[Drabble] I Miss U

I MISS U

Title                  : I Miss U

Author            : GladizCass (@GladizCass)

Rating              : General

Genre               : Romance (Yahh kira – kira yaa :D)

Length             : Drabble

Cast                   : Krystal Jung & Choi Minho (Shinee)

++++++

            Ya Allah udah setahun Gladis ngga bikin ff..,hmm ngga setahun juga sih 😀 hehe.. Tapi beneran udah lama ya Gladis vakum ga pamit, adakah yang nyariin?

Jadi tuh Gladis sekarang kelas 9, dan kemaren – kemaren mempersiapkan segala hal buat UN, dan disaat bersamaan memang lagi buntu inspirasi, hehe.. Bagaimanapun juga, ini dia Gladis comeback dengan ff beginian -___-  😀

FF ini tidak terencana (sebenarnya ff drabble Gladis selalu tidak terencana), mengalir begitu saja, jadi jeongmal mianhaeyo kalo kependekan dan aneh ceritanya 😀

Jangan lupa commentnnya yaaa, dan likenya kalau suka 😀 Gomawoo~

++++++

Langkahku terasa begitu berat, seakan rantai mengikat pergelangan kakiku dan memaksaku untuk berhenti. Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau berhenti sedetikpun. Aku terus bergerak dengan langkah yang terseret – seret. Tidak memperdulikan hembusan angin malam yang terasa asing di kulitku. Tidak memperdulikan rintik – rintik hujan yang berlahan – lahan membasahiku. Tidak memperdulikan tatapan orang – orang asing yang berpapasan denganku.

Ah, lagipula bagaimana juga aku memperdulikan tatapan mereka. Aku bahkan tidak dapat benar – benar melihat mereka, tidak dapat benar – benar melihat apa yang ada di hadapanku. Pandanganku buram oleh air mata yang  entah kapan akan berhenti mengalir.

Sakit.

Rasa sakit ini terasa lagi. Rasa sakit yang membuat jantungku seakan terikat kuat dan membuatnya sulit berdetak. Membuat napasku sesak, menggerogoti diriku seakan tidak puas dengan menorehkan luka dalam di dadaku. Aku mulai terengah. Ya, aku lelah dengan rasa sakit ini, aku lelah merasa tersiksa, lelah terus – terusan menangis tanpa arti.

Ya, Tuhan..

Aku terisak, terisak seperti anak kecil yang tersesat. Walau sebenarnya aku lebih dari hanya tersesat. Lebih dari hanya kehilangan arah, aku kehilangan diriku. Separuh dari diriku.

Oh, Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk terus melangkah agar aku dapat menemukan separuh dari diriku ini..  

Entah benda tajam macam apa yang seakan – akan tengah menerjang tubuhku ini, menusuk tubuhku tanpa ampun dan tanpa jeda. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan rasa sakitnya membuatku berhenti.

“Minho oppa..”

Tenagaku pasti sudah mencapai titik akhir karena aku hanya memanggil nama Minho oppa dengan bisikan. Biasanya aku akan selalu berteriak memanggil namanya seperti orang gila. Berharap dengan begitu rasa rindu yang menyiksaku ini dapat berkurang. Tapi tidak, hari demi hari, rasa rinduku tidak pernah berkurang. Rasa rinduku pada Minho oppa semakin bertambah, semakin menyiksaku.

Dan malam ini, entah apa yang merasuki tubuhku, entah apa yang membuat perasaanku pada Minho oppa menjadi sekuat ini, tapi malam ini aku akan mengakhiri rasa rindu ini. Perlahan – lahan senyum tipisku terlukis,

“Minho oppa” Bisikku lagi dalam isakan.

Bagaimanapun caranya, aku akan membuat diriku dan Minho oppa kembali bersatu. Kembali menjalani hari – hari bersama tanpa ada rasa sakit yang menyiksa ini. Aku akan melakukan apapun, agar dapat kembali melihat senyumnya untukku, mendengar suaranya yang selalu menjadi favoriteku. Apapun yang diperlukan agar aku dapat merasakan kehangatan pelukan dan rangkulannya. Juga kasih sayangnya yang menyelimutiku saat aku bersandar padanya dan mendengarkan detak jantungnya.

Apapun untuk kembali bersama dengan Minho oppa yang kucintai.

Entah sudah berapa lama aku berjalan hingga akhirnya aku membiarkan tubuhku jatuh terduduk, menyenderkan tubuhku pada sebuah batu keras. Aku menengadah menatap langit gelap yang masih meneteskan hujan rintik – rintik. Kupejamkan mataku, mendengarkan hembusan angin malam.

Hening.

“Mengapa begitu sunyi? Minho oppa seharusnya menghampiriku sebentar lagi..”

Masih dengan mata terpejam, pelan – pelan aku menggumamkan nada – nada lembut. Nada – nada yang keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku rencanakan. Telapak tanganku meraba rumput basah yang kududuki, dinginnya menyengat kulitku dan membuatku berhenti bergumam.

Keheningan disekelilingku kembali terasa, aku membuka mataku berlahan – lahan, mengerjap – ngerjapkannya hingga pandanganku lebih jelas. Aku mengernyit saat kulihat kegelapan di sekelilingku. Penerangan hanya berasal dari lampu – lampu redup yang berada jauh dariku. Tidak ada satu orangpun disini. Tidak ada Minho oppa.

Mataku hanya melihat beberapa pohon di kejauhan dan gundukan – gundukan tanah, serta batu – batu…

Diriku seperti tersengat listrik, rasa takut, tegang, panik, hampa, frustasi, sedih, dan marah berturut – turut menghantamku,

“Minho oppaa..” Bisikku dengan suara gemetar, “Minho oppaa..”

Aku menoleh kesana – kemari, tapi aku benar – benar sendirian disini. Maka akupun berpaling ke belakangan, pandanganku jatuh pada batu yang tadi kujadikan sandaran. Kusipitkan mataku, menatap huruf – huruf bewarna putih yang di tuliskan di batu tersebut.

Choi Minho

Pandanganku terpaku pada nama Minho oppa. Lalu dengan gemetar jemariku menyusuri tulisan lain yang tertulis di bawah nama Minho oppa. Tulisan yang menunjukkan tanggal lahir Minho oppa. Menunjukkan tanggal yang selama lima tahun terakhir selalu aku dan Minho oppa lalui bersama dengan suka cita. Dan dibawahnya, adalah tanggal dimana dalam satu hari itu segalanya berubah. Hari yang tidak pernah kukira akan datang secepat ini, hari yang merubah segalanya, hari yang merebut separuh dari diriku..

Hari kematian Minho oppa

Rasa sakit itu datang lagi. Menyiksaku lagi. Mengikat jantungku, menyumbat saluran pernapasanku, menusukku  tanpa henti..

“Minho oppaaaaa!!!!”

Aku berusaha berteriak, tapi yang keluar hanyalah pekikan kecil. Aku mulai menangis meraung – raung, tak sanggup lagi menangani rasa sakit ini. Tak sanggup lagi menangani rasa rindu ini.

“Minho oppaaaa!!! Minho oppa!!”

Aku memeluk nisan Minho oppa, lalu dengan teruburu – buru aku mulai merauk tanah kuburan Minho oppa. Aku ingin bertemu Minho oppa, walaupun itu artinya aku harus menggali kuburannya. Aku tidak peduli, aku akan kembali pada Minho oppa. Aku akan kembali berada disisinya.

Bersamaan dengan tangisan, tawa, dan teriakanku memanggil nama Minho oppa, aku terus merauk tanah kuburan Minho oppa dengan tangan kosong. Aku tidak peduli pada tanganku yang mulai terasa sakit dan kedinginan. Aku tidak peduli pada hujan yang kini tengah turun dengan derasnya. Pikiranku hanya tertuju pada Minho oppa.

“Oppa…,Minho oppaa..,tunggu aku..”

END

Hayoo..,pada mau nanya ya, “Minho oppa mati kenapaaaa?” kekeke~

Mianhaeyo kalau ceritanya tidak memuaskan, tapi bagaimanapun juga tolong commentnnya yaa.. Jeongmal gomawoyo udah bacaa ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s