[Short Story] Hey, Stephen!

tumblr_inline_nl4u7qKs6n1rab757

Hai! Aku tulis cerita ini dalam rangka ikutan #MyLoveStroyQuiz dari Asya Azalea dan Irin Sintriani. Berhubung aku memang swifties sejak bertahun – tahun lalu, nulis cerita ini jadi ngga terasa beban. Simple memang, tapi karna terinspirasi dari salah satu lagu favorite aku dari Taylor Swift, nulis nya pun jadi asyik 😀 Wish me luck!

HEY, STEPHEN!

“Hanna, bagaimana menurutmu?”

Aku tidak perlu mendongak dari monitor kecil pada kamera untuk menyadari pandangan orang – orang yang tertuju padaku, menunggu jawaban, aku mengangkat bahu,

“Dia terlihat terlalu tampan”

Suasana hening yang datang tiba – tiba membuatku menyadari betapa bodohnya jawaban itu. Aku mengerjap, lalu menegakkan tubuh untuk memandang orang – orang di sekitarku,

“Kalian mengerti, kan, apa maksudku” Ujarku dengan senyum canda, “Pada scene yang tadi, Stephen baru saja dikejar – kejar paparazi, dan hampir mati tertabrak truk. Seharusnya dia tidak terlihat tampan, kan? Bagaimana bisa orang yang hampir mati terlihat tampan?”

Aku berani bersumpah bahwa saat ini semua mata memandangku sebagai orang bodoh. Tapi bagaimanapun juga, perkataanku tidak ada salahnya. Teori yang kukatakan tadi jelas benar.

“Oke” Sahut Henri sebagai direktur film pendek kami, “Kita bisa rekam ulang dan Stephen mungkin perlu mencoba untuk terlihat lebih…” Henri mengangkat alisnya, jelas menginginkanku untuk menyelesaikan perkataannya.

“Natural?” Tanya Stephen yang sedang berdiri santai dengan tangan di saku celana.

“Ya, Natural” Anggukku, walau apa yang hampir aku katakan tadi adalah untuk terlihat tidak terlalu tampan. Tapi kata natural memang lebih masuk akal.

“Kalau begitu, semua bisa bersiap diposisinya masing – masing” Henri menepukkan tangannya dan mulai memberikan pengarahan pada orang – orang.

Sementara itu, aku berusaha untuk tidak menarik perhatian dengan menyingkir dan merapat pada dinding. Saat Henri menyerukan action, aku berpura – pura sibuk mencatat hal yang sebenarnya tidak penting pada kertas yang terjepit di papan jalan yang kupegang. Setiap mendongak dari kertas, mataku selalu tertuju pada Stephen yang sedang memerankan tokohnya.

Sekolah kami mengadakan kompetisi film pendek dan setiap kelas wajib mengikuti. Kelasku cukup beruntung karna memiliki Stephen yang fisiknya sudah menyerupai bintang film papan atas. Lalu ada Henri yang pandai dalam bidang kamera dan mengedit video. Juga beberapa anak lain yang bisa diandalkan. Dan entah karna alasan apa, aku yang ditunjuk sebagai asisten direktur. Mungkin karna aku rajin, asisten kan harus orang yang rajin.

Film pendek kami mengisahkan tentang seorang superstar, yang diperankan oleh Stephen, yang memiliki fans fanatik. Dan dengan beberapa kondisi yang dialami Stephen, akhirnya ia perlu meminta bantuan pada si fans fanatik nya hingga terjadi kisah manis diantara mereka. Kesannya memang terlihat seperti cerita pasaran, tapi biarlah, selama Stephen yang menjadi pemeran utamanya, film pendek kami tidak akan terlihat jelek. Cowok keren dan populer memang selalu dengan mudah memenangkan hati orang – orang.

“Stephen terlihat terlalu tampan?”

Aku menoleh, mendapati Ella yang telah berdiri di sampingku dengan tangan terlipat. Ia tersenyum mengejek padaku,

“Stephen akan selalu terlihat tampan bahkan bila tiba – tiba saja takdir membuatnya melahirkan anak buaya”

Aku memasang wajah mual, tapi lalu tertawa, “Yah, mau diapakan lagi? Tadi aku tidak terlalu memperhatikan” Ucapku.

“Kau memperhatikan. Tapi hanya wajahnya”

“Sepertinya semua orang disini juga seperti itu, kok” Sahutku sambil melayangkan pandangan pada gadis – gadis bagian properti yang sedang menatap Stephen sambil berbisik – bisik.

