The Last Paper Crane For You

Title    : The Last Paper Crane For You
Author   : GladizCass a.k.a Kim SuJin
Rating   : Semua umur, bebas..
Length : Oneshoot
Genre  : Romance, Family
Cast     : Juniel
Other Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon

– JUNIEL POV –
– 2 November 2011 –
Siwon oppa menoleh dan tersenyum saat menyadari kedatanganku. Aku melangkah mendekatinya dan berdiri di hadapannya. Kepalaku tertunduk, hingga kudengar Siwon oppa bertanya,
“Ada apa Juniel?”
Aku menghela napas pelan, mengangkat kepala dan menatap Siwon oppa. Lalu dengan berlahan aku menyodorkan origami burung bangau yang sedari tadi kusembunyikan di balik punggungku.
“Igeo mwoya?” Tanya Siwon oppa lagi sambil menerima origami burung bangau yang kusodorkan.
Senyum terulas di bibirku, lalu aku mulai membuat suatu isyarat dengan tanganku sementara Siwon oppa memperhatikan gerakan tanganku,
“Ini untuk oppa?” Sahutnya menandakan ia mengerti apa yang kukatakan.
Aku mengangguk dan kembali menyampaikan isyarat dengan gerakan tanganku,
“Ini origami burung bangau yang pertama kali kau buat?” Sahut Siwon oppa lagi. Ia tampak mengamati origami burung bangau berwarna ungu yang ada di tangannya, “Cantik sekali” Komentarnya, “Jeongmal gomawoyo, Juniel”
–    23 Desember 2011 –
Aku menatap origami burung bangau yang baru saja kubuat. Aku membuatnya dari ketas origami berwarna hijau muda. Ini adalah burung bangau ke 482 yang aku buat. Dan aku akan memberikannya kepada Siwon oppa malam ini, bersama dengan tujuh origami burung bangau lainnya.
Senyumku kembali merekah saat aku mengingat bagaimana ekspresi Siwon oppa setiap ia menerima origami burung bangau dariku. Siwon oppa akan tersenyum, ia akan terlihat sangat senang, dan berkata bahwa origami buatanku sangat cantik. Ia juga akan berterima kasih padaku.
Pintu kamarku terbuka, aku menoleh, dan mendapati Tiffany eonni melangkah masuk ke dalam kamarku,
“Apakah kau membuat origami lagi?” Tanyanya yang direspond dengan anggukanku.
Tiffany eonni duduk di tepi tempat tidurku dan berkata, “Kau selalu membuat origami untuk Siwon oppa” Ucapnya sambil mengerucutkan bibir, “Juniel tidak pernah membuat satupun untuk eonni” Lanjutnya.
Aku terkekeh, lalu meraih selembar kertas origami berwarna pink dan mulai melipatnya hingga membentuk burung bangau. Setelah itu aku menyodorkannya pada Tiffany eonni, sambil menyiaratkan perkataanku dengan gerakan tangan.
“Burung bangau pertama untuk eonni?” Sahut Tiffany eonni senang setelah menerima origami burung bangau pemberianku.
“Apakah aku akan mendapat lebih banyak lagi?” Tanyanya bersemangat.
Aku hanya menanggapi dengan senyum kecil. Dan sesaat kemudian eomma melangkah masuk ke dalam kamar dan menghampiri kami berdua,
“Apakah kalian sedang membuat origami?” Tanya eomma lalu mengecup kening Tiffany eonni sekilas dan ganti mencium keningku.
“Aku tidak bisa membuat origami” Jawab Tiffany eonni, “Juniel yang membuatnya. Lihat aku diberi satu!” Lanjutnya sambil menunjukkan origami yang kubuat.
“Origami buatanmu sangat cantik, Juniel” Puji eomma, “Buatlah yang banyak dan origami burung bangau ini akan menjadi hiasan yang cantik”
Aku mengangguk kecil, dan eomma pun mengajak Tiffany eonni untuk keluar kamarku. Ia berkata bahwa ada sesuatu yang ingin eomma bicarakan dengan Tiffany eonni. Aku tidak terlalu peduli dan membiarkan eomma dan Tiffany eonni keluar kamar sementara akau kembali sibuk dengan origami – origamiku.
Pikiranku terus berkelena mengingat masa laluku sementara tanganku terus melipat kertas origami di hadapanku. Dulu, aku tinggal di panti asuhan. Hingga akhirnya Tiffany eonni dan eomma mengadopsiku. Empat tahun lalu, saat aku masih 14 tahun. Aku ingat saat Tiffany eonni menghampiriku yang tengah duduk diam di tepi tempat tidur dengan kepala tertunduk.
Ia mengajakku berbicara, namun aku diam tidak menanggapi. Hingga akhirnya salah satu petugas panti asuhan memberitahu Tiffany eonni bahwa aku bisu. Aku juga masih ingat bagaimana tatapan Tiffany eonni saat mengetahui bahwa aku bisu. Ia bertanya apakah aku dapat menggunakan bahasa isyarat. Dan aku hanya menjawab dengan anggukan singkat.
Tiffany eonni mengucapkan beberapa hal namun aku tetap tidak menanggapi. Hingga akhirnya Tiffany eonni pergi. Dan dua jam kemudian, salah satu penjaga panti asuhan memberitahuku bahwa Tiffany eonni dan eomma akan mengadopsiku. Benar saja, esok harinya, mereka datang menjemputku.
Aku mengenal Siwon oppa beberapa bulan setelahnya. Siwon oppa adalah lelaki tampan yang baik hati dan sering berkunjung ke rumah kami. Eomma berkata, Siwon oppa adalah anak dari sahabat eomma. Dan sejak appa meninggal satu tahun lalu, Siwon oppa sering berkunjung ke rumah untuk sekedar mengobrol atau makan bersama.
Siwon oppa selalu baik padaku, ia dapat membuatku tersenyum dan tertawa karna perkataannya. Ya, aku bisa tertawa, walau dengan cara yang berbeda dari orang normal lainnya. Siwon oppa juga sering memberiku cokelat atau hadiah lainnya. Aku benar – benar menyukai Siwon oppa. Ia adalah lelaki pertama yang dapat menyentuh hatiku. Aku menyukai perilakunya, cara bicaranya, dan juga senyumnya. Semua hal yang ada pada Siwon oppa adalah kesukaanku.
