Amnesiac Girl Chap.2

Title     : Amnesiac Girl

Author  : GladizCass a.k.a Kim SuJin

Rating  : Semua umur, bebas..

Length : Chaptere

Genre  : Romance

Cast    : Kwon Yuri, Matsuyama Kenichi, Choi Minho, Jung Yunho

Other Cast : Choi Sulli

Note   : FF ini terinspirasi dari Film Jepang : ‘Memoirs of a Teenage Amnesiac’

+++++++

Annyeong haseyo *bow* Jwiseonghamnida *bow* Lama banget ya? Kaya My Silver, mianhae…mianhae >< Alasan ini lama bukan karna aku males nulis kaya pas My Silver. Tapi kalo yang ini karna aku nggak ada waktu. Maklum udah kelas 9, tugas banyak, sekali nggak ada pasti udah teler dan pengennya tidur.

Di sekolah juga sekarang udah nggak bisa nyuri – nyuri waktu, hufffttt….,jeongmal mianhaeyo >< Aku harap masih ada yang setia menunggu dan mau baca Amnesiac Girl ^^

Nah, ini dia chap 2 nya, silakan dibaca! Dan nanti jangan lupa commentnya ya ^^

+++++++++

Butuh beberapa menit sebelum aku berhasil mengumpulkan kesadaraanku. Dan akhirnya mendorong namja bernama Choi Minho itu lebih kasar dari yang aku rencanakan. Minho tampak terkejut sebagaimana aku yang terkejut saat Minho mengaku bahwa ia adalah namjachinguku.

“Kau namjachinguku?” Tanyaku tak percaya.

Minho menatapku dalam sebelum akhirnya menjawab, “Nde. Kau tidak percaya?”

Kubalas tatapan Minho, mencari – cari pancaran kebohongan di matanya. Tapi tidak, ia tampak serius. Pikiranku berkecamuk, bayangan Matsuyama muncul dalam pikiranku. Awalnya aku ingin segera membantah ucapan Minho dan berkata bahwa Matsuyama adalah namjachinguku. Tapi kenyataan bahwa aku amnesia dan tidak dapat menentukan yang mana yang benar menahanku untuk melakukan itu.

Aku menoleh untuk menatap Sulli yang tampaknya telah siap untuk angkat kaki. Dan ia tampak terkejut saat aku menatapnya, tapi ia mengerti arti tatapanku. Lalu ia pun mengangguk dan berkata pelan,

“Ia namjachingumu”

Sesuatu seakan meledak dalam diriku. Apa – apaan ini?! Kembali kutatap Minho. Ia menunggu respondku, tapi aku sendiri bingung harus berbuat apa. Ya, aku bingung.

“Mianhae” Ucapku kaku, “Aku masih bingung, aku tidak ingat apapun selama empat tahun terakhir ini”

Jeda selama beberapa saat, namun Minho kembali menarikku dalam pelukannya. Dan kali ini kubiarkan ia memelukku,

“Aku namjachingumu, Yuri ya…” Ucapnya lembut, “Percayalah” Ia menambahkan.

Karna tidak tahu harus menjawab bagaimana, aku hanya mengangguk singkat. Lalu kurasakan Minho membelai rambutku lembut, kemudian ia berbisik,

“Saranghae..”

+++++++++++++

Kuhempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, menghela napas panjang, menatap langit – langit kamar dengan sedikit pening. Kurasakan kepalaku mulai berdenyut – denyut, sehingga kupejamkan mataku untuk meredakannya. Setelah beberapa menit, kubuka mataku lalu kembali menghela napas.

“Matsuyama..” Gumamku, “Minho…”

Matsuyama adalah orang pertama yang kulihat di rumah sakit. Namja yang menjaga dan memperhatikanku hingga aku merasa nyaman di dekatnya. Membuatku bersyukur karena ialah namjachinguku. Tapi semuanya terasa kacau sejak aku bertemu dengan Minho.  Setiap mahasiswa di kampusku mengkonfirmasi bahwa Minho memang namjachinguku. Dan itu memastikan bawa Minho tidak berbohong soal statusnya denganku.

“Mungkin sudah sekitar setengah tahun” Jawab Sulli saat aku dan dia makan bersama di kantin.

