“Nde” Aku mengangguk canggung.

Yuri kembali tersenyum ia menepuk sebelah pundakku sekilas dengan lembut lalu melangkah keluar kamar meninggalkanku sendiri. Aku terpaku bingung selama beberapa saat. Aku hanya memandang kalung bulan sabit itu dalam diam. Lalu akupun berlutut di samping tempat tidur seperti yang Yuri lakukan tadi. Dengan sedikit gemetar, aku menjulurkan tanganku, menggenggam kalung itu.

Kalung itu terasa dingin dan menggigit kulitku, memberikan sensasi yang sama saat aku menyentuh kulit Seohyun. Akan tetapi kulit seohyun terasa lembut, tidak seperti kalung ini yang keras. Rasa rindu kembali menggerogotiku, menimbulkan rasa sesak di dadaku.

“Seohyun-a..”

Bibirku dengan lemah mengucapkan namanya. Namun aku tahu hal itu tidak akan memunculkan Seohyun di hadapanku. Seohyun tidak akan kembali padaku, tidak akan dapat lagi berada di sisiku. Dadaku semakin sesak, aku merasa sulit bernapas, genggamanku pada kalung itu semakin menguat.

Semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah berlalu, tidak ada lagi yang dapat diulang. Tidak ada lagi yang dapat diubah. Semuanya terlah berakhir. Cairan bening berlahan mengalir dari mataku. Kubuka genggamanku dan menatap kalung itu.

“Saranghaeyo Seohyun-a..”

Segalanya memang telah berakhir. Namun aku tahu cintaku pada Seohyun tidak akan pernah berakhir, aku akan terus mencintainya, dan tidak akan pernah bisa berhenti. Ia adalah bagian dariku yang telah menghilang dan tidak akan dapat kembali lagi. Tapi aku akan selalu setia mencintainya, walau itu berarti membunuh diriku sendiri pelan – pelan.

“Saranghaeyo, Seohyun-a…”

Aku meletakkan kalung itu kembali dengan lembut. Namun aku belum bangkit dan masih terus menatap kalung tersebut. Lalu entah atas dorongan apa, aku menggigit jempol kananku dengan sangat keras hingga berdarah. Kemudian aku kembali meraih kalung itu, dan berlahan – lahan mengoleskan darah dari jempolku pada bandul bulan sabit tersebut.

Kini bandul bulan sabit itu ternoda oleh darahku. Cairan merah yang katanya mengandung kekuatan silver untuk merubah seorang vernald menjadi manusia seutuhnya. Namun darahku itu tampak normal, tidak berkilau, atau menunjukkan sesuatu yang special. Mungkin Seohyun salah, mungkin bukan aku Silvernya. Silver tidak mungkin berbuat bodoh sepertiku.

“Persembahan terakhirku” Bisikku.

Ya, hanya setitik darah itu yang bisa aku persembahkan untuk Seohyun. Sebagai permintaan maafku yang aku tahu tidak cukup. Setitik darah yang tidak akan dapat menghidupkan Seohyun kembali.

Aku bangkit berdiri, mengusap air mata yang mengalir di pipiku. Untuk terakhir kalinya aku menatap kalung tersebut, menatap bandul bulan sabitnya yang ternoda oleh darahku.

Seohyun-a….,saranghaeyo…,aku bersungguh – sungguh, aku benar – benar mencintaimu. Tindakan bodoh yang kulakukan dulu, yang membuatmu terbunuh, jeongmal mianhaeyo. Aku mencintaimu Seohyun-a…,saranghae..,saranghae..,aku tidak akan pernah melupakanmu, aku akan terus mencintaimu..

Manusia bodoh yang kini akan hidup dengan penyesalan, itulah aku. Dengan perasaan kosong, aku berbalik melangkah menuju pintu untuk keluar. Untuk kembali menghadap dunia, untuk hidup dalam kekosongan.