Suatu hari, secara tidak sengaja, aku menemukan suatu mitos tentang origami burung bangau. Mitos itu mengatakan bila kita membuat 1000 origami burung bangau, maka satu permintaan kita akan dikabulkan. Walau terdengar mustahil dan melelahkan karna hanya satu permintaan setelah membuat 1000, aku tetap tertarik dan memutuskan untuk belajar membuat origami burung bangau tersebut.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku berhasil membuat satu origami burung bangau berwarna ungu. Akupun memberikan origami burung bangau pertamaku itu pada Siwon oppa. Dan aku memutuskan untuk memberikan origami burung bangau keduaku pada Siwon oppa, juga yang ketiga, keempat, kelima, keenam dan seterusnya hingga mencapai seribu. Sehingga saat aku berhasil membuat 1000 origami untuk Siwon oppa, satu permintaannya dapat terwujud. Dan aku dapat membuat Siwon oppa bahagia..
-04 Januari 2012-
Origami yang kuberikan untuk Siwon oppa sudah mencapai angka 606. Sekarang aku semakin bersemangat membuatnya, tinggal 394 lagi.
“Wah, kalau tidak salah ini origami yang ke 606 kan?” Tanya Siwon oppa yang disambut dengan anggukan bersemangatku.
“Kau benar – benar hebat!” Puji Siwon oppa sambil mengacak rambutku lembut, “Apakah kau akan membuatkan oppa 1000 origami burung bangau?” Tanyanya.
Aku kembali mengangguk dan bekata, ‘Ya, aku akan membuat 1000 origami burung bangau untuk oppa’
Siwon oppa tersenyum dan berhasil membuatku tersipu, “Jeongmal gomawoyo, Juniel. Oppa benar – benar beruntung bisa mendapat 1000 origami darimu” Ucapnya membuatku tersenyum senang.
“Oppa berjanji akan menyimpan semua origami ini dengan baik” Ujarnya.
Senyumku semakin lebar, dan akupun menyodorkon jari kelingku pada Siwon oppa, ‘Janji?’
Siwon oppa mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku tanpa ragu, “Janji” Sahutnya.
-19 Januari 2012-
Siwon oppa dan Tiffany eonni belakangan ini sering pergi bersama. Dalam hati aku bertanya – tanya apakah mereka berkencan atau bagaimana? Tapi bila mereka berkencan, pasti Tiffany eonni memberi tahuku. Hari ini mereka berdua pergi lagi dan berkata bahwa ada suatu hal yang perlu mereka urus. Sebenarnya aku ingin bertanya apa yang mereka urus, namun aku tidak mau dikira sebagai anak yang suka ikut campur urusan orang, sehingga aku hanya mengangguk dan membiarkan mereka pergi.
Lagipula siapa aku tidak membiarkan mereka pergi bersama? Tiffany eonni dan Siwon oppa sudah berteman sejak kecil, pergi bersama pastilah hal biasa bagi mereka. Aku berbaring di karpet tebal di ruang tengah sambil memandang langit – langit. Pasti akan cantik sekali bila langit – langit rumah ini dihiasi oleh origami – origami burung bangau yang berwarna – warni. Origami burung bangau itu akan tampak seperti berterbangan.
Senyumku merekah tanpa kusadari, dan akupun mulai tenggelam dalam khayalan. Betapa cantiknya bila 1000 origami yang kubuat akan menjadi hiasan pernikahanku dengan Siwon oppa kelak. Aku terkekeh, merasa geli dengan khayalanku sendiri. Aku benar – benar pengkhayal bodoh. Namun bila khayalanku itu benar – benar terwujud, maka itu akan menjadi hal yang sangat luar biasa.
1000 origami burung bangau..
yang berterbangan di pernikahanku..
pernikahanku dengan Siwon oppa..
-02 Februari 2012-
‘877 origami burung bangau’ Ucapku lalu menyerahkan kotak biru sedang berisi 48 origami burung bangau.
Siwon oppa tersenyum senang dan menerima kotak biru tersebut, “Tinggal berapa lagi? Mmmm..123..,waahhhh…” Siwon oppa tampak begitu takjub saat membuka kotak biru tersebut, “Cantik sekali” Pujinya.
Siwon oppa menatapku dengan senyumannya yang sangat kusuka, “Jeongmal gomawoyo, Juniel”
Aku mengangguk sambil balas tersenyum pada Siwon oppa. Senyum Siwon oppa benar – benar manis,
“Juniel, sebagai rasa terima kasihku, bagaimana kalau kita jalan – jalan? Kau tidak ada acara akan?”
Aku tercenung, jalan – jalan dengan Siwon oppa?
“Bagaimana kau mau atau tidak? Nanti oppa akan mentraktirmu banyak makanan!”
Aku buru – buru mengangguk, ‘Nde, aku mau oppa!’
“Kalau begitu, cepat pamit pada ahjumma!” Ujar Siwon oppa.
Dan akupun berlari untuk berpamitan pada eomma. Setelah merapikan diriku sebentar, aku dan Siwon oppa pun menaiki mobil bersama – sama. Ini adalah kali pertamanya aku dan Siwon oppa pergi bersama. Hanya berdua..
Seperti mimpi..
–    4 Februari 2012 –
Mungkin saat ini aku tampak seperti orang gila. Terus tersenyum sambil membuat origami burung bangau. Ya, aku memang tidak bisa berhenti tersenyum setiap mengingat apa yang terjadi dua hari lalu, saat aku dan Siwon oppa pergi bersama. Hari itu, aku dan Siwon oppa makan siang bersama, lalu membeli ice cream dan donat. Lalu kami berjalan – jalan di suatu mall di Seoul, dan kami juga bermain ice skating.
Siwon oppa menggenggam tanganku. Ia menggenggam tanganku dengan tangannya yang hangat. Aku benar – benar bahagia, sangat bahagia,
Seperti mimpi..
–    10 Februari 2012 –
Aku sudah menyerahkan 23 origami burung bangau untuk Siwon oppa tadi sore. Artinya sisa 100 origami yang perlu aku buat. Aku menghela napas dan tersenyum, lalu melangkah menuju meja belajar di kamarku, dan meraih secarik kertas origami berwarna merah yang ada di atasnya. Aku baru saja hendak membuat lipatan pertama saat suatu ide muncul di otakku.
Aku menimbang – nimbang selama beberapa saat, lalu akhirnya mengambil pena dan menuliskan sesuatu di kertas origami tersebut. Senyumku kembali merekah, dan aku pun mulai asyik membuat origami – origami burung bangau untuk Siwon oppa.
-18 Februari 2012-
Siwon oppa mengacak lembut rambutku. Ia menatap origami – origami yang baru saja kuberikan padanya,
“Oppa sangat berterimakasih” Ucapnya tulus, “Kau memberikan 1000 origami cantik untuk oppa. Jeongmal gomawoyo” Lanjutnya.