“Tidak ada yang bisa menolak pesona laki – laki setampan Stephen” Ucap Ella lalu menghela napas dengan dramatis, “Tapi semua gadis disini terlihat sama saja di mata Stephen, hanya orang – orang yang mengagumi wajahnya”

“Aku tidak, kok!” Sergahku tanpa bisa dicegah.

Ella mengangkat satu alis, “Oh, ya?”

“Aku sudah kenal Stephen sejak TK dan sudah menyukainya bahkan saat ia masih gendut, pakai behel, dan ngompol saat kelas 3 SD”

Ella terkekeh, “Stephen ngompol saat kelas 3 SD?”

Aku menyikut Ella, “Sssstt..,jangan bilang siapa – siapa. Aku ngga mau dibilang menyebar aibnya”

“Kau sengaja ya, masuk ke SD, SMP, dan SMA yang sama dengan Stephen? Kau stalker, ya?” Tanya Ella dengan mata menyelidik.

“Kami itu tetangga dan sama – sama sengaja masuk ke sekolah yang dekat dengan rumah” Jawabku. Tapi kalau dipikir – pikir, ada kemungkinan aku akan mengikuti Stephen kalau dia tiba – tiba pindah SMA.

“Kau benar – benar menyukainya?” Goda Ella.

Pandanganku kini tertuju pada Stephen yang tampak serius menatap naskahnya. Ia lalu tersenyum ramah pada Lydia, yang berperan sebagai si fans fanatik, saat gadis itu menghampirinya dan mengatakan sesuatu yang membuat Stephen tertawa. Astaga, Stephen seperti malaikat jatuh yang tidak pernah kehilangan cahaya. Oke, aku mungkin terobsesi, tapi aku tidak pernah merencakan hatiku yang selalu mengembang dan seakan melompat – lompat saat melihatnya tersenyum. Atau bahkan saat dia tidak tersenyum. Kakiku bisa terasa lemas hanya dengan melihatnya berdiri dan berjalan. Efek Stephen pada diriku terjadi dengan begitu saja.

“SEHARUSNYA KITA PUNYA SOUNDTRACK!”

Seruan Henri yang tiba – tiba membuatku terlonjak. Laki – laki itu kini tengah berjalan mondar – mandir sambil mencubit – cubit dagunya,

“Lagu karangan sendiri khusus untuk film kita” Ucap Henri lagi, “Ada yang bisa mengarang lagu disini?”

Selama beberapa saat aku hanya diam di tempat. Lalu berlahan – lahan meraih ranselku yang tergeletak di lantai dan mengeluarkan lembar – lembar kertas dengan coretan lirik dan kunci gitar.

“Mungkin…,lagu ini…,agak, yah, tidak terlalu bagus, tapi..,mungkin cocok? Barangkali?”

Aku tidak mengatakannya dengan cukup keras, namun cukup untuk didengar Henri dan bahkan Stephen, karna kini Stephen sedang menatapku. Astaga, Stephen menatapku!

Henri menghampiriku dan meraih lembar – lembar kertas itu, ia membacanya cepat, dan sudut bibirnya seketika tertarik.

Hey, Abdul! ? Kau menulis lagu ini sendiri?”

“Eh, mm..,ya aku menulisnya sendiri” Jawabku, “Tapi, eh, aku asal pilih nama Abdul. Tidak tahu mau pakai nama siapa” Lanjutku, tiba – tiba saja merasa canggung dengan tatapan penasaran orang – orang yang tertuju padaku.

“Coba nyanyikan!” Henri menarik pergelangan tanganku, dan sebelum dapat aku tolak. Ia sudah mendudukkanku di kursi lalu menyerahkan gitar, yang entah dia ambil dari mana, padaku. Oke, situasi sudah terlalu memaksa untuk aku tolak.

Aku berdehem, merasakan tanganku sudah mulai berkeringat. Lagu ini aku buat untuk Stephen, tapi tentu saja aku tidak berani mencantumkan nama Stephen, jadi aku tulis saja nama Abdul. Entah kenapa nama Abdul yang terbesit di kepalaku. Baiklah, sudah terlanjur. Lagipula memang aku yang mengajukan lagu karanganku itu, kalau memang jelek, palingan akan ditolak. Yang penting sekarang tidak semakin mempermalukan diri.

Untuk kedua kalinya aku berdehem, lalu mulai memetik senar pertama,

“Ganti nama Abdul dengan Stephen!” Henri mengingatkan.