Aku telah berada tepat di depan pintu saat aku kembali menoleh dengan putus asa. Dan aku mengernyit saat kulihat setitik cahaya tampak bersinar di atas tempat tidur dimana kalung bulan sabit itu berada.

Cahaya itu semakin membesar dan menyebar, bersinar terang dengan gemerlap. Cahayanya menyilaukan mataku hingga aku harus menutup mata. Jantungku berdegup kencang, kebingungan menjalariku, dan saat cahaya itu berlahan – lahan meredup, aku membuka mataku.

Dadaku kembali terasa sesak, aku membeku, dan terpaku seperti orang bodoh. Di tepi tempat tidur, kulihat seorang yeoja dengan dress semata kaki duduk dengan tenang. Rambut hitamnya tergerai membingkai wajah cantik yeoja tersebut. Mata cokelatnya menatapku.

Dunia seakan berhenti berputar, waktu seakan berhenti berdetik. Aku tidak dapat mendengar apa – apa, aku seperti berada dalam mimpi. Kepalaku terasa pusing, pandanganku memburam,

“Kyuhyun oppa…”

Panggilan itu menyadarkanku kembali, aku mengerjap – ngerjapkan mataku, dan yeoja itu masih ada di sana. Kini ia bangkit dari duduknya, dan melangkah berlahan ke arahku,

“Kyuhyun oppa…”

Ia kembali memanggilku. Ia menyebut namaku. Langkahku bergetar saat aku menghampiri yeoja itu. Aku takut bila tiba – tiba aku terbangun dari mimpi dan menyadari semua ini tidak nyata. Namun Tuhan, bila ini memanglah mimpi, biarkanlah aku berada di mimpi ini selamanya, jangan bangunkan aku,

“Seohyun-a..” Bisikku.

“Oppa..” Sahut Seohyun dengan suara serak.

Dadaku membuncah, aku berlari menghampiri Seohyun, dan menariknya ke dalam pelukanku. Aku memeluknya erat, meyakinkan diriku bahwa ini nyata. Aku memejamkan mataku, terus memeluk Seohyun dengan erat. Disaat itupula aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan saat aku memeluk Seohyun dulu. Aku dapat merasakan detak jantungnya. Detak jantungnya yang halus dan beriringan dengan detak jantungku.

Dan tiba – tiba aku mendengar suatu suara yang entah berasal darimana,

“Cinta tidak pernah berakhir”

“Cinta antara Vernald dan manusia adalah kisah cinta pengorbanan”

“Kekuatan Silver tidak pernah berakhir”

-END-

GOSH!!! FINALLY IT’S END. DAEBAK!!!!! 18 CHAP + EPILOG AKHIRNYA MY SILVER TAMAT!!!!!

Kekekeke~ kenapa aku jadi heboh sendiri??? Kekeke~ My Silver udah hampir setahun dan akhirnya tamat. Happy Ending^^

Awalnya aku baru mau publish epilognya besok atau lusa, cuma aku takut dimakan readers karna sad ending, hehehe…,jadi sekalian aja deh, kekeke~

Huwwwwaaaaaaaa……………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

????????

Reader tercinta tersayang gimana pendapatnya? Aigo, sumpah aku takut banget pada nggak suka sama endingnya. Jeongmal mianhaeyo kalau mengecewakan *bow* Ugh, tegang!!! >.<

Huuufffftttt…,ok, berharap banget reader menyukai endingnya. Hmmm…,hufffttt…..,terima kasih banyak banget buat semuanya yang udah baca My Silver sampe tamat. Bener – bener terima kasih. SARANGHAEYO!!!!!!!

Terima kasih lagi bagi yang udah meninggalkan comment, ngasih dukungan, saran, kritik, pujian, semuanya terima kasih!!!! Huwaaaaa…,GLADIS CINTA KALIAN!!!!! :* :* :*

Aku bingung mau ngomong apa….