Aku tersenyum, ‘Belum 1000’ aku berucap, ‘Kurang satu lagi’
Siwon oppa mengernyit lalu tertawa, “Berarti oppa masih mendapat satu origami lagi?” Tanyanya.
Aku mengangguk, ‘Dan setelah oppa mendapatkan origami burung bangau ke-1000, oppa dapat mengajukan satu permintaan, dan mungkin permintaan itu akan terwujud’
“Mitos itu sudah pernah oppa dengar” Komentar Siwon oppa, “Dan oppa rasa mitos itu benar” Lanjutnya penuh keyakinan.
“Apakah Juniel tida memiliki permintaan yang ingin dikabulkan? Juniel yang membuat semua ini, seharusnya Juniel yang mengajukan permintaan kan?” Tanyanya.
Aku menggeleng dan tersenyum, ‘Aku membuat semua origami burung bangau ini untuk oppa, agar satu permintaan oppa dapat terwujud’ Ujarku.
“Apakah kau yakin?”
Aku mengangguk, ‘Sangat yakin’
Siwon oppa tersenyum, dan beberapa saat kemudian Siwon oppa memelukku. Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan dari seseorang yang sangat aku sayangi.
Seseorang yang sangat aku cintai…
-20 Februari 2012-
Origami burung bangau ke-1000 harus menjadi yang paling special dan berbeda dari yang sebelumnya kan? Ya, itu harus. Dan untunglah aku mendapat kertas origami yang sangat cocok untuk origami burung bangau ku yang ke-1000. Aku menemukannya secara tidak sengaja saat sedang membeli buku di toko dekat rumahku. Kertas origami yang kudapat itu berwarna perak dan dapat bercahaya di kegelapan. Bukankah sangat hebat? Siwon oppa pasti akan merasa sangat senang.
Aku meraih pena dan mulai menulis di bagian belakang kertas origami berwarna perak itu. Ya, di 100 origami burung bangau terakhir, aku menuliskan pesan – pesan dan harapanku untuk Siwon oppa. Dan di origami ke-1000 ini, aku akan menyatakan perasaanku,
Saranghaeyo Siwon oppa..
Tidak ada kata lain yang dapat kupikirkan selain tiga kata itu. Namun aku rasa, tiga kata itu sudahlah cukup. Aku menghembuskan napas dan mulai melipat kertas tersebut hingga membentuk burung bangau. Senang rasanya bahwa aku berhasil membuat 1000 origami untuk Siwon oppa. Namun aku merasa cukup sedih karna ini adalah origami yang terakhir untuk Siwon oppa. Ah, tidak! Aku dapat terus membuat origami untuk Siwon oppa. Aku bisa membuat lebih banyak origami burung bangau untuk Siwon oppa.
Aku menatap origami burung bangau berwarna perak yang kini telah bertengger manis di hadapanku. Dalam hati aku bertekad, bahwa di saat aku memberikan origami burung bangau ku yang ke-1000 ini, aku juga akan mengatakan pada Siwon oppa bahwa aku mencintainya. Dan walaupun aku tidak dapat menyuarakan perasaanku, aku yakin Siwon oppa dapat mengerti apa yang aku maksud walau hanya melalui isyarat tangan.
Saranghaeyo Siwon oppa..
-23 Februari 2012-
“Masuklah ke kamar Tiffany eonni, ada yang ingin ia beritahukan padamu” Ucap eomma lembut dengan wajah yang tampak berseri – seri.
Aku menatap eomma dengan bingung dan penasaran. Namun tanpa bertanya, aku berbalik dan melangkah menuju kamar Tiffany eonni. Setelah mengetuk pintu kamar Tiffany eonni pelan, aku membuka pintu, dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam, aku melihat Tiffany eonni tengah mematut – matutkan dirinya di depan kaca. Ia mengenakan gaun putih mewah yang sangat cantik. Gaun itu tampak gemerlap dan memanjang hingga menyentuh lantai. Gaun putih itu tampak benar – benar pas ditubuhnya. Hingga membuat Tiffany eonni tampak bagai putri kerajaan.
Tiffany eonni menoleh padaku dan tersenyum cerah,
“Juniel” Ucapnya lalu menghadapkan dirinya padaku.
Dengan sedikit kegok dan kebingungan, aku masuk ke dalam kamar dan mendekati Tiffany eonni,
“Bagaimana?” Tanyanya.
‘Cantik sekali’ Ucapku dengan menggunakan isyarat tangan seperti biasanya.
Senyum Tiffany eonni kembali merekah. Ia menghela napas panjang, kulihat wajahnya tampak berseri – seri. Baru kali ini aku melihat Tiffany eonni begitu bahagia. Sangat bahagia..
Dan tiba – tiba saja, Tiffany eonni memelukku dengan begitu erat. Ia berkata,
“Eonni akan menikah dengan Siwon oppa..”
Deg!
Menikah..
Tiffany eonni dan Siwon oppa,
mereka akan menikah..
“Eonni sengaja merahasiakan ini darimu karna eonni ingin memberikan kejutan” Ucap Tiffany eonni lalu melepaskan pelukannya dan ganti menggenggam kedua tanganku.
“Bukankah ini seperti mimpi?!” Ucapnya, “Eonni serasa akan terbang saat Siwon oppa melamar eonni” Lanjutnya, “Eonni merasa sangat bahagia, sangat sangat sangat bahagia. Dan kebahagian ini terus bertambah setiap harinya”
Ya, kebahagiaan Tiffany eonni tampak begitu jelas saat ini. Tapi mengapa aku tidak menyadari di hari – hari sebelumnya?
Senyum masih menghiasi wajah Tiffany eonni, “Acara pernikahannya tinggal dua hari lagi” Ujarnya, “Dan Siwon oppa berkata akan menjadikan origami – origami yang kau berikan sebagai hiasan di acara pernikahan kami”
Air mataku,
air mataku menetes..
1000 origamiku di pernikahan Tiffany eonni dan Siwon oppa,
Bukan di pernikahanku dan Siwon oppa..
Ya Tuhan..
Mengapa?
“Juniel, apakah kau tidak apa – apa?” Tanya Tiffany eonni yang tampak terkejut.
Aku mengerjap – ngerjapkan mata, mencoba untuk memperjelas pandanganku yang memburam karna air mataku sendiri. Aku membuka mulut, namun menyadari bahwa tidak akan ada suara yang keluar. Aku bisu. Seorang gadis bisu yang bodoh.
“Juniel mengapa kau begitu terharu?” Tanya Tiffany eonni lalu terkekeh, “Kau pasti sangat terkejut kan?!”