“Aku benar – benar tidak ingat apa – apa”

“Itu wajar dengan kondisimu sekarang” Sulli menanggapi sambil mengunyah burgernya yang penuh saus.

“Yah, amnesia” Sahutku.

“Kalau kau tidak amnesia, kau tidak akan bicara dan makan bersamaku seperti ini” Ujar Sulli.

“Kenapa? Karna aku tidak terlalu suka berteman?”

“Nde” Jawab Sulli, “Kau mengingat soal itu atau mendengarnya dari seseorang?”

“Mendengarnya dari seseorang” Jawabku.

Aku menyerap habis lemon squash ku, mengingat wajah dan hal – hal yang Matsuyama katakan padaku,

“Aku benar – benar tidak punya teman dekat?” Tanyaku.

“Entahlah” Jawab Sulli, “Tapi tampaknya tidak. Tidak di kampus ini” Ia menambahkan.

Aku berdecak, “Kesalahanku terlalu menjauhi orang – orang”

Sulli menegak habis segelas air putih di tangannya lalu berkata, “Kau tidak menjauhi” Tukasnya, “Hanya saja, kau tidak begitu menanggapi. Banyak yang ingin menjadi teman dekatmu, tapi kau tidak terlalu merespond. Kau memperlakukan orang – orang dengan sama”

“Dengan datar” Ucap Sulli lagi.

“Datar” Ulangku, “Kalau begitu bagaimana bisa aku punya namjachingu?”

“Kau dan Minho itu memang pasangan” Jawab Sulli, “Putri dan pangeran”

“Putri dan pangeran?”

“Nde” Sulli mengangguk, “Apakah kau tidak sadar bagaimana mahasiswa lain memandangmu?”

            Selama beberapa saat aku terdiam, lalu mengedarkan pandanganku ke sekitar. Beberapa mahasiswa tampak mencuri curi pandang ke arahku, beberapa tak segan segan menatapku secara langsung. Tatapan mereka memancarkan berbagai macam hal.

“Kau dan Minho adalah mahasiswa paling populer di kampus ini” Ujar Sulli.

“Jinca?”

Sulli kembali mengangguk, “Sangat populer, wajar kalian berpacaran. Kalian memang cocok dalam berbagai segi” Ucapnya.

“Dalam segi apa saja?”

“Terlalu banyak untuk disebutkan” Jawab Sulli lagi lalu berkata, “Dan aku akan terkena dampak karna kau terus mengajakku berbicara”

“Dampak buruk atau baik?” Tanyaku dengan sedikit khawatir.

“Entahlah” Jawab Sulli sambil mengangkat bahunya, “Mungkin dua duanya”

Mengingat percakapanku dengan Sulli di kampus tadi membuatku mengira ngira apa saja yang membuatku dapat populer. Aku tidak pandai bergaul, atau lebih tepatnya tidak peduli, jadi pasti bukan karena kesosialanku. Mungkin karna aku menonjol dalam berbagai bidang. Dari jadwal di buku catatanku, aku aktif dalam berbagai kegiatan. Alasan lain mungkin karena fisikku.

Bayangan Minho tiba tiba muncul dalam pikiranku. Siapa sangka ternyata ia adalah juniorku di kampus. Ia mengambil jurusan fotografi dan ia juga pandai dalam bidang olahraga. Aku dapat menangkap alsaan alsan Minho menjadi mahasiswa yang populer dengan mudah. Ia pandai dan kaya. Selain itu ia juga sangat tampan dengan wajah mungil dan senyumnnya yang manis. Tubuhnya yang tinggi dan atletis pasti menarik perhatian banyak yeoja.

Pikiranku buyar saat terdengar ketukan di pintu kamarku. Setelah aku berseru mengatakan bahwa pintunya tidak di kunci, In na ahjumma masuk dengan segelas cokelat hangat di salah satu tangannya.

Aku tersenyum, “Cokelat” Ucapku.

“Ya, cokelat hangat favoritemu” Sahut Inna ahjumma.

Ia menutup pintu kamar dan duduk di tepi tempat tidur lalu menyerahkan segelas cokelat hangat itu padaku,

“Kamsahamnida” Ujarku lalu menyerap berlahan cokelat hangat itu.