JEONGMAL GOMAWOYO…

Oya, aku bikin thanks to nih, kekeke~ Mianhae kalau ada yang ketinggalan namanya atau ada yang double, bagi yang ketinggalan bisa lapor, nanti Gladis cantumin^^ Dan bagi silent reader namanya nggak ada, bukannya aku nggak mau cantumin, tapi karna nama kalian tidak pernah keliatan, walau begitu siders saranghae :* kekeke~

JEONGMAL GOMAWOYO!!!!! SARANGHAEYO!!!!!!!!

THANKS TO

First of all the one I love the most : Yunaloveshi 😀 *ppoppo* kekeke~

Disa Hyunnie, TaelingKim, ER KYU, yankyu, Nilam, KyuSeoJjang, anonym, icelfishy wife, Refantie, Mizuhashi Asuka, AiuELFishy, gea seokyu, agnantha, Indah seokyu lover forever, GeGeGeMa, KyuRa, dierasun, Seokyujjang, Nisyoo ♥ ♥, song jemi, yooniquelf, AsnahPS, DiahSoneelf, Park Sun Hi SonElf, seororoevilkyu, jewelsparkyu, Яσssα♥dicтαтσR, esyasyi, dithaseokyu, Dhini, akkeanayu, ameony, Lee Je Kyung, 명고 자, ayu, CiputSard, cakyuca, fra-fra, widya afriyanti, ayupoenyaff, amelsooyoungster, dewikim_hyuk, +, Ecca_wirez, flaming, snsdme, Iyank AlmightyMaknae, Indah_ELF, Ninis Haniifah (@nisninisch), karinafacts, kira, Rozhie SparkyuWires SonElfalways

geakyu46, hana, KyuSeoJjang, ayupoenyaff, ishma, song jemi, febrynovi, zahara, Lee Cheong Sha, zalko, Disa_maknaecouple, ica, ebbeehh, Kim Young Hyun, vivi8888556, kira, Lila Tyas, Rozhie SparkyuWires SonElfalways

semma, esyasyi, nininin , babybo, zalfaa, Tahnian Eka Khumairoh, lizzyseokyulovers, fith9, park soo hyun, AyooSeungHoImKim, Safira_seokyu_SONELF, YulChunSeoKyuYoonHae,

Kyuteukminry, seokyu, sparkyu143, atulhyuk, fanfickpopers, bella, ryeonaw, LeeEunHye, AwaKyuSeororo,

AyoonaImKim, Park seung tae, zumishinigami, miraseobykyuby, nyai, DiahYoonhaeSeokyuTaeteukSifanyhaelfishy, dwiizard11, va icelfhisy wife, tunkororo, Ai, Angelia Maharani Putri Lean,

kyunieta, Cho eunhye, elfishy, captainxian, vidiakyuminhaelf, chojoohyuunniieeseokyubi, Monica Pumpkinerstaeminie, Devigamekyu, octhaviee, Nciz Krisna, Cheonsa, Snowers Jung, naruhunter,

Yaco, SaskiaSone, Wires91, danti, Firda_cloud, nishu, SeoKyu4ever, funsoshifanfiction, Lea K Monica, cemoymoy, Ela Bumssoeulsangeun, Nciz Krisna, kyunieta seokyu, sugen, csj2803, vivi_Huang, Dhini_sonelf, widiya,

jung!, laurararas, dhikyu, hana, DithaSK, Choi Mi Hyun, kay111, artemisgoddess, chaza, DelaSunSunCoupleLovers

Ecka nurhikmah, minji choi, #seokyunow#, nissakim, witaemaknae, anchovygirl96, Seokyu Taeteuk Sunsun, VigkhieSonElf, Riska, yoorin matsu, kyunieta seokyu, Kyura, Kim ji hyo, oloolaakay, Shin_ChaeRin, kyuwon, kyunieta seokyu, driceny, illaaa, 千佳ダマヤンティー, sarnikelodeon, SungHaJin, Love SeoKyu, SONE, YulChunSeoKyuYoonHae,