Ya, aku terkejut, sangat terkejut…
Kakiku tiba – tiba saja terasa begitu lemas, hingga aku tidak sanggup lagi untuk berdiri dan akhirnya jatuh terduduk di lantai. Kudengar Tiffany eonni menyerukan namaku, namun pikiranku kosong. Dadaku terasa begitu nyeri dan sesak. Tiffany eonni berlutut di hadapanku, bertanya apakah aku baik  – baik saja. Namun air mataku kembali menetes dan aku mulai terisak. Kini, pandanganku tertuju pada gaun putih yang dikenakan Tiffany eonni. Gaun yang seharusnya kukenakan…
Diriku diliputi oleh kekecewaan dan amarah. Masih dengan air mata yang mengalir, aku menggenggam ujung gaun Tiffany eonni. Dan setelah aku memejamkan mata sesaat untuk meredam amarahku namun gagal, aku pun mulai menarik – narik gaun putih yang Tiffany eonni kenakan. Tiffany eonni memekik kaget sementara aku terus menarik – narik gaun pernikahan yang seharusnya tidak boleh ia kenakan. Aku mengoyak – ngoyak gaunnya, berusaha keras untuk menghancurkan gaun tersebut.
“JUNIEL!!!! HENTIKAN!!!!!!” Seru Tiffany eonni panik.
Namun aku terus mengoyak gaunnya tanpa memperdulikan apapun yang dikatakan Tiffany eonni. Akupun menyadari saat Tiffany eonni mulai menangis. Namun aku juga menyadari bahwa Tiffany eonni menangis bukan karna kesedihan yang kurasakan, tapi tangisan sedih karna gaun pernikahannya yang cantik hancur. Gaun pernikahan yang seharusnya tidak boleh ia pakai.
“Mengapa kalian begitu ri..”
Kudengar perkataan eomma terputus, diganti dengan pekikan penuh amarahnya,
“JUNIEL APA YANG KAU LAKUKAN???????!!!!!!!!!!!!”
Langkah cepat eomma terdengar jelas. Lalu kurasakan tangan eomma menarikku lalu mendorongku keras menjauh. Aku terengah, mengerjap – ngerjapkan mataku, lalu menatap eomma yang kini tengah memeluk Tiffany eonni yang terisak.
“APA KAU GILA?! MENGAPA KAU MELAKUAN HAL BODOH SEPERTI ITU??!!!” Pekik eomma penuh dengan amarah.
Aku menatap eomma dan Tiffany eonni bergantian. Dan tanpa menanggapi perkataan eomma, aku bangkit berdiri, dan menghambur keluar kamar.

Kuhempaskan diriku di tempat tidur dan kembali terisak. Namun sesaat kemudian, aku bangkit berdiri untuk melangkah keluar kamar. Tetapi langkahku terhenti saat origami burung bangau berwarna perak yang tergeletak di atas meja belajar tertangkap oleh mataku.
Origami ke 1000…
Aku menghela napas menahan tangis, meraih origami tersebut dan melangkah cepat keluar kamar.
-END JUNIEL POV-
-TIFFANY POV-
Aku memandangi gaun pernikahanku yang tersampir di atas tempat tidur. Aku menghela napas, tidak mungkin lagi aku mengenakan gaun itu di acara pernikahanku nanti. Gaun itu sudah sobek di sana – sini, tidak lagi terlihat indah seperti sebelumnya.
Pintu kamarku terbuka, aku mendapati eomma masuk ke dalam dengan wajah yang tampak cemas,
“Juniel tidak ada di kamarnya” Ucap eomma, “Dan tidak ada pula di ruang – ruangan lain di rumah ini” Ia menambahkan.
Aku mengernyit, “Juniel..” Gumamku.
Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu? Tingkahnya benar – benar aneh. Ia merusak gaunku sambil menangis, dan kini ia menghilang begitu saja. Ada apa dengannya? Apakah ada hal yang salah?
“Tiffany-a..” Panggil eomma lembut.
“Nde?” Sahutku.
“Apakah kau sedang ada masalah dengan Juniel?” Tanya eomma.
Aku terdiam, mencoba mengingat – ngingat apakah ada masalah di antara aku dan Juniel. Namun tampaknya semua baik – baik saja. Kami rukun seperti biasanya, dan hari ini Juniel juga tampak baik seperti hari – hari sebelumnya.
Aku menggeleng pelan, “Sepertinya tidak ada” Jawabku, “Kami baik – baik saja sebelumnya”
Eomma menghela napas singkat, “Kalau begitu ada apa dengan Juniel?” Tanya eomma bingung.
Aku kembali menggeleng, “Entalah, dia…”
Perkataanku terputus saat sesuatu tiba – tiba saja menyergap pikiranku. Ya, Juniel memang baik – baik saja sebelumnya. Namun setelah aku berkata padanya bahwa aku dan Siwon oppa akan menikah, ekspresi wajahnya benar – benar berubah. Aku tercenung, apakah mungkin?
Apakah mungkin bila Juniel..
Juniel membuatkan 1000 origami burung bangau untuk Siwon oppa. Itu bukanlah hal yang biasa. Artinya…
“Eomma, Juniel benar – benar tidak ada di rumah?” Tanyaku.
Eomma menggeleng, “Tidak ada. Eomma sudah mencarinya tapi tampaknya ia pergi”
“Aku…”
“Tiffany-a…,gwancanayo?” Tanya eomma sambil melangkah mendekatiku.
“Aku..,aku akan mencari Juniel dulu” Ucapku lalu menghambur keluar kamar dan meninggalkan rumah.
-END TIFFANY POV-
– JUNIEL POV –
Aku terus berjalan tanpa arah. Terus berjalan walau hujan turun dan mengguyur tubuhku. Aku menyimpan origami burung bangau ke-1000 ku di saku terdalam jaket yang aku kenakan, tersimpan aman agar tidak basah.
Seiring langkahku yang tak henti, air mataku terus tumpah. Di hari hujan yang lebat ini, aku terus menangis. Walau begitu, tidak akan ada yang tahu bahwa aku menangis. Dan aku berterima kasih pada hujan karnanya. Aku dapat menangis tanpa ada yang mengetahui.
Langkahku akhirnya terhenti saat aku menyadari ada suatu hal yang aneh. Air hujan berhenti mengguyur tubuhku. Namun aku yakin benar hujan belum berhenti. Aku mendongak, mendapati payung berwarna kuning cerah bertengger di atas kepalaku. Aku mengernyit lalu menoleh ke samping, melihat seorang namja yang memayungiku dengan payung kuningnya. Namja ini bertubuh cukup tinggi, ia memiliki wajah yang tampak dingin, rambutnya cokelat, dan ia mengenakan kaus berlengan panjang juga celana jeans.