Aku mengangguk, mempertahankan pandanganku untuk tidak menatap siapapun. Dan untuk ketiga kalinya kembali berdehem,

“Hey, Stephen, I know looks can be deceiving, but I know I saw a light in you..”

 Setiap liriknya aku lafalkan dengan hati – hati, namun aku sudah menyanyikan lagu ini puluhan kali, hingga tanpa kusadari aku mulai menyanyikannya tanpa berpikir,

 “I’m waiting alone now, so come on and come out and pull me near to shine, shine, shine..”

 Mataku melirik pada Stephen, yang tengah mengangguk – anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tampak menikmati lagu. ASTAGA! Dia suka laguku!

Butuh beberapa detik bagiku untuk kembali memfokuskan pikiran, mendongakkan kepala, dan menatap tepat ke mata cokelat Stephen yang berkali – kali membuatku meleleh,

“Hey, Stephen, I could give you fifty reasons why I should be the one you choose. All those other girl – well, they’re beautiful, but would they write a song for you?”

Detik berikutnya pemandangan yang aku lihat adalah senyum Stephen yang semakin lebar. Dan ia balas menatapku, seolah memang mengulas senyuman itu untukku. Astaga, hatiku pasti sedang panen bunga mawar saat ini. Aku tidak tahu apakah aku menyanyikan lirik lagu terakhir dengan benar atau tidak. Namun saat aku berhenti memainkan gitarku, aku kembali memperoleh keheningan seperti saat aku mengatakan Stephen terlalu tampan pada scene sebelumnya. Lalu aku menangkap pandangan geli dari gadis – gadis bagian properti yang dari ekspresi mereka mengatakan, Hanna si gadis malang dengan harapan dan cinta sia – sia yang tidak akan pernah dibalas oleh Stephen. Aku merasakan diriku menciut.

“Keren!”

Yap, komentar pertama dari Stephen tadi seketika memekarkan kembali bunga – bunga dalam diriku. Senyumanku terulas lebar dan agak sulit untuk tidak menjulurkan lidah pada gadis – gadis properti itu.

“Keren” Henri menimpali, “Tidak masalah kan kalau kita pakai lagu mu itu untuk film kita?” Tanyanya.

Aku bangkit dari kursi dan menyerahkan kembali gitar yang kupegang pada Henri, “Ya, tidak masalah”

“Oke, kalau begitu kita perlu mengatur rekamana lagu” Ujar Henri yang kemudian sibuk dengan rencana – rencana dan menanyakan orang – orang mengenai pendapat dan saran.

Mataku mencari – cari Stephen, dia tadi ada di belakang Henri. Sekarang dimana dia?

“Sudah lama aku tidak mendengarmu beryanyi”

Aku menoleh, mendapati Stephen kini tepat berada di hadapanku. Hatiku sekarang pasti sedang menari salsa dengan bunga – bunga mawar.

“Hah?” Sahutku.

“Sudah lama aku tidak mendengarmu bernyanyi” Ulang Stephen, “Kau biasanya bernyanyi dan main gitar di ruang musik kan, saat SMP?”

Astaga, Stephen tahu? Stephen ingat? Astaga! Dan aku mulai menghitung – hitung peluang kemungkinan Stephen memiliki suatu perasaan spesial padaku. Oke, aku tidak boleh menipu diri sendiri, santai Hanna!

“Ya” Jawabku, “Kau suka lagu tadi?”

Stephen tersenyum, “Tentu saja! Tidak pernah menyangka namaku akan disebut – sebut dalam lagu dengan begitu pas” Ucapnya, “Aku menyukainya, lagu ciptaanmu itu pasti akan memberi point lebih untuk film kita”

Lalu tanpa aba – aba Stephen mengulurkan tangannya, mengacak singkat rambutku, “Kerja bagus, Hanna!”

Aku pasti mengalami sesuatu yang disebut jiwa keluar dari tubuh. Karna memang rasanya jiwaku tiba – tiba saja melompat dan sedang menari – nari di udara, meninggalkan tubuhku membeku di tempat. Dan dalam kepalaku lirik lagu yang baru saja kunyanyikan kini terngiang – ngiang bagai kotak musik,

Cause I can’t help it if you look like an angel, can’t help it if I wanna kiss you in the rain. So, come feel this magic I’ve been feeling since I met you. Can’t help it if there’s no one else. Mmmm..,I can’t help my self.

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s