Sarnikelodeon, Seo, inna purbawati, kenianurasha, indirajepe, Nia SonELF Sparkyu

Kunci, driceny, Ipik Daniel’s, choi hyunra, byeol_iamvipelf, ohmoni, shinjoo94, deiyo, Widita Larasati, kim hyora, Lila Fula, ShinHaChan,

Yasitagaemkiyuuu, seobaby379, ThaSeoKyuShipper, Angelia Maharani, driceny, deiismyday,

nissa kim -> nissa odo, St Qurratul Aini, Choi Mi Hyun!~, gamesuur, YeHyunn, Seokyu ever11, seroro, ryeonaya, Haesica_Seokyu, rahma minho, SeoKyuMin, E_sparkyu, superelf13, mirandalovenna, yasita, joohyun, seokyuhaesica, nizah, seokyu andata, ann_nisa, Devita, nitSEOKYU13, Iiani, haha, nath, Goetary

gamesuur, YeHyunn, loebizloebiz, ryeonaya, Priskila, ShinHaChan, missfishyjazz, Ajeng SeoKyu Wires

rinn, Mayleen, damayantialfina, Longgomita, yeon ta, Rain Ailee

han_ka_tya, Aiiu Uue, kolif_teukie teukie, mimipyros, Lynd_Lynd, Voechi, Fenhyi GaemKyu, Feriana Lovp’evilkyu, Nike

Karina, nuri, KyuSeoKyu, nath

missfishyjazz, kim sun ra / sundari_cuncun, deechan, Park Min Mi, jin jihye, aick, NaraKim, desstti, puwakantiw, Lee Soo Yoo on, Ajeng, deiismyday, NayNaye, heemeoww, nitSEOKYU13, YoonExoticsYul, mutia, dasarkyuevil, Mayleen, tania, vertigo, YoonColonel, sie unyu dari planet MARS, shinjoo94, nadia, Roselline 14, say n’tha, Ajeng SeoKyu Wires, Felisa, citraazmihumaira, desrasya, mayang, fia, cocozico, Camry, sumdari, Gusti Ayu Widiasih (@SinDee40786), cicittt, Felisa, Elfseft, Cho_ShinRi 조 신의 리, veets, fa, indah (@nurikaindahsari), KevinRa, ramadhan, deiyo, alice, Puwakanti W. Gomez, saranghaeyochoimkim, dhirasparkyu, yeoja, Chinchi, sunghajin98, SooJin_8918, sunchunhyank, Orange, marsyaaaah, Ishma, charliesantz, namsoyun, karinafacts, kay111, orihimeindi, titanickyu, Fania Salsabila, kimlina, karinafacts, aisha, aglisdwininta, D SparKyu, CHO’s_2203, zahra114, Camry, aquarlf, ainayyah aulida (@renZanGel_elf), yeppababy~, lee hinsae, SooyoungsterSparkyu||WIRES, Nandaboing, Elsya_JungMi, kyukyu, KyuChi203, hyun min,,,,,,,  sonelffanfiction, evellyn, sungkyulin, hanrara, Kyuhee203, linaayunnandala, SooJin_8918, philyhae, YuRin Kim, Kyu Evil Maknae, chaca, evilmaknaewife, Yoon Hee Ra, KyuChi203.

Advertisements

6 thoughts on “My Silver Chap.18 [END]

  1. baca endingnya bikin deg degan tp bagus ko aku suka endingnya…. daebaakk 😀
    tp masih penasaran wktu seohyun meluk kyuhyun seohyun jd manusia atau gimna?

  2. baca endingnya bikin deg degan mulu tp bagus ko aku suka endingnya…. daebaakk 😀
    tp masih penasaran wktu seohyun meluk kyuhyun seohyun jd manusia atau gimna?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s