“Kita bisa menggunakan payungnya bersama – sama” Ucap namja tersebut.
Aku terdiam selama beberapa saat, memandang namja itu dengan curiga. Lalu aku menggeleng dan melangkah cepat meninggalkan namja tersebut.
“Ya! Aku tidak ada niat menculik atau berbuat jahat padamu!” Seru namja itu membuatku berhenti melangkah dan menoleh.
Namja itu menatapku lalu menghela napas, ia berlari kecil dan kembali berdiri di sampingku lalu memayungiku,
“Seorang yeoja kecil berjalan sendirian dan kehujanan adalah pemandangan yang sangat menyedihkan” Ucap namja itu, “Aku mengasihanimu dan menawarkan bantuan. Sebaiknya kau menerimanya dengan senang hati” Ia melanjutkan.
Aku menatap namja itu sinis, ingin rasanya aku menjawab perkataannya. Namun, ya, aku bisu. Terkadang, disaat aku sedang diliputi emosi, aku memang sering melupakan kecacatanku ini. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali menggeleng dan melanjutkan langkahku.
“Dasar keras kepala, tidak tahu sopan santun” Gumam namja berambut cokelat itu.
Kulanjutkan langkahku tanpa memperdulikan si namja berambut cokelat. Namun langkahku kembali terhenti saat kepalaku terasa begitu pening. Kepalaku terasa begitu sakit, mungkin karna air hujan yang membasahiku dan aku yang terus menangis. Pandanganku memburam, aku melangkah, dan merasakan tubuhku oleng.
Kukerjap – kerjapkan mataku, namun kurasakan kepalaku semakin terasa sakit. Aku memaksakan diriku untuk melangkah, namun tubuhku kembali oleng, dan akhirnya aku terjatuh dengan pandanganku yang semakin menggelap.

Kepalaku terasa berdenyut – denyut menyakitkan. Tubuhku yang berbaring di sesuatu yang terasa keras membuat tubuhku sedikit nyeri. Aku mengerang, dan berlahan membuka mataku. Semuanya tampak buram dan menyilaukan, aku mengerjap – ngerjapkan mataku selama beberapa saat hingga akhirnya aku dapat melihat dengan cukup jelas.
Dan hal pertama yang kulihat adalah wajah seorang lelaki. Awalnya wajah lelaki itu tampak asing, namun kemudian aku mengingat lelaki tersebut,
Si namja berambut coklat..
Aku terlonjak kaget dan membangkitkan tubuhku. Dengan panik aku menoleh kesana kemari untuk memastikan keberadaanku. Di hadapanku terdapat jalanan beraspal yang sepi, dan aku sendiri berada di halte bus. Dan sedari tadi aku berbaring di kursi halte bus yang keras. Namja berambut cokelat itu berdiri tidak jauh dariku. Aku menatapnya dengan curiga, dan sedikit takut. Apakah ia telah melakukan hal yang jahat padaku?
“Ya, neo gwanchana?!” Tanya namja berambut cokelat itu, “Kenapa kau bangun tiba – tiba begitu? Benar – benar mengagetkan!” Ujarnya.
Aku diam tidak merespond, merasa was was dengan namja berambut cokelat itu. Walau begitu aku merasa sedikit heran, menyadari pandangan si namja berambut cokelat yang menatapku dengan tatapan sedikit khawatir juga lega.
Namja berambut cokelat itu mendudukan dirinya, sementara aku menggeser posisi dudukku menjauh darinya,
“Tadi kau pingsan” Ucap namja berambut cokelat itu, “Sepertinya karna kau terlalu lama kehujanan” Ia melanjutkan, “Seharusnya kau menerima pertolonganku lebih awal” Tambahnya.
Namja berambut cokelat itu menoleh padaku, “Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Tanyanya.
Selama beberapa saat aku hanya diam kebingungan, namun akhirnya aku memutuskan untuk mengangguk singkat,
“Siapa namamu?” Tanyanya.
Ada cara tersendiri untuk orang bisu menyiaratkan suatu nama. Namun menurutku, namja berambut cokelat di hadapanku tidak akan mengerti bahasa isyarat orang bisu. Sehingga akupun hanya diam sambil balas menatapnya.
“Siapa namamu?” Tanyanya lagi.
Hening selama beberapa saat. Tampaknya namja berambut cokelat itu menunggu jawabanku,
“Ya! Aku tanya sekali lagi siapa namamu?!” Tanya namja itu dengan suara lebih keras.
Aku tetap diam.
“Baiklah kalau kau tidak mau aku mengetahui namamu. Jadi, kemana kau akan pergi? Ini sudah terlalu larut, aku bisa mengantarmu” Ucapnya.
Aku terdiam memikirkan kemana aku akan pergi. Aku tidak mau pulang, tapi aku tidak ada tempat lain untuk tinggal.
“Kau mau kemana?”
“Apakah kau ada tempat untuk tinggal?”
Aku menggeleng.
Namja berambut cokelat itu terdiam selama beberapa saat, “Tidak mungkinkan kau ke tempatku?”
Mendengar ucapannya barusan, aku langsung menggeleng keras. Aku memutar otakku cepat, memikirkan tempat yang dapat aku datangi. Namun tidak ada satupun yang terlintas di pikiranku, ah, tunggu..
Panti asuhan..
Aku bangkit berdiri dan mulai melangkah,
“Ya! Kau mau kemana?!” Tanya namja berambut cokelat itu.
Akan tetapi aku hanya menoleh padanya sekilas dan kembali berjalan. Namun, namja berambut cokelat itu meraih pergelangan tanganku dan memaksaku untuk berhenti,
“Aku sudah menolongmu, setidaknya kau harus berterima kasih sebelum pergi” Ucapnya.
Aku berdecak kesal, mengucapkan sesuatu dengan bahasa isyarat. Namun namja itu tampak jelas kebingungan. Dan akupun mulai mencoba untuk mengatakan sesuatu namun yang keluar hanyalah suara – suara tidak jelas.
Namja berambut cokelat itu diam selama beberapa saat, “Kau bisu?” Tanyanya dengan sedikit ragu.
Aku mengangguk.
“Jeongmalyo?”
Kali ini aku mendengus kesal, dan memalingkan wajahku darinya.
“Jadi kau benar – benar bisu?”
Aku menyipitkan mataku padanya dan kembali mendengus.
“Mianhaeyo..,aku tidak tahu” Ucapnya.
Kudapati namja berambut cokelat itu memandangku dengan pandangan yang sama seperti saat pertama kali Tiffany eonni mengetahui bahwa aku bisu. Aku mengalihkan pandanganku dari namja itu, lalu kembali menatapnya dan tersenyum tipis. Kemudian aku berbalik dan kembali berjalan meninggalkan namja tersebut.
Namun baru beberapa meter aku berjalan, aku kembali berhenti, dan menoleh ke belakang. Namja berambut cokelat itu mengikutiku. Kulihat ia tersenyum dan mengangkat bahu,
“Seperti yang aku bilang tadi, ini sudah terlalu larut, aku akan mengantarmu” Ujarnya, “Dan aku berjanji tidak akan melakukan hal yang buruk padamu”
Namja berambut cokelat itu mengacungkan jarinya membentuk huruf v. Sementara itu aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Membiarkan namja berambut cokelat itu mengikutiku dari belakang.
Tes..
Tes..
Hujan..
Air yang jatuh dari langit itu mulai membasahi pucuk kepalaku. Namun hanya sebentar, karna namja berambut cokelat tadi telah berdiri di sampingku, dan memayungiku dengan payung kuningnya.
-END JUNIEL POV-
– SIWON POV –
Tiffany terduduk di tepi terotoar. Ia memeluk lututnya dan membenamkan wajah. Aku menatapnya khawatir dan mendudukan diriku di dekatnya.
“Ottokeh?” Gumam Tiffany yang mulai terisak.
Aku menarik Tiffany ke dalam pelukanku, “Gwanchanayo, kita pasti akan menemukan Juniel” Ucapku berusaha menenangkannya.
“Tapi ini sudah lewat tengah malam. Bagaimana bila ada sesuatu yang terjadi padanya?”
“Anio” Sergahku, “Juniel akan baik – baik saja. Ia anak yang pintar dan kuat”
Tiffany masih menangis sementara aku terus mendekapnya. Jujur, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan Juniel. Aku tidak mengerti mengapa ia meninggalkan rumah dan tidak kunjung kembali.
“Oppa..” Panggil Tiffany pelan dengan suaranya yang terdengar serak.
“Nde?”
“Apakah mungkin….,apakah mungkin Juniel marah karna mengetahui kita akan menikah?”
Aku terdiam selama beberapa saat, “Tapi kenapa?”
Tiffany melepaskan dirinya dari pelukanku dan menatapku sendu, “Mungkin saja ia…”
Perkataan Tiffany terputus, namun aku rasa aku dapat mengetahui apa yang hendak Tiffany katakan. Tiffany tidak ingin mengatakannya, karna ia tidak ingin apa yang ia pikirkan adalah kenyataan. Dan aku sendiri, aku juga tidak ingin hal itu menjadi kenyataan.
“Juniel membuatkan oppa 1000 origami burung bangau” Ucap Tiffany.
Aku kembali terdiam, menatap kosong ke depan, “999” Koreksiku.
-END SIWON POV-
-JUNIEL POV-
Dengan sedikit ragu aku mengetuk pintu panti asuhan yang pernah kutinggali selama empat tahun lebih dan telah kutinggalkan sekitar empat tahun lalu pula. Butuh hampir satu jam hingga akhirnya pintu di buka,
“Nuguseyo?” Tanya GaEun ahjumma yang parasnya masih segar dalam ingatanku.
Aku mengulas senyum sementara ahjumma di hadapanku tersebut memandangku dengan teliti. Dan sesaat kemudian, matanya membulat terkejut,
“Juniel!!” Serunya lalu menarikku ke dalam pelukan.
“Apa yang kau lakukan di hari gelap seperti ini?” Tanya GaEun ahjumma dengan nada bingung dan khawatir.
Lalu pandangannya tertuju pada namja berambut cokelat yang berada tak jauh dari kami berdua,
“Siapa namja itu?” Tanya GaEun ahjumma setelah melepaskan pelukannya.
Aku pun menjelaskan secara singkat bagaimana aku bertemu dengan namja itu. GaEun ahjumma pun mengangguk – ngangguk mengerti,
“Anak muda, apakah kau ingin menginap di sini?” Tawar GaEun ahjumma yang langsung disambut dengan gelengan kepala dari namja berambut cokelat itu.
“Tidak, terimakasih” Tolaknya, “Aku akan langsung pulang sekarang” Pamitnya.
“Apakah kau yakin? Ini sudah sangat malam”
“Ya, tidak apa – apa. Lagipula rumahku tidak terlalu jauh dari sini” Ucapnya.
“Oh, baiklah kalau begitu, hati – hati, dan terimakasih banyak” Ujar GaEun ahjumma.
“Nde, sama – sama” Jawab namja berambut cokelat tersebut.
Pandanganku dan namja itu bertemu. Selama beberapa saat aku merasa kegok, namun akhirnya aku mengulas senyum hangat untuk namja itu. Menyampaikan dalam hati betapa berterimakasihnya aku. Namja berambut cokelat itu mengangguk singkat sambil tersenyum tipis. Lalu ia berbalik dan melangkah pergi.
-END JUNIEL POV-
-TIFFANY POV-
Juniel belum juga kembali. Padahal hari telah berganti dan jam makan siang telah lewat. Aku tidak bisa berhenti memikirkan dimana dan apa yang sedang ia lakukan. Anak itu benar – benar mengkhawatirkanku.
“Anio” Tolak Choi Ahjumma, ibu Siwon Oppa, tegas, “Acara pernikahannya tidak boleh di undur. Aku mengerti semua sedang berada di bawah tekanan karna menghilangnya Juniel. Tapi undangan sudah disebar, dan acara akan dilaksanakan besok. Tidak mungkin semuanya di cancel di waktu yang tiba – tiba seperti ini”
Aku menghela napas, apa yang dikatakan Choi Ahjumma benar. Tapi bagaimana dengan Juniel? Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja kan?
“Kita akan terus mencari Juniel” Ucap Siwon oppa lalu meletakkan tangannya di pundakku lembut, “Tenang saja”
Eomma mendekatiku, aku menyadari ada kekhawatiran yang mendalam di matanya yang berusaha ia sembunyikan,
“Kau harus mencari gaun pernikahan baru” Ucapnya, “Dan eomma juga beberapa orang yang lain akan mencari Juniel. Kau tidak perlu khawatir” Ia menambahkan.
-END TIFFANY POV-
-JUNIEL POV-
Setelah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada GaEun ahjumma, akhirya aku selesai di introgasi. GaEun ahjumma berkata bahwa aku dapat tinggal di sini selama yang aku mau, namun ia juga ingin agar aku menghubungi keluargaku. Aku menghela napas, pasti mereka sangat khawatir sekarang. Rasa bersalah mulai menyelimutiku, namun amarah dan keegoisan masih merajai diriku.
Aku berjalan melintasi koridor panti asuhan menuju ruang tengah. Namun tiba – tiba mataku menangkap sesuatu yang menarik di balik jendela. Aku menyipitkan mataku dan terkekeh. Namja berambut cokelat yang semalam kutemui kini tengah duduk di atas rumput taman di sebrang panti asuhan. Ia menyandarkan punggunya di batang pohon dengan kepala tertunduk. Tampaknya namja berambut cokelat itu tengah tertidur.
Setelah mengambil notes kecil dan sebatang pensil yang ada di samping meja telephone, aku melangkah keluar panti asuhan dan menghampiri namja itu. Namja berambut cokelat itu tidak lagi tertidur, ia menatapku yang menghampirinya dengan ekspresi datar.
Dengan canggung, aku duduk tak jauh di sampingnya, dan menulis cepat di notes kecil yang aku pegang. Lalu aku menunjukkan apa yang aku tulis barusan pada namja berambut cokelat tersebut,
‘Apa yang kau lakukan di sini?’
“Tidak ada” Jawabnya singkat, “Sebenarnya aku berniat untuk tidur siang disini”
Aku pun kembali menulis, ‘Terima kasih yang semalam’
“Ahhh…,akhirnya kau berterimakasih juga padaku” Sahut namja itu membuatku mengerucutkan bibir.
Keheningan yang canggung membuatku ingin segera pergi. Namun sebelum aku beranjak bangun, namja itu berkata,
“Yeoja kecil, kau menangis lagi sebelum tidur?” Tanyanya membuatku sedikit terkejut.
‘Aaahh…,pasti mataku bengkak!’ Gumamku dalam hati.
Aku pun mulai menulis, ‘Aku bukan yeoja kecil’
“Ya, terserahlah..” Sahut namja berambut cokelat itu lalu terkekeh.
“Kenapa aku menangis?” Tanyanya.
Mendengar pertanyaannya aku termenung. Mengapa aku menangis? Tentu saja aku menangis! Siapapun yang mengalami hal yang sama denganku akan menangis. Aku menatap namja di sampingku dengan ragu. Bagaimanapun juga ia orang asing. Aku tidak boleh asal mencerikan kehidupanku begitu saja. Namun saat ini, aku benar – benar ingin bercerita kepada orang lain. Maka, akupun menulis penjelasan singkat mengapa aku menangis,
‘Kakakku menikah dengan seseorang yang aku cintai’
“Jeogmalyo?! Daebak! Mengapa kakakmu menikah dengan orang yang kau cintai? Apakah kakakmu tahu kau mencintai orang itu?”
Aku terdiam selama beberapa saat lalu menggeng.
“Apakah kau berkencan dengan orang itu?”
Aku kembali menggeleng.
“Jadi, kau mencintai tunangan kakakmu?”
Aku menatap namja itu kesal, ‘Aku tidak tahu mereka bertunangan. Aku tidak tahu kapan mereka mulai berkencang. Bahkan aku baru mengetahui mereka akan menikah dua hari sebelum pernikahannya di gelar’
“Daebak!!!” Komentar namja berambut cokelat itu membuatku kesal.
“Kau mengetahuinya kemarin?” Ia bertanya dan disambut dengan anggukan kepalaku.
“Berarti acara pernikahannya besok?”
Aku mengangguk.
“Jadi kau kabur dari rumah? Apakah keluargamu tahu alasanmu kabur dari rumah?”
‘Aku rasa tidak’
Namja berambut cokelat itu mengangguk – anggukan kepala seolah mengerti permasalahanku, “Kapan kau berniat kembali?”
‘Mollayo’
“Kau tidak akan datang ke acara pernikahan besok?”
Selama beberapa saat aku hanya terdiam,
‘Mollayo’
Namja berambut cokelat itu menghembuskan napas, “Kau pasti sangat sedih, tapi kau juga tidak bisa kabur selamanya. Setidaknya lebih baik kembali sendiri daripada ditemukan dan dipaksa kembali”
“Dan bila kau ingin kembali, besok adalah waktu yang tepat” Ia menambahkan.
‘Waeyo?’
“Kau berada diposisi dimana kau memang seharusnya menyembunyikan perasaanmu bila kau ingin keluargamu bahagia. Kau bisa mengarang banyak hal untuk menyembunyikan alasanmu bila kau kembali besok. Tapi bila kau mengulur waktu, aku tidak dapat menjamin kau dapat menyembunyikan alasanmu sebenarnya” Jawabku.
“Atau kau ingin mencegah pernikahan itu berlangsung?” Tanyanya.
Aku terdiam. Berpikir selama beberapa saat. Lalu aku menggelengkan kepala lemah. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Tiffany eonni dan Siwon oppa. Well, aku sudah menghancurkan gaun pernikahan Tiffany eonni, dan aku tidak boleh melakukan lebih dari itu. Walau pada akhirnya, hatikulah yang akan hancur.
Dadaku kembali terasa sesak, dan air mataku menetes,
‘Siwon oppa…’
–    25 Februari 2012 –
Namja berambut cokelat itu meminta alamat rumahku. Ia berkata akan mencari tahu mengenai kapan dan dimana acara pernikahan Tiffany eonni dan Siwon oppa digelar. Dan ia berkata akan mengantarku ke sana. Sebenarnya aku ragu, namun sesuatu dalam diriku mendorongku untuk mempercayai namja berambut cokelat tersebut. Aku tidak tahu mengapa namja berambut cokelat itu melakukan semua ini. Dan aku belum mendapat kesempatan untuk bertanya padanya.
“Ini!”
Namja berambut cokelat itu melemparkan kantung plastik sedang ke arahku. Aku menatapnya bingung, dan ia berkata,
“Acaranya di gedung mewah, kau tidak akan dibiarkan masuk bila berpakaian sesederhana itu” Ucapnya.
Aku mengernyit, dan melihat apa yang ada di dalam kantung plastik tersebut. Dan aku terkejut saat mendapati gaun cantik berwarna hijau muda terlipat rapih di dalamnya,
“Itu punya adikku, kau bisa mengenakannya”
Aku hendak menolak, namun namja berambut cokelat itu tampaknya akan memaksaku. Maka, aku segera berbalik masuk kembali ke panti asuhan dan berganti pakaian.

“Di lantai enam” Ujar namja berambut cokelat itu setelah kami sampai di gedung mewah yang ada di tengah kota Seoul.
Kami ke tempat ini dengan mengandarai motor namja berambut cokelat itu,
“Aku mengantar sampai sini, lainnya kau yang urus” Ucap namja berambut cokelat tersebut.
Aku hendak menulis sesuatu untuk dikatakan, namun namja itu sudah lebih dulu berkata,
“Gaun itu untukmu, kau tampak cantik saat mengenakannya” Ujarnya lalu tersenyum, “Aku pergi dulu dan aku tahu kau sangat berterima kasih padaku. Annyeong yeoja kecil!”
Namja berambut cokelat itupun menyalakan motornya, setelah melambai singkat, ia melesat pergi meninggalkanku.
‘Mengapa pergi begitu saja?’
‘Siapa sebenarnya dia? Aku bahkan belum menanyakan namanya’
‘Manusia aneh…’

Jantungku berdegup semakin cepat saat aku mendekati lokasi pernikahan di gelar. Aku menghembuskan napas berkali – kali untuk menenangkan diri. Tanganku menggenggam erat origami burung bangau perak ku yang ke – 1000.
“Jwiseonghamnida, tolong tunjukan undangan anda” Ucap ahjussi berjas hitam yang berjaga di depan pintu masuk.
Aku berdiri kebingun. Namun tidak lama, karna setelah itu, eomma melihatku, dan memelukku erat.

Putri Tiffany dan Pangeran Siwon, duduk bersebelahan sebagai pasangan yang telah resmi menikah. Mereka tampak sangat tampan dan cantik, pasangan yang benar – benar serasi. Aku menengadah, menatap origami burung bangau yang bergantungan indah menghiasi langit – langit. 999 origami burung bangau berwarna – warni yang berterbangan di pernikahan Tiffany eonni dan Siwon oppa.
Aku menatap origami burung bangau ke – 1000 yang ada di tanganku, dan sesaat kemudian, dadaku kembali terasa sesaak, dan mataku mulai berkaca – kaca. Namun aku segera mengerjap – ngerjapkan mataku,
‘Aku tidak boleh menangis..’
‘Ini adalah hari paling bahagia untuk Tiffany eonni dan Siwon oppa..’
‘Hari bahagia untuk Siwon oppa..’
‘Maka dari itu, aku juga harus bahagia..’
Aku berusaha keras untuk tersenyum dengan setulus mungkin. Memang menyakitkan, tapi lebih baik satu orang yang merasakan sakit. Dengan langkah pelan, aku mendekat ke arah Tiffany eonni dan Siwon oppa. Mereka tampak bahagia, senyuman menghiasi wajah mereka.
Walau begitu, aku menyadari mata Tiffany eonni yang tampak bengkak, menandakan bahwa ia menangis dalam waktu yang cukup lama. Dan juga raut wajah lelah yang samar di wajah Siwon oppa. Apakah semua itu karna aku? Karna kebodohan dan keegoisanku?
Aku kembali menghembuskan napas, dan saat akhirnya Tiffany eonni dan Siwon oppa menyadari kedatanganku. Aku mengulas senyum. Senyuman yang menyakitkan untukku, namun aku harap rasa sakit itu tidaklah terlihat.
‘Jangan menangis. Jeongmal mianhaeyo, eonni..’ Ucapku.
Tiffany eonni memelukku erat, air matanya tumpah, aku tahu itu,
“Kau kemana saja?! Kenapa kau pergi seperti itu?! Eonni mengkhawatirkanmu! Semua mengkhawatirkanmu!” Seru Tiffany eonni.
Saat akhirnya Tiffany eonni melepaskan pelukannya, aku menghapus air matanya lembut,
‘Mianhaeyo eonni, jeongmal mianhaeyo..’
Tiffany eonni menggeleng dan air matanya kembali tumpah, “Mianhaeyo, karna eonni tidak mengerti perasaanmu”
Aku tersenyum, ‘Eonni tidak perlu minta maaf’
“Juniel..”
Kurasakan diriku merinding saat mendengar suara Siwon oppa. Seseorang yang sangat kucintai dan kini tidak mungkin lagi menjadi milikku. Aku menoleh padanya dan tersenyum. Walau begitu, aku tetap menghindari kontak mata dengannya.
‘Mianhaeyo telah membuat kalian semua khawatir. Mianhaeyo telah merepotkan..’
Siwon oppa tersenyum, “Jeongmal gomawoyo sudah datang. Sekarang keindahannya sudah lengkap” Ucap Siwon oppa.
“Seluruh keluarga sudah berkumpul di sini, Tiffany sudah ada di sini, origami burung bangau yang cantik juga telah berkumpul, dan akhirnya Juniel datang. Maka semua yang oppa cintai sudah bersama. Keindahannya sudah lengkap” Ujar Siwon oppa.
Kurasakan mataku kembali berkaca – kaca. Namun aku tetap berusaha keras untuk tidak menangis. Lalu akupun menyodorkan origami burung bangau perak ku pada Siwon oppa,
‘Origami burung bangau ke-1000, satu permintaan untuk oppa. Dan bila terwujud, maka keindahannya akan semakin lengkap’
“Oppa tidak bisa menerimanya, kau yang harus mengajukan permintaan”
Aku menggeleng, ‘Aku butuh 999 origami lagi untuk mendapatkan satu permintaan. Ini untuk oppa’
Siwon oppa tampak ragu, namun akhirnya ia menerima origami burung bangau perak itu dan berkata, “Oppa bisa mengajukan satu permintaan?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu..” Siwon oppa mendongak, aku pun turut mendongak, begitu juga dengan Tiffany eonni.
Kami memandang origami burung bangau berwarna – warni yang kini tampak benar – benar seperti tengah berterbangan dengan riang,
“Permintaan oppa adalah agar Juniel memaafkan segala kesalahan oppa ataupun Tiffany eonni ataupun kesalahan yang dilakukan keluarga ini”
Aku tercenung, dan kali ini aku menatap mata Siwon oppa yang juga menatapku,
“Itu permintaan oppa..” Ucapnya, “Agar Juniel dapat selalu menjadi bagian dari keluarga ini”
Keluarga..
Air mataku tidak dapat terbendung lagi. Aku tidak yakin aku menangis karna sedih atau bahagia atau terharu. Tapi yang jelas, aku sangat berterimakasih.
“Apakah itu dapat terwujud?” Tanya Siwon oppa.
Senyumku kembali terulas, tapi kali ini tanpa rasa sakit, dan akupun mengangguk.
Siwon oppa tersenyum, “Tidak ada yang lebih indah dari semua ini”
Tidak ada yang lebih indah..
Keluarga..
Jeongmal gomawoyo Siwon oppa,
jeongmal gomawoyo Tiffany eonni,
jeongmal gomawoyo eomma,
dan..
jeongmal gomawoyo namja berambut cokelat..

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s