Rasanya enak, manis dan hangat. Membuatku terus menyerap cairan cokelat itu hingga habis,

“Jadi bagaimana?” Tanya Inna ahjumma.

“Enak” Jawabku lalu menyerahkan gelas yang telah kosong.

“Nde, tentu saja enak” Sahut Inna ahjumma sambil terkekeh singkat, “Maksud ahjumma bagaimana keadaanmu?”

Aku ikut terkekeh, “Baik baik saja” Jawabku, “Hanya sedikit bingung”

“Apa yang membuatmu bingung?”

Aku mengerling lalu mengangkat bahu, “Ada banyak”

“Ingatanmu akan kembali berlahan lahan” Inna ahjumma menenangkan.

Aku terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk, “Nde”

Kurasakan Inna ahjumma membelai pucuk kepalaku lembut, membuatku teringat pada Matsuyama,

“Ada yang ingin kau tanyakan pada ahjumma?”

“Apa ahjumma tahu sejak kapan aku dan Matsuyama berpacaran?” Tanyaku langsung.

Inna ahjumma mengerjap, “Sebenarnya itu yang ingin ahjumma tanyakan padamu”

“Mwo?”

“Ahjumma ataupun Shinyoung ahjumma tidak pernah tahu kau sudah memiliki kekasih. Padahal kami sering bertanya padamu, tapi kau selalu menjawab belum pernah berpacaran”

“Belum pernah berpacaran?” Sahutku, “Sama sekali?”

“Yang ahjumma tahu belum sama sekali” Jawabnya, “Tapi nyatanya tidak”

‘Nyatanya aku punya dua namjachingu’ Timpalku dalam hati.

“Aku tidak tahu” Ucapku pelan, “Tidak ingat” Koreksiku cepat, “Tidak ingat kenapa aku berbohong”

Tapi kemudian aku berpikir, mungkin saja aku memang tidak berbohong. Mungkin aku memang belum pernah berpacaran. Mungkin Matsuyama dan Minholah yang berbohong, atau mungkin juga hubungan kami adalah kebohongan yang disepakati. Tapi..,ah, entahlah, terlalu banyak kata ‘mungkin’.

Tiba tiba saja aku merasa sangat payah karna ketidak tahuanku. Ingin rasanya aku menggoncang otakku hingga semua memori masa laluku dapat keluar dari tempat persembunyiannya. Dan sebelum aku berpikir lebih jauh, Inna ahjumma berkata,

“Tapi menuruh ahjumma, Matsuyama adalah pilihan yang bagus” Ucapnya sambil tersenyum menggoda sementara aku hanya diam tak tahu harus menjawab apa.

“Ia tampak sangat menyayangi dan memperhatikanmu. Selain itu ia juga tampan, tampak kaya dan pintar” Komentar Inna ahjumma,“Dan orang Jepang” Tambahnya.

“Ada apa dengan orang Jepang?”

Inna ahjumma mengangkat bahu, “Kau tidak terlalu suka hal hal yang menyangkut Jepang, dan ternyata namjachingumu orang Jepang. Sebaiknya ingatanmu cepat kembali agar kau dapat menjelaskan semua ini pada ahjumma”

“Nde, aku juga berharap seperti itu” Ucapku datar.

Inna ahjumma menghela napas lalu tersenyum. Kemudian ia berdiri dan melambaikan tangannya singkat,

“Tidurlah” Ucapnya lembut sebelum keluar kamar.

Namun aku tetap di posisiku. Duduk bersila di atas tempat tidur dengan guling dalam pelukanku. Aku tercenung, memikirkan perkataan Inna ahjumma tentang aku yang tidak terlalu menyukai hal hal yang menyangkut Jepang. Menyadari hal itu, membuat kemungkinan bahwa Matsuyamalah yang berbohong soal statusnya sebagai namjachinguku bertambah.

Tapi aku tidak dapat begitu saja yakin. Terlebih mengingat bagaimana Matsuyama yang menelponku beberapa jam lalu dan terus menanyakan keadaanku juga menyuruhku untuk beristirahat dan meminum obat. Ia tampak benar benar menyayangiku dan setelah beberapa hari berada di dekatnya, akupun turut menyayanginya. Sedangkan Minho, aku belum begitu mengenalnya.

Aku kembali menghela napas lalu diam tanpa berpikir apa apa. Beberapa menit setelahnya aku mengerang frustasi, menarik selimut menutupi seluruh tubuhku, lalu tertidur.

+++++++++++

Esok harinya aku berangkat ke kampus lebih pagi dengan mengendarai taxi. Selama di perjalanan aku menatap jalanan yang tidak terlalu ramai, pikiranku sibuk mencoba mengorek apapun yang tersisa dalam ingatanku,

Aku Kwon Yuri..

Lahir pada 5 Desember 1989..

Warna kesukaanku ungu..

Aku punya orangtua, mereka tinggal di Amerika

Mereka tidak peduli padaku,

Aku juga tidak peduli pada mereka

Inna ahjumma dan Shinyoung ahjumma yang mengurusku sejak kecil…

Aku tidak suka makanan Jepang..

Aku suka cokelat hangat..

Dulu aku ingin jadi peramal..

Sekarang aku ingin jadi fashion designer..

Tapi aku juga ingin psikolog

Atau reporter..

Aku menghela napas, aku mengingat banyak hal dari masa lalu. Tapi tidak ada yang penting untuk keadaanku sekarang. Tidak ada yang dapat menjelaskan mengapa aku memiliki dua namjachingu.

“Nona, sudah sampai” Ucap supir taxi yang kutumpangi.

Aku mengerjapkan mata, menyadari bahwa aku sudah berada di depan kampusku,

“Ah, nde” Sahutku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.

Kemudian, aku pun turun dari taxi lalu berjalan santai menuju kampus. Masih setengah jam sebelum bel masuk berbunyi, jadi tidak ada alasan untuk terburu – buru. Seperti hari – hari sebelumnya beberapa orang memandangku dan menyapaku singkat. Dan untunglah aku dapat menyesuaikan diri dengan cepat.

Saat ini aku tengah bersandar di lokerku, mataku memandangi selembar kertas bergambar denah kapus di tanganku dengan cermat.Ya, gara – gara amnesia yang kualami, aku jadi repot sekali mencari kelas. Aku lupa, hanya ingat sedikit, dan itu benar – benar menyebalkan. Kemarin aku beberapa kali tersasar, dan perlu bertanya kesana – kemari. Membuatku merasa seperti orang bodoh. Hingga akhirnya salah satu guru memberikan denah kampus ini padaku.

“Yuri-ya..”

Aku tersentak kaget saat menyadari Minho entah sejak kapan telah berada di sampingku,

“Minho-ya..” Sahutku berusaha tenang.

Minho tersenyum, “Bagaimana keadaanmu?”

“Baik – baik saja” Jawabku sambil balas tersenyum.

Pandangan Minho lalu tertuju pada denah kampus di tanganku, lalu ia bertanya,

“Kau tidak ingat ruang – ruangan di kampus ini?”

Aku menghela napas, “Anio”

Minho menyentuh pipiku dengan lembut dalam seperkian detik,

“Aku bisa mengantarmu” Ucapnya.

Selama beberapa saat aku merasa tersengat arus listrik karna sentuhan Minho, namun aku segera mengerjap – ngerjapkan mataku singkat lalu menjawab,

“Tentu saja, tapi kan ada saatnya aku harus jalan sendiri”

“Kau benar” Minho menyetujui, “Mau berkeliling sebentar?” Ia menawarkan.

Aku menimbang – nimbang selama beberapa saat lalu mengangguk. Maka kamipun mulai melangkah beriringan mengelilingi kampus ini. Minho memberitahu ruangan – ruangan apa saja yang kami lewati. Mengatakan bahwa aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku sering membaca buku sambil mendengarkan lagu. Ia juga menyebutkan judul – judul novel yang sering kubaca berulang kali.

“Kau suka membaca, tapi aku tidak” Ujar Minho, “Dan kau sering menceritakan ulang novel yang kau baca padaku”

“Jincayo?”

“Nde” Angguk Minho, “Kau senang melakukannya, karna kau merasa seperti punya adik laki – laki yang bisa kau bacakan dongeng”

“Adik laki – laki?”

“Kau selalu ingin punya adik laki – laki, itu yang kau katakan padaku”

Aku tercenung, dalam hati menambahkan keinginanku memiliki adik laki – laki ke daftar hal – hal yang tidak kuingat.

“Apa kau juga lupa soal itu?”

“Hmm” Gumamku lesu.

Minho kembali menyentuh pipiku singkat lalu berkata, “Gwanchana” Ia menenangkan, “Perlahan – lahan kau akan mengingat semuanya”

“Aku harap begitu” Sahutku.

“Pasti akan begitu” Ucap Minho sambil tersenyum.

Senyuman manis Minho selalu membuatku ikut tersenyum. Namja ini benar – benar manis,

“Minho-ya..”

“Nde?”

“Bila aku menceritakan novel yang kubaca padamu, apa kau mendengarkan?”

Minho terkekeh, “Tidak juga.

Aku merenggut, “Jadi?”

“Kalau ceritanya memang menarik aku akan mendengarkan, tapi kalau tidak aku akan pura – pura mendengarkan”

“Pura – pura mendengarkan?”

“Nde, pura – pura mendengarkan padahal aku sedang memperhatikan wajahmu”

Aku mengangkat alis heran, “Memperhatikan wajahku?”

Minho mengangguk, “Memandangi wajahmu yang cantik adalah hal yang selalu menarik untuk dilakukan” Jawabnya, “Aku tidak pernah bosan”

Perkataan Minho tadi membuatku bingung harus menjawab apa. Tapi aku menyadari bahwa wajahku berlahan – lahan memerah.

+++++++++++++++++

Aku beberapa kali tertidur di kelasku. Benar – benar memalukan, walaupun guru – guru dan mahasiswa yang lain  dapat memaklumi. Mengingat apa yang terjadi dengan kepalaku tentu saja mereka memaklumi. Aku Terbentur hingga amnesia, jadi sering pusing dan sulit untuk konsentrasi memang salah satu efeknya.

Sepulangnya aku dari kampus, Matsuyama menelponku. Seperti kemarin, ia menanyakan keadaanku dan lain – lain. Selama aku berbicara dengan Matsuyama, aku tidak dapat berhenti memikirkan Minho. Sebagaimana aku selalu memikirkan Matsuyama setiap aku berbicara dengan Minho. Dalam hati aku bertanya – tanya, sebenarnya apa yang aku lakukan mengencani dua namja ini.

Apakah aku benar – benar mencintai kedua namja ini atau bagaimana? Tapi dengan perasaanku saat ini, aku tidak dapat mengungkiri bahwa dua namja ini memang menarik hatiku. Tapi apapun alasannya aku seharusnya tidak mengancani mereka berdua. Apa yang sebenarnya aku pikirkan sebelum aku amnesia?

Aku mendengus keras – keras, lalu mencoba memfokusan pikiranku pada notes berisi jadwalku untuk hari – hari kedepan. Pandanganku kini tertuju pada tulisan bertinta pink terang yang berada di baris paling bawah.

Sabtu, 20 Oktober 2012 – 15.00 – Café Hello Kitty – Yunho oppa –

Artinya besok jam 3 sore aku akan pergi ke Café Hello Kitty (yang syukurlah kuingat lokasinya) untuk bertemu oppa yang bernama Yunho. Aku mencoba mengingat siapa itu Yunho, tapi otakku sama sekali tidak membantu. Sehingga aku pun mengeluarkan hp ku dan memeriksa kontakku.

Ada 3 nama Yunho, Park Yunho, Jung Yunho, dan Kim Yunho. Namun tidak ada satupun yang tercantum dengan foto. Sebenarnya memang tidak ada satupun nomor handphone yang kucantumi foto. Aku pun mulai menggerutu, mengingatkan diriku untuk memasang semua foto orang – orang yang kukenal, untuk mengantisipasi bila suatu saat aku amnesia lagi.

“Ok, jadi besok aku akan bertemu dengan Yunho oppa” Ucapku pada diri sendiri lalu menutup notesku.

Kemudian aku mematikan lampu kamar dan berbaring di tempat tidur. Kupejamkan mataku, tapi kemudian aku berbisik,

“Siapapun Yunho oppa, jangan sampai ia adalah namjachinguku yang lain”

++++++++++++

Sudah jam 3 lewat 10 menit, tapi tidak ada satupun namja yang menghampiriku dan mengaku bawa ia adalah Yunho oppa. Aku mulai bertanya – tanya, apakah pertemuan ini sebenarnya sudah di batalkan?  Atau pindah lokasi? Atau aku yang seharusnya menghampiri Yunho oppa?

Aku menghela napas lalu menyerap milkshake cokelat yang kupesan, sementara mataku mengamati dekorasi pink di hello kitty café ini.

“YURI-YA!!!!!!”

Aku tersentak terkejut lalu terbatuk. Kemudian aku menoleh, mendapati namja bertubuh tinggi telah berdiri di belakangku. Aku terbatuk, namun berusa menatap namja itu. Ia berdagu lancip dengan hidung mancung, langsung kesimpulan, ia tampan. Dan ia sedang tetawa, lalu tangannya menepuk – nepuk punggungku,

“Kau terkejut?” Tanyanya masih terkekeh, “Biasanya kau selalu tahu bila aku akan mengejutkanmu”

Aku masih terbatuk, lalu menyerap kembali milkshakeku berlahan, “Bagaimana bisa aku tahu kau akan mengejutkanku?” Tukasku sedikit jengkel.

“Karena aku selalu melakukannya”

Nah, namja satu ini pasti belum tahu kalau aku amnesia. Pertemuan ini pasti akan mengejutkannya. Namja itu mendudukan dirinya di kursi. Ia diam selama beberapa saat, matanya menatapku lekat, dan bibirnya membentuk senyum tipis.

“Lama tidak bertemu, Yuri-ya” Ucapnya lembut.

Aku menggigit bibir, “Apa kau Yunho oppa?” Tanyaku pelan.

Yunho mengangkat alis, “Tentu saja, siapa lagi?!” Sahutnya.

“Apakah kau belum tahu?” Tanyaku lagi.

“Tahu apa?”

Aku terdiam, memikiran kemungkinan bahwa bisa saja ia tidak percaya padaku, “Aku Amnesia” Ucapku.

Hening.

Lalu Yunho oppa tertawa, “Itu lelucon paling gagal yang kau ucapkan” Komentarnya, “Amnesia? Kau pikir aku akan menanggapi lelucon aneh mu itu?” Lanjutnya lalu kembali tertawa.

Aku menghela napas, “Tidak, aku bicara serius, aku amnesia sejak beberapa minggu lalu”

“Amnesia macam apa?”

“Aku melupakan hal – hal yang terjadi selama 4 tahun terakhir, dan ingatanku belum kembali sampai saat ini”

Wajah Yunho oppa mulai serius, “Dengar ya, aku akan memaklumi kalau kau lupa memakai cincinmu, itu bukan masalah besar”

Aku mengernyit, “Cincin?”

Yunho oppa mengangkat sebelah tangannya, menunjukkan cincin perak yang melingkar di jari manisnya, “Pernikahan kita tidak akan batal walau kau bilang kau amnesia”

Aku terpaku, merasakan diriku seperti disambar petir. Jantungku mencelos, kupingku dipenuhi suara mengingang yang sangat keras. Dunia seakan berhenti berputar, semua yang ada di sekelilingku seakan berhenti bergerak. Dan aku mendapati diriku sendiri tengah menahan napas.

Namja ini bukan namjachinguku..

Tapi pernikahan..

Cincin..

Ia tunanganku?!

TBC

++++++++++++

Nah loh, jederr jederr…,wkwkwkwk..

Entah kenapa ada sensasi menyenangkan sendiri saat nulis kemunculan Yunho oppa ini, wkwk.. *author aneh* hehehe..

Tapi kependekan ya? Mianhae *bow*

Ayoo…,silakan di comment, biar aku semangat nulisnya^^ dan like nya ya kalau suka ^^

Jeongmal gomawoyo udah dibaca ^^ Annyeong~ tungguin ya, kelanjutannya ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s