[Short Story] How Are You?

large

It’s been a long time since the last time i wrote a fanfiction. I don’t know, i just don’t have any inspiration to write a fanfiction. But, i made this random short story, hehe..

*****

Napasku tertahan saat pandangan kami bertemu. Aku merasa seolah telingaku tuli dan bumi berhenti berputar. Selama beberapa detik aku berusaha untuk menghembuskan napas dan meredakan keterkejutanku. Lalu dengan kaku, aku menarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman canggung.

Dannyl, yang menyadari senyumanku, mengangguk kecil dan balas tersenyum. Ia terlihat sama bingungnya denganku. Kurasakan jantungku berdegup, pandanganku masih terarah pada Dannyl yang berdiri di sebrang jalan. Mobil – mobil yang berlalu lalang, berkali – kali menghalangi pandanganku, namun aku masih dapat melihat bahwa sejak 3 tahun terakhir, tidak banyak yang berubah dari Dannyl.

Ia tidak terlihat lebih tinggi, mungkin badannya hanya sedikit lebih berisi, gaya rambutnya juga tidak terlalu berubah, begitupula cara berpakaiannya yang casual. Senyum canggungku berlahan menjadi senyum geli, aku dan Dannyl benar – benar sudah lama tidak bertemu.

Gambaran saat kami saling memamerkan seragam SMA kami di hari pertama kami masuk sekolah, terbesit dalam pikiranku bersamaan dengan menyalanya lampu menyebrang jalan. Aku menapakkan kakiku ke jalan dan melangkah maju. Kulihat Dannyl melakukan hal yang sama, dan kali ini aku tersenyum samar.

Di setiap langkahku yang semakin dekat dengan Dannyl, kenangan selama delapan tahun aku mengenalnya berkelebat dalam kepalaku. Segala kenangan itu terasa sangat jelas seakan baru terjadi kemarin. Yaitu saat – saat ketika aku belajar membuat bumbu spaghetti bersamanya, mengobrol selama berjam – jam di hari hujan ditemani dengan kopi pahit kesukaan Dannyl. Juga ketika kami bergenggaman tangan hingga hari saat kami memutuskan untuk tidak lagi saling bertemu.

Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, mungkin aku terlalu terkejut, atau terlalu senang, atau terlalu sedih, atau bisa juga terlalu bingung, sehingga perasaan ku menjadi mati rasa. Sebenernya, perasaan ku sudah mati rasa sejak beberapa tahun lalu ketika aku merasakan sakit yang teramat sangat dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi terlalu peduli atau menaruh perasaan pada apapun. Namun saat ini, rasanya aku ingin mengetahui bagaimana perasaan ku sesungguhnya.

Tinggal beberapa langkah lagi sebelum aku dan Dannyl saling berhadapan, kusadari Dannyl berjalan sambil menunduk, ia hanya sesekali melirik kepadaku. Memang seperti itulah Dannyl. Ia selalu mencoba untuk menghindar dari apa yang membuatnya bingung. Tapi aku tahu bahwa ia tidak benar – benar bermaksud untuk menghindar, ia hanya takut salah berbuat. Karna itulah, ketika ia berada di posisi benar – benar bingung, Dannyl selalu memutuskan untuk mengambil langkah mundur dan diam.

Perasaan hangat tiba – tiba menyelubungiku. Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya, dan suatu rasa syukur menyeruak dari dalam hatiku saat aku menyadari bahwa hingga saat ini, Dannyl tetaplah orang yang kukenal. Ia tidak menjadi orang asing, yah, pasti ada beberapa perubahan dalam sikapnya, karna aku pun menyadari dalam tiga tahun terakhir ini, aku mengalami beberapa perubahan sikap. Tapi bagaimanapun juga, aku tetaplah aku, dan Dannyl tetaplah Dannyl.  

Kali ini aku mulai bertanya – tanya dalam hati, apa saja yang ia lakukan selama tiga tahun terakhir ini? Apa saja yang terjadi? Apakah ia masih menekuni dunia arsitektur? Apakah ia sudah punya pacar atau bagaimana?

Langkah kakiku berhenti, dan aku mendongak. Aku salah, ternyata Dannyl bertambah tinggi. Mataku menatap matanya yang balas menatapku. Dan saat itulah kurasakan lagi degupan yang tak biasa di jantungku. Kusadari orang – orang yang berlalu lalang melirik sekilas ke arah kami, dan apabila kami berdiri di tengah jalan seperti ini lebih lama lagi, kendaraan – kendaraan yang telah siap melaju pasti akan ribut membunyikan klakson mereka.

Jadi aku tersenyum, bukan lagi senyuman canggung ataupun senyum samar, melainkan senyuman yang bertahun – tahun lalu selalu kutunjukkan padanya, senyuman untuk sahabatku yang menyebalkan dan sangat aku sayangi.

“Hai” Sapaku.

Dannyl balas tersenyum, “Hai” Jawabnya.

            Perasaan hangat tadi semakin menyelubungiku, senyuman Dannyl menyadarkanku betapa aku merindukannya. Dan disaat bersamaan juga membuatku sadar bahwa memang, sejak tiga tahun lalu hingga sekarang, apa yang pernah ada diantara kami berdua telah benar – benar berubah.

            Tapi dari yang aku pelajari selama ini, bukan apa yang ada diantara kita yang penting, tapi apa yang tertanam dalam diri kita masing – masinglah yang penting. Yang tertanam dalam diriku tentang Dannyl, adalah betapa aku memperdulikan dan mengkhawatirkannya. Betapa ia menjadi orang yang sangat berarti dalam sejarah hidupku. Dan di hari ini, sejak tiga tahun lalu aku berpikir bahwa benar – benar tidak akan bertemu lagi dengannya, kami bertemu disini tanpa disangka – sangka.

            Namun, aku yakin bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, segala sesuatu yang terjadi memilliki alasan, dan merupakan rencana Tuhan. Jadi aku bertemu kembali dengan Dannyl, pasti karna suatu alasan. Dan aku selalu meyakinkan diriku untuk berpikir positif bahwa apapun yang terjadi akan berujung baik apabila kita merespondnya dengan baik pula.

            Mungkin pertemuanku dengan Dannyl bisa mengarah ke suatu hal yang lain dan membuat kami bisa kembali saling berkomunikasi seperti dulu, atau bisa jadi pertemuan kami ini hanyalah pertemuan biasa dan aku mungkin tidak akan kembali bertemu dengannya selama beberapa tahun kedepan.

            Tapi karna saat ini kami sudah bertemu dan saling berhadapan, akan lebih baik kami memulai pembicaraan singkat dengan ringan. Mungkin terlihat seperti berbasa – basi, tapi memang itu yang kebanyakan orang – orang lakukan kan?

“Ap…”

Aku dan Dannyl berbicara bersamaan, Dannyl menyeringai bodoh, dan aku balas menyeringai, lalu mengulang pertanyaan yang sama – sama ingin kami tanyakan tadi,

“Apa kabar?”

-FIN-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s