Amnesiac Girl [Chap.1]

Title     : Amnesiac Girl

Author            : GladizCass a.k.a Kim SuJin

Rating            : Semua umur, bebas..

Length : Chaptere

Genre  : Romance

Cast    : Kwon Yuri, Matsuyama Kenichi, Choi Minho, Jung Yunho

Other Cast : Choi Sulli

Note   : FF ini terinspirasi dari Film Jepang : ‘Memoirs of a Teenage Amnesiac’

Ehm..

Untuk pertama kalinya Gladis masukin artis Jepang di FF. Itu karena Gladis sangat sangat sangat sangat ingin masukin salah satu suamiku  alias Matsuyama Kenichi ke ff ini. Jadi bagi yang tidak suka, tidak perlu membaca ^^ Dan bagi yang kenal Matsuyama Kenichi atau ‘L’ yang main di film Death Note ayo silakan dibaca!!!!

Hmm…,setelah My Silver, aku kembali dengan FF chapter Amnesic Girl ini. Aku harap readers suka. Silakan dibaca dan jangan lupa commentnya ya !!!! ^^

+++++++

Seluruh tubuhku terasa nyeri. kepalaku berdenyut denyut, mataku sangat sulit untuk dibuka, itulah hal yang kurasakan saat kesadaranku kembali. Dan ketika akhirnya aku berhasil membuka mata, cahaya putih menyilaukanku. Aku mengerjap, dan setelah mulai terbiasa dengan terangnya cahaya, aku membuka mataku berlahan. Namun pandanganku masih terasa buram, samar – samar aku melihat langit – langit ruangan dan sesosok namja yang memanggil – manggil namaku.

“Yuri ya..” Panggilnya, “Yuri ya..,apakah kau sudah sadar? Yuri ya..”

Aku mengerang pelan, pandanganku kini telah benar – benar jelas. Aku dapat melihat wajah namja yang memanggilku tadi. Rambutnya legam dan tampak berantakan, kulitnya sangat putih, lingkaran hitam menghiasi matanya yang menatapku. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Aku mengernyit, merasa asing pada namja yang ada di hadapanku ini.

“Yuri ya” Panggilnya lagi.

Kuedarkan pandanganku ke sekitar, aku berada di ruangan berukuran sedang dengan langit – langit tinggi. Ruangan ini terang benderang, ada sofa dan meja di sisi kiri ruangan, pintu yang tampaknya menuju ke kamar mandi, lemari sedang, dan beberapa alat di dekat tempat tidur dimana aku tengah berbaring. Dengan sekali lihat aku sadar bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Terlebih setelah aroma obat -obatan berlahan memenuhi lubang hidungku.

“Yuri ya” Namja itu kembali memanggil.

Dan kali ini, aku merasakan ia menggenggam sebelah telapak tanganku. Sontak aku menepis tangannya. Ia tampak terkejut,

“Apa ada yang salah?” Tanyanya.

“Nuguseyo?” Aku balik bertanya.

Namja tadi mengernyit, “Kau tidak ingat aku?”

Aku menggeleng, dan saat itu juga rasa nyeri terasa menusuk kepalaku. Membuatku merintih sebelum bisa ditahan,

“Ada apa?” Tanya namja itu panik, “Kepalamu sakit?”

Nyeri yang masih terasa di kepalaku membuatku batal untuk mengangguk. Dan akhirnya, aku  hanya bergumam tak jelas untuk menjawab pertanyaannya.

“Aku akan panggil dokter” Ucap namja tadi lalu segera bergerak menjauhiku.

Namun tiba – tiba ia berhenti dan mentapku, “Yuri ya..,lihat aku baik baik” Perintahnya.

Aku merasa sedikit bingung, namun sambil menahan rasa sakit di kepala aku menuruti perkataan namja itu,

“Kau tidak tahu siapa aku?” Tanya namja itu setelah beberapa menit.

Aku diam, mencoba untuk mengingat siapa kira – kira namja yang ada di hadapanku ini. Namun pikiranku kosong, aku tidak tahu siapa dia, sebagaimana aku tidak tahu mengapa aku bisa terbaring di rumah sakit ini.

“Anio” Jawabku pelan.

Wajah namja itu menunjukkan sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Terlihat seperti raut kesedihan dan kekhawatiran. Juga terlihat kecewa. Aku tidak tahu yang mana yang benar atau mungkin memang tiga – tiganya benar. Namja itu berdehem dan berkata,

“Tunggulah sebentar, aku akan kembali” Ucapnya lalu melangkah menuju pintu dan meninggalkan ruangan.

Bunyi pintu yang ditutup disusul oleh kesunyiaan. Pandanganku tertuju pada langit – langit ruangan, diriku terasa kosong.

Apakah seharusnya aku mengenal namja tadi?

++++++

“Siapa namamu?” Tanya dokter bertubuh agak gemuk dengan kacamata bulat bertengger di ujung hidungnya.

“Kwon Yuri” Jawabku.

“Dimana kau tinggal?” Tanya dokter itu lagi.

“Seoul”

“Tahun berapa sekarang?”

“Mmm..” Aku mengernyit, mencoba untuk mengingat tahun berapa saat ini, “2008?” Jawabku ragu.

Sesaat kemudian aku merasa bodoh karena pertanyaan itu seharusnya mudah untuk di jawab. Bagaimana bisa aku lupa tahun berapa sekarang?!

“Hmm…” Gumam dokter itu sambil mengernyit, “Ia tampak kebingungan”

“Ia tidak mengingat siapa aku” Namja yang tadi menimpali.

“Tampaknya ia melupakan beberapa hal”

“Amnesia?” Tanya namja tadi.

“Bisa dibilang seperti itu”

“Aku amnesia?!” Sahutku terkejut.

“Tidak perlu khawatir” Ujar dokter itu sambil mengulas senyum, “Hanya bersifat sementara, kau akan mengingat semuanya setelah beberapa bulan”

Aku hendak mengajukan beberapa pertanyaan. Namun dokter tadi telah lebih dulu melangkah keluar ruangan bersama namja tadi. Dan tampak jelas mereka akan membicarakan sesuatu mengenai amnesiaku ini.

Tapi aneh, bagaimana bisa aku amnesia? Aku memang lupa akan beberapa hal dan merasa ada sesuatu dalam diriku yang kosong, tapi aku ingat masa laluku. Tidak semua, tapi aku ingat.

Aneh..

+++++++

Sepertinya aku telah tidur selama beberapa jam, dan menyadari tubuhku terasa lebih baik saat bangun. Namja yang tadi masuk beberapa saat setelah aku terbangun, ia membawa nampan dengan semangkuk sup hangat di atasnya. Ia tersenyum padaku, meletakkan nampannya di atas meja lalu duduk di kursi kecil di dekat tempat tidur. Disaat bersamaan satu hal masuk ke dalam otakku,

Senyumnya manis

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya.

“Lebih baik” Jawabku lalu berusaha untuk menegakkan tubuh.

Namja itu membantu mengatur posisi bantal hingga aku duduk dengan nyaman.Dan saat itupula aku menyadari kehangatan dari namja itu,

“Gomawo” Ucapku.

Namja itu kembali tersenyum, “Bukan apa apa” Jawabnya ramah.

“Aku benar benar amnesia?” Tanyaku.

Ia mengangguk, “Tapi kau tidak perlu khawatir, hanya sementara” Jawabnya lagi, “Lagipula kau hanya melupakan kejadian selama 4 tahun sebelum ini” Ia menambahkan.

Aku mengernyit, “Empat tahun? Apakah ada amnesia seperti itu?”

“Karena sudah terjadi padamu, jadi…,ya, ada”

“Bagaimana aku bisa amnesia?”

“Apa kau tidak penasaran tentang siapa aku?” Namja itu balik bertanya.

Aku terdiam, mengutuki diriku karena tidak terpikir untuk menanyakan identitas namja ini terlebih dahulu. Sepertinya aku sudah bertindak egois karena terlalu mengkhawatirkan diriku,

“Nuguseyo?” Tanyaku dengan wajah memerah.

“Matsuyama Manichi” Jawabnya, “Namjachingu mu” Ia menambahkan.

Aku mengerjap, namun sesaat kemudian tampaknya masuk akal bila namja ini adalah pacarku. Siapa lagi yang akan memperhatikanku seperti ini, padahal aku tahu ia bukan salah satu anggota keluargaku. Yup, aku tidak amnesia soal siapa saja keluargaku. Itu bagus.

“Kau bukan orang Korea kan?” Tanyaku.

“Anio” Jawabnya, “Aku orang Jepang”

“Kau tinggal di Korea?”

Matsuyama mengangkat bahunya, “Tidak juga”

Aku menyipitkan mata, “Tolong jawab dengan jelas” Pintaku lalu menambahkan, “Aku amnesia”

Matsuyama tersenyum geli, “Aku tidak tinggal di Korea, tapi orangtuaku punya restorant di sini. Restorant makanan Jepang, apa kau ingat?”

Aku menggeleng, “Anio”

“Yah..,itu masuk dalam ingatan 4 tahun lalu, jadi wajar kau lupa, tapi itu tidak penting. Kau kan tidak suka makanan Jepang”

“Aku ingat yang itu” Jawabku, “Aku memang tidak suka makanan Jepang”

“Ya, memang” Ia menimpali, “Jadi aku sering bolak balik Jepang Korea untuk mengontrol restoran orangtuaku yang ada di sini” Ucapnya, “Sekaligus untuk menemuimu”

Aku tersenyum, “Bagaimana kita bisa bertemu?”

“Ceritanya panjang” Jawabnya lalu tertawa, “Dan tidak ada romantis – romantisnya”

Aku mengangkat alisku penasaran, namun Matsuyama menggeleng,

“Aku akan menceritakan tentang itu nanti, sekarang kau harus makan supmu lalu minum obat”

“Setidaknya ceritakan bagaimana ada perban di kepalaku”

“Ya, tapi sambil makan” Sahut Matsuyama lalu mulai menyuapiku sendok demi sendok sup hangat yang terasa sedikit hambar.

“Kau jatuh dari tangga” Ujarnya, “Tampaknya terpeleset”

“Tangga dimana?”

“Di depan rumahmu”

“Depan rumahku?” Tanyaku bingung.

“Kau ingat tangga di depan rumahmu?”

“Di depan pintu masukkan? Hanya lima undakan”

“Nde, tapi licin karena tadi pagi hujan”

“Jam berapa sekarang?” Tanyaku tiba tiba seakan hal itu penting.

Matsuyama mengamati jam di pergelangan tangannya sesaat, lalu ia menjawab, “Setengah delapan malam, kenapa?”

“Tidak apa – apa” Jawabku, “Jadi aku terpeleset lalu amnesia?”

“Kau jatuh dengan kepala lebih dulu” Ia menanggapi, “Aku melihatmu sudah tergeletak di ujung tangga”

“Daebak” Gumamku tanpa tahu harus merasa bagaimana.

“Kau tidak perlu terlalu banyak berpikir saat ini” Ucap Matsuyama lembut, “Istirahatlah, masih banyak waktu untuk mengingat apa yang kau lupakan”

Aku mengangguk, rasa kantuk sudah kembali menyerangku, jadi tidak ada alasan untuk membantahnya.Setelah aku menghabiskan supku dan meminum obat. Aku bercakap – cakap sebentar dengan Matsuyama, lalu akhirnya kembali berbaring dan memejamkan mata. Matsuyama meredupkan lampu, ia tahu bahwa aku tidur lebih nyenyak dalam keadaan remang – remang. Ia memang pacarku,ia tahu banyak hal tentangku.

“Jaljayo” Ujarnya lalu mengecup puncak kepalaku lembut.

“Emm..” Gumamku.

Aku tahu Matsuyama masih ada di dekatku saat aku mulai tertidur. Ia masih duduk di kursi kecil di samping tempat tidur seperti saat ia menyuapiku tadi. Aku tahu ia mengamatiku lekat – lekat, tapi aku merasa aman karenanya. Masalah amnesia ini sebenarnya cukup menggangguku, tapi dengan adanya Matsuyama, aku dapat tenang. Syukurlah kekasihku ada di sampingku di saat seperti ini.

++++++

Aku tinggal di rumah sakit selama seminggu. In Na dan Shin Young ahjumma datang bergantian setiap hari untuk menemaniku. Mereka adalah pengasuhku sejak kecil, yang menjagaku selama orangtuaku sibuk dengan pekerjaan mereka. Sangat sibuk hingga bahkan hanya menelponku sekali setelah mendengar kabar bahwa aku terpeleset hingga amnesia. Tampaknya mereka juga tidak berniat untuk sekedar menjengukku di Korea dan memutuskan untuk tetap melakukan pekerjaan mereka di Amerika.

Orangtuaku tidak peduli padaku dan aku sendiri juga tidak terlalu peduli pada mereka. Jadi bukan masalah untukku bila mereka tidak mengunjungiku. Lagipula keberadaan mereka di dekatku tidak akan terlalu membantu saat ini. Matsuyama, Inna, dan Shinyoung ahjumma, mereka sudah cukup.

Matsuyama biasanya datang sore hari dan tetap bersamaku hingga aku tertidur. Ia memberitahuku bahwa aku kuliah di Seoul University jurusan fashion design. Dan masalah kuliah membuatku sedikit pusing karena aku tidak mengingat sebagian besar materi – materi kuliahku. Dan menurutku itu masalah besar.

“Tenang saja, kau pintar” Ucap Matsuyama saat menyadari kegelisahanku.

Masalah aku pintar atau tidak, aku tidak terlalu yakin. Tapi aku ingat aku mendapat beberapa penghargaan untuk prestasiku di sekolah dulu.

Hari ini Matsuyama datang tepat jam 10 pagi. Dokter menyatakan bahwa aku sudah diperbolehkan pulang dan ia akan menjemputku. Shinyoung ahjumma telah merapikan segala perlengkapanku, kami tinggal berangkat.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Matsuyama seperti biasanya lalu mengecup keningku singkat.

“Baik” Jawabku sambil tersenyum.

“Mobilku ada di parkiran, mau aku gendong?” Tanyanya.

Aku terkekeh, “Aku amnesia, tidak patah tulang”

“Yahh..,mungkin saja kau lupa cara berjalan” Matsuyama menanggapi.

“Cara berjalan adalah ingatan lebih dari 4 tahun lalu”

Matsuyama tertawa, lalu tanpa berkata apa apa lagi, ia membantuku turun dari tempat tidur, dan terus menuntunku hingga kami sampai ke mobil. Sementara itu, Shinyoung ahjumma mengikuti kami dalam diam dengan tas berukuran sedang berisi barang – barangku disebelah tangannya.

Jalan yang kami lalui untuk ke rumah terasa akrab dalam ingatanku. Dan itu membuatku senang karena merasa yakin untuk keluar rumah sendiri tanpa tersasar nantinya.

“Yuri ya..” Panggil Matsuyama di tengah perjalanan.

“Nde?”

Matsuyama terdiam sesaat, lalu ia berkata, “Aku akan kembali ke Jepang lusa”

“Lusa?”

“Hmm..” Angguk Matsuyama, “Mianhae tidak bisa menemanimu sampai benar – benar sembuh”

“Anio” Sergahku cepat, “Aku sudah sembuh, tidak masalah kalau Matsuyama kembali ke Jepang lusa nanti”

“Aku ingin menginap di rumahmu sebelum pulang” Ucap Matsuyama, “Tidak apa – apakan?”

“Tentu saja” Jawabku.

“Matsuyama-ssi akan menginap di rumah?” Sahut Shinyoung ahjumma tiba tiba.

“Nde” Matsuyama mengiyakan, “Apakah tidak apa – apa?”

“Nde, gwanchanseumnida” Jawab Shinyoung ahjumma, “Saya akan menelpon Inna dan menyuruhnya menyiapkan kamar tamu” Lanjut Shinyoung ahjumma lalu mengeluarkan handphonenya.

“Kamsahamnida”

“Bukan apa apa, Matsuyama-ssi”

+++++++++

Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Kamar ini dicat ungu muda, di dalamnya ada tempat tidur yang tampak nyaman dengan seprai berwarna ungu tua dan selimut ungu muda. Di kanan kiri bantal, boneka rilakkuma dan korillakkuma duduk manis dengan pandangan kosong. Terdapat satu jendela yang menghadap ke depan rumah dan ditutupi dengan tirai putih bersih.

Di sisi kanan ruangan terdapat lemari pakaian dan di sampingnya adalah lemari yang penuh dengan berbagai macam buku. Selain itu, ada sofa berbantalan pink, tv flat, meja rias, dan meja belajar. Karpet pink polos persegi yang tidak terlalu besar melapisi sebagian lantai kamar.

Kamar ini tetap sama seperti yang ada dalam ingatanku. Aku masih ingat kalau aku sangat menyukai warna ungu, dan kamar ini memang benar kamarku. Namun aku tidak memahami kenapa tidak ada satupun foto di kamar ini. Aku melangkah lalu membuka lemari pakaian. Baju – bajuku tertata rapih di dalamnya. Beberapa dress di gantung, sedangkan pakaian pakaian casual di lipat dan di tumpuk sesuai dengan warnanya.

Pakaianku sebenarnya juga tidak terlalu berwarna warni. Ungu, hitam, dan putih yang mendominasi. Aku tidak mengingat selera fashionku, seperti aku tidak mengingat bagaimana sifatku sebenarnya. Dan hal itu membuatku bingung untuk menentukan bagaimana aku harus bersikap.

“Apa kau mencari sesuatu?”

Sontak aku menoleh dan mendapati Matsuyama telah berdiri di ambang pintu,

“Anio” Jawabku.

“Maaf tadi tidak mengetuk” Ucapnya, “Jadi apa yang kau lakukan?” Tanyanya lalu melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur.

“Hanya melihat – lihat” Jawabku, “Aku agak bingung dengan diriku sendiri”

“Wae?” Tanyanya.

Kududukan diriku di samping Matsuyama, menatap matanya yang hitam, lalu menjawab,

“Aku tidak mengenal diriku”

Matsuyama balas menatapku, “Ini semua hanya masalah waktu, ingatanmu akan segera kembali”

“Aku tahu, tapi aku jadi bingung harus bersikap bagaimana”

“Bersikap senyamanmu saja” Ia menanggapi, “Lagipula sifatmu tidak terlalu berubah”

“Benarkah?”

“Emm..” Angguk Matsuyama, “Kau hanya menjadi lebih diam”

“Lebih diam?” Sahutku bingung.

“Dulu kau cerewet sekali” Ucap Matsuyama lalu tertawa, “Sangat cerewet”

Aku mengangkat bahu, “Mungkin itu karena aku terlalu banyak melupakan hal yang dapat kubicarakan”

Senyuman Matsuyama terulas, ia mengacak rambutku pelan, “Tenang saja, semuanya akan baik – baik saja”

“Bagaimana dengan kuliahku?”

“Besok Inna ahjumma akan menyerahkan surat pada pihak kampus untuk memberitahu soal amnesiamu”

“Kau baru akan menyerahkan suratnya besok?”

“Aku hanya mencoba untuk mehamimu” Jawab Matsuyama datar.

Aku mengernyit bingung, ia lalu kembali berkata,

“Bila kau tidak amnesia, maka kau tidak akan suka bila ada yang mengunjungimu di rumah sakit”

“Waeyo?”

Jeda sesaat sebelum ia menjawab, “Kau tidak terlalu menyukai hal seperti itu”

“Apa maksudnya?” Tanyaku semakin bingung.

“Kau tidak terlalu suka berteman” Jawab Matsuyama cepat.

Aku diam tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa, tapi Matsuyama tampaknya tidak memiliki jawaban yang tepat untuk itu.

“Mianhae..” Ucap Matsuyama pelan, “Seharusnya aku…” Entah kenapa perkataan Matsuyama terputus.

Namun aku segera berkata, “Gwanchanayo, tidak perlu minta maaf”

Matsuyama menatapku dengan pandangan yang tidak dapat kumengerti, lalu ia memelukku. Pelukannya terasa hangat, namun aku menyadari ada suatu perasaan yang aneh dalam diriku. Entah perasaan apa, tapi aku merasa bahwa memang ada sesuatu dalam pikiranku yang tidak dapat kubaca.

“Yuri ya..”

“Nde?”

“Anio” Jawabnya singkat tanpa melepas pelukanku.

+++++++++++

Hari ini aku masuk kuliah, Matsuyama mengantarku sebelum ia berangkat ke bandara untuk kembali ke Jepang. Kutatap bangunan Seoul University dari balik jendela mobil. Aku mengenali bangunan itu, namun sadar bahwa aku tidak terlalu mengingat bagian – bagian di dalamnya.

“Kau yakin akan masuk kuliah hari ini?”

Pandanganku beralih pada Matsuyama, lalu aku menjawab, “Tidak ada gunanya aku terus diam di rumah. Aku merasa baik – baik saja”

“Jeongmalyo?”

“Hanya gugup” Jawabku jujur, “Tapi aku pasti akan segera terbiasa”

Jeda selama beberapa saat, akupun kembali berkata, “Aku akan turun sekarang, hati hati di jalan” Ucapku.

Matsuyama mengusap rambutku lembut lalu mencium keningku seperti yang biasa ia lakukan,

“Aku akan merindukanmu” Ujarnya.

“Aku juga” Jawabku.

Setelah menimbang nimbang selama beberapa saat, aku memutuskan untuk mencium sebelah pipi Matsuyama, ia tampak terkejut,

“Terima kasih karena sudah mengantar” Ucapku.

“Ya” Jawabnya dengan kegok.

Aku membuka pintu mobil lalu melompat turun dan menutup pintu. Kaca mobil berlahan turun menampakkan Matsuyama yang tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. Kulayangkan senyumku dan membalas lambaiannya.

“Pergilah, hati hati” Ucapku.

Ia mengangguk, lalu tanpa berkata apa – apa lagi melajukan mobilnya meninggalkanku yang diam sambil menatap hingga mobil yang dikendarainya menikung dan tak terlihat lagi. Aku menarik napas dalam – dalam kemudian berbalik, siap untuk menghadapi orang – orang yang mengenalku melebihi diriku sendiri.

+++++++++

Beberapa orang menatapku sekilas lalu tampak tidak peduli, beberapa terus mengamatiku lekat, yang lain menunduk dan menghindar dari tatapanku. Ada juga yang melayangkan senyum singkat, namun tidak ada satupun yang menyapaku. Hal itu membuatku merasa seperti murid baru yang asing.

Kualihkan perhatianku dengan membuka buku catatan kecil yang kutemukan di laci meja belajarku. Catatan itu berisi beberapa ringkasan pelajaran, dan aku bersyukur karna aku mencatat jadwal kelasku dan nomor juga password lokerku di halaman terakhir.

“163” Gumamku.

BUGK!

Tubuhku seketika oleng dan jatuh begitu saja ketika bertabrakan dengan seseorang yang berjalan di depanku.

“Yuri-ssi..,kau tidak apa – apa?” Tanya seorang yeoja yang segera membantuku bangun.

“Nde, gwanchanayo” Jawabku lalu berdiri dan menatap yeoja yang ada di hadapanku itu.

Seperti beberapa orang yang  berpapasan denganku sebelumnya, yeoja ini buru – buru menunduk saat aku menatapnya. Yeoja di hadapanku ini berwajah polos dan manis, rambutnya yang panjang dan sedikit bergelombang dibiarkan tergerai. Ia mengenakan sweater kuning sederhana dan celana jeans.

“Mianhaeyo aku tidak sengaja menabrakmu tadi” Ucapnya lalu membungkukkan tubuhnya sedikit.

“Anio, aku yang minta maaf karena berjalan tanpa melihat ke depan” Tukasku.

Yeoja tadi tampak bingung lalu ia segera berkata dengan kegok, “Ah..,nde..,gwanchanayo.. Aku harus pergi”

“Changkamanyo” Cegahku, “Apakah kita saling mengenal?”

Yeoja itu memutar matanya, “Mmm..,tidak juga”

“Siapa namamu?” Tanyaku lagi.

“Choi Sulli” Ia menjawab.

“Sulli-ssi…,apakah kau bisa mengantarku ke loker 163?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Kau benar – benar amnesia?”

Aku mengangkat bahu, “Nde” Jawabku singkat, “Jadi bisakah kau menolongku?”

Sulli tampak ragu, ia menggigit bibir bawahnya, namun akhirnya ia mengangguk,

“Nde, ikuti aku”

+++++++

Lokerku tampak normal seperti loker yang lain. Aku memutar kuncinya sesuai dengan password lokerku. Dan apa yang ada di dalam lokerku membuatku mengernyit. Ada tumpukan buku dan peralatan menulis juga beberapa jadwal dan catatan kecil. Namun yang tampak aneh adalah kotak – kotak yang tampaknya berisi cokelat dan tiga tangkai mawar yang hampir layu tergeletak di atas tumpukan buku – buku.

“Yuri – ya…”

Refleks aku menoleh, lalu mendapati seorang namja bertubuh tinggi dan atletis menghampiriku. Namja itu mengenakan celana jeans dan kaus putih polos dilapisi jaket kulit yang sesuai. Rambut hitamnya di potong pendek, dan dalam sekejap aku dapat menyimpulkan bahwa ia sangat tampan. Matanya menatap lurus mataku dan ia bergerak cepat lalu memelukku sebelum aku sempat mengelak.

Namja itu memelukku erat, sementara aku terlalu terkejut untuk berbicara. Dan saat akhirnya ia melepaskan pelukannya, ia ganti menggenggam kedua telapak tanganku,

“Aku mendengar kau amnesia. Apakah benar?” Tanyanya.

Namun aku tidak menjawab pertanyaan namja ini. Melainkan berusaha melepaskan genggamannya pada tanganku. Siapa dia tiba – tiba memeluk dan menggenggam tanganku seperti ini?

Akhirnya namja itu melepaskan genggamannya, tapi tatapannya masih tertuju lurus padaku,

“Yuri-ya..” Panggilnya, “Apa kau mengenalku?”

Tidak, aku tidak mengenal namja ini,  aku lupa siapa namja ini. Lalu dengan sedikit merasa bersalah aku menggeleng,

“Nuguseyo?” Tanyaku pelan.

Pancaran kehampaan tertangkap di mata namja di hadapanku ini. Ia membisu selama beberapa saat hingga akhirnya menjawab,

“Choi Minho” Ucapnya, “Aku Choi Minho”

“Choi Minho?” Ulangku.

“Nde, Choi Minho” Anggukknya, “Aku namjachingu mu”

-TBC-

 

Bagaimana pendapatnya? Ayo di comment ya!! Dan kalau suka di like ^^

Jeongmal gomawoyo sudah baca, tungguin ya chap selanjutnya ^^

Annyeong